DIINCAR

1054 Words
"Kemarin aku dapat serangan, Dokter menyarankan aku tidak memikirkan hal buruk, jadinya aku berangkat sekolah hari ini," ucap Refan sambil mengunyah sosis berbentuk gurita yang diambilnya dari kotak makan di pangkuannya. "Begitu masuk, semuanya bersikap hati-hati. Ah, aku juga datang terlambat hari ini karena harus diperiksa Dokter terlebih dulu." Ayumi cemberut begitu mendengar cerita Refan. "Biasanya orang sakit itu istirahat, bukannya malah sekolah." "Sepertinya kau tidak suka keberadaanku di sini." "Iya, memang tidak suka." Ayumi mendecak kesal. Yumi memiringkan kepala, mendengar perdebatan kecil mereka berdua. "Rupanya kalian saling mengenal." "Oh, dia masuk rumahku tengah malam." Ayumi menatap kesal Refan. "Rupanya ada yang bocor di sini." "Ah, bukan bocor, hanya gosip." Refan tertawa kecil, lalu mengalihkan tatapannya ke Yumi. "Enak?" Yumi yang masih di dimensi lain, menikmati makanan perlahan. Ayumi menyenggol tangan Yumi. Yumi tersadar dari lamunan lalu menatap Ayumi. "Hah?" "Dia tadi tanya," kata Ayumi sambil menunjuk Refan dengan dagunya. Yumi mengalihkan tatapan ke Refan. "Apa?" Refan menghela napas panjang. "Enak makanan buatan kakakku?" tanyanya. "Enak." Yumi mengangguk kecil. "Sangat enak." "Apa ini, kelihatannya tidak ikhlas." Refan menertawakan Yumi. "Kalau tidak enak, bilang saja." "Tapi, ini... beneran buatan Efan?" tanya Yumi untuk memastikan. "Siapa lagi yang punya waktu luang di pagi hari? Hanya dia, polisi gadungan," Refan menjawab dengan nada sinis. "Tidak perlu dimakan kalau tidak enak, aku dan kakek tidak pernah makan buatan kakak." "Kak Refan pernah jadi korbannya?" tanya Ayumi dengan hati-hati. "Tidak," jawab Refan dengan cepat. "Pada dasarnya kami memang beda selera." Ayumi dan Yumi melirik bekal Refan yang penuh dengan buah. Nadine yang duduk di seberang, bisa melihat keakraban Refan dan Ayumi, dia cemburu melihatnya. Namun, para guru lainnya pura-pura tidak melihat, hanya pasang telinga. *** "Aku dengar kau makan siang dengan Yumi, kau punya rencana apa?" Refan yang sedang menaiki tangga sepulang sekolah, melihat kakaknya berdiri di ujung tangga bawah, menatap tajam dirinya. "Ada masalah?" "Apa yang kau rencanakan?" "Hanya makan siang, aku juga masih SMA." "Kau bukan SMA lagi." "Hanya usia kak." Efan menghela napas. "Jangan diulangi." Refan jadi tidak mengerti alasan kakaknya bersikap seperti ini sekarang. "Ada masalah?" "Dia mantan tunangan aku." Refan mengangguk paham. "Jadi, karena dia sudah berpisah dengan kakak... aku tidak boleh dekat dengannya?" "REFAN!" "Pagi ini bukan kakek yang menyuruh orang mengirim bekal ke Yumi, itu kakak kan?" Efan terdiam, memang dia yang buat bekal. "Aku hanya kebanyakan buat makanan, kalian tidak menyukai masakanku... lebih baik aku berikan ke dia." Refan tertawa sinis. "Kak, aku memang jarang masuk sekolah.. tapi, aku tidak buta." "Aku hanya ingin melindungi Yumi." Refan menaikkan salah satu alis. "Yumi atau yang lain?" "Yumi." Efan memijat kening dengan perasaan kesal. "Yumi terlibat masalah dengan gembong narkoba." Refan terkejut. "Apa?" "Anak yang aku tangkap dan sempat menyiksa Yumi, tidak terima, sepertinya dia mengadu pada salah satu keluarganya yang minta bantuan polisi, hanya saja..." "Kakak lebih cepat tahu informasinya?" Efan mengangguk kecil. "Kau juga tidak boleh terlibat, meskipun kau keluarga inti Rylee... tidak bisa menjamin orang bisa melindungimu." "Bagaimana dengan Yumi? Kakak hanya melindunginya dengan mengirimkan bekal?" Refan tidak percaya dengan keputusan kakaknya. "Kenapa tidak bawa ke sini saja?" "Dia tidak akan mau." "Aku yang akan bicara, kakak bawa barang dan tinggal di rumah lain saja." Efan menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. "Kau lebih penting 'kan dia daripada kakak kau ini?" Refan hanya mengangkat kedua bahu dengan santai. "Kakak bisa jaga diri." "Suatu hari nanti, kau akan menyesal..." "Aku akan beritahu kakek, kakak tidak becus menjaga mantan tunangannya." Refan turun dari tangga lalu lari menuju ruang kerja di lantai satu. Efan terpana dengan kelakuan adiknya. Satu jam kemudian. Efan dan Refan menemani sang kakek ke rumah Yumi. Yumi menatap bingung tamu tidak diundang di malam hari. Alasan utama, mereka bertiga pria, sangat tidak etis masuk ke dalam rumah seorang wanita muda sendirian. Alasan kedua dan paling kuat adalah mereka keluarga dan juga mantan tunangannya. "Yumi." Estefan menatap sedih wanita yang berdiri di hadapannya. "Ayo, kembali ke rumah." Yumi menatap bingung Efan yang berdiri di belakang sang kakek, butuh bantuan penjelasan dari yang bersangkutan. "Kakek, aku sudah tidak pantas tinggal di sana lagi. Aku sudah bukan bagian dari keluarga kakek." Refan tertawa kecil. "Tidak perlu khawatir, kakakku yang keluar." Efan memukul belakang kepala Refan. Refan menggosok belakang kepala sambil menatap kesal kakaknya. "Masalahnya... aku sudah berjanji pada almarhum nenek untuk menjagamu." Estefan meremas pelan tangan mungil Yumi. "Kontrak 'kan saja rumah ini dan tetap tinggal di rumahku, tenang saja.. tidak akan ada yang bisa usir kau." Yumi semakin bingung dengan kelakuan kakek yang tiba-tiba. "Tapi, aku sudah buat perjanjian dengan Efan..." "Perjanjian apa? Bisa kau tunjuk 'kan pada kami?" tanya Estefan dengan nada lembut. "Siapa tahu aku bisa mencari bukti kesalahan cucu tidak berguna itu." Efan mengerutkan kening ketika mendengar ucapan ngawur sang kakek. "Efan pewaris kakek, tidak mungkin melakukan hal itu kan?" tanya Yumi yang semakin takut. "Tenang saja, aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian dan..." Estefan tertawa. "Aku bisa mengganti kedudukan pewaris sesukaku jika ada yang mengganggu rencana, Efan salah satunya." Yumi semakin lelah memikirkan kelakuan mantan tunangan yang selalu berubah. "Maaf, kakek. Bisakah kita bicarakan besok atau lain kali? Aku sangat lelah." "Kak." Refan menarik tangan Yumi yang hendak masuk ke dalam rumah tanpa mendengar jawaban keluarganya. "Bisakah kakak pindah malam ini? Aku dan kakek bisa menjamin kak Efan tidak akan mengganggu kakak lagi." Yumi menarik tangannya, timbul perasaan tidak nyaman. "Tidak perlu sejauh itu, aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan sama di masa lalu, sudah permalukan keluarga kalian." Estefan mengerutkan kening begitu mendengar ucapan Yumi. "Siapa yang mengucapkan omong kosong itu pada kau? Kakek tahu kau dirundung kalangan tidak penting itu, tapi kakek tidak pernah menyalahkan kau..." Refan melirik Efan. "Sepertinya ada yang kalian berdua sembunyikan di belakang kami." Efan menutup mata sebentar, lalu membukanya perlahan seolah membuang beban berat di kepalanya. "Aku hanya ingin melindungi keluarga kita dari orang asing." Estefan balik badan dan menatap kesal Efan. "Yumi juga keluarga kau, bagaimana bisa bicara sembarangan seperti itu?!" Efan menghela napas panjang. "Pulanglah, aku akan tinggal di apartemen dan tidak mengganggu kau lagi." Yumi keberatan dengan keputusan sepihak Efan dan keluarganya. "Tetap saja aku..." "Dengarkan saja kami." Efan maju dan menghalangi Estefan serta Refan. "Kau dalam bahaya, mereka cari kau." "Siapa?" tanya Yumi dengan bingung. "Nanti kami cerita." Efan melepas jas dan meletakkannya di pundak Yumi. "Butuh bantuan bawa barang?" Yumi bergidik, menyadari Efan sangat dekat dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD