•••
"Tidak nona, Riki hanya bekerja di rumah tuan, sama seperti diriku, hanya saja beda pangkat."
"Jadi, Riki mencuri uang Penjahat di rumahnya?"
Galan mengangguk. "Kita mengetahuinya lewat rekaman cctv di rumah, dan Riki juga telah mengkhianati tuan. Selama ini dia bekerja sama dengan musuh terbesar tuan."
"Aku tidak menyangka jika Riki akan melakukan hal sebodoh itu," ucap Via.
"Aku pun berfikir seperti itu. Padahal selama ini tuan sangat baik kepadanya, dia selalu memberi bonus besar karena telah bekerja dengan baik."
"Lan, aku benar-benar malu atas kelakuan kakak ku," ucap Via
"Kau tidak perlu malu nona. Tuan menyanderamu karena dia ingin memancing Riki , apakah dia akan datang untuk menjemputmu pulang—"
“Lan , percaya atau tidak, Riki tidak akan pernah mau menjemputku, jadi percuma jika kalian menyandera diriku."
"Aku tahu uang itu tidak sedikit. Tapi jika Boma memberiku waktu lebih lama lagi, aku janji akan mengganti semua uang milik Penjahat, Lan " ucap Via, berharap jika dirinya di lepaskan oleh mereka.
"Kenapa kau selalu menyebut nama Penjahat? siapa sebenarnya yang kau sebut Penjahat?" tanya Galan bingung.
"Bos mu, aku tidak tahu nama dia, jadi aku memanggilnya dengan sebutan Penjahat," jawab Via.
"Bagaimana bisa kau memanggilnya dengan sebutan Penjahat sedangkan dia memiliki nama," ucap Galan.
"Yak! aku sudah bilang kepadamu, aku tidak tahu nama dia."
" Vino Agastya."
"Nama yang jelek, seperti orangnya," komentar Via yang kembali menjilat es krimnya.
"Apa katamu?"
"Why? apa kau ingin mengadu padanya?"
Sabar Lan , kau tidak boleh terpancing emosi.
"Tidak, aku bukanlah anak kecil yang suka mengadu."
"Bagus lah."
Lagi-lagi Galan hanya menghela nafasnya.
"Galan, maafkan aku," ucap Via.
"Maaf untuk apa?" tanya Galan.
"Maaf, tapi aku sangat lapar sekali. Bisakah kau membelikanku makanan?"
••••
"Apakah sudah lama dia tertidur?" tanya Vino kepada Galan ketika pria itu baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Mungkin iya," balas Galan lesu.
"Ada apa? kenapa wajahmu begitu lesu?"
"Dia benar-benar membuatku lelah," ucap Galan yang membuat Vino menatap tajam ke arahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Vino menahan marah.
"Jangan salah faham dulu. Dia membuatku lelah sama seperti dirimu, aku hampir seharian ini berdebat dengannya karena dirimu," jelas Galan
"Aku? memangnya aku salah apa?"
"Apa kau lupa? sebelum kau pergi meeting kau sempat menciumnya."
"Memangnya kenapa? itu hanyalah kecupan singkat."
"Masalahnya, itu adalah first kiss dia Vino," geram Galan yang mengingat Via marah kepadanya.
"Really?"
"Ah sudahlah, aku sangat lelah sekali. Sebaiknya kita pulang sekarang."
"Baiklah, kau turun saja dulu, aku yang akan mengurus gadis itu," ucap Vino.
"Oh ya, soal data gadis itu bagaimana? apa kau ingin membacanya sekarang?" tanya Galan.
"Tidak, nanti saja jika kita sudah berada di rumah," balas Vino.
"Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu."
Galan pun keluar dari ruangan, kini hanya tersisa Vino dan juga Via di dalam sana. Perlahan pria itu mendekati Via yang tertidur pulas di sofa.
"Seharian ini aku yang bekerja, tapi kenapa kau yang kelelahan?"