"Aku terjebak dalam permainan takdir. Antara ingin mengikuti naluri atau rasa."—Aksa Delvin Arion.
***
Usia kehamilan Andhara yang semakin bertambah, membuat Aksa nelangsa. Biasanya, ketika Aksa memberi perintah pada Andhara, dia akan menurut seperti bocah. Namun, kali ini sebaliknya. Andhara semakin membantah bahkan menitipkan Shareen pada Andi. Aksa semakin frustrasi menghadapi hormon kehamilan Andhara. Bahkan, Aksa merubah panggilannya pada Dara agar bayi di kandungan Andhara mendengar hal yang baik-baik saja.
Aksa melangkah gontai menuju sofa. Mama Tyas dan Papa Ardian yang tengah menikmati waktu berdua terganggu oleh Aksa.
"Kenapa wajah kamu masam kayak jeruk purut, Aksa?" tanya Mama Tyas memperhatikan Aksa yang menyandarkan punggung di sofa dengan wajah kusut.
"Biasa Pa, paling Dara ngambek lagi," Mama Tyas mengerling pada Andhara yang menyusul Aksa.
"Aksa! Aku mau main ke apartemen kamu," rengek Andhara manja.
"Apartemen itu bukan tempat main Dara. Itu tempat nongkrong aku sama Dana, Wahyu."
Aksa memijit pelipis mendengar rengekan Andhara.
"Aksa, apa salahnya bawa Dara ke sana? Toh, kamu juga lagi enggak ada kegiatan," bela Papa Ardian.
"Fine! Anak Papa sama Mama siapa sih? Malah belain Dara," gerutu Aksa menuju kamar.
Andhara yang sudah siap dengan dress terusan selutut, memakai flat shoes kesayangannya tertawa cekikikan. Mama Tyas dan Papa Ardian menggeleng menatap kepergian Aksa.
"Cucu Papa sehat, kan, Dara?" tanya Papa Ardian.
"Alhamdulillah, sehat Pa."
Andhara mengusap perutnya yang semakin membesar. Usia kandungan Dara yang memasuki tujuh bulan membuat Andhara ekstra hati-hati. Andhara sekarang lebih sensitif dari biasanya. Aksa bilang, Andhara lebih galak dari macan.
Aksa dan Andhara pamit pergi. Orang tua Aksa sudah mengetahui soal apartemen dan tidak mempermasalahkannya. Hanya saja, apartemen terkadang dihuni oleh Dana atau Wahyu. Hal itu yang membuat Aksa tidak memperbolehkan Dara berkunjung ke apartemen.
Aksa mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Sebelumnya, Aksa membeli bahan makanan dan minuman untuk stock di apartemen. Andhara bersenandung riang mengikuti alunan lagu yang berputar dari speaker mobil. Sejak kehamilan Dara semakin membesar, Aksa memakai mobil jika ingin pergi bersama Andhara. Aksa takut, terjadi sesuatu dengan kandungan Andhara. Aksa memasuki basement apartemen.
Aksa menekan tombol lift, sementara Andhara mengerling pada tautan tangan yang digandeng Aksa. Andhara menoleh pada Aksa yang melirik arloji.
"Apa liat-liat?" tukas Aksa galak mendapati Andhara mencuri-curi pandang ke arahnya.
Andhara mencibir. Pandangan Andhara lurus. Aksa mengulum senyum melihat Andhara yang menggerutu melepaskan tangannya.
"Kenapa senyum-senyum? Enggak ada yang lucu!" ketus Andhara galak.
"Memangnya, kalau senyum harus ada yang lucu dulu? Enggak kan?" Aksa memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Terserah!"
Andhara keluar begitu saja bertepatan dengan pintu lift terbuka. Aksa hanya menggelengkan kepala melihat sikap Andhara yang labil. Aksa menyusul Andhara membawa dua kantung kresek. Aksa menempelkan kartu akses apartemen. Andhara lebih dulu masuk. Mata Andhara membulat, begitu juga dengan Aksa. Dua sejoli yang sedang asyik dengan kegiatannya berhenti, ketika menyadari Aksa dan Andhara masuk ke apartemen.
Andhara menyusun bahan makanan dan minuman di kulkas. Setelahnya, Andhara membawa empat buah kaleng minuman dingin. Andhara ikut bergabung dengan Aksa di sofa.
"Bisa lo jelasin Wahyu? Ada hubungan apa lo dengan Karen?" cecar Aksa to the point.
Karen yang memakai baju kaos milik Wahyu menggaruk pelipis. Karen mengerling pada Andhara yang mengambil minuman kaleng di meja.
"Siapa suruh kamu ambil minuman ini? Tunggu bentar," kata Aksa menuju kulkas.
Andhara mencebik, ketika Aksa memberikan s**u kotak. Aksa mengambil minuman kaleng di tangan Andhara. Perlakuan mereka tak luput dari perhatian Wahyu dan Karen.
"Aku, kamu?"
"Enggak usah cari alasan. Nanti gue jelasin. Sekarang gue tanya kalian berdua," celoteh Aksa.
Andhara meringis, ketika sikap Aksa kembali dalam mode emak-emak yang mentatar anaknya.
"Karen tunangan gue."
"Sejak kapan?" tanya Aksa mendengar jawaban Wahyu.
"Sejak enam bulan lalu," imbuh Karen.
Aksa menghela napas. Pikiran Aksa semakin buntu. Masalah Aksa belum selesai, ditambah masalah baru lagi yang mengancam ikatan pertemanan diantara mereka.
"Dana berusaha dapatin lo Karen. Kenapa elo enggak nolak?" tanya Aksa lagi.
"Gue udah berusaha menghindar dari Dana, Sa. Tapi, Dana tetep keukeuh ngejar gue," bantah Karen.
Andhara mulai menguap," Aksa, Dara ngantuk."
"Tidur aja di kamar," perintah Aksa.
Andhara menggeleng, lalu mengambil tangan Aksa meletakkan di perutnya," Baby Arsa minta di manja."
Aksa mengusap perut Andhara lembut, hingga Andhara terlelap. Aksa memperbaiki posisi duduk Andhara dengan membaringkan Andhara agar Andhara nyaman. Aksa tidak ingin memindahkan Andhara, karena Andhara sangat sensitif. Aksa berpindah tempat duduk di dekat Karen dan Wahyu.
"Sekarang, lo jelasin Sa. Apa hubungan lo dengan Kak Dara," desak Karen penasaran.
Aksa menghela napas, lalu mulai bercerita dari awal. Karen yang mendengarkan berdecak kesal, bahkan mengumpati Aksa.
"Gila lo Sa! Lo enggak mikirin gimana perasaan Ana?" Nada bicara Karen naik dua oktaf.
"Sekarang gue balikin pertanyaan lo. Emang lo enggak mikirin perasaan Dana, kalau tahu kalian bohongi dia selama ini?"
Skakmat! Karen terdiam, begitu juga dengan Wahyu. Ucapan Aksa menusuk tepat di hati. Mereka merenungi kesalahan masing-masing.
"Jadi, rencana lo selanjutnya apa Sa?" tanya Wahyu.
Aksa mengedikkan bahu menatap Andhara yang masih terlelap.
"Kita harus mempersiapkan diri ketika waktu itu datang. Siap atau enggak siap, kita harus hadapi konsekuensi atas apa yang udah kita lakukan," seru Karen.
Aksa dan Wahyu mengerling sekilas pada Karen, lalu Aksa bangkit dari sofa menuju balkon apartemen yang diikuti Wahyu.
Aksa menggenggam erat pinggiran balkon. Dalam hati, Aksa mengumpati dirinya sendiri yang menjadi pengecut. Sejak kebersamaan Aksa dengan Dara, Aksa jarang ada waktu dengan Ana.
"Gue ngerti posisi lo, Sa," kata Wahyu menepuk pundak Aksa.
"Lo enggak akan ngerti. Sejujurnya, ini berat buat gue," balas Aksa menatap lurus.
Wahyu ikut menatap lurus, memegang pinggiran balkon," semua yang terjadi, bakal bikin kita makin dewasa. Tergantung dari kesadaran kita sendiri untuk mengakhiri semua masalah. Saran gue, lo hati-hati Sa."
Aksa menoleh, "maksud lo?"
"Lo bisa yakin perasaan lo masih tetap sama dengan Ana? Sedangkan setiap hari, lo menghabiskan waktu bersama Andhara. Gue harap, lo enggak akan menyakiti Ana atau pun Kak Dara dengan alasan apa pun."
Aksa kembali menatap lurus ke depan," Perasaan gue masih sama dengan Ana. Dengan Dara... hanya sebatas menjaga baby Arsa."
Wahyu tertawa ringan," baby Arsa? Andhara dan Aksa?"
Aksa terdiam. Wahyu kembali mencemooh Aksa," benar kan, tebakan gue? Aksa... Aksa! Lo boleh bohongi hati lo. Tapi, enggak untuk pikiran lo."