bc

Karena Cinta Kita Terlarang

book_age18+
82
FOLLOW
1K
READ
forbidden
sex
pregnant
brave
drama
bxg
betrayal
affair
naive
like
intro-logo
Blurb

Kisah pahit masa lalu membawa karma di masa depan dimana para kawula muda harus menanggung betapa menyakitkannya cinta dari pengalaman orang tua mereka.

Rizky bersahabat dengan Annessa, dia bahkan sangat mencintai gadis ini, tapi ia harus memendamnya karena Annessa menyukai laki-laki lain.

Memendam cinta hingga akhirnya Rizky tak berdaya.

Cr. Foto oleh Lamar Belina dari Pexels

Cr. Foto oleh Khoa Võ dari Pexels

chap-preview
Free preview
Masa Lalu 1
Zacky Anggara Eza adalah sahabat terbaik yang pernah Evan Aditya Effendhi miliki. Mereka berdua memulai persahabatan dari mereka kecil, lebih tepatnya sejak masuk SMP. Persahabatan mereka terjalin begitu eratnya. Hingga sampai sekarang ini duduk di bangku perkuliahan, persahabatan mereka berdua masih terjalin erat. Effendhi mempunyai seorang kekasih bernama Reghina Adinda Wijaya. Sebagai seorang sahabat, Eza sangat bahagia melihat hubungan Effendhi dan Adinda semakin menyatu dan terlihat semakin awet. Effendhi dan Adinda bahagia, itu juga merupakan bagian dari kebahagiaan yang Eza rasakan. Senyum selalu mewarnai hari-hari mereka. Setidaknya pada awalnya seperti ini. Meski mengetahui kalau dirinya masih sendirian, Eza tak pernah berpikir untuk mencari seorang tambatan hati untuk menjadi teman hidupnya. Eza tipikal pria yang terlalu banyak memilih dan tidak mudah jatuh cinta pada seorang wanita. Begitu banyak wanita yang menyukainya, tetapi tetap saja ia tak ingin menerimanya. Begitu pula Effendhi dan Adinda yang sering mencarikannya pacar, selalu ditolak dengan berbagai alasan ini dan itu. Padahal apabila dipikir, sebagai seorang pria, Eza cukup tampan karena memiliki paras yang menawan, baik, dan menarik. Cukup mudah baginya untuk menggaet wanita dengan pesona yang ia miliki. Tetapi bagi Eza, ia lebih memilih sendiri tanpa seorang pacar atau tambatan hati. Tidak ingin memiliki kekasih, bukan berarti tidak laku. Itu semua ia lakukan karena ia memiliki alasan tersendiri untuk tidak memiliki kekasih. Alasan yang cukup kuat untuknya tetap bertahan dalam kesendirian tanpa seorang kekasih. Alasan yang tak masuk akal untuknya, dan ia pun juga tidak tahu apakah alasan itu wajar untuk orang lain yang mengetahuinya. Mungkin, ataukah alasan itu memang alasan wajar yang memang sewajarnya dimiliki seorang pria yang normal. Dalam hati Eza, ia sadar, ia masih memiliki hati yang nurani untuk tidak menuruti alasannya itu. Ia tahu, alasannya itu akan membuat orang lain di sekitarnya merasa kecewa, orang lain yang disayanginya pasti juga akan terluka. Alasan yang harusnya ia buang jauh-jauh. Alasan yang harusnya tidak ia hadirkan dalam pertanyaan mengapa. Terlalu sulit membiarkan alasan itu pergi dari pikirannya. Alasan itu seakan-akan tumbuh semakin kuat. Bagaimana dan mengapa alasan itu ada, ia tak pernah tahu alur dari kemunculan alasan itu. Biarlah alasan itu tersimpan indah di dasar hatinya bersama perasaan yang tak seharusnya ada. Jadi, apa alasan itu? Jangan dibahas, Eza tidak memiliki wewenang untuk menceritakannya saat ini. Mungkin juga untuk seterusnya. Alasan ini memang lebih cocok untuk dirahasiakan saja. Tidak boleh ada yang mengetahuinya. Tidak peduli siapapun itu. *** Orang tua Eza khawatir dengan keadaan Eza yang tak begitu tertarik untuk mencari tambatan hati. Mereka berpikiran bahwa Eza tidak bisa mencari tambatan hati sendiri. Tidak mungkin Eza mengalami penyimpangan, kan? Seperti menyukai l-lawan j-jenis. Oke, yakin! Eza tidak lah seperti itu! Merekapun berniat untuk menjodohkan Eza dengan seorang wanita, putri dari sahabat mereka. Awalnya Eza tidak ingin untuk dijodohkan, tetapi setelah dibujuk baik-baik oleh orang tuannya, akhirnya iapun ingin datang untuk dijodohkan dan ingin ikut untuk makan malam dalam rencana pertemuan dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Walau di dalam hatinya ia tak pernah berminat akan acara perjodohan itu, sulit baginya untuk mengesampingkan alasan hatinya untuk membuka hati dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Tetapi, mau bagaimana lagi, alasan itu harus ia kesampingkan agar semua menjadi baik-baik saja. Mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan orang lain itu adalah hal yang terbaik dari yang bisa dirinya lakukan saat ini. Tidak hanya orang lain, tapi untuk orang tua yang sangat ia cintai juga. Intinya, perjodohan itu ia terima hanya agar orang tuanya merasa lega. Ia tak ingin mengecewakan orang tuanya. Orang tuanya sangat berarti untuknya. Ia juga berpikir, dengan dirinya menerima acara perjodohan itu, tentunya akan membuat alasan yang tersimpan di hati dan pikirannya memudar. Baginya acara perjodohan ini merupakan sebuah cara untuk menghapus alasan yang tidak masuk akal itu. Dan tentunya juga merupakan upaya untuk melarikan diri dari alasan itu. Lagi, alasan itu. Ya, perasaan terlarangnya pada Adinda, kekasih sahabatnya sendiri. *** Malam yang begitu cerah dengan tirai langit terhiasi bintang pun tiba. Di suatu restoran, orang tua Eza dan Eza melakukan pertemuan untuk membicarakan perihal perjodohan Eza. Malam itu terasa biasa saja bagi Eza. Sebaliknya, bagi orang tua Eza, malam ini terasa begitu membahagiakan hati. Orang tua Eza berangkat dengan harapan Eza akan menerima perjodohan itu. Betapa kaget Eza ketika melihat wanita yang akan dijodohkan dengannya. Eza tidak pernah menyangka akan hal ini. Ia tak tahu kenapa harus wanita ini yang akan dijodohkan dengannya? Bagaimana harus menyikapinya? Apa yang harus hendak ia lakukan? Kebingungan yang membuatnya tak mengerti. Perasaan ataukah alasan yang tetap ia pertahankan? Atau mungkin ini memang hal terindah yang ada di depan matanya itu? Ataukah ini semua memang dramatika hidup yang Tuhan anugerahkan untuknya? Hanya mampu mengikuti arus dramatika hidup untuk menghadapi semua ini. “Dinda?” Kata Eza tersentak kaget. Ya, wanita yang membuat dirinya sangat kaget adalah Adinda. Kenapa ada Adinda? “Eza? Kau, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Adinda merasa heran. “Oh, jadi kalian berdua sudah saling mengenal, toh? Syukurlah kalau begitu. Semua kan menjadi lebih mudah.” Kata Bunda Adinda yang merasa bahagia. “Loh? Memangnya ini maksudnya apa? Lebih mudah apanya? Tante?” Tanya Eza bingung. “Iya, maksudnya apa, Bun? Yah? Dinda merasa tidak mengerti.” Tanya Adinda yang bingung sama seperti Eza. “Ya ingin menjodohkan kalian berdua, masak ingin apa? Itu adalah inti makan malam ini. Iya kan, pak Anggara?” Jawab Ayah Adinda. Ayah Adinda ini bahkan bisa memamerkan senyum terbaiknya. “Iya, pak Wijaya. Kita sudah membahas sebelumnya..." Ayah Eza kemudian menoleh ke arah putra tunggalnya itu. "Eza, Ayah dan orang tua Adinda sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua. Ayah dan Ibumu itu sudah sahabatan baik sejak dulu dengan orang tua Adinda. Jadi, alangkah baiknya apabila dipererat dengan perjodohan kalian berdua.” Jelas Ayah Eza. Ia juga ikut bahagia. Dijodohkan? Wanita yang begitu cantik malam ini adalah sosok yang akan dijodohkan dengan dirinya? Wanita yang amat sangat dicintainya akan dijodohkan dengannya? Namun, Eza tahu kapan harus sadar diri. “Tapi, Yah...” Eza harus mengatakan sesuatu meski pada akhirnya dipotong oleh Adinda. “Tadi Ayah sama Bunda bilang cuma ingin makan malam biasa sama sahabat lama ayah, tapi kenapa pertemuan perjodohan. Ayah bohongi Dinda?" Tanya Adinda kecewa. Jelas Dinda merasa kecewa karena merasa dibohongi, tapi lebih jauh daripada itu, ia memiliki hati yang harus dijaga. Tentu saja hati yang harus dirinya jaga itu adalah Effendi, kan? “Maafkan Ayah ya, Din. Bukan maksud Ayah untuk membohongi dirimu, tapi kalau Ayah bilang ingin menjodohkan dirimu, pasti kau tidak akan mau dijodohkan.” Jelas Ayah Dinda. “Maafkan Bunda juga, Din. Bunda juga sudah membohongi dirimu. Bunda dan ayah sangat berharap kau bersedia menerima perjodohan ini.” Pinta Bunda Adinda. Menerima? Itu tidak mungkin, kan? Di dalam hati Adinda ada Effendi. “Tidak Yah, Bun. Dinda minta maaf, Dinda tidak bisa menerima perjodohan ini. Dinda tidak ingin dijodohkan dengan Eza. Eza itu sahabat baik Dinda. Jadi tidak mungkin sahabat baik bisa jadi jodoh.” Kata Adinda. “Kata siapa tidak bisa jadi jodoh? Walau tidak cinta lama-lama kan bisa jadi cinta. Ayah dan Bundamu saja dulu juga dijodohkan. Kau liat sekarang, buktinya Ayah bahagia akan perjodohan dengan Bundamu. Bahkan rasa cinta Ayah sangat besar untuk Bundamu. Dari dulu, di keluarga kita, perjodohan sudah menjadi tradisi, jadi kau juga harus mengikuti tradisi keluarga kita!” Kata Ayah Adinda panjang lebar. “Dinda tahu, Yah soal itu. Tapi sekarang sudah bukan zamannya Siti Nurbaya lagi Yah, Dinda berhak menentukan pendamping Dinda sendiri. Pokoknya Dinda tidak ingin dijodohkan dengan Eza!’’ Kata Adinda yang kekeuh tidak ingin dijodohkan. Adinda berusaha sangat keras untuk menolak perjodohan itu. Merasa kasihan pada Adinda, Eza pun ikutan membantunya. “Aku juga tidak ingin dijodohkan, Ayah, Ibu... Apa lagi dengan Dinda, Eza bisa cari jodoh sendiri kok. Toh, aku juga masih muda.” Kata Eza mencoba membuka diri agar semuanya tidak berubah menjadi kacau. “Bukan masalah itu Din, Za. Tapi keluarga kita itu keturunan ningrat, jadi kalian harus menikah dengan keturunan ningrat juga. Kalian tahukan para leluhur kita sangat mengharapkan hal itu. Ningrat harus menikah dengan ningrat!” Kata Bunda Eza menyela pembicaraan. Suasana saat itu semakin memanas. Meski suasana menjadi terdiam, tapi tensi teruslah naik. Emosipun mulai menguasai pikiran. Ningrat itu penting, kah? Bahkan sistem kerajaan saja sudah lama terhapuskan dari negara ini. Para keturunan darah biru yang lainnya saja sudah berbaur dengan masyarakat biasa. Kenapa juga harus memikirkan soal kasta kalau di hadapan Tuhan statusnya itu sama? “Apa keturunan ningrat harus menikah dengan keturunan ningrat juga? Setahuku pernikahan tidak mengenal status seperti itu? Apa Dinda tidak boleh menentukan calon pendamping untuk hidup Dinda sendiri?” Tanya Adinda. “Ningrat harus tetap dengan ningrat! Kita itu berbeda dengan masyarakat biasa. Kau hanya boleh berteman dengan mereka, tapi untuk urusan pernikahan kau harus tetap dengan keturunan ningrat!” Bentak Ayah Dinda. Ayah Adinda sudah kehilangan kesabaran karena anaknya ini sedari tadi hanya bisa menolak dan menolak perjodohan. “Nak Dinda, Eza, mengertilah... Tidak hanya itu, sebagai orang tua kebahagiaan anak adalah segalanya. Kami ingin yang terbaik untuk kalian. Kami tidak ingin kalian salah memilih pendamping hidup. Kami ingin kalian berdua bahagia.” Kata Bunda Eza dengan bijak. “Iya, Ibu. Eza mengerti, tapi kalau ini karena keterpaksaan tentu bukan kebahagiaan yang diterima, melainkan sebuah penderitaan.” Kata Eza yang sangat memahami situasinya bagaimana. “Eza benar, orang tua macam apa yang ingin anaknya bahagia, tetapi malah menderita hanya karena menuruti egonya?” Perkataan dari Dinda lumayan sangat kasar. “Dinda! Jaga mulut kalau bicara! Kenapa kau tidak berusaha untuk mengerti Ayah? Ayah hanya ingin kau bahagia dengan orang pilihan Ayah, Eza!” Bentak Ayah Adinda. “Dinda, sudah, sudah! Tolong jangan bantah Ayahmu lagi!” Pinta Bunda Adinda yang harus menjadi penengah sebelum emosi Ini merusak segalanya. “Kenapa Ayah juga tidak ingin mengerti Dinda? Dinda tidak ingin dijodohkan! Dinda sudah punya pacar. Dinda cinta sekali dengan pacar Dinda.” Kata Dinda dengan nada emosi. “Tidak Din, kau tetep harus menerima perjodohan ini, segera akhiri saja hubungan dengan pacarmu!” Kata Ayah Dinda yang juga terbawa emosi. Kedua orang tua Eza dan Eza hanya mampu memandangi debat yang terjadi antara orang tua Adinda dengan Adinda. Menatap jangan penuh rasa kekhawatiran karena emosi itu begitu terasa. Merasa khawatir karena situasi yang semakin kurang baik, Eza pun memberanikan diri untuk berbicara di antara perdebatan itu. “Iya Om, Dinda benar. Aku sangat mengenal baik pacarnya Adinda. Pacarnya Dinda itu sayang sekali sama Dinda. Dia juga baik kok Om. Tentunya dia juga akan lebih mampu menjaga Dinda lebih baik daripada saya. Lagi pula Dinda dan dia saling mencintai. Cinta mereka sangat dalam dan tulus. Terlalu sayang untuk dipisahkan.” Kata Eza. “Loh, kau ini bagaimana, kok belain Dinda toh, Za? Ikut-ikutan menolak perjodohan ini. Pokoknya kau juga harus bersedia dijodohkan dengan Dinda! Tidak ada kata penolakan!” Kata Bunda Eza. “Kalian harus bersedia dijodohkan!” Ayah Eza menegaskan lagi. "..." Eza terdiam karena dirinya tidak terbiasa untuk membantah omongan kedua orang tuanya. Lalu, terlihat ibunya Dinda kembali mengambil pembicaraan. “Kau ingin penyakit jantung Ayahmu kambuh lagi, Din? Bunda mohon, turuti kata-kata Ayahmu! Kau harus terima perjodohan ini!” Kata Bunda Adinda memohon dan sekaligus memaksa karena dirinya tidak menerima penolakan dari putri tunggalnya itu. “Dinda punya hak untuk menentukan calon pendamping hidup Dinda. Kalian tidak berhak menentukan calon pendamping hidup untuk Dinda! Dinda rasa kalian sudah sangat menyakiti hati Dinda. Kalian semua egois. Kalian hanya bisa mementingkan diri kalian sendiri tanpa memikirkan rasa sakit di hati Dinda... Maafkan Dinda, Yah, Bun, Om, Tante, Dinda tidak bisa menerima semua ini. Ini semua sangat berat untuk Dinda. Pokoknya Dinda tidak ingin dijodohkan! Titik!” Kata Adinda sambil meninggalkan restoran itu dengan menangis. “Adindaaaaa!” Panggil Ayah Adinda. Kacau sudah kalau sudah seperti ini. Tiba-tiba Ayah Adinda memegangi dadanya dan ia pun jatuh pingsan karena melihat Adinda pergi menolak perjodohan itu. Awalnya ibunya Adinda takkan pernah menyangka kalau penyakit ayahnya Dinda akan kambuh. Segeralah ayah Adinda dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit Ayah Adinda tak henti-hentinya memanggil-manggil nama Adinda. Melihat Ayah Adinda yang terkapar lemah di rumah sakit itu, Eza pun mencoba mencari Adinda. Ia harus melakukan sesuatu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hubungan Terlarang

read
513.1K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

Sak Wijining Dino

read
162.0K
bc

Symphony

read
184.7K
bc

HYPER!

read
625.1K
bc

My Sweet Enemy

read
49.2K
bc

Dear Pak Dosen

read
434.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook