Dia Yang (Dari) Dulu Ku Cinta

1278 Words
Bukan hal yang mudah untuk menutupi rasa cinta pada seseorang yang jelas-jelas ada didepan matamu. Selalu ada moment dimana Kita akan berpapasan bahkan mengobrol walau dalam waktu singkat dengan Dia. Entah faktor ketidaksengajaan atau hal lainnya. Dan hal itu lah yang menjadi titik kelemahan seorang Yuki. Dia tidak akan pernah bisa bersikap biasa aja didepan Maxime. Bukan berarti dia belingsatan macem cacing kepanasan juga sih. Cuman ya, rasanya Yuki mau kabur sejauh-jauhnya aja kalau lagi berhadapan sama tu orang. Bikin jantung dag-dig-dug seerr berasa mau terjun langsung dari lantai sepuluh. Padahal Maxime nya juga biasa aja. Dan, memendam perasaan selama hampir tiga tahun itu bukan hal yang mudah juga buat Yuki. Bahkan kalau bisa, Yuki gak akan pernah mau jatuh cinta sama sosok dingin dan cuek macem Maxime gitu. Tapi ya balik lagi, kalo hatinya emang udah nyantol di Maxime ya Yuki bisa apa? Selain cuma merhatiin cowok itu secara diam-diam. Dua tahun lalu, Yuki masih berada di bangku kelas sepuluh. Masih unyu-unyu kinyis-kinyis ngegemesin bin polos yang gatau apa-apa. Bahkan temen aja, sampe minggu kedua Ia sekolah disana, Yuki baru nemuin satu temen yang cocok dan klop banget sama dia. Yaitu Alamanda Syarief alias Manda. Temen akrab sekaligus tablemate nya dia bahkan sampai saat ini. Hingga akhirnya, setelah beberapa bulan bersekolah di SMA Mandiri Jaya, Yuki melihat orang itu. Duduk dibangku pojokan paling belakang yang masih satu barisan dengannya, yang pada saat itu Yuki duduk diurutan bangku paling depan. Awalnya sih Yuki biasa aja sama Maxime, belum ada setitik pun perasaan seperti saat ini pada cowok itu. Sampai satu kejadian, dimana semua perasaan itu bermula, memunculkan getaran-getaran ameh yang belum pernah Yuki rasakan. ... Suatu hari Yuki pernah terlambat datang ke sekolah. Bel berbunyi pukul 6.30 dan Yuki datang hanya terlewat lima menit bahkan kurang. Tapi gerbang depan sudah dikunci dan itu mengartikan bahwa siapapun murid yang telat udah gabisa lagi buat masuk apapun alasannya. Karena peraturannya adalah 'Jika terlambat lebih dari waktu yang ditentukan, pulang ke rumah atau tetap masuk tapi harus melakukan hukuman'.  Hukuman yang dimaksud disini bukan hanya sekedar membersihkan toilet. Itu mah masih mending! Lha ini, sepatu disita cuman sebelahnya doang,  terus kita mesti harus nulis di kertas sebanyak 25 lembar dengan tulisan 'Saya janji tidak akan telat', ditambah dengan jalan jongkok keliling lapangan 10 putaran. Kurang disiplin apa lagi coba? Udah kek latihan militer! Kebayang gak tuh capeknya gimana? Udah disuruh nulis, dibikin malu, di bikin pegel juga lagi. Jadi setelah dipikir panjang kali lebar, akhirnya saat itu Yuki memilih buat gak masuk sekolah, lagian daripada capek-capek dia jalanin hukuman, malu, terus pegel lagi. Ditambah lagi ini hari pertama siklus bulanannya, udah nyiksa lahir batin banget! Sekali-kali bolos gapapa lah, biar absen gak sepi-sepi amat isinya cuman titik doang. Mending mampir ke warung Mpo Jujun buat sarapan nasi uduk disana. Masalah diomelin apa nggak sama Bunda mah urusan belakangan, bilang aja telat, terus ga dibolehin masuk. Kelar deh urusan! Walaupun nanti Bunda masih akan terus melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang bikin pusing. Saat Yuki hendak memasuki warung Mpo Jujun yang letaknya disamping sekolahan, Yuki melihat Maxime yang saat itu sedang makan dengan lahapnya sambil satu kakinya naik ke atas bangku dan makan pake tangan. Terlihat menikmati sekali ditemani dengan kerupuk kulit. Duh, Yuki jadi lapar. Dan emang Yuki beneran lapar, mangkanya Dia kesini. Tapi saat itu, Yuki dan Maxime belum saling kenal, Mereka memang satu kelas, tapi tidak pernah terlihat berteman akrab ataupun saling becengkrama seperti kepada teman-teman yang lainnya. Senggol-senggolan aja bahkan gak pernah! Akhirnya, Yuki mutusin buat ikut duduk disampingnya dan menyapa cowok itu agar terkesan akrab, disamping itu Yuki emang anaknya SKSD banget. Yang penting gue punya banyak kenalan, katanya. "Oyy! Lo Maxime, kan?" Tanya Yuki, sambil duduk di bangku kayu panjang yang diduduki oleh Maxime. Cowok itu pun menoleh, dan menatap Yuki dengan kening berkerut masih dengan mulut yang penuh dengan nasi. Yuki yang melihat Maxime melongo seperti itu agak ilfeel dan malah terkekeh sambil menepuk pundaknya pelan, "Lo pasti gak kenal gue, kan? Gue Yuki. Yang duduk dibarisan lo paling depan." Ujar Yuki mengabaikan ekspresi cowok itu lalu mengalihkan pandangannya kedepan. "Mpo Jujun! Yuki mesen nasi uduknya atu ya, yang pedes!" Teriaknya pada pemilik warung. "Siap neng!" Maxime menelan makanannya dengan susah payah lalu menyeruput teh hangatnya yang ada dimeja, "Gue tau lo Yuki. Tapi yang bikin gue bingung, lo ngapain coba ada disini? Lo bolos?" Tanya Maxime datar, melanjutkan acara sarapannya yang sempat tertunda karna kehadiran cewek itu. Yuki menoleh kearah Maxime dan menyengir lebar, "Gue gak bolos kok! Gue telat. Hehehe..." "Nah, elo. Ngapain disini? Lo bolos?" Gantian Yuki yang bertanya. "Gue juga telat." Jawabnya santai. Yuki melongo heran ditempatnya, setau Yuki, Maxime itu anaknya disiplin abis, terus lumayan pinter juga, tapi kok bisa telat? "Lhaa, Maxime bisa telat?" Tanya Yuki tak percaya, "Gini-gini gue juga manusia kali," Jawab Maxime acuh, Yuki terkekeh geli, "Siapa yang bilang lo setan!" Balas Yuki. "Elo barusan," "Eanjir! Kapan gue bilangnya?" Yuki menoleh tak terima kearah Maxime. "Motor gue mogok tadi, jadi ke bengkel dulu. Eh telat. Yaudah." Cerita Maxime santai sambil menyuap makanannya, Yuki hanya mengangguk ngerti dan menerima piring yang berisi nasi uduk lengkap dengan kerupuknya yang disodorin Mpo Jujun. "Makasih Po!" "Sama-sama." Lalu Mereka pun makan dalam diam. Hanya berdua didalam warung nasi uduk yang kecil ini. Sesekali Mpo Jujun bertanya apakah Mereka tidak sekolah? Dan keduanya menjawab serempak. Telat. Sampai akhirnya, Maxime menyelesaikan makannya terlebih dahulu, sedangkan Yuki masih fokus sama sarapan, sambil sesekali mengecek ponsel. "Aneh ya. Kita sekelas tapi gak pernah ngobrol akrab," Ucap Maxime yang membuka percakapan diantara Mereka. "Hahaha... Iya banget! Ya abisan lo mainnya sama kelas sebelah mulu, kelas sendiri dianggurin." "Yaaa, temen-temen gue adanya di kelas sebelah mau gimana. Balum terlalu akrab juga kan sama temen sekelas." "Yaa biasanya kan cowok mah nyampur aja mainnya, gak perduli kenal lama atau nggak." "Yaaa iya sih, cuman yaa cowok pasti ada juga lah canggungnya," Yuki mengangguk-angguk ngerti sambil melanjutkan makannya. "Btw, lo kenapa deh telat?" Tanya Maxime meminum teh nya yang masih nyisa sedikit. "Kesiangan. Hehehehee...." Yuki terkekeh seraya mendongak menatap Maxime yang juga sedang menatapnya tepat di manik mata cowok itu. Katanya sih, kalau cewek itu cuma butuh waktu tiga detik buat jatuh cinta sama seseorang. Apakah itu benar atau tidak, namun yang jelas, saat itu Yuki merasa ada hal aneh lain yang merasuk ke dalam dadanya saat menatap Maxime, membuatnya jadi salah tingkah sendiri dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Love at first sight? Awalnya sih Yuki gak percaya, tapi setelah melihat Maxime, Ia jadi meragukan dirinya sendiri. Yuki mengalihkan pandangannya pada piring didepannya lalu berdehem untuk menutupi kegugupannya. Dan entah perasaan apa yang Ia rasakan saat itu, tapi yang jelas, Yuki tidak lagi menatap Maxime sama seperti biasanya ketika Ia menatap teman cowoknya yang lain. Entah disaat yang mana, di hari apa, dan jam berapa, Yuki mulai jatuh cinta pada sosok Maxime. Yang sebetulnya memiliki sisi lain dari dalam dirinya, disamping sifatnya yang dingin dan cuek itu. Tapi Yuki belum tau apa itu. Maka dari itu, mulai saat itu, Yuki ingin sekali mencoba dekat dengan Maxime, ingin mencari tahu sisi lain dalam diri cowok itu. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi percakapan yang berarti diantara keduanya kecuali masalah sekolah dan tugas. Maxime hanya akan bertanya tentang tugas apa saja yang diberikan, begitupun juga Yuki, dia akan berbicara pada lelaki itu jika ada hal yang menurutnya pentiiiinggg banget. Dan hal yang disyukuri Yuki setelahnya adalah, Mereka pisah kelas saat di kelas dua. Waktu dimana semua cinta Yuki di pertanyakan. Benarkah Ia mencintai Maxime? Atau hanya sekedar mengagumi lelaki itu. Bahkan setelah hampir tiga tahun ini perasaan itu tidak pernah berubah, tetap sama bahkan terus bertambah seiring berjalannya waktu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD