"Sebuah harapan akan menjadi angan, ketika kamu salah menaruh harapan."—Andhara Kirana Mahestri.
***
"An, kamu tahu enggak, kalau Aksa selalu ngantar kakak iparnya cek kandungan?"
"Maksud Tante?"
"Tante 'kan, Dokter kandungan Andhara. Setiap Andhara check up kandungan, Aksa tuh, kayak senang lihat anak Andhara. Emang kamu enggak tahu?"
Gelengan kepala dari Ana membuat kening Tante Azmi mengerut," Kok, bisa kamu enggak tahu? Padahal, Tante sering loh, godain dia biar lamar kamu terus nikah, kalau emang pengen punya dedek bayi."
Tatapan Ana menerawang ketika mengingat kilasan percakapan Ana dengan Tante Azmi. Ana tidak pernah tahu, jika Aksa selalu menemani Andhara cek kandungan setiap bulan. Beberapa bulan ini, Aksa memang jarang ada waktu bersama Ana. Elusan di kepala Ana, membuat Ana kembali sadar dari lamunannya.
"Kamu udah lama nunggu?" tanya orang itu duduk di depan Ana.
"Belum lama. Kamu dari mana?" tanya Ana.
Aksa menggaruk pelipis," Apartemen. Kenapa Sayang?"
Ana tersenyum kecut," Apartemen atau rumah sakit?"
"Maksud kamu?"
"Aku pengen kejelasan untuk hubungan kita Sa. Aku capek digantungin sama kamu. Beberapa bulan ini, kamu selalu sibuk. Enggak pernah ada waktu untuk aku, bahkan sekarang kamu entah gimana anggap hubungan kita," cecar Ana.
Aksa mengusap punggung tangan Ana di meja," kok, kamu ngomong gitu? Kamu pacar aku. Aku sibuk, ya karena emang sibuk. Kamu tahu 'kan, aku sibuk ngurus kedai ini? Kadang, Wahyu sama Dana enggak bisa selalu stay di sini," ungkap Aksa.
Ana menarik tangannya," oh, gitu? Kalau emang kayak gitu, kenapa kamu bohong Aksa? Kamu enggak dari apartemen 'kan? Kamu habis nemani Kak Dara dari rumah sakit 'kan?" tuding Ana tepat sasaran.
Aksa menelan saliva. Aksa pikir, Tante Azmi tidak akan memberi tahu Ana soal dia yang menemani Andhara. Namun, rupanya Tante Azmi menanyakan persoalan ini pada Ana.
"Sayang, aku minta maaf. Iya, aku bohong. Aku enggak mau buat kamu cemburu kayak waktu itu. Emang salah, aku nemani Dara?"
Ana tertawa getir," salah besar Aksa! Kak Dara kakak ipar kamu. Emangnya, kamu suaminya dia sampai-sampai kamu nemani dia ke rumah sakit, bahkan ngajak dia jalan-jalan?"
"Kamu tahu—"
"Tahu dari mana, iya? Tante Azmi pernah lihat kalian jalan bareng di Mall, liat-liat baju bayi," potong Ana.
Wajah Aksa pias. Aksa tidak dapat berkutik. Ingin menjelaskan, namun suara Aksa tercekat di kerongkongannya. Aksa tidak ingin menyakiti Ana lebih dalam. Aksa butuh waktu yang tepat.
"Apa kamu ada hubungan dengan Kak Dara?" tebak Ana.
"Enggak Sayang. Kamu tahu 'kan, aku serius sama kamu? Aku enggak mungkin ada hubungan sama Dara," terang Aksa memegang tangan Ana meyakinkan.
Sorot mata Ana sendu memandang Aksa. Ana tersenyum getir dalam hati. Ana tahu, jika lagi-lagi Aksa berbohong.
"Aku mau kita break dulu, Sa. Kita introspeksi diri masing-masing," putus Ana menarik tangannya meninggalkan Aksa.
"An! Tunggu dulu. Kita bisa bicara baik-baik," cegah Aksa menarik lengan Ana.
"Apa lagi yang mau dibicarain, Sa? Kita berdua butuh waktu buat nenangin diri. Hubungan kita udah enggak sehat Sa."
Aksa menarik paksa tangan Ana menuju mobil. Ana meronta. Sementara pengunjung kedai memusatkan perhatian pada Aksa dan Ana yang terlihat berdebat.
Di mobil, keheningan tercipta. Aksa melirik Ana yang mengalihkan pandangan ke jendela. Hati dan pikiran Ana berkecamuk. Banyak pertanyaam berseliweran di benaknya tentang Aksa. Ana hanya ingin mendapatkan kejujuran dari Aksa. Apa itu salah?
Aksa memberhentikan mobilnya di swalayan. Ana mengerling pada Aksa.
"Aku mau beli ice cream. Biar mood kanu membaik," kata Aksa membuka safety belt.
"Enggak usah. Biar Ana aja yang beli sendiri," tolak Ana keluar dari mobil Aksa.
Aksa mengembuskan napas panjang, mengacak rambut. Aksa memukur setir kemudi kesal. Keberanian Aksa memudar ketika melihat wajah Ana yang sangat polos.
"Arrgh! s**l! s**l!" umpat Aksa kesal menyandar di jok mobil.
Ana mengembuskan napas lega terbebas dari Aksa. Ana tidak tahan berdiaman dengan Aksa seperti tadi. Rasa canggung di antara mereka sama dengan saat pertama kali mereka dekat. Ana merasakan jika Aksa yang dulu telah berubah. Ana menuju tempat ice cream.
Ana mencari ice cream kotak dengan tiga varian rasa. Ana mengambil varian cokelat, vanilla dan strawberry.
"Eh!" Ana terkejut, ketika seseorang juga mengambil ice cream yang sama dengan Ana.
"Om, ice cream ini punya Ana. Kalau Om mau, ambil yang lain aja," kata Ana pada laki-laki berparas wajah tampan yang termenung.
Laki-laki itu mengejar langkah Ana menuju kasir." Hei, tunggu. Kamu panggil saya apa? Om?"
Ana melirik tangan laki-laki itu yang memegang tangannya. Laki-laki itu ikut memperhatikan arah pandang Ana, lalu menjauhkan tangannya.
"Kenapa Om? Saya buru-buru."
"Atas dasar apa kamu panggil saya Om? Saya tidak setua itu!" sewot laki-laki itu.
Ana memutar netra malas," terserah Om!"
"Udah tua, pakai enggak ngaku lagi. Dasar laki-laki," gerutu Ana menuju kasir.
"Hei! Saya dengar apa kata kamu, bocah!"
Ana menoleh, ketika mendengar sebutan bocah yanh disematkan untuknya.
"Biarin bocah punya wajah baby face! Dari pada Om? Baby jerk!"
Laki-laki itu menggeram jengkel, mendengar ucapan Ana. Laki-laki itu mengejar langkah Ana yang keluar dari swalayan.
"Saya belum selesai dengan kamu!"
"Ih, apaan sih, Om main tarik-tarik! Modus banget! Oh, saya tahu, Om itu Om-om m***m yang lagi cari mangsa dengan pura-pura sok kenal 'kan?"
Mata laki-laki itu membulat. Ana menyentak tangan laki-laki itu. Ana berlari kecil, menuju mobil Aksa.
"Hei, bocah!" panggil laki-laki itu.
Ana melirik ke belakang, lalu menabrak Aksa.
"Kamu kenapa kayak ketakutan gitu, Sayang?" tanya Aksa ketika Ana bersembunyi dibalik punggung Aksa.
"Itu, Om-om m***m dari tadi kejar Ana, Sa," tunjuk Ana pada laki-laki yang memakai stelan formal mendekati tempat mereka berdiri.
"Aksa?
"Marsel?"
Raut wajah Ana terlihat bingung. Marsel menarik senyum simpul melirik Ana yang masih takut-takut bertemu dengannya. Lalu, Marsel menjewer telinga Aksa.
"Udah berapa kali gue bilang. Panggil Abang. Gue lebih tua dari pada lo anak kemarin sore!"
"Akh! Bang Marsel, telinga Aksa sakit!" jerit Aksa mengusap telinganya yang memerah.
"Kalian saling kenal?" imbuh Ana.
"Lebih tepatnya sangat kenal. Sayang, Marsel ini sahabat karib almarhum bang Arkan. Enggak tahu kenapa dia balik lagi ke sini," Aksa mendengkus melirik Marsel.
"Bilangin ke pacar lo ini Sa. Gue bukan Om-om m***m yang pengen culik dia dengan modus pura-pura kenal," sewot Marsel mengerlingkan mata pada Ana.
Aksa menahan tawa, sedangkan Ana membulatkan bibir.
"Kalau udah tua, jangan ngaku sok muda deh! Dasar Om-om m***m!" ejek Ana menjulurkan lidah.
Tawa Aksa pecah. Dahi Ana mengerut bingung, sementara raut wajah Marsel memerah menahan jengkel.
Bocah s****n! Mata tuh, bocah katarak kali ya? Seganteng ini gue dibilang Om-om? Sinting! Batin Marsel mengumpat.