Twin Power

833 Words
Tidak perlu membalas dendam, karma punya caranya sendiri untuk memberi pelajaran bagi mereka yang telah menyakiti hatimu. ------- 5 tahun kemudian "Rebecca! Come here, I have a new toy," panggil Grace, yang kini satu sekolah dengan Rebecca. Rebecca telah tumbuh menjadi gadis cilik yang sangat cantik, begitupula dengan Grace. Namun Rebecca punya point lebih tinggi, dia memiliki wajah kombinasi kedua orang tua kandungnya. Banyak yang menduga bahwa dia bukan anak pasangan Valeria dan Erick. Tapi nyatanya, dokumen tentang Rebecca telah menutup mulut mereka, Rebecca anak sah 'Valeria dan Erick' dan itu bagi dunia bukan bagi Valeria sendiri. Erick telah mencantumkan nama Valeria sebagai ibu dari Rebecca. Rebecca mendapatkan status hukumnya dengan identitas yang diberikan Erick kepada dirinya. "Really? Tell me, Grace," jawab Becca dengan mata berbinar. Papanya, telah memberikan dia segalanya. Bahkan dunia pun mampu dia genggam. Erick sangat mencintai Rebecca, dan tidak membiarkan apapun terjadi padanya. Hanya saja, Rebecca merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain. Rebecca tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Valeria, tidak seperti Grace yang mendapatkan kasih sayang Alena meskipun Alena hanya ibu sambungnya. "Apakah mamamu hari ini akan menjemputmu, Re?" tanya Grace yang kini duduk di depan kelasnya. Rebecca menunduk, bahkan dari dia TK dia tidak pernah dijemput oleh mamanya. Entah apa salahnya, dia terus bersikap baik untuk menarik simpati sang mama, tapi nyatanya sang mama malah sibuk dengan bisnisnya. Sekarang, Rebecca sudah duduk di kelas 1 SD juga tidak pernah ada perubahan. Valeria lebih asyik mengurus segala kepentingan bisnisnya, dan hanya memastikan bahwa Rebecca tak kekurangan dalam segi finansial saja. "Tidak, Mama Vale pergi ke Hongkong. Mama pasti membelikan banyak mainan untuk kita," ucap Rebecca dengan nada bersemangat, menutupi hatinya yang sedih jauh dari mamanya. Ah, bukankah meskipun mereka seatap mereka tidak pernah seakrab yang dipikirkan banyak orang. "Yay, Mama Valeri sungguh baik," pekik Grace tanpa mengerti raut wajah Rebecca yang kini menunduk sedih, jauh dari mamanya. Hemmm tentu saja, Valeri selalu membelikan semua anak dan keponakan mainan khas negara kunjungannya. Tidak terlewat satupun, jika ada yang menetap di luar negeri pasti akan dikirimkan lewat ekspedisi. "Grace, Rebecca," panggil Melodi saat dia baru saja sampai sekolahan cucunya. "Grandmaa," pekik Grace melihat neneknya datang. Melodi mengacak rambut keduanya gemas. "Menunggu sopirmu lagi, Sayang?" tanya Melodi pada Rebecca. "Ya, Grandma," jawab Rebecca halus, mata mereka bertemu. Melodi seakan ingin menjerit, melihat mata indah dihadapannya terlihat sangat sedih. "Grandma dengar mamamu akan pulang hari ini, Sayang," ucap Melodi dengan tersenyum. Mata Rebecca berbinar. "Benarkah?" tanya Rebecca antusias. "Tentu saja, ayo Grandma antar Rebecca pulang. Ayo Grace, kita antarkan princess satu ini ke kerajaannya," ucap Melodi dijawab anggukan semangat Grace. * Tinnnnnnnnn tinnnnn! Suara klakson mobil membuat Rebecca berlari keluar kamar, itu suara mobil papanya. Dia tau papanya akan menjemput sang mama di bandara. Itu ritual, atau mamanya akan marah satu bulan penuh jika orang lain yang menjemput. "Papaaa," pekik Rebecca, berlari menghampiri sang papa yang kini membawa banyak barang di tangannya. Erick tersenyum, dia memeluk Rebecca. Mengecup kening putrinya dengan sayang. "Mamaaa." Kini Rebecca menerjang Valeri yang berjalan di belakang papanya. Valeri tidak membalas pelukan itu, dia hanya menepuk halus bahu Rebecca. "Bagaimana kabarmu Ree?" tanya Valeri. "Tentu saja baik, oh ya Rebecca kemarin dapat nilai-" Belum sempat Rebecca menyelesaikan jawabannya. Valeria lebih dulu mengedarkan pandangannya mencari Marchello dan Meechella. "Mama mandi dulu, di luar sangat panas. Ada beberapa mainan untukmu," ucap Valeri datar, berlalu meninggalkan Rebecca yang menunduk sedih. Dia sangat merindukan sang mama, dia juga ingin bercerita tentang hari-harinya kepada sang mama, seperti anak dan ibu pada lainnya. "Sayang, lihat ini Mama beli khusus untuk Becca dan Grace," tunjuk Erick, mencoba menghibur putrinya. Rebecca mengangguk, seulas senyum nampak muncul di bibirnya. "Ini cantik sekali Papa, Mama selalu tahu yang Becca mau," ucap Rebecca antusias. Valeri menoleh ke arah mereka, wajahnya tidak bisa ditebak. Dia sedih, bahagia, dan terluka pun menampakkan wajah seperti itu. Valeri hanya memejamkan matanya sekilas dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tentu saja keluarga besarnya akan berdatangan sebentar lagi. Itulah yang akan mereka lakukan ketika sang Ratu Bisnis pulang ke rumah setelah sekian lama. "Twinnnnnnnn," pekik Valeri ketika dia melihat Ello dan Ella pulang dari sekolahnya, kini mereka telah duduk di kelas 1 SMP. "Mama!" teriak Ella berlari memeluk Valeri. Sedangkan Ello dibelakangnya menutup telinga karena bising. "Bagaimana kabar kalian hemm?" Tanya Valeri mencubit pipi mereka berdua. "Kami baik, Ma," jawab Ello seadanya. Valeri tersenyum, dia tau jika putranya tidak banyak bicara. "Mama merindukan kalian, Sayang," Valeri memeluk mereka berdua dengan erat. Tanpa menyadari ada sosok mungil yang kini memperhatikan mereka. "Rebecca, ayo sini," Ella memanggil Rebecca. Rebecca berjalan ke arah mereka. "Kamu pasti mendapat banyak oleh-oleh dari Mama, kami iri padamu. Benarkan, Kak?" goda Ella menunggu jawaban dari Ello. "Ya, bukankah Rebecca memang kesayangannya mama kita," ucap Ello menatap dalam mata mamanya yang kini berpaling menghindarinya. Itulah yang bisa Twin lakukan, selalu mengungkapkan bahwa Rebecca kesayangan sang mama. Meskipun sang mama tidak pernah mengucapkan apapun. Sungguh ,entah sampai kapan Rebecca akan diperlakukan seperti itu ditengah keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD