Pertemuan Tak Terduga

1888 Words
Bukan sekali dua kali Yuki memberi kode pada Maxime bahwa Ia menaruh hati pada lelaki itu. Bahkan, Waktu kelas satu semester dua, Yuki pernah membuat surat cinta untuk Maxime yang niatnya Ia akan selipkan ke dalam tas cowok itu saat suasana kelas sedang sepi, tapi malah salah masukin ke tas temennya yang lain. Untung disuratnya itu gak ada nama Yuki nya, kalau ada ya pasti berabeeee. Setelah itu, Yuki tidak mau lagi berbuat nekat dengan melakukan hal yang sama. Lagian jaman udah modern, masih jaman surat-suratan? Saat itu Yuki udah kenal sama Manda, lumayan akrab juga. Karena Yuki pisah kelas sama Icha, ya jadinya Mereka jarang ketemu kalau bukan jam istirahat atau pulang. Berbagai cara udah Yuki lakuin buat bikin Maxime peka atau setidaknya ngelirik Dia lah ya, Tapi tetep aja emang anaknya dingin dan kaku macem batu es, mau di kasih kode apapun ya gak bakalan peka. Bahkan Yuki sempat berpikiran buat nembak Maxime di lapangan, didepan semua murid-murid dan guru-guru menggunakan toa. Tapi mengingat Yuki masih punya malu dan masih mau diakui sebagai warga sekolah yaa, yaudaaah. Yuki cuma bisa berharap Maxime bisa peka dengan sendirinya atau gak melalui perantara teman-temannya yang lain. Teman-temannya juga sebenarnya gak ada yang tau kalau Yuki suka sama Maxime. Cuma Icha dan Manda, yang lebih sering bilangin Yuki buat nyuruh Yuki untuk ngungkapin langsung aja sama Maxime tentang perasaannya, daripada ngasih kode gak jelas yang buang-buang waktu, mending orangnya peka, lah kalau enggak...  Capek deh! Dan setahun bukan waktu yang sebentar untuk suka sama orang. Menurut penelitian, seseorang yang suka sama lawan jenis lebih dari empat bulan lamanya, itu sudah termasuk dalam tahap jatuh cinta. Jika memang apa yang Yuki rasakan adalah Cinta. Maka, selama setahun ini Ia memendam perasaan itu tanpa Maxime sendiri tahu. Ia sendiri sih tidak mencoba untuk menyangkal dan juga tidak mencoba untuk membiarkan perasaan itu tumbuh begitu saja. Mengalir dengan sendirinya. Sampai Yuki tidak sadari bahwa sudah sejauh ini Dia menaruh hati pada sosok tak terduga macem Maxime begitu. Dia juga heran kenapa bisa sampe selama ini Ia bisa bertahan? Apa karena Ia membawanya dengan santai atau terlalu biasa aja? Dan, mungkin ini akhir dari titik penantian Yuki. Bisa dibilang sih Yuki terlalu pengecut untuk tidak mengungkapkan saja tentang perasaannya pada Maxime. Tapi ya, balik lagi ke harga diri brooh... waya gini tuh bukan waktunya cewek-cewek ngejer cowok! Sudah sepatutnya cewek tuh diperjuangin! Bukan cuman ngasih kode sana-sini, tapi yang di kodein malah gak peka-peka. Yuki sudah berniat dalam hati untuk ngelupain Maxime dan berusaha Move On dari cowok itu. Gimanapun caranya, Ia harus bisa ngelupain si es batu satu itu! Bahkan meskipun saat ini Ia satu kelas lagi sama Maxime, Itu tidak menjadi alasan buat Dia berhenti untuk ngelupain Maxime. Mudah-mudahan niatnya untuk melupakan cowok itu bisa benar-benar terlaksana dan bukan cuman omong doang. "Alah! Selama lo masih satu kelas bahkan satu sekolah sama dia, lo gak bakalan bisa ngelupain dia, Yuk! Susaah deeh..." Kata Manda, saat Yuki curhat tentang perasaannya kepada Maxime. Yuki terlihat berpikir sejenak, mengetuk jari telunjuknya di dagu seraya menengadahkan kepala. "Bisa lah, Man! Lo doain aja moga gue berhasil ngelupain dia. Capek Juga lama-lama." Kata Yuki pelan, melirik ke seisi kelas yang sudah lumayan sepi karena sebagian orangnya sudah pulang. Bel pulang sekolah memang sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu, Yuki dan Manda emang sengaja buat balik belakangan nunggu kelas sepi. Manda melirik Yuki dengan sebelah alis terangkat, "Kalo gamau capek ya jujur aja sih. Lo gak akan pernah tau kalo lo sendiri gak mau mencoba! Apa salahnya lo coba buat jujur sama perasaan lo sendiri?" Kata Manda seraya merangkul tas ranselnya di pundak. Yuki masih terdiam diposisinya, bingung antara memikirkan usul Manda dengan rencananya yang ingin melupakan Maxime. Yang juga diragukan oleh cewek itu. "Ayok ah! Lo gamau balik?" Manda menarik lengan Yuki paksa, Yuki pun merangkul tasnya dan mengikuti Manda dengan pasrah. "Gue dijemput nyokap nih. Lo gapapa balik sendiri?" Manda menoleh kearah Yuki saat keduanya sudah sampai di halte depan sekolah. Yuki mengangguk, "Yaelah. Dah biasa keleuuss! Aku kan cewek strong!" Kata Yuki dengan wajah yang dibuat setegar mungkin, lalu sebelah tangannya terangkat untuk mengusap sudut-sudut matanya. Manda mendelik kearah Yuki menahan tawa dan menyenggol pundaknya, "So strong banget anak! Ngomong cinta aja cemen! Payah sama kucing." Cibir Manda, Yuki menoleh kearah Manda dengan wajah datarnya. "Ngomong tuh gak segampang ngebalikin telapak tangan! Coba lo ada di posisi gue? Shanggupp gak shaayy?" Yuki melipat kedua lengannya didada, menantang Manda yang ada disebelahnya. Sebuah mobil terlihat berhenti didepan Mereka, siapa lagi kalau bukan nyokapnya Manda. "Kalo gak shanggup yaaaaa shanggupin aja! Hahaha bhaayy!" Manda langsung ngeloyor memasuki mobil dan melambaikan tangannya pada Yuki. "Bye! Tiati dijalan. Kalo ada cowok cakep, culik aja. Buat serepnya si Encim. Hahaha..." Ledek Manda saat mobil Jazz merah milik Mamanya sudah melaju. "Kamvreett Manda! Aseem banget anak!" Gerutu Yuki kesal. Yuki meniup poni depannya dengan kesal dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dan disaat itu pula, pertahanan Yuki seolah runtuh seketika. Melihat cowok yang berusaha mati-matian Ia kubur dalam-dalam sosoknya, kini muncul dihadapannya, membuat semua rencananya yang sudah tersusun rapi seolah buyaaar semua di otak. "Lo belom balik?" Alamat gamon ini mah namanya. Baru ditanya gitu aja langsung meleleh. "Ya menurut lo aja deh! Gue masih disini itu artinya apa?" Kadang, Yuki suka pengen ngegeplak kepalanya sendiri deh rasanya. Ia sudah ingin menjawab pertanyaan Maxime barusan dengan nada biasa aja. Tapi malah kenapa jadi ketus dan terkesan angkuh banget? Duh muluuttt! Bisa diajak kompromi dikit gak? Maxime terdiam sesaat, lalu mengangguk samar dan menyalakan mesin motornya. "Yaudah kalo gitu. Mau bareng?" MAU! "Nggak. Makasih." Tenggelemin aja hayati bang di rawa-rawa. Ini kenapa otak sama mulut gak sinkron banget sih? ***** Hari minggu yang cerah. Yuki berniat akan melakukan jogging pagi bersama Bang Kevin, Kakak Laki-laki nya yang terpaut usia Lima tahun diatasnya, yang saat ini duduk dibangku kuliah semester akhir. Namun, sampai Ia turun dari kamarnya untuk bersiap-siap, Abangnya itu belum juga menampakkan batang hidungnya sama sekali. Padahal dia yang janjiin kemarin. Malah dia yang kesiangan. "Buuunnnn ....." Yuki berteriak dari anak tangga paling bawah menuju kearah dapur, dan mendapati sang Bunda sedang memasak nasi goreng untuk menu sarapan pagi Mereka. Bunda menoleh, dan melihat anak gadisnya yang sudah berpakaian lengkap siap berolahraga dengan kening berkerut. "Lha... Bang Kev baru aja jalan. Kirain kamu gajadi ikut," Kata Bunda masih sambil mengaduk-aduk nasi goreng dengan samsi yang ada ditangannya. Jeeeeeehh dasaar!! Yuki menyeruput jus jeruk dari dalam kulkas dan menatap Bunda tidak percaya, "Wah parah tu Bang Ke, Aku ditinggal. Yaudin, aku lari dulu deh. Bye, Bun. Assalamualaikum." Yuki langsung ngeloyor gitu aja keluar, membuat Bunda menggeleng kepala heran. Untung yang kayak Yuki cuman satu. Batin Bunda. ***** Yuki berlari menyusuri jalanan komplek rumahnya yang sepi dari kendaraan, namun ada beberapa orang yang juga sedang melakukan jogging pagi bersama. Udara di hari minggu pagi benar-benar cerah dan bikin semangat banget sih emang. Yuki menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari Bang Kevin yang entah ada dimana sekarang. Setelah beberapa menit mencari Kevin namun tidak kunjung ditemukan, Akhirnya Yuki memilih untuk berlari disekitaran taman dekat danau yang letaknya tidak jauh dari sana. Dan disana, Ia melihat Kevin sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak Yuki lihat jelas karena ketutupan badannya Kevin. Yuki pun berlari dan menghampiri Kevin, "BANG KE!!" Pekik Yuki sambil berlari kecil. Kevin menoleh dengan wajah cemberut, mendengar panggilan yang sudah melekat di otaknya. Siapa lagi kalau bukan adiknya yang memiliki panggilan tersendiri untuknya. Udah mana jelek banget lagi didengernya. Dilihatnya, Yuki tengah berlari menghampirinya dengan senyum tanpa dosa. "Kamu tuh kebiasaan banget manggil Abang begitu! Kan gak enak banget didengernya. Nurunin harga pasar aja kamu," Gerutu Kevin saat Yuki sudah ada didepannya, Yuki hanya menyengir lebar dan mengalihkan tatapannya pada lawan bicara Kevin tadi. Sesaat, tubuhnya membeku seketika. Senyum yang tadi terkembang di bibirnya pun perlahan sirna. Diganti dengan raut wajah kaku dan datarnya. Kalau bisa nih ya, Yuki mau ngubur diri dalam-dalam aja dibawah tanah daripada harus ketemu sama orang yang berusaha Ia hindari. Maxime. Kenapa juga harus ketemu Dia disini sih? "Maxime!" Seru Yuki menyuarakkan pikirannya, membuat Kevin menoleh kearah Yuki dan Maxime bergantian. "Lha, kalian saling kenal?" Tanya Kevin kaget. Yuki melirik Maxime yang diam saja ditempatnya, lalu berdehem mengisi keheningan yang sempat terjadi beberapa menit lalu. "Hm... Iya, kita satu sekolahan. Satu kelas juga," Jawab Yuki berusaha tenang sambil melirik Maxime. Kevin mengangguk paham, lalu beralih menatap Maxime yang diam-diam sedang memerhatikan Yuki. "Ohh... Maxime ini teman main futsal Abang, dek." Kata Kevin santai, "Siapa yang nanya?" Yuki menatap Kevin dengan sebelah alis terangkat. "Cuman mau ngasih tau aja sih kalau kamu mau tau." Kata Kevin diakhiri senyuman mengejeknya. Rasanya Yuki mau menjitak kepala Abang nya yang ngeselin ini aja deh. "Abang mau lanjut lari nih, bareng gak?" Tawar Kevin pada Yuki, Yuki melirik Maxime sekilas. "Mau!" "Max, gue lanjut lari yah. Kalo ada sparing lagi kabarin aja." Pamit Kevin pada Maxime, Maxime mengangguk dengan senyuman khasnya. Kevin berlari duluan disusul Yuki dibelakangnya, sebelum Yuki sempat menjauh tiba-tiba Maxime memanggilnya. "Ki," Yuki berhenti dan membalikkan badannya menghadap Maxime. "Ya?" Maxime terdiam sesaat, lalu berlari kecil menghampiri Yuki yang masih diam ditempatnya. "Jangan gengsi buat nutupinnya lagi ya, gue tau semuanya, kok." Ucap Maxime pelan, menatap lurus mata Yuki membuat Yuki gugup sendiri. "Hah?" Maksudnya apa? Belum sempat Yuki menanyakan maksud dari ucapan cowok itu, Maxime sudah membalikkan badannya dan berlari begitu saja, meninggalkannya tanpa penjelasan apapun setelah ucapannya yang membuatnya bingung barusan. Hah kenapa sih, Dia? Aneh banget! **** Saat Yuki dan Kevin sedang berjalan santai menuju rumah Mereka, keduanya melihat sebuah mobil carry warna hitam yang bertengger tepat didepan sebuah rumah yang bersebelahan dengan rumah Mereka. Yuki memperlambat langkahnya dan menarik kaos Kevin untuk ikut berhenti, "Bang Ke, bentar deh..." Yuki menatap rumah minimalis berlantai dua –yang beberapa bulan belakangan ini tidak berpenghuni– kini ramai dengan beberapa orang yang sedang membawa perabotan rumah dari mobil carry tersebut menuju ke dalam rumah itu. "Apa sih, dek?" Sewot Kevin karna Yuki menarik-narik kaosnya terus, sembari memainkan ponselnya. "Itu... Ada yang pindahan?" Tanya Yuki tanpa menoleh kearah Kevin, Kevin ikut memerhatikan yang menjadi objek penglihatan Yuki dengan kening berkerut. "Iya kali," Jawab Kevin acuh, lalu lelaki itupun kembali berjalan memasuki rumah Mereka. Yuki masih memerhatikan keadaan tersebut, dimana beberapa orang yang sedang sibuk membawakan beberapa barang dari mobil ke dalam rumah. Dan saat itu juga, ada seseorang yang menarik perhatian Yuki. Orang itu baru aja keluar dari rumah tersebut, dengan kemeja putih bercorak hitam yang lengannya di gulung sampai siku dan celana jeans hitam yang dipakainya, serta rambutnya yang sedikit basah karena keringat dan terlihat acak-acakan, Memberikan kesan maskulin yang terpancar dari dalam dirinya. Membuat Yuki merasakan angin segar yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dadanya, menyejukkan hatinya. Anjir lah! Ini kenapa ada cowok yang sebegini cakeepnyaaa sihhh??? Gue gakuaaattt.... Lelaki itu membawa sebuah kardus besar yang di bawanya sendiri tanpa bantuan siapapun setelah mengambilnya dari mobil, dan ketika lelaki itu berbalik, pandangannya langsung bertemu dengan Yuki yang kini tengah memerhatikannya tanpa berkedip. Lalu dengan sopan, lelaki itu tersenyum manis, senyuman yang membuat Yuki serasa meleleh ditempat. Dan setelah melemparkan senyuman mautnya, lelaki itu berjalan memasuki rumah tersebut, meninggalkan Yuki sendiri yang sedang megap-megap ditempatnya akibat senyuman yang dilemparkan olehnya. Oh. My. God. Barusan kayak ada malaikat turun dari surga yang senyum ke gue? Deeemiiii apaaa!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD