"Lan, bacakan sekarang," ucap Vino yang tengah meminum Soju di sofa bersama Galan di ruang kerjanya.
"Baiklah."
"Devia Agatha, anak tunggal dari sepasang kekasih yang bernama Mario Atmaja dan Ayu Sekarwangi . Dulu, mereka adalah keluarga yang sangat bahagia, namun semenjak ibunya tiada, ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Ratih. Wanita itu sebelumnya sudah memiliki dua anak, yang bernama Riki dan Rani."
"Dua tahun lalu, ayahnya sudah tiada karena memiliki penyakit yang cukup berbahaya. Dan saat itu juga, Via mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Dari berbagai informasi yang ku dengar, Via selalu dijadikan babu oleh ibu dan juga saudara tirinya. Dia selalu dipaksa untuk bekerja agar mendapatkan uang, dan tentunya uang itu untuk mereka bersenang-senang."
"Dasar kaparat!" Tangan Vino mengepal kuat-kuat dengan tatapan tajamnya. Entah perasaan apa yang ada di hati Vino, yang pasti dia tidak suka jika Via di perbudak oleh mereka.
"Dimana gadis itu bekerja?" tanya Vino.
"Gadis itu bekerja di toko kue dekat Kampus Jayakarta . Dia bekerja dari pagi hingga sore hari," jawab Galan
"Apa kau tahu? tadi dia bercerita kepadaku. Dia mengatakan, jika Jason tidak akan pernah mau menjemput gadis itu untuk pulang sampai kapan pun itu. Dan—"
"Apa?"
"Dan dia mengatakan, jika saja kau memberi waktu lebih lama lagi, dia janji akan melunasi semua uang yang telah di curi oleh Riki."
"Aku tidak akan melepaskan gadis itu begitu saja."
"Why? apa kau menyukai gadis itu?"
"Tidak!"
"Lalu, kenapa kau tidak biarkan saja gadis itu pergi? sepertinya dia juga anak baik."
"Aku memiliki alasan tersendiri Lan."
Galan tau Vino sedang berbohong, namun begitu, ia hanya mengangguk saja menanggapi ucapan pria itu.
"Aku pergi dulu," pamit Vino.
"Kenapa cepat sekali? bahkan kita belum menghabiskan minuman ini," ucap Galan.
"Kau saja yang meminumnya, aku sudah mengantuk," ucap Vino yang berlalu pergi dari ruangan kerjanya.
"Dasar b******n, bisa-bisanya kau meninggalkanku sendirian Vin."
Setibanya Vino di kamar, ia melihat Via yang masih setia tertidur. Pria itu perlahan naik ke atas kasur. Tubuhnya ia lebih dekatkan dengan Via , lalu menatap wajah cantik miliknya.
Cukup lama memandangi wajah gadis itu, lagi-lagi Vino tidak sengaja menatap bibir mungil milik Via, bibir itu benar-benar sangat indah.
Masalahnya, itu adalah first kiss dia Vino.
Mengingat ucapan Galan tadi siang, pria itu tersenyum tipis menatap bibir Via. Tangan kekarnya terulur untuk mengelus bibir mungil itu.
"s**t! hanya memegang bibirnya saja milikku langsung berdiri," umpat Vino.
Lagi, pria itu menatap bibir Via kembali. Semakin lama menatapnya, pria itu sampai tak sadar jika kepalanya bergerak maju untuk mendekati bibir Via, dan..
Cup.
Bibir Vino berhasil menyatu dengan bibir Via. Ini kedua kalinya pria itu mencium bibir Via Cukup lama mendiamkan bibirnya, perlahan bibir Vino bergerak untuk melumat pelan bibir gadis itu.
Dan aktivitas itu mampu membuat tidur Via terganggu, menyadari hal yang di lakukan oleh Vino, dengan cepat Via terbangun dari tidurnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN b******k?!" teriaknya sambil mendorong tubuh Vino.
"Kecilkan suaramu sayang, kau akan membangunkan tidur mereka," ucap Vino lembut.
"Berani sekali kau mencium bibirku sialan," geramnya.
"Tenanglah sayang."
"Bagaimana bisa kau menyuruhku tenang di saat kau kembali menciumku?!"
"Dasar pria b******n!"
Merasa gemas dengan Via, Vino dengan cepat menarik tengkuk Via dan kembali melumatnya membuat Via terkejut bukan main.
"Mhhh, lepas brengsekhh."
Dengan sekuat tenaga Via memberontak dari pria itu, tetapi sia-sia, tubuh Vino lebih besar dari pada tubuhnya.
Cukup lama Vino melumat, Via mulai menikmati permainan itu, walaupun gadis itu belum sepenuhnya mengerti tentang hal ini, tetapi ia mencoba untuk membalas permainan Vino. Vino yang merasa terbalas pun tersenyum evil.
Vino melepaskan pautan bibirnya dan menatap Via yang tengah menetralkan nafasnya.
"Kau hampir membunuhku sialan," geram Via.
Vino hanya terkekeh menatap Via . Lalu tangannya terulur untuk mengelus pelan bibir gadis itu.