"Bisakah aku egois, meminta pada Tuhan merubah takdir untuk memilikimu selamanya?"—Andhara Kirana Mahestri.
***
"Aksa, kalau Abang enggak ada, tolong jaga Andhara."
Aksa yang duduk main playstation di samping Arkan menoleh.
"Maksud lo Bang? Kayak lo mau ke mana aja."
"Gue serius, Arion."
Aksa mempause gamenya, menoleh pada Arkan. Jika Arkan sudah menyebut nama belakang Aksa, itu tandanya Arkan sedang mode serius.
"Bang, lo jangan bercanda. Ucapan itu doa." Aksa meletakkan stik playstationnya memandang Arkan.
Arkan masih sibuk bermain game sepak bola memegang stik playstationnya.
"Gue nggak bercanda. Kali aja, nyawa gue enggak lama," celetuk Arkan.
Aksa merebut stik dari tangan Arkan kasar.
"Lo kenapa sih, Bang? Seakan-akan, lo itu pergi ninggalin kita!"
Arkan tersenyum memegang pundak Aksa.
"Cuma lo yang bisa gue andalkan buat menjaga Andhara dan anak gue."
Aksa menepis tangan Arkan.
"Lo kebanyakan nonton sinetron," cibir Aksa kembali melanjutkan permainannya.
"Gue cuma minta satu hal Aksa, kalau terjadi sesuatu sama gue, tolong jaga Andhara serta bayi yang di kandungan Andhara."
Kepergian Arkan menyisakan luka bagi Aksa. Perkataan Arkan selalu memenuhi otaknya. Aksa tidak menyangka, jika hari itu adalah hari terakhir mereka menghabiskan waktu bersama. Kecelakaan yang Arkan alami, membuat Andhara shock. Namun, karena dukungan keluarga dan mengingatkan bahwa dirinya tidak sendiri, Andhara perlahan membuang egonya demi anak yang ada dikandungannya.
Saat itu Andhara sedang hamil muda. Setelah kepergian Arkan berbulan-bulan, mulai muncul isu yang membuat Aksa panas, ketika mereka mengatakan jika Andhara hamil anak setan, bahkan anak haram. Nyatanya, apa yang mereka lihat, belum tentu yang sebenarnya. Karena hal itu lah Aksa menikahi Andhara selain amanat dari Arkan.
"Woi! Melamun aja lo Sa!" Wahyu menggebrak meja kedai.
Para pengunjung memusatkan perhatian pada Wahyu. Wahyu yang sadar meringis memandang satu per satu pengunjung kedai. Aksa mendelik menatap Wahyu.
"Lamunin apa lo Sa? Pasti yang jorok kan? Ngaku lo," tebak Wahyu.
Suara Wahyu yang seperti toa kembali menyita perhatian pengunjung kedai. Aksa menyumbat mulut Wahyu dengan tisu di meja.
"Ngeganggu suara cempreng lo. Gue enggak mikir jorok. Gue mikirin Dara."
"Hah? Dara?"
Aksa menoyor kepala Wahyu karena kesal. Wahyu meringis, membalas perlakuan Aksa. Aksa menanyakan Wahyu di mana keberadaan Dana. Jawabannya, Dana sedang modus pada Karen. Dana tidak pernah menyerah kala Karen selalu menolak Dana. Hal itu seakan menjadi tantangan bagi Dana untuk mendapatkan Karen.
***
"Kamu mau ke mana, Dara?" tanya Mama Tyas memperhatikan penampilan Andhara yang memakai baju hamil terusan, dengan sepatu flat shoes mendekati Mama Tyas di dapur.
"Dara cariin Mama, ternyata Mama di dapur. Ini, Dara mau ke dokter kandungan Ma."
"Mama temani buat cek kandungan kamu ya?"
"Enggak apa-apa Ma, Dara bisa sendiri kok," tolak Andhara sungkan.
"Mama enggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Atau, minta temani sama Aksa aja ya?" bujuk Mama Tyas.
"Enggak usah Ma, Dara nggak mau buat Aksa repot," tolak Andhara.
"Assalammualaikum."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aksa datang tepat waktu ketika Dara ingin pergi. Mama Tyas tersenyum licik.
Aksa menapaki anak tangga, tanpa melihat Mama Tyas dan Andhara mengikuti langkah Aksa.
"Aksa," panggil Mama Tyas.
Aksa menoleh, menatap Mama Tyas dan Andhara bergantian.
"Mama minta kamu temani Dara periksa kandungan ya," pinta Mama Tyas.
"Ck, Ma, Aksa lelah. Pergi sama Mama aja," tolak Aksa dengan raut wajah masam melanjutkan langkahnya.
"Ma, kalau Aksa lelah enggak apa-apa, Dara bisa sendiri kok," sambung Andhara
"Enggak, Mama tetap minta kamu temani Dara atau Shareen—"
"IYA!"
Shareen terus! Apa-apa Shareen, ck, Mama sama anak sendiri juga!
Mama Tyas tersenyum lebar. Andhara menggigit bibir ketika Aksa mengerling sekilas pada Andhara dengan raut wajah masam.
Aksa dan Andhara pergi ke rumah sakit.
Aksa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keheningan di mobil membuat suasana semakin senyap. Andhara memperhatikan Aksa yang kini fokus menyetir.
Rumah sakit yang dituju sampai. Aksa memarkirkan mobil. Andhara keluar dari mobil Aksa yang di ikuti Aksa. Banyak pasang mata yang melirik Aksa dan Andhara. Pasalnya, wajah mereka masih sangat muda untuk memiliki anak. Apalagi dengan Aksa yang memakai kaos, serta celana jin tiga perempat memakai sepatu adidas khas ala remaja.
Aksa dan Andhara duduk di kursi tunggu setelah mendapat nomor antrian. Tidak banyak pasien yang mengandung menunggu antrian, namun Andhara dan Aksa merupakan pasangan termuda diantaranya.
Beberapa lama menunggu, nama Andhara di panggil. Aksa mengikuti Andhara masuk lantaran penasaran. Wajah Aksa pias ketika bertatap muka dengan Dokter Azmi—Tante Ana.
"Loh, Aksa? Kamu siapanya Dara?"
"Aksa—"
"Adik ipar Dara, Dokter," jawab Andhara cepat.
Aksa menatap Andhara. Andhara melempar senyum pada Dokter Azmi. Andhara di persilakan Dokter naik ke brankar untuk di periksa. Dokter Azmi, mengoleskan gel di perut Andhara. Dokter Azmi meletakkan sebuah alat kecil di perut Andhara yang terhubung di monitor samping Andhara.
"Usia kehamilan memasuki 21-24 minggu. Janinnya berkembang sangat baik, usianya lebih dari 360 gram, panjang 27 cm. Gerakan janin pada usia ini berputar, bergeser, sekadar bergoyang, kadang meninju dengan kepalan tangannya yang mungil, dan bahkan saat bayi cegukan, kamu bisa merasakan semuanya Dara," ungkap Dokter Azmi menunjukkan pergerakan buah hati Andhara.
Andhara yang melirik layar monitor menatap haru bayi mungilnya. Mata Andhara berkaca-kaca. Aksa yang melihat monitor tanpa kedip, ada perasaan asing yang menyelusup. Sedikit rasa bahagia karena keponakannya tumbuh dengan sehat.
"Tante, boleh cetak gambarnya dua?" pinta Aksa.
"Kamu ke pengen punya anak Aksa? Lamar Ana gih, biar keponakan kamu ada temennya ini," goda Dokter Azmi pada Aksa.
Aksa tersenyum canggung. Sementara senyum Andhara memudar. Dokter Azmi merupakan Tante Ana, pacar Aksa. Andhara tersentak, ketika mendengar pertanyaan Aksa.
"Tante, usia kandungan 21-24 minggu ini, si bayi udah bisa dengar suara belum?" tanya Aksa antusias.
"Sudah. Dia bisa mendengar suara ibunya atau siapa saja yang berbicara dengannya," tutur Dokter Azmi.
Aksa mengangguk, Dokter Azmi membantu Andhara bangun dan duduk di meja kerjanya memberi resep, serta wejangan untuk ibu hamil. Setelah mengambil obat, Aksa dan Andhara pulang.
"Sehat-sehat ya di dalam, Om Aksa akan jaga baby Arsa mulai sekarang," ungkap Aksa mengelus perut Andhara sebentar, sebelum mengalihkan pandangan ke depan.
"Baby Arsa?" ulang Andhara.
"Iya, lo enggak suka?"
Andhara mengulang-ulang nama yang diberikan Aksa. Arsa? Hanya berbeda huruf K dengan Aksa.
"Kenapa harus Arsa?"
"Bawel banget sih, lo Dara. Kalau lo enggak suka, tinggal ganti nama lain," ketus Aksa menukar porsneling menyalip mobil BMW hitam di depannya.
Andhara mencibir. Sifat Aksa mulai keluar lagi. Andhara penasaran. Arsa? Apakah itu singkatan dari nama Arkan dan nama Andhara?