"Meski hanya sementara, aku hanya ingin menikmati waktu kebersamaan kami yang tersisa."—Andhara Kirana Mahestri.
***
Cakrawala yang mendung sama seperti raut wajah Aksa gelisah, membuat Ana khawatir. Hari ini, merupakan UTS dimulai. Meski pun Aksa sudah belajar semaksimal mungkin, Aksa takut nilai yang dia dapatkan tidak memuaskan. Aksa membawa mobil untuk pertama kalinya karena Aksa tidak ingin terlambat mengingat cuaca yang sedang tidak baik. Aksa tidak ingin merusak penampilannya yang sudah rapi.
"Aksa? Kamu kenapa diam aja dari tadi?"
Aksa menoleh sekilas," Aku ngerasa gugup, Sayang."
Ana tersenyum memegang sebelah tangan Aksa yang bebas," Jangan lupa berdoa, sebelum mulai ujian. 'Kan, kamu udah belajar."
Aksa melempar senyum, mengacak rambut Ana," Makasih ya, Sayang."
Ana mencebik, memperbaiki rambutnya yang berantakan. Ana melirik ke jendela kaca. Cakrawala semakin menghitam.
Aksa memarkirkan mobil. Aksa dan Ana kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, namun berbeda jurusan. Aksa mengantarkan Ana ke kelas lebih dulu. Setelahnya, Aksa menuju kelasnya. Dana dan Wahyu sudah menunggu Aksa di depan kelas.
"Widih, mencium aroma kecutnya jeruk purut nih," kata Dana mengendus-endus baju Aksa.
"Berisik lo!" ketus Aksa menjauhkan kepala Dana.
"Galak amat Bang? Lagi palang merah ya?" timpal Wahyu menggoda Aksa yang semakin gelisah.
Aksa menyugar rambut ke belakang. Aksa berusaha menenangkan diri untuk tidak gelisah.
"Sa, lo bawa kartu tanda mahasiswa kan?"
Ucapan dari Dana membuat Aksa merogoh saku, bahkan seluruh isi ransel. Aksa tidak menemukan kartu itu. Aksa tidak akan bisa ikut ujian jika kartu itu tidak ada.
"Kartu gue enggak ada."
"Coba lo cari lagi," perintah Wahyu.
Aksa panik, lalu mengingat di mana terakhir kali Aksa meninggalkan kartu itu.
"Gue baru ingat. Apartemen."
"Mampus lo Sa! Udah jam berapa nih? Kalau lo balik jemput, enggak keburu," rutuk Dana melirik arloji di tangannya.
"b**o! Temen lo lagi panik, malah bikin dia tambah panik!" Wahyu menoyor kepala Dana, lalu kembali menatap Aksa," lo bawa motor Sa? Harusnya, bisa cepet. Tapi, kalau enggak, lo minta tolong sama siapa gitu, jemput ke apartemen."
"Kunci akses apartemen lo di mana Dan?" tanya Aksa pada Dana.
"Sama Irene."
Irene, merupakan resepsionis yang bekerja di apartemen sekaligus sepupu Dana. Karena Dana pelupa, Dana menitipkan kartu akses apartemen pada Irene. Kata Dana, kalau kartu hilang dendanya bisa buat makan berminggu-minggu.
"Lo bilang Irene kasih kunci akses apartemen lo sama cewek namanya Andhara. Cepetan, Dana!" desak Aksa frustrasi.
"Lo yakin nyuruh Kak Dara Sa?" timpal Wahyu.
"Enggak ada waktu lagi. Cuma dia yang kepikiran sama gue," tukas Aksa mengutak-atik ponselnya.
Aksa mendial nomor telepon Andhara. Aksa semakin gelisah melirik arloji di tangannya.
"Dara, sekarang lo pergi ke apartemen Sky Garden. Kartu tanda mahasiswa gue ketinggalan. Cepetan!"
Suara grasak grusuk di seberang, membuat Andhara panik. Andhara yang ingin membantu pekerjaan Mama Tyas mengurungkan niat.
"Ada apa Dara? Kamu keliatan panik?" tanya Mama Tyas mendekati Andhara yang memegang pisau.
"Ma, Dara mau ke apartemen Sky Garden. Jemput kartu tanda mahasiswa Aksa. Dia 'kan, UTS hari ini. Dara pergi dulu Ma!"
Andhara bergegas ke kamar mengambil tas dan dompet. Andhara tidak sempat mengganti baju masih memakai piyama terusan dengan sandal bulu keluar dari kamar tergopoh-gopoh.
"Dara, hati-hati. Kamu lagi hamil," peringat Mama Tyas.
"Iya, Ma. Dara pergi dulu, assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mama Tyas mengerutkan dahi. Apartemen? Sejak kapan Aksa punya apartemen? Mama Tyas harus menginterogasi Aksa ketika Aksa pulang kuliah nanti.
Cakrawala memuntahkan amarahnya. Rintik hujan turun mengguyur penghuni bumi. Andhara memutuskan untuk memakai gojek agar lebih cepat sampai. Setelah mendapat intruksi dari Aksa, Andhara bergegas menuju kampus. Andhara basah kuyup. Aksa sudah menunggu Andhara di depan Fakultasnya.
Hati Aksa terenyuh melihat Andhara dalam keadaan basah kuyup. Andhara menggigil lalu memberikan kartu itu pada Aksa.
"Semoga berhasil ujiannya. Dara pulang dulu."
"Lo mau pulang dengan keadaan basah kuyup kayak gini?" cegah Aksa berdecak mengambil jaket di ransel memakaikan pada Andhara.
Aksa mengambil tangan Andhara tanpa izin, lalu mengusapnya agar hangat.
"Masih dingin?" tanya Aksa khawatir.
Anggukan dari Andhara, membuat Aksa semakin khawatir. Aksa memberikan kunci mobilnya pada Andhara.
"Lo enggak usah pulang dulu. Di mobil ada baju gue. Lo ganti. Kasian baby Arsa kedinginan," perintah Aksa.
"Hum. Aksa masuk kelas gih. Dara baik-baik aja."
Andhara memaksakan senyum. Aksa mengangguk, mengusap perut Andhara sekilas lalu pergi meninggalkan Andhara.
Beberapa jam berlalu, cuaca kembali cerah. Aroma sisa-sisa hujan masih berbekas. Aksa menjemput Ana di kelasnya. Sebelum ke parkiran, Aksa mengajak Ana untuk membeli makanan. Namun, ketika Ana sampai di parkiran, Ana tertegun menatap seorang perempuan yang menyandar di sebelah kursi kemudi.
"Sayang, kamu duduk di belakang enggak apa-apa kan? Ada Dara," kata Aksa membuka pintu mobil.
"Iya, enggak apa-apa."
Ana membuka pintu belakang. Ana menilik raut wajah Aksa yang terlihat khawatir melihat wajah Andhara yang pucat.
"Dara?" panggil Aksa pelan.
Andhara mengerang, ketika Aksa menyentuh keningnya. Andhara membuka mata perlahan.
"Aksa? Kamu udah selesai ujian?"
"Lo masih kedinginan? Lo udah makan?" cecar Aksa perhatian.
Ana yang hanya menjadi penonton terdiam. Ana mengerutkan kening melihat pakaian Andhara.
Jaket Aksa? Apa karena ini, Aksa beli makanan untuk Kak Dara? Sebenarnya, ada hubungan apa Aksa dengan Kak Dara?
Ana berperang dengan batin dan pikirannya. Sementara Aksa membantu Andhara memperbaiki posisi duduknya.
"Gue udah beliin bubur ayam. Lo harus makan," perintah Aksa mengambil kotak stereoform di dekat panel porsneling.
"Dara enggak suka bubur ayam," tolak Andhara.
"Lo harus makan. Ini demi baby Arsa!"
Andhara dengan malas mengambil kotak stereoform dari tangan Aksa. Andhara memaksakan asupan makanan masuk ke mulutnya yang pahit.
"Baby Arsa?" beo Ana.
"Iya, Sayang. Aku kasih nama anak Dara baby Arsa," jawab Aksa menoleh pada Ana.
"Arsa itu nama singkatan siapa?"
Aksa gelagapan," Ah, itu singkatan nama bang Arkan dan Andhara."
Dahi Ana mengerut. Jika nama singkatan itu memang nama Arkan dan Dara, darimana huruf s itu berasal?
"Bukan singkatan dari Andhara dan Aksa?"
Ucapan menohok dari Ana membuat Andhara tersedak. Aksa memberikan botol air mineral.
"Enggak suka, tapi lo habisin juga tuh, bubur ayam," sewot Aksa.
Andhara mencibir Aksa yang mengomel layaknya Ibu-Ibu pada anaknya. Sedangkan Ana, memutar netra keluar dari mobil Aksa.
"Sayang! Kamu mau ke mana?" tanya Aksa mencegah kepergian Ana.
"Aku mau pulang sendiri, Sa."
"Aku antar ya?"
"Enggak usah, kamu pulang sama Kak Dara aja," tolak Ana mengalihkan perhatian pada objek lain.
Aksa memalingkan wajah Ana menghadapnya," Kamu kenapa? Aku ada salah?"
Ana menepis tangan Aksa yang masih bertengger di pipinya," Kamu tanya salah apa? Kamu cuekin aku. Kamu enggak anggap keberadaan aku!"
"Sayang? Maksud kamu apa sih? Wajar kalau aku memperhatikan keponakan aku?"
Ana tertawa ringan," Keponakan? Atau Ibunya? Aksa, berhenti cari alasan. Aku enggak tahu hubungan apa yang kamu punya dengan Kak Dara. Jika suatu saat aku tahu, aku pastikan kamu enggak akan pernah bertemu dengan aku lagi," peringat Ana meninggalkan Aksa yang frustrasi.
"Akh! s**l!" umpat Aksa menendang ban mobil miliknya.
Andhara mendengar perdebatan Aksa dan Ana. Andhara menilik raut wajah Aksa yang masuk ke mobil.
"A-Aksa? Dara minta maaf, karena Dara Ana—"
"Buat apa?"
"Hidup Aksa berantakan karena Dara," lirih Andhara menunduk.
"Semua udah kejadian. Sekarang, gue cuma bisa ngejalani apa yang udah ada. Masalah Ana, dia cuma salah paham," tutur Aksa menghela napas.
"Aksa? Apa enggak sebaiknya kita pisah aja? Sebelum baby Arsa dekat sama kamu," usul Andhara.
Raut wajah Aksa berubah. Aksa menatap nyalang Andhara." Gue bilang satu tahun kan? Itu artinya setelah baby Arsa lahir, kita pisah."
"Tapi, Aksa—"
"Lo enggak usah khawatir. Gue tetap akan menyayangi baby Arsa seperti anak kandung gue sendiri," putus Aksa menyalakan mesin, lalu memutar roda kemudi keluar dari parkiran.
Andhara mengerling sekilas, Aksa yang diam mendadak jadi dewasa. Andhara tidak yakin, kebersamaannya dengan Aksa akan menimbulkan benih-benih cinta.
Bolehkah Andhara egois?