Bukan Anak Mama-Papa

895 Words
Waktu sangat cepat berlalu, mengajak masa lalu untuk pergi ke tempat yang ke seharusnya, dan memberi langkah baru untuk masa depan kembali menjadi yang utama. Rasa sakit, dan juga derai air mata seakan tidak lagi nampak pada diri wanita itu. Semua sudah dia telan dalam-dalam demi kebahagiaan semua orang, termasuk anak-anaknya. Valeria mencoba memupuk kembali asa, mengharapkan suatu hari nanti akan menerima Rebecca dalam hidupnya. Bukan, bukan karena dia sudah melupakan kesakitannya. Namun karena dia mencoba melindungi hatinya dari perisai yang sangat tajam itu. Baginya hidup dan kebahagiaan keluarganya yang utama. Biarlah, semua akan beranjak pergi. Namun Valeri lupa, ada Rebecca yang terus saja menantikan kasih sayangnya layaknya ibu dan anak perempuan. Mengajaknya belanja, membelikan semua kebutuhan anak perempuan dan juga memberi petuah pada dirinya ketika dia salah. "Sudah Papa katakan Ree, jangan meladeni mereka yang menggunjingmu," ucap Erick pada Rebecca yang kini di sidang keluarga besarnya karena menampar dan juga mencakar teman sekolahnya. Erick sudah kehilangan batas kewajarannya dalam menghadapi Rebecca. Gadis itu tidak pernah berubah dan semakin bertingkah dengan seiringnya waktu berlalu. Entah harus bagaimana lagi Erick menyikapinya. "Mereka mengatakan aku bukan anak dari keluarga ini, ah bukan maksudku anak dari Valeria Roseandra Corlyn," jawab Rebecca berani menatap mata Valeria di hadapannya. Rebecca tidak berbohong, semua orang mengatakan hal seperti itu tepat di depan dirinya. Rebecca sangat sakit, dia merasa menjadi cemoohan semua orang. "Apa katamu?" bentak Erick menyipitkan matanya menatap Rebecca. "Ya mereka mungkin benar, semua yang ada padaku tidak ada mirip-miripnya dengan kalian, karena itu mereka mengatakan bahwa aku anak haram Papa," jawab Rebecca dengan berat, seberat helaan napasnya. Plakkkkkk. Sebuah tamparan keras dilayangkan Erick pada pipi mulus Rebecca. "Erick!" Valeria berteriak, menyayangkan cara Erick memberi pelajaran Rebecca. "Hari ini aku sudah mendapatkan jawabannya," ucap Rebecca dengan suara serak. "Rebecca." Valeria untuk pertama kali memanggilnya selembut itu, sama seperti cara Valeri memanggil kakak-kakaknya. Air mata Rebecca meluruh, Erick terkesiap menyadari apa yang telah dilakukannya. Dia tidak mampu menahan diri saat Rebecca berani mempertanyakan identitasnya di depan Valeria. "Sayang, bukan maksud Papa-" Erick menatap Rebecca penuh penyesalan. "Tidak, tamparan ini membuktikan jika Ree bukan anak Mama Valeria," isak Rebecca berurai air mata. Singapore High School, tempat para anak-anak kolongmerat melanjutkan sekolah menengah atas. Banyak sekali dari mereka yang memilih membuat geng, membully lawan mereka yang terlihat memiliki celah untuk dihina. 'Putriku,' batin Valeria berteriak, ingin rasanya ia memeluk tubuh Rebecca. "Tidak Sayang, kamu putri kami. Memangnya kenapa dengan wajahmu yang berbeda dari kami? Keluarga Papa kebanyakan blasteran Ree, bukankah itu hal yang wajar?" Erick merengkuh Rebecca ke dalam pelukannya, membuat Valeria sedikit lega. Dia pasti akan memberi pelajaran pada orang tua siswi-siswi yang kurang ajar itu karena membuat Rebecca-nya menangis. Bukankah seharusnya Erick melindungi keluarganya? Banyak yang sangat mengidolakan Rebecca, hingga tidak sedikit pula orang yang membencinya. Cantik, anak dari keluarga terkaya dan juga sangat baik. Krekkkk, suara kursi yang ditarik dengan kasar. Rebecca berdiri, dia berdiri. Meraih smartphone yang diletakkan di samping piringnya saat sarapan. "Rebecca pamit berangkat." Rebecca berjalan, berlalu meninggalkan Erick, Valeria dan Ello di sana menatap kepergiannya. "Biar Ello saja yang menyusulnya," ucap Ello saat Erick hendak menyusul Rebecca. Sungguh, Erick tidak bermaksud menampar Rebecca. Dia hanya tidak ingin Rebecca mengingatkan Valeria bahwa dia bukan anak Valeria. "Bukankah kamu yang menginginkan anak itu tinggal di sini? Mengapa kamu berperilaku seperti itu?" tanya Valeri ketika Ello sudah meninggalkan meja makan. Erick menatap Valeria, pandangan mereka bertemu. "Aku tidak bermaksud-" "Sudahlah Erick, kita katakan sejujurnya pada Rebecca. Dia bukan anak kecil lagi. Sampai kapan kita akan menutupinya? Itu akan membuat Rebecca semakin mencurigai kita. Hentikan saja permainan rahasia ini." Valeria meletakkan serbet makan di atas meja. "Tidak ada yang boleh mengatakan kebenaran apapun pada Rebecca!" sentak Erick pada Valeri. Erick berdiri, meninggalkan Valeria di sana. Tidak, dia harus menutupi kebenaran yang ada. Bagaimana mungkin dia mampu melukai perasaan putrinya. Bagaimana dia harus menjelaskan? Bagaimana jika Rebecca bertanya siapa ibu kandungnya? Apa yang harus dia katakan pada semua orang. Rahasia yang sudah dia tutupi selama ini. Ello mengklakson seseorang yang kini sedang berjalan di pinggir trotoar. Ello membuka jendela mobilnya, menatap adiknya dengan seulas senyuman di bibirnya. "Ree, ayo Kakak antar ke sekolah," ucap Ello untuk menarik perhatian Rebecca, adik kesayangannya. "Aku bisa pergi sendiri," kata Rebecca ketus, memalingkan mukanya. "Nanti item, dekil, keringetan loh," goda Ello membuat Rebecca mendengus kesal. Oh tidak, demi apapun Rebecca tidak ingin ketika dia sampai ke sekolahnya yang diisi anak-anak konglomerat dirinya berpenampilan kucel. Secantik dia saja masih menjadi bahan gunjingan, dasar deterjen mulut lemessss. Rebecca segera masuk ke dalam mobil kakaknya. "Udahlah Re, Kakak kan sudah bilang. Kamu itu adik Kakak, anak papa dan mama. Mungkin mama punya alasan kenapa dia selalu bersikap dingin sama kamu," ucap Ello ketika Rebecca sudah duduk di samping kemudi. Rebecca menoleh, alasan? Alasan apa yang membuat mamanya jarang berinteraksi dengan dia? Apakah dia lahir tanpa dasar cinta? Tidak, orangtuanya saling mencintai. Grandma Vio pernah bilang perjuangan papanya untuk mendapatkan sang mama tidaklah mudah. Butuh waktu dan proses yang sangat panjang. "Sudah sampai," Ello memecah keheningan dengan instruksi bahwa mereka telah sampai di sekolah Rebecca. "Bagi duit, Kak." Rebecca tersenyum, menampilkan lesung pipinya yang indah, dan tentu saja itu yang membuat semua orang luluh. Mata Marchello terbelalak, baru saja adiknya berwajah murung, kini gadis itu tersenyum ke arahnya dan meminta uang? "Astaga, adikku seperti preman pasar," ucap Ello dibarengi kekehan keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD