Gue menjalankan mobil dengan merayap menuju rumah Chelsea yang tak jauh dari pelatnas. Butuh waktu satu jam untuk menuju ke rumah Chelsea, gue menyapa satpam yang ada di depan rumahnya dengan sangat ramah.
"Eh, Mas Kevin. Apa kabar, Mas?" tanya Pak Tarjo dengan sangat ramah.
"Puji Tuhan, baik Pak. Bapak apa kabar?" tanya balik gue.
"Alhamdulillah baik, Mas. Silakan masuk, Mas. Di dalam ada Mb Chelsea ko," ucap Pak Tejo sambil membukakan pintu gerbang rumah Chelsea.
Gue memasukkan mobil ke dalam parkiran mobil dan turun. Gue tersenyum dengan manis sambil menundukkan kepala ke arah Pak Tejo yang sedang tersenyum dengan ramah.
"Saya masuk dulu ya, Pak. Terima kasih," ucap gue dengan ramah.
"Oh iya, Mas. Sama-sama," ucap Pak Tejo sambil menutup gerbang depan.
Gue masuk ke dalam rumah Chelsea, terlihat sangat sepi sekali rumahnya. Gue menoleh ke arah sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan bawah rumah ini.
"Wah, Ojan jangan-jangan jalan nih sama cewenya. Parah emang anak itu, ninggalin adeknya sendirian di rumah. Eh, apa mungkin si Marjan belum tau kalau dia pulang?" gumam gue dengan sangat pelan.
"Gue samperin aja ke atas, biasanya anak itu anteng kalau udah ketemu sama novel. Jangankan makan, nafas aja kadang lupa anak itu kalau ketemu sama novel." Gue langsung berjalan menaiki tangga rumah Chelsea dan mengetuk pintu depan kamarnya dengan sangat pelan.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada sahutan sama sekali dari sang empunya. Gue terus mengetuk pintu kamar dengan sabar.
Tok! Tok! Tok!
Dua ketukan pintu masih tidak ada sahutan dari yang punya kamar.
Tok! Tok! Tok!
Gue yang kesal dengan sikap Chelsea yang mengabaikan ketukan pintu kamar, langsung memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dengan tergesa-gesa.
Betapa kesalnya ketika melihat dia yang benar-benar fokus, membaca novelnya dengan santai sambil meminum teh yang ada di sampingnya. Gue berjalan ke arah depan pintu balkon dan membukanya dengan cepat.
Kretttt!
Gue mendenguskan nafas dengan kesal melihat tingkah laku dari sahabat gue yang benar-benar gila sama novel ini. "Bener-bener ya, yang namanya si Afsheen ini kalau udah ketemu sama novel lupa sama dunia sekitarnya."
Dari kecil gue kalau kesal sama Chelsea selalu menyebut nama Afsheen. Jadi, Chelsea bisa paham kalau gue marah dan gak marahnya. Kalau gue dan Marjan udah manggil Afsheen dia langsung ngeliat dan naruh apapun yang dia pegang saat itu juga.
Kalau inget itu semua lucu, karena Chelsea termasuk anak yang sangat penurut dengan Kakaknya. Mangkanya tak heran jika, Ojan benar-benar sangat menyayangi dan menganak emaskan adiknya ini.
Chelsea langsung menoleh ke arah gue dengan santainya dan menatap gue dengan datar. "Kapan lo dateng ke sini?" tanya Chelsea dengan nada yang kesal.
"Dari tahun monyet beranak gajah," ucap gue dengan kesal.
"Oh, sejak kapan monyet bisa beranak gajah?" tanya Chelsea yang masih fokus ke arah novel yang ada di depannya.
"Masih tanya gue dateng ke sini kapan? Di tambah tanya begitu, bener-bener ya lo. Lo gak denger apa tadi gue mencet tlakson sama ngetuk pintu keras banget di depan kamar. Lo malahan enak-enakan duduk sini sambil baca novel ini," ucap gue dengan kesal.
"Suka-suka gue lah. Yang baca novel gue, ko lo yang sewot. Lo ngapain sih ke sini?" tanya Chelsea dengan kesal.
"Gue mau ngajak lo main, yok jalan-jalan sama gue. Biar gak ngedekem aja di dalam kamar kayak gini. Lo kayak anak ilang tau gak," ucap gue asal.
"Biarin aja, toh gue nyaman. Begini. Kenapa lo harus sewot dengan apa yang gue lakuin?" tanyanya dengan nada kesal.
"Ish ayolah jalan sama gue, lo kan baru pulang dari Yogyakarta. Masa gak mau jalan sama gue sih?" bujuk gue.
"Gak gue gak mau jalan hari ini. Gue udah pulang dari semalem, gak ada yang tau kepulangan gue ke Jakarta. Mama sama Papa lagi tugas ke Pontianak, Bang Ojantan lagi pergi ke Surabaya, tinggal Pak Tejo, sama Bi Inem aja yang ada di rumah."
"Emang lo berani di rumah sendirian?" ledek gue.
"Berani, buktinya dari semalem gue di sini. Udah sana tuh lo balik ke asrama aja, gak usah ganggu gue hari ini. Gue mau me time bersama novel kesayangan gue," usir Chelsea dengan sangat halus.
"Chel, gue jauh lo ya. Gue rela nyamperin lo, nembus macetnya Jakarta. Di tambah gue juga keluar sambil di ledekin temen-temen gue. Lo gak kasian apa liat gue ini?" tanya gue dengan nada yang memelas.
"Dih, apaan banget. Alay tau gak sih, jalan dari ciumbrella sampe ke sini aja lo malahan hitung-hitungan. Lebih baik gak usah ke sini aja," ucap Chelsea dengan nada kesalnya.
"Oh, ayolah jalan sama gue. Kapan lagi coba kita ini quality time?" tanya gue dengan lembut.
Chelsea hanya mengabaikan ucapan gue dan tetap fokus membaca buku yang ada di hadapannya. Gue yang kesal atas sikap Chelsea, langsung mengganggu kegiatan membacanya dengan cara meniupkan lembaran buku novel itu dengan cepat.
Chelsea masih bisa bertahan dengan gangguan itu, gue terus mengganggunya dengan mengelus rambutnya dengan pelan, dan memeluknya dari samping.
"Ck, bisa gak sih Vin. Sehari aja lo gak ganggu gue? Gue ini ya bener-bener pengen fokus baca novel ini sampe kelar hari ini. Kalau ada Kak Ojantan, gue gak akan bisa baca novel sepanjang ini Vin," ucap Chelsea dengan nada yang memelas.
"Ayolah, kapan lagi coba lo jalan sama crazy rich kek gue? Lo tinggal duduk manis di mobil, minta apapun yang lo minta abis itu lo ngekor doang."
"Oh, ayolah tolong ini mah. Jangan ganggu gue dulu ya," ucap Chelsea dengan sangat memelas.
"Gak-------"
"Oh, ayolah tolong ini mah. Jangan ganggu gue dulu ya," ucap Chelsea dengan sangat memelas.
"Gak ada kata melas, lo gak bosen apa ngedekem di kamar kayak gini? Gue aja yang tadinya pengen ngedekem di kamar asrama aja bosen. Ayolah jalan sama gue," bujuk gue dengan lembut.
"Males," jawab Chelsea dengan singkat.
"Kapan lagi coba lo jalan sama cowo ganteng kayak gue ini? Udah ganteng, banyak duit, banyak fansnya, famous, seluruh dunia tau gue, dan rajin menabung," ucap Kevin dengan nada narsisnya.
"Dih, PD akut banget. Gue aja gak ngakuin kalau lo ganteng lah. Kalau fans lo mah iya, pada tergila-gila sama orang ngeselin kayak lo. Gak ngerti gue sama mereka, yang di suka dari lo dari segi apanya coba?" tanya Chelsea sambil membaca buku novelnya.
"Mereka liat guendari prestasinya lah. Emangnya lo yang lebih sering ngehujat gue diem-diem," ucap Kevin dengan sebal.