#7

538 Words
Vino, pria itu pergi ke tempat ruang kerjanya. Di sana ia melihat Galan yang tengah meminum berbagai alkohol. Vino menghempaskan tubuhnya ke sofa, samping Galan "Ada apa? kenapa wajahmu begitu lesu?" tanya Galan sambil meneguk minumannya kembali. Pria itu menoleh. "Galan, apakah kau masih sadar?" "Tentu saja, aku belum banyak meminumnya," ucap Galan. "Ada apa?" "Tolong carikan data lengkap gadis itu, batas waktumu hanya sampai besok pagi," ucap Vino. Galan mengangguk. "Aku akan segera mengurusnya." "Kau ingin minum?" tawar Galan. "Kau saja, aku sedang tidak ingin minum," tolak Vino sambil mengambil satu batang rokok, yang setelah itu ia bakar dengan korek api. "Bagaimana dengan gadis itu?" tanya Galan. "Aku baru saja berdebat dengannya hanya karena aku menyimpan berbagai gaun wanita di lemari. Dia berfikir jika aku memiliki seorang istri atau kekasih," ucap Vino yang merasa kesal. "Bahkan dia juga menuduhku jika aku suka memakai gaun itu, cih" Tawa Galan meledak, pria itu tertawa begitu keras hingga membuat Bara mendenggus pelan. "Apa yang sedang kau tertawakan? ini tidak lucu!" "Ini sangat lucu. Gadis itu benar-benar berbeda dari jalang-jalangmu." "Dia sangat menyebalkan Galan." "Tapi dia sangat lucu. Jika di lihat-lihat, di juga sangat cantik. Aku yakin pasti kau tertarik dengannya." "Ayolah Galan, kita baru saja menyandera gadis itu pagi tadi, bagaimana bisa aku tertarik dengannya secepat itu?" "Entahlah, tapi feelingku mengatakan jika suatu saat nanti kau akan tertarik dengannya." "Jika kau tidak suka padanya, berikan saja kepadaku," ucap Galan yang membuat Vino menatap tajam ke arahnya. "Kenapa menatapku seperti itu?" "Aku akan memberikan kepadamu jika aku sudah mencobanya." "Cih, aku tidak sudi mendapat bekasmu, lebih baik aku mencari yang lain." Vino terkekeh pelan. "Ah, aku hampir lupa memberitahumu." "Ada apa?" tanya Vino yang kembali menghisap batang rokoknya. "Tadi sekretaris kantor menelfonku, katanya besok pagi kau akan ada meeting dengan perusahaan Sinopec Group. Jadi, kau harus datang tepat waktu," jawab Galan. "Kenapa dia tidak memberitahuku?" "Dia sudah menelfonmu, tapi handphonemu tidak aktif." "Ah, aku hampir lupa. Seharian ini aku tidak memegang handphone," ucap Vino. "Sebaiknya kau tidur sekarang Vin." "Aku memang ingin tidur, tubuhku benar-benar lelah hari ini." Sebelum bangkit, pria itu lebih dulu membuang batang rokoknya ke dalam asbak, lalu menatap Galan yang hampir mabuk. "Hentikan Lan, kau tidak boleh mabuk malam ini, ingat tugasmu untuk mencari data gadis itu," peringat Vino. "Tidak perlu khawatir, aku akan segera mengurusnya malam ini juga." Vino mengangguk, ia percaya kepada pria itu. Walaupun Galan teman dekatnya, tetapi Galan tidak pernah mengecewakan Bara. Vino melangkah keluar untuk menuju ke kamarnya kembali. Setibanya pria itu di kamar, ia melihat Via yang sudah tertidur pulas di atas kasur dengan pakaian yang sudah berganti menjadi piyama. Vino naik ke atas kasur dengan hati-hati, takut jika gadis itu akan terbangun dan mengusirnya karena mengingat dirinya yang tidak ingin tidur dengannya. "Eunghhh," erangan kecil dari bibir Via membuat Vino sedikit gemas melihatnya. Pria itu menatap Via lebih dekat, senyum tipis terbit di bibirnya. "Cantik." Yang di katakan Galan memang benar, gadis itu memanglah sangat cantik, apa lagi jika melihatnya lebih dekat seperti ini. Matanya terus saja menatap wajah cantik milik Via, hingga tak sengaja tatapannya tertuju ke arah bibir gadis itu. "s**t! sepertinya aku harus tidur sekarang" Vino pun dengan cepat menutup matanya, dan menyusul Via ke alam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD