BAB 9 | Perubahan Aksa

1017 Words
"Karena prioritasku itu dia. Bukan kamu."—Aksa Delvin Arion. *** Aksa merenggangkan otot-ototnya ketika selesai menyalin rangkuman catatan matkul Manajemen Pemasaran tempo hari. Aksa yang sibuk mengurus kedai kopi Sejuk, membuat waktu Aksa berkurang. Dana serta Wahyu, tidak bisa membantu Aksa karena ingin rehat sejenak sebelum ujian tengah semester dimulai. Aksa menilik jam beker menunjukkan pukul sepuluh. Aksa keluar dari kamar mengambil air minum di dapur. Langkah Aksa terhenti ketika lampu kamar Andhara masih menyala. Ragu-ragu, Aksa melangkah menuju pintu. Aksa tidak tahu mengapa langkah dan kata hatinya tidak sejalan. Tangan Aksa menggantung di udara, ketika mendengar gerutuan Andhara. "Lo belum tidur?" "Belum. Aksa kenapa belum tidur?" sahut Andhara membuka pintu. "Malah balik nanya. Kalau baby Arsa enggak sehat, karena lo kurang tidur, lo mau?" cerocos Aksa. Andhara menggeleng," Dara enggak bisa tidur." "Lo udah minum s**u hamil?" Lagi, Andhara menggeleng. Aksa menghela napas." Gimana baby Arsa mau sehat? Lo malas minum s**u," cetus Aksa ceramah. Aksa kenapa sih? Kok, kayak Mama bawel banget. "Gue buatin lo s**u, tunggu di kamar," perintah Aksa yang diangguki Andhara. Aksa berjalan menuju dapur  menekan sakelar lampu. Pandangan Aksa memindai seluruh sudut dapur mencari s**u hamil. Aksa menemukan s**u kotak berwarna kuning, biru dan ungu bergambar orang hamil—Anmum Materna rasa mocha caramello. Aksa membaca petunjuk di belakang kemasan s**u kotak itu. Aksa dengan cekatan mengambil gelas, menuang tiga sendok munjung s**u ke gelas. Setelah selesai, Aksa mematikan lampu dapur bergegas ke kamar Andhara. "Nih, lo minum susunya." Andhara meneguk s**u hangat di gelas hingga tandas. "Makasih ya, Aksa." "Hum." Andhara memperbaiki posisi duduknya perlahan berbaring telentang. "Lo mau langsung tidur?" "Iya, kenapa Aksa?" Gelagat Aksa tidak seperti biasanya. Andhara kembali duduk dengan alas bantal di punggungnya. "Boleh enggak, kalau gue elus perut lo bentar? Gue penasaran reaksi dia di elus." Aksa duduk di kasur menghadap Andhara, mengusap perutnya yang menonjol setelah mendapat izin dari Andhara. "Baby Arsa, cepat lahir ya, Om udah enggak sabar main sama baby Arsa. Nanti, kalau baby Arsa lahir, Om akan ajak kemana pun baby Arsa pergi," celoteh Aksa mengusap perut Andhara. Andhara memperhatikan interaksi Aksa mengajak baby Arsa bicara. Semakin lama, mata Andhara mulai terpejam. Aksa mengusap lembut perut Andhara. "Baby Arsa, Om minta maaf, kalau nanti kamu tahu, Om bukan ayah kandung kamu." Aksa memperhatikan Andhara yang sudah tertidur. Aksa menyelimutkan Andhara, lalu mengusap sekali lagi perut Andhara. "Have a nice dream, baby Arsa." *** Semburat pagi membangunkan tidur lelap Andhara. Andhara merasa tidurnya sangat nyenyak. Andhara mengambil ponsel melihat jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Andhara kesiangan. Andhara bergegas ke kamar mandi membasuh muka dan menggosok gigi. Andhara ingin membuat sarapan. Andhara bergegas keluar dari kamar menuju dapur. Siluet punggung tegap memakai kaos hitam lebih tinggi dari Andhara membuat dahi Andhara mengerut. "A-Aksa?" Andhara mencoba memanggil Aksa pelan. Aksa terkejut, berbalik menatap Andhara. "Lo ngapain di sini?" "Harusnya, Dara yang nanya ngapain Aksa di dapur jam segini?" Andhara mendekati Aksa, melihat apa yang di kerjakan Aksa. "Kamu mau buat apa, Aksa?" cecar Andhara melihat cabai, bawang merah, ladaku, tomat, ayam, sosis, telur di samping kompor. "Nasi goreng." "Sebanyak ini?" "Iya, biar baby Arsa sehat. Kamu harus makan makanan yang bergizi dan sehat," terang Aksa. "Aksa, ini namanya makan besar, perut Dara  eggak akan kuat makan sebanyak ini," balas Andhara. "Jadi, lo mau di masakin apa?" "Enggak usah, biar Dara aja yang masak. Aksa siap-siap ke kampus aja," kata Andhara mengambil alih. "Lo takut masakan gue asin lagi?" tebak Aksa. "Enggak kok, udah sana mandi," usir Andhara. Aksa menghela napas pergi meninggalkan dapur. Andhara hanya tersenyum ketika mengingat kilasan waktu Aksa memasak nasi goreng asin untuknya. Andhara tahu, tapi Andhara ingin menghargai Aksa yang sudah rela memenuhi ngidamnya. Andhara telah selesai menghidangkan sarapan di meja makan. Andhara juga sudah segar sehabis mandi. Aksa masih memakai kaos yang sama dengan wajah bantalnya. "Loh, Aksa? Kamu kok, belum siap-siap ke kampus? Bukannya ada jadwal kuliah pagi ini?" tanya Andhara melirik pakaian Aksa. "Kalau hari weekend, Aksa kan, enggak ngampus Dara," sahut Mama Tyas dan Papa Ardian yang menyahut di belakang Aksa. Andhara hanya membulatkan bibir. Mereka menarik kursi meja makan melihat menu masakan yang tersaji di meja. "Wah, nasi gorengnya variatif. Kayaknya enak," puji Mama Tyas melihat nasi goreng di mangkuk kaca ada ayam suwir, sosis dan telur. Aksa dan Andhara duduk bersisian. Sedang Mama Tyas dan Papa Ardian berhadapan dengan mereka. Andhara mengambilkan nasi gorengnya untuk Aksa, beserta minumnya. "Dara, kamu kenapa masak? Mulai besok biar Mama aja yang masak, nanti kalau kamu lelah, kasian anak kamu," ujar Mama Tyas. "Enggak apa-apa Ma. Nggak boleh malas-malasan lagi hamil, biar Dara lancar melahirkan," balas Andhara. "Ma, gimana mau masak? Matahari aja bangun duluan dari Mama," sindir Aksa. Andhara mengulum senyum setelahnya minum s**u hamil yang tersedia di meja makan. "Loh, kok, langsung minum s**u? Makan dulu. Biar baby Arsa sehat," protes Aksa mengambil gelas di tangan Andhara. "Baby Arsa?" ulang Mama Tyas. "Iya Ma, Aksa kasih nama baby Arsa. Aksa janji akan jaga keponakan Aksa dengan baik," terang Aksa menyuap nasi goreng ke mulutnya. Sesuai janji Aksa dengan Arkan. Aksa akan memperlakukan Dara dengan baik. Dara hanya mengaduk nasi gorengnya tanpa minat. Dara kembali tenggelam dalam kenangan bersama Arkan. Aksa mengatakan hal itu atas dasar memenuhi amanat Arkan. "Aksa." Aksa menoleh pada Mama Tyas. Mama Tyas menyuruh Aksa melihat Andhara yang hanya mengaduk nasi goreng di piringnya tanpa minat. Dari gerakan bibir Mama Tyas, Mama Tyas menyuruh Aksa membujuk Andhara agar tak terlalu memikirkan Arkan lagi, karena sekarang prioritasnya adalah baby Arsa. "Dara," panggil Aksa pelan memegang bahu Andhara. "Ya, Aksa?" Andhara menghapus air mata di pelupuk matanya sebelum memandang Aksa. "Kamu ingat bang Arkan?" Andhara hanya diam tanpa menjawab. Andhara menunduk menghindari tatapan Aksa. "Gimana kalau Aksa ajak Andhara jalan-jalan? Biar Andhara enggak sedih lagi," usul Mama Tyas membuat Andhara menatap Mama Tyas. "Papa setuju. Biar Dara enggak bosan di rumah terus," sambung Pap Ardian mendukung ucapan Mama Tyas. Aksa melototkan mata. Pasalnya, Aksa sudah ada janji dengan Ana hari ini menemani Ana jalan-jalan. Mama Tyas dan Papa Ardian tak acuh. Mereka melanjutkan sarapan tanpa mempedulikan sikap Aksa yang gusar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD