KEMBALI KE RUMAH MANTAN

1008 Words
Jake masuk ke dalam kantor kakaknya. "Kak, aku dengar wanita itu sudah dilacak." Kakak Jake, John, yang sedang melihat pemandangan luar gedung melalui kaca kantornya, balik badan dan menatap dingin sang adik. "Apa yang kau lakukan di luar sana sampai tertangkap? Jika saja mereka tidak minta tebusan, aku tidak akan bisa menebus kau." Jake tertawa getir. "Tidak ada yang tidak bisa kakak lakukan, bagaimana bisa polisi tidak mau menerima uang kakak?" John melirik tajam sang adik melalui kaca. "Aku tidak tahu isi otak kau, pantas saja kakek coret kau dari daftar pewaris." "Aku tidak peduli masalah pewaris, kakak yang paling cocok. Aku bisa bantu kakak, lagipula aku dapat banyak pelanggan untuk kakak." "Cari orang yang bisa menjadi bandar." Jake mengerutkan kening. "Kakak tidak percaya padaku? Aku tidak pakai barang itu sama sekali." "Kau memang tidak pakai, tapi orang bisa baca otak kau yang bodoh." Jake menatap tidak percaya John. "Kak... bagaimana bisa..." "Wanita yang kau cari itu tunangan dari keluarga Rylee, bagaimana bisa kau tidak tahu?" Jake terbelalak. "Bangsawan Rylee?" Di kota yang mereka berdua tempati sekarang, nama keluarga Rylee sangat terkenal dengan sejarah panjang nenek moyang mereka sebagai bangsawan dan juga pahlawan yang menyejahterakan kehidupan warga di sekitarnya. Tidak ada yang berani membuat masalah dengan keluarga Rylee. "Bagaimana bisa dia menjadi tunangan..." "Tidak penting, yang aku permasalahkan... bagaimana bisa kau buat ulah dengan keluarga mereka?" Jake mengerutkan kening, tidak merasa bersalah. "Kakak, wanita itu hanya memakai pakaian magang club. Bagaimana aku bisa mengenalinya?" John mulai memikirkannya. 'Keluarga Rylee memiliki harga diri yang sangat tinggi, bagaimana bisa menjadikan wanita itu sebagai..." "Tuh kan, bisa saja itu hanya informasi palsu." Jake menjentikkan jarinya. "Jaga bicaramu!" bentak John. Jake terdiam, tidak berani melawan. "Lupakan wanita itu!" Jake terkejut dengan keputusan sang kakak, padahal selama ini dia selalu menuruti permintannya. "Kakak, dia buat aku masuk penjara dan hampir saja buat polisi curiga." "Anggap saja kali ini keberuntungan kau, jangan menyeret orang lain lagi, kita tidak mampu menyinggung seorang bangsawan." Jake masih tidak terima. "Kak, ini Indonesia, tidak ada bangsawan yang tidak memiliki kekuasaan seperti mereka, keluarga Rylee hanya terkenal secara nama." John sakit kepala mendengar rengekan sang adik. "Mereka terkenal secara nama tapi mereka lebih banyak koneksi daripada kita." Jake terdiam begitu mendengar ucapan John. "Jika kita punya kesempatan, aku akan menangkapnya. Namun, aku tidak mau memusatkan perhatian pada wanita ini, aku tidak mau ganggu keluarga Rylee." Jake mendecak kesal tapi tidak bisa membantah ucapan John, selama ini bisnis keluarga dipegang sang kakak dan berhasil, karena itu dia tidak berani melawan sang kakak. "Baiklah, aku paham." John lega mendengarnya. "Ayo pulang, kau ke sini untuk menjemputku kan?" Jake hendak menjawab tidak, tapi melihat raut wajah John yang terlihat bahagia, dia hanya bisa mengangguk kecil. "Ya." John menepuk bahu adiknya dengan bangga. "Terima kasih." *** Tidak butuh waktu lama, Yumi mengemas barang-barang yang hendak dibawanya. Kotak berisi barang-barang belum dikeluarkan, hanya sebagian pakaian yang dikeluarkan dari koper. Yang membuat Yumi takjub, para pengawal keluarga dijadikan tukang angkut barang, lalu ada truk baru yang datang khusus memuat barang-barangnya. Semua ini menjadi tontonan tetangga, ketua RT dan istrinya yang baik hati, bertanya pada Yumi. Yumi segera menjelaskan masalah pindah yang mendadak, matanya sesekali menatap heran truk yang sepertinya masih baru dan belum ada plat? serius? apa mereka pinjam ke dealer? Refan yang melihat keheranan Yumi, tersenyum geli lalu berbisik. "Malam ini kau harus benar-benar pindah, tidak boleh di rumah sendirian. Kakek memikirkan barang bawaan yang pasti punya sejarah untukmu, jadinya kakek menghubungi dealer dan membayar truk yang bisa dikeluarkan malam ini." Yumi terbelalak. "Tidak perlu seperti itu, aku bisa menyewa..." "Tidak, kau harus keluar dari rumah ini secepatnya." Yumi masih tidak paham dengan tingkah para lelaki Rylee. "Sebenarnya ada masalah apa?" Refan tersenyum. "Hanya ulah satu orang yang tidak becus mengerjakan pekerjaannya." Yumi menaikkan kedua alisnya. Setelah mengosongkan rumah, Estefan bicara sekilas pada ketua RT dan istrinya sebentar, lalu masuk ke dalam mobil bersama dua cucu dan satu mantan menantunya. Yumi terpaksa duduk di samping Efan yang menjadi sopir. Efan dan Estefan duduk di belakang mereka, suasana menjadi canggung. "Apa ada yang bisa cerita... situasi saat ini?" tanya Yumi dengan hati-hati. Efan segera cerita. *** Kepala pelayan dan para pelayan Rylee lainnya menyambut tiga keluarga Rylee dan wanita yang sempat tinggal di rumah ini. Kepala pelayan tidak terkejut, cepat atau lambat, Yumi pasti kembali ke rumah ini. "Nona, kamar Anda masih ada. Anda bisa istirahat." Yumi melirik para pelayan lainnya yang berdiri di belakang kepala pelayan. "Terima kasih," ucapnya. Dulu dia merasa tidak enak da selalu berpikir menjadi orang luar, sekarang dia harus menerima situasi, lagipula bukan dirinya yang menjilat ludah. Refan meregangkan tubuh. "Aku ke kamar dulu, rasanya badanku pegal." "Tuan kecil, saya sudah menyuruh pelayan menyiapkan air hangat. Anda bisa berendam sebentar. Tuan besar dan Tuan muda, saya juga perintahkan hal yang sama, Anda berdua pasti lelah pagi ini." Yumi menatap kagum kepala pelayan yang masih cekatan melayani majikannya. "Terima kasih." Efan melirik Yumi yang masih diam di tempat. "Kau mau diantar?" Yumi menggeleng lalu mendorong pet stroller Hasan. "Aku tidak hilang ingatan." Kepala pelayang dan Estefan berusaha menyembunyikan senyum begitu mendengar balasan Yumi. Efan mengerutkan kening. "Aku hanya bersikap sopan, kenapa sekasar itu padaku?" "Benarkah? Aku tidak tahu." Yumi menggeleng kesal. "Aku tidak tahu kau mudah tersinggung." Efan hendak membalas, tiba-tiba ucapannya di masa lalu muncul. "Jangan tersinggung dengan ucapanku, aku memang seperti ini, atau... kau memang wanita yang mudah tersinggung?" Efan mengabaikan sikap kasar Yumi dan bergegas naik ke lantai dua. Yumi menoleh ke kepala pelayan. "Bisakah menyuruh satu orang untuk bantu bawa Hasan? Tenagaku tidak ada, hanya mulut dan otak kotorku yang ada." Efan berhenti naik tangga lalu balik badan, Yumi memang sedang menyindirnya. "Kau tidak punya tenaga sampai selalu menyuruh para pelayan? Apa hanya mulut dan otak kotor kau yang tersisa?" Kepala pelayan yang memahami permintaan Yumi, segera menunjuk salah satu pelayan yang masih terlihat segar. "Kau bantu nona bawa barang-barangnya." Efan tidak ingin bertengkar. "Aku akan tinggal di paviliun, kau tidak perlu khawatir masalah perjanjian kita. Aku yang telan ludah sendiri." Yumi tidak bereaksi, mengabaikan ucapan Efan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD