Pagi hari, Via merasakan cahaya sinar matahari yang menembus ke jendela besar milik kamar Vino. Perlahan gadis itu membuka netra matanya, lalu ia bangkit dari tidurnya.
"Jam berapa sekarang?" Via menoleh, menatap jam besar yang terpasang di dinding.
Mata Via melotot sempurna ketika melihat angka jam itu. "SIALAN!"
Vino yang sedari tadi berada di dalam walk-in closet kini keluar sambil sedikit merapikan jas hitamnya.
"Kau sudah bangun?" tanyanya menatap Via.
"Dasar pria b******k, kenapa kau tidak membangunkan ku sialan, apa kau tahu? aku akan telat pergi bekerja hari ini!" Dengan perasaan panik, gadis itu segera bangkit untuk menuju ke kamar mandi.
Vino hanya diam menatap kepergian Via. "Kenapa dia selalu marah-marah terus kepadaku?"
Vino keluar dari kamar, pria itu turun kebawah untuk menuju ke meja makan. Di sana sudah terlihat beberapa maid berdiri berjejeran untuk menyambut kedatangan Vino
"Selamat pagi tuan," sapa mereka sambil menunduk hormat.
Vino hanya mengangguk, selanjutnya ia pun duduk di kursi sambil menunggu kedatangan Via . Belum lama Vino duduk di kursi, kini Via sudah turun kebawah dengan langkah terburu-buru. Vino yang melihat langsung mencegah gadis itu.
"Kau ingin kemana?"
"Aku ingin bekerja. Penjahat! boleh kah aku meminjam satu supirmu untuk mengantarkan ku bekerja? aku sudah sangat terlambat hari ini," ucap Via memohon.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk bekerja hari ini," ucap Vino
"KENAPA?"
"Aku janji tidak akan kabur darimu, setelah pulang kerja nanti aku akan kembali lagi kesini," ucap Via meyakini.
"Aku tetap tidak mengizinkanmu pergi. Hari ini kau harus ikut denganku," kata Vino.
"Aku tidak mau, aku ingin pergi bekerja." Sebelum gadis itu melarikan diri, Vino lebih dulu mencekal tangan Bia
"Lepaskan aku b******k, aku sudah terlambat," sentak Via
"Kau harus ikut denganku hari ini," ucap Vink penuh penekanan.
"Aku tidak mau!" tolak Via lagi.
"Aku akan memberimu uang tiga kali lipat dari gajimu bekerja jika kau ingin ikut denganku."
Mata Via melotot. "Apa kau serius?" tanyanya.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Oke deal!"
Vino menghela nafasnya, lalu melepas Via. Ternyata membujuk gadis itu sangatlah mudah.
Via pun segera duduk di kursi meja makan, lalu menatap Vino yang masih berdiri. "Penjahat apakah aku boleh makan?"
Vino mengangguk. "Makanlah, setelah ini kita akan pergi"
Tanpa banyak bicara, Via segera mengambil nasi beserta lauknya, lalu mulai sarapan dengan tenang bersama Vino