Masa Lalu 2

1213 Words
Sangat sulit mencari kemana Adinda pergi. Tetapi Eza tahu dimana tempat biasa yang sering digunakan Adinda saat ia bersedih. Eza pun langsung menuju tempat itu. Tempat itu adalah sebuah taman yang indah dengan bunga-bunga yang menghiasinya. Eza melihat Adinda duduk di kursi taman dengan menangis tersedu-sedu. Eza tahu apa sebab Adinda bersedih. Iapun menghampirinya. “Din...” Panggil Eza pelan sambil memegang pundak Adinda. Adinda menoleh ke arah Eza tanpa bersuara apapun untuk menanggapi pangilan Eza. Adinda tetap menangis. Eza melangkahkan kaki dan duduk di sebelah Adinda. “Aku tahu ini berat untuk dirimu, akupun juga merasakan hal itu, sama seperti dirimu. Ini semua sangat memberatkanmu, memberatkanku juga. Jujur aku sangat kaget akan keputusan yang orang tua kita buat. Aku tidak ingin merusak persahabatan aku, kau, dan Fendhi. Aku mohon lupakanlah soal perjodohan itu! Yang terpenting sekarang kau harus ikut aku!”Kata Eza. “Apa urusanmu sih? Kau itu bukan siapa-siapaku, kita itu hanya teman. Aku tidak ingin ikut dirimu. Tinggalkan aku sendiri!” Bentak Adinda. Kasar. Bagi Eza kata-kata Adinda saat ini terasa sangat kasar untuknya. Itu sangat menyayat hati. “IYA!" Kata Eza cukup keras. Membuat Adinda terperangah kaget. "Aku memang HANYA temanmu,tapi please dengarkan aku, ikutlah denganku! Ayahmu masuk rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh.” Lanjut Eza menahan amarah Adinda. “Apa? Masuk rumah sakir” Kaget Adinda. “Iya. Ia tak henti-hentinya memanggil namamu. Din, sudahlah, lupakan sejenak tentang perjodohan kita, sekarang ayah kau sangat membutuhkan kehadiranmu!” Kata Eza. “...” Adinda meneteskan air mata. "Din..." "Iya, ayo ke rumah sakit!" Adindapun ingin ikut menemui Ayahnya bersama Eza. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Adinda tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Ayahnya. Adinda sangat merasa bersalah pada Ayahnya karena telah membuat penyakit jantung Ayahnya kambuh. Ia tahu, penyakit jantung Ayahnya kambuh karena ia meninggalkan acara perjodohan itu dengan menolak perjodohan yang sangat Ayah Adinda harapkan. Walau ia tak mampu menerima perjodohan itu, tetapi melihat penyakit jantung Ayahnya kambuh, ia lebih tidak mampu lagi. Ia sangat menyayangi orang tuanya, terutama ayahnya. Ayahnya adalah orang itua yang paling dekat dengannya. Tidak membutuhakan waktu yang lama, akhirnya Adinda dan Eza sampai di rumah sakit, mereka berduapun langsung menuju tempat dimana ayah Adinda dirawat. Di sana, di dalam sebuah ruangan rumah sakit itu nampak orang tua Eza dan Bunda Adinda yang sedang menangis mendampingi Ayah Adinda yang terkapar lemah tak berdaya karena penyakit jantungnya yang kambuh itu. Melihat akan hal itu, Adinda sangat sedih. Ia sangat menyesal perihal sikapnya yang sangat keterlaluan itu. Ia hanya tahu saat itu ia sangat menyesali perbuatannya. Tanpa pikir panjang Adinda langsung berlari memeluk ayahnya dan menangis karena menyesal telah membuat Ayahnya seperti itu. “Ayah...” Kata Adinda di pelukan Ayahnya. “Dinda...”Kata Ayah Adinda lemah. “Ayah maafkan Dinda!” Pinta Adinda. Ayah Adinda memegang lemah punggung Adinda yang masih memeluknya. Dengan perlahan, ia mengusap rambut Adinda dan membelai rambut Adinda yang begitu indah dengan lembut. “Dinda sudah salah pada ayah, Dinda sudah tidak mau menuruti kata-kata Ayah.”Kata Adinda menangis. “Putri Ayah yang manis jangan menangis ya, kau tidak salah. Ayah juga salah sudah memaksakan ego Ayah. Maafkan Ayah, Din. Tapi, kau harus tahu, Ayah lakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan kau semata. Ayah tahu semua ini berat untuk dirimu, tapi ini semua adalah yang terbaik yang dapat Ayah lakukan untukmu.” Kata Ayah Adinda. “Dinda janji Yah, Dinda akan menuruti semua permintaan Ayah. Apapun yang Ayah minta, Dinda akan lakukan itu. Dinda tidak peduli akan ego Dinda, Dinda ingin jadi anak yang baik untuk Ayah.”Kata Adinda. Ayah Adinda tersenyum bangga mendengar kata-kata Adinda. Keterharuan mewarnai suasana itu. Eza, orang ituanya, dan bunda Adinda melihatnya bahagia. “Din, menikahlah dengan laki-laki pilihan Ayah, Eza! Ayah yakin Eza bisa membahagiakani dirimu dan bisa menjadi teman hidupmu.”Kata Ayah Adinda. “Iya yah, Dinda akan menikah dengan Eza. Dinda akan menuruti semua permintaan Ayah. Dinda sayang Ayah.” Kata Adinda bingung dan melepaaskan pelukannya, menatap mata Ayahnya yang lemah itu. Ayah Adinda tersenyum melihat Adinda, ia merasa sangat bahagia. “Ayah bangga punya putri berbakti seperti dirimu.”Kata Ayah sebelum menghembuskan nafas terakhir “Ayah, Ayah bangun Ayah!”Gugah Adinda. Semua orang yang menyaksikan hal itu tersontak takut melihatnya. Karena Ayah Adinda tak kunjung bangun juga, Ezapun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ayah Adinda. Setelah memeriksa keadaan Ayah Adinda, Dokter menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya, dengan berat hati seraya mengtakan bahwa Ayah Adinda telah meninggal dunia. Ayah Adinda telah pergi untuk selamanya. Serasa tak percaya akan hal itu. Seketika itupun tangis air mata tak terbendung menahan rasa kepiluan yang mendalam karena kehilangan orang yang teramat sangat disayangi. Ayah Adinda telah meninggal dunia, pergi meninggalkan Adinda dan semua yang menyayanginya untuk selamanya. Tak akan pernah kembali. Hanya kenangan dan batu nisan yang ditinggalkan. Hanya sebuah penyesalan yang mendalam yang Adinda rasakan. Ia merasakan kepiluan dari semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Ayahnya. Hanya penyesalan yang selalu terbayang. *** Suasana duka masih menyelimuti keluarga yang ditinggalkan. Adinda sangat terpukul atas kepergian Ayahnya, ia merasa sangat bersalah, dan iapun bertekat akan memenuhi permintaan terakhir Ayahnya itu untuk menikah dengan Eza. Meskipun hal itu terasa sangat berat baginya. Adinda tahu, ia takkan bisa menepis bayang-bayang Effendhi dari hidupnya, karena Effendhi orang yang sangat ia cintai. Tapi apa daya hendak dikata, cintanya kepada Ayahnya begitu besar. Adinda ingin menjadi anak yang terbaik untuk Ayahnya. Dan ia pun akan menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan. Selang waktu berlalu, kedukaan atas kepergian Ayah Adinda mulai memudar. Kini mulailah Adinda memenuhi janjinya kepada Ayahnya untuk menikah dengan Eza. Janji yang tidak mungkin ia ingkari. Janji terakhir kepada Ayahnya. Tanpa pertunangan, tanpa persiapan dan tanpa rencana yang matang, Adinda dan Eza mempersiapkan diri untuk menuju ke pelaminan. “Din, aku ingin berbicara!” Kata Eza. “Berbicara apa, Za?”Tanya Adinda. “Bagaimana dengan Effendhi?” Tanya Eza. Sebagai laki-laki, tentulah ia memikirkan hal ini. Adinda terdiam dan mengerutkan dahinya. Ia masih belum tahu apa yang hendak ia lakukan pada kekasihnya, Effendhi. Effendhi sama sekali tidak mengetahui semua yang terjadi karena saat itu Effendhi sedang ada praktikum di luar kampus. Adinda bingung bagaimana cara mengatakan rencana pernikahannya dengan Eza. Ia sangat tahu hal ini akan membuat Effendhi terluka. Ia pun juga tahu ini semua kan sulit bagi Effendhi untuk menerimanya. “Za, nanti temani aku ke tempat Fendhi ya, Fendhi bilang dia sudah pulang dari praktikumnya, sekaligus aku juga ingin berbicara sesuatu hal yang penting dengan dia.” Kata Adinda menjawab pertanyaan Eza. “Iya, nanti aku temani kau. Kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Eza mencoba memahami hati Adinda. “Aku tidak apa-apa kok, Za.”senyum berat Adinda. "Bukankah harusnya kau menghawatirkan dirimu juga? Kau menolak perjodohan ini awalnya, kan? Tapi karena keegoisan ayahku, kau menjadi seperti ini." "Aku tidak tega melihat air mata ayahmu dan permintaan terakhirnya." "Ehmm, begitu ya? Intinya, terima kasih sudah membantuku mewujudkan impian ayahku!" Adinda tersenyum. Eza tahu, itu senyuman yang getir. *** Sementara keluarga Adinda dan Eza sibuk mempersiapkan pernikahan Adinda dengan Eza, mereka pergi ke tempat Effendhi. “Apa kau sudah yakin untuk katakan semua ini?” Tanya Eza. Adinda menganggukakan kepalanya, dan tetap tersenyum meski ia tahu hal ini akan menyakitan untuknya dan untuk Effendhi. “Za, kau tunggu di mobil saja! Aku sendiri yang akan menemui Fendhi.” Kata Adinda. “Ya sudah, tolong buatlah suasana terbaik ya, good luck!” Kata Eza. "Ya. Terima kasih." Adhinda mantap untu menemui Effendhi. "Aku akan memutus semua ikatanku padanya!" Batinnya yakin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD