Seperti kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama halnya Rebecca, sepertinya dia menuruni kemampuan modeling dari sang ibu kandung, Margareth.
Setiap hari, Rebecca selalu mengikuti pemotretan untuk album majalah remaja. Wajahnya sering dijadikan icon untuk kosmetik kecantikan karena wajahnya memang luar biasa cantik, putih dan tidak bercela. Sungguh, dia mirip dewi dari Yunani.
Kini gadis cantik itu tengah menghadap mamanya, sang juru kunci segala keputusan yang ada di tengah keluarga mereka.
"Tidak!" ucap Valeria tegas saat Rebecca menunjukkan sebuah kontrak yang mengharuskan dia harus ke China selama satu bulan lamanya.
"Kenapa tidak? Ini jalan hidupku, ini langkah yang ku pilih Nyonya Frederick!" Rebecca berkacak pinggang, dan melipat tangannya ke depan d**a.
Valeria menatap sang putri dengan jengah, semakin hari Rebecca semakin menunjukkan penolakan atas apa yang sudah Valeria putuskan. Sepertinya Rebecca sengaja membuat Valeria marah dan kehilangan kontrol atas dirinya.
"Tidak, kau tidak mengerti ucapan Mama, Rebecca?" Valeria menatap Rebecca penuh peringatan.
Rebecca tersenyum sinis, pantaskah wanita di hadapannya dia panggil mama? Lalu apa yang sudah Valeria berikan untuknya selama ini? Valeria tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya sebagai ibu. Dia lahir karena kesalahan, itulah mengapa hingga detik ini kedua orangtuanya pisah ranjang. Miris, dia hidup dikelilingi cinta dari keluarga besarnya namun tidak sedikitpun cinta sang mama dia dapatkan.
Rebecca juga butuh kasih sayang nyata, bukan hanya sebatas materiil semata!
"Mama?" kekeh Rebecca membuat Valeria memejamkan mata. Entah sudah berapa lama Rebecca sudah tidak pernah memanggilnya mama.
"My decision is not going to change," jawab Valeria acuh.
Valeria mengalihkan pandangannya ke tablet di hadapannya, melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.
"Kau akan berdiri di sana seperti patung hingga Mama pulang, Ree?" tanya Valeria tanpa menatap Rebecca yang kini mencebik kesal.
Ah aku akan meminta izin Papa.
"Jangan berpikir papamu mengizinkannya Ree."
Rebecca membelalakkan matanya, bagaimana mungkin sang mama bisa membaca pikirannya. Wahh luar biasa, selain cantik dan pintar mamanya ternyata punya kemampuan khusus membaca pikiran.
"Arghhhhh." Rebecca mengacak rambutnya kesal, menghentakkan kakinya keluar dari ruangan kerja sang mama. Dia tidak akan punya hasil apapun meskipun harus membujuk sang mama.
Sedangkan di belahan negara lain.
"Tuan." Seorang kepala pengawal membungkuk memberi hormat kepada tuannya.
Lelaki berumur 45 tahunan itu menoleh, keningnya berkerut menatap sosok di depannya.
"Sudah kamu temukan infonya?" tanya Tuan kepada salah satu bodyguard yang kini menghadap ke arahnya.
Bodyguard itu mengangguk. "Nyonya Margareth dikabarkan melahirkan sebelum meninggal dunia."
Lelaki itu tercengang, matanya terbelalak, tangannya meremas sandaran kursi yang kini dia duduki.
"Apakah anaknya masih hidup atau sudah meninggal?" tanya Kenned Edward, menantu dari Kerajaan France.
"Tidak ada informasi apapun tentang anak yang dilahirkan Margareth. Namun menurut kabar Nona Margareth dalam keadaan kritis ketika menuju rumah sakit," jawab bodyguard sekaligus orang kepercayaan Edward.
Mata Edward berkilat marah.
"Sialan Christine!" desis Edward menahan amarah, mendengar penuturan dari sang kepercayaan tentang bagaimana pilunya kehidupan kekasihnya, Margareth.
Christine, anak Kaisar tertinggi France. Christine menggunakan Edward agar Christine tidak kehilangan tahtanya atas Kerajaan France. Wanita gila tahta dan juga gila kehormatan, menjadikan Edward tidak berdaya atas kekuasaannya.
Edward memanggil asisten pribadinya.
"Selidiki lebih dalam lagi Paul, sudah 18 tahun aku menunggu kabar Margaret seperti ditelan bumi," ucap Edward diangguki Paul.
Ya, kini saatnya Edward mencari tahu misteri kematian Margaret. Tentu saja semua ini ulah sang istri, Christine. Andai saja Edward tidak menerima tawaran Christine untuk mendapatkan kursi perdana menteri, mungkin dia kini bahagia dengan Margareth.
Margareth hamil, hamil buah cinta mereka. Dan bagaimana jika anaknya masih hidup? Laki-laki ataukah perempuan? Siapa yang akan mengasuhnya? Margaret hanya sebatang kara yang bahkan hingga akhir hayatnya dia menderita karenanya.
Terkutuklah kau Edward!
"Honey, aku mencari ke mana-mana."
Christine melangkah menuju Edward dengan langkah yang menawan. Tentu saja semua orang tau jika dia putri mahkota Kerajaan France. Dan Edward-lah nanti yang akan menjabat menjadi Kaisar ketika sang ayahnya meninggal.
"Saya permisi, Tuan," pamit Paul membungkuk.
Christine menatap kepergian Paul dengan curiga.
"Kamu tidak mencarinya kan?" tanya Christine menyipitkan matanya curiga.
Edward mengacuhkannya, dia lebih tertarik dengan secangkir anggur di tangannya.
"Edward, aku sudah memperingatkanmu. Lupakan mereka!"
Saat itulah Edward menoleh. Mereka? Jadi Christine tau jika Margareth tengah mengandung anaknya?
"Kau tahu dia hamil anakku, tapi kau menutupinya?" bentak Edward membanting gelas anggur yang berada di genggamannya.
Christine terdiam. "Ya, untuk apa aku mengatakannya. Bukankah ini yang kita mau? Tahta dan kekuasaan. Jangan biarkan usaha kita 18 tahun ini sia-sia karena keegosianmu Edward. Aku takkan membiarkannya," ancam Christine tak main-main. Tentu saja, dia tipikal wanita yang mampu berbuat apa saja demi meraih kejayaannya.
"Apa kau membunuh anak kami juga?" tanya Edward pada Christine.
Membunuh anak? Apakah begitu pandangan Edward pada dirinya? Apa dia sekejam itu pada anak yang bahkan tak berdosa.
Tuan Putri Christine tertawa sumbang, matanya berkac-kaca menatap lelaki yang telah dia nikahi selama sepuluh tahun lebih lamanya.
"Di mana mereka dimakamkan? " tanya Edward lagi.
Tidak, dia harus berkorban sedikit lagi. Tidak masalah Edward mengira dia pembunuh, toh ini akan menguntungkan baginya. Edward tidak akan mampu berkutik melawannya.
"Iblis kau Christine!" teriak Edward murka menghadapi kebungkaman istrinya.
Christine berjingkat kaget, bukankah harus mengorbankan hal besar untuk mendapatkan hal besar juga? Ya dia harus berkorban lagi, dan lagi.