Saat ini mereka sedang berada di perjalanan untuk menuju kantor Vino. Di sepanjang perjalan hanya ada keheningan di dalam mobil. Galan yang sibuk dengan iPadnya, vino yang sibuk melihat jalanan, dan Via yang sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Penjahat, sebenarnya kita akan pergi kemana?" tanya Via.
"Nanti juga kau akan tahu sendiri," jawab Vino
Gadis itu berdecak. Sangat menyebalkan.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, akhirnya mereka telah sampai di perusahaan milik keluarga Vino. Group Agastya.
Vino juga memiliki tanggung jawab untuk mengurus perusahaan milik ayahnya. Jika bukan meeting dengan orang penting, Vino tidak akan mau datang ke sini dan memilih untuk menyuruh Galan yang mengurusnya.
"Apakah gedung ini milikmu?" tanya Via kepada Vino.
Pria itu mengangguk, lalu menggenggam tangan Via untuk masuk ke dalam yang di ikuti oleh Galan dan juga satu pengawal di belakangnya.
Di sepanjang lorong, banyak yang menatap mereka berdua dengan tatapan bertanya, bahkan karyawan di sana sempat menggosip sebentar tentang kedekatan hubungan sang bos dengan Via.
Mereka masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai 30, di mana letak ruangan Vino berada. Setelah keluar dari lift, Vino menggenggam kembali tangan Via untuk menuju ke ruangannya.
"Dengarkan aku. Setelah ini aku akan ada meeting dengan client, dan kau, jangan pergi kemana-mana sebelum aku kembali. Jika kau butuh sesuatu katakan saja kepada Galan, dia yang akan menjagamu di sini selama aku meeting nanti," ucap Vino.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa mau menatap Vino, matanya tengah fokus menatap ruang kerja milik Vino yang sangat luas. Bahkan gadis itu melangkah mendekati jendela untuk menatap pemandangan dari atas gedung.
"Ini sangat indah sekali," ucap Via dengan girang. Vino yang melihat hanya bisa tersenyum tipis.
tok! tok! tok!
"Masuk!"
Pintu ruangan terbuka, terlihat Galan dan juga satu wanita dengan pakaian ketatnya masuk kedalam. Wanita itu mendekati Vino sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
"Selamat pagi pak Vino. Para client sudah menunggu kita di ruangan meeting, untuk sebaiknya kita kesana sekarang agar mereka tidak menunggu lebih lama lagi," ucap Angel sopan.
"Baiklah"
"Sayang," panggil Vino kepada Via.
Via yang tadi hanya diam menyimak kini menatap Vino dengan bingung.
"Kau memanggilku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya sayang, kemarilah"
Gadis itu menurut, ia mendekati Vino dengan tatapan bingungnya.
"Aku akan pergi meeting, kau baik-baik di sini ya? jika butuh sesuatu katakan saja pada Galan," ucap Vino.
Via hanya mengangguk nurut.
"Ya sudah aku pergi dulu"
Cup.
Satu kecupan singkat mendarat di bibir mungil Via. Gadis itu diam mematung dengan mata yang melotot.
Galan dan juga Angel di buat kaget dengan kelakuan Vino yang tiba-tiba. Hati Angel seperti terbakar, wanita itu menahan cemburu karena Vino yang berani mencium Via di depannya.
"Jaga dia baik-baik," ucap Vino kepada Galan.
"Tenang saja, aku akan menjaganya," kata Galan
Setelah itu, Vino dan Angel pun keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua.
"DASAR b******n! BERANI SEKALI KAU MENGAMBIL FIRST KISS KU PENJAHATTT!"
Teriakan Via yang menggema ke seluruh penjuru ruangan Vino membuat Galan yang baru saja menutup pintu terkejut bukan main. Pria itu menatap Via takut-takut karena melihat wajahnya yang berubah menjadi ganas.
"N–nona, ada apa?" tanya Galan hati-hati.
"Galan, apa kau tahu? bos mu itu baru saja mencuri first kiss ku, sialan!" ucap Via menggebu.
Ia tidak terima karena first kiss nya di ambil oleh pria seperti Vino
. Sudah puluhan tahun Via menjaganya, tetapi dengan mudahnya Vino mencium dirinya di depan mereka.
"Nona, tenang lah, mungkin tuan tidak tahu jika itu adalah first kiss mu," ucap Galan mencoba untuk menenangkan Via..
"gunanya tuhan memberi kalian otak! Jika tidak tahu seharusnya dia bertanya dulu kepadaku, dasar bodoh!" maki Via.
Galan hanya bisa menghela nafas. Vino yang menciumnya, tapi dia yang kena marah oleh gadis itu.
"Tolong maafkan kesalahan tuan, nona. Sebagai permintaan maaf, aku akan menuruti semua permintaanmu," ucap Galan, bermaksud untuk membujuk gadis itu.
"Aku ingin es krim." Walaupun gadis itu masih di selimuti amarahnya, namun begitu, ia tidak bisa menolaknya jika mendapat gratisan seperti ini.
"Baik nona, aku akan membelinya sekarang." Galan pun langsung keluar dari ruangan Vino, dan menyuruh salah satu bawahannya untuk membelikan bebarapa es krim.
Via, gadis itu mencoba untuk meredamkan emosinya, lalu tubuhnya ia hempaskan ke sofa yang ada di ruangan Vino sambil menunggu Galan datang.
Sedikit lama menunggu, kini pintu ruangan terbuka melihatkan Galan yang baru saja datang sambil membawa kantong plastik yang berisi beberapa es krim. Pria itu mendekati Via, lalu memberikan es krim kepadanya.
"Ini nona, es krimnya," ucap Galan.
"Terimakasih Galan," ucap Via menerima es krim itu.
Gadis itu segera mengambil salah satu es krim dan memakannya dengan girang. Galan yang melihat tersenyum lega, setidaknya gadis itu tidak akan marah lagi.
"Duduklah Lan, dan makanlah es krim ini bersama ku," ucap Via menatap Galan yang hanya diam menatapnya.
"Ah, tidak nona, es krim ini hanya untukmu," tolak Galan
"Es krim ini terlalu banyak, aku tidak yakin jika aku bisa menghabiskan semuanya. Jika tidak di makan, es krim itu akan meleleh."
Galan diam, yang di katakan Via ada benarnya. "Baiklah nona," pasrah Galan.
"Lan, bolehkah aku bertanya?" tanya Via
"Tentu saja nona, kau ingin bertanya apa?" balas Galan yang mulai membuka bungkus es krimnya.
"Apakah Riki bekerja sebagai pegawai disini?"