Rahasia Cinta

1128 Words
Dan aku mencintaimu, Sungguh-sungguh tanpa kau tau, Tersimpan di dalam hatiku, Selamanya, ini jadi rahasia cintaku. ~Kahitna - Rahasia Cinta~ *** Bukan kehendak Maxime kalau cewek-cewek di sekolahnya menaruh hati padanya. Bukan kemauan Dia juga untuk menolak Mereka, karna emang Maxime tidak suka pada Mereka. Maxime ini sebenernya gak ganteng-ganteng amat sih, cuman yaa enak aja gitu diliat mukanya, gak bosen buat dipandang. Dia juga gak ngerasa diri dia sok ganteng sampe nolak beberapa cewek yang sempat nyatain perasaannya pada Maxime. Karena emang cinta itu gak bisa dipaksakan, kan? Maxime cuma gamau dibilang ngasih harapan palsu, mangkanya daripada Dia maksain diri buat nerima Mereka lebih baik jujur, kalau emang dia gak suka sama Mereka. Bukan tanpa alasan Maxime menolak, selain Dia tidak suka sama Mereka, ada alasan lain yang membuatnya tetap berteguh pada pendiriannya. Maxime pernah suka sama cewek, dan sekarang pun masih. Waktu SMP dia ketemu sama cewek itu, orangnya sederhana dan kalem banget, bikin Maxime adem ngeliatnya. Sampe ketika lulus SMP, cewek itu pindah ke luar kota, dan Maxime baru sadar kalau Ia sudah terlambat menyatakan perasaannya. Saat itu hubungan Mereka hanya sebatas teman, karena Maxime ini anak nya cukup pintar, jadi cewek itu selalu minta ajarin Maxime buat mengerjakan tugasnya. Dan mungkin sejak saat itu, Maxime tidak pernah mau pacaran atau berhubungan sama cewek lain, karena Dia yakin suatu saat cewek itu bakalan balik. Namun, setelah cewek itu kembali, Maxime harus menelan kekecewaan untuk yang kedua kalinya. Cewek itu sudah punya pacar! Dan pacarnya itu jauuuuhh berbeda dari Maxime. Ganteng, anak orang kaya, pintar dan masih banyak kelebihan lain yang cowok itu punya tapi Maxime tidak miliki. Bikin Maxime insecure dan alhasil Ia cuma bisa mendem perasaannya sendiri tanpa cewek itu pun tahu perasaannya sama sekali. Sampai suatu ketika, Ia menemukan sosok Yuki yang berbeda dari tipe gadis impiannya. Yuki yang gesrek, somplak, bawel, berisik dan juga SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Apalagi waktu Mereka bertemu di warung Mpo Jujun saat keduanya sama-sama terlambat. Maxime agak ilfeel dengan Yuki saat itu, tapi yaa Dia coba gak tunjukin aja didepan gadis itu. Entah hanya perasaannya saja atau gimana, sejak kejadian setelah itu, Ia sering memergoki Yuki suka curi pandang kepadanya. Tapi gadis itu cuek aja, pura-pura gak ngeliat. Maxime belum sadar saat itu, sampai suatu ketika, Saga yang baru dari toilet datang ke kelas dan langsung duduk disebelahnya. "Yuki suka sama lu!" Kata Saga tenang, sambil memainkan ponselnya saat itu. Maxime kaget pastinya, ternyata firasatnya selama ini benar. Yuki ada hati sama dia. "Yaa terus?" Tanya Maxime mengangkat sebelah alisnya, maksudnya Saga apa bilang kaya gitu ke Dia? "Cuma info aja sih, ternyata selama ini dia diem-diem ada hati sama lo. Gak nyangka, ya?" "Lo tau darimana dah?" Maxime mengerutkan keningnya, seolah tidak menyadari perasaan Yuki selama ini padanya. "Tadi gue gak sengaja nguping omongan Manda, Icha sama Yuki waktu mau ke toilet perempuan." Jawab Saga santai, "Lhaa? Lo ngapain ke toilet perempuan? Ganti kelamin lo?" Maxime menatap Saga curiga. "Anjir! Ya kagalah, gila lu! Kan toilet perempuan sebelahan sama toilet cowok, odon! Tadi gue jalan di belakang Mereka." Saga mendelik sewot kearah Maxime yang masih menatapnya tajam dengan kedua alis bertaut. "Elah lo ngapa ngeliatin gue segitunya dah! Naksir? Sorry gue masih normal!" Saga melengos kembali memainkan ponselnya. "s****n lo! Yaa, yaudah sih, kalo dia suka sama gue mau diapain. Hak dia itu!" Kata Maxime cuek "Kenapa? Masih ngarepin si Kayra lo? Katanya udah mop on!" Saga melirik Maxime dengan ujung matanya. "Yaaa gue emang udah move on! Tapi bukan berarti hati gue kebuka buat orang lain secepat itu! Kalo ada orang yang suka sama gue, yaa yaudah. Intinya gue gak ngasih harapan ke dia!" "Kena karma baru tau rasa lo!" "Emang gue ngapain? Gue gak ngapa-ngapain!" "Terserah!" Dan, entah benar atau tidak itu yang dirasakan Maxime saat ini. Karma. Iya kali yaa, dulu dia selalu bodo amat sama cewek-cewek yang suka padanya. Dan sekarang, Dia ngerasain apa yang cewek-cewek itu pernah rasain. Suka sama orang sampe sebegininya dan bingung mau ngungkapinnya gimana karena cewek yang dia sukai adalah cewek yang dulu juga pernah suka padanya. Bahkan setelah hampir dua tahun berlalu, Maxime baru menyadarinya. ***  Waktu itu Maxime masih biasa aja ngeliat Yuki, gak ada sesuatu dalam dadanya yang bergerak-gerak, bahkan terkadang ilfeel kalau ngeliat cewek itu ketawa sampe yang ngakak banget, gada kalem-kalemnya sama sekali. Sampai saat itu, Maxime masih mencari tahu kebenaran bahwa Yuki menyukainya, Ia suka mencari tahu tentang Yuki tapi tidak terlalu menonjol dan terkesan biasa aja. Gak kayak cewek-cewek yang kalo udah kepo ngalahin agen FBI, sampe pelosok-pelosok pun di cari tahu. Perlahan tapi pasti. Slow but sure. Entah sejak waktu kapan dan dimana, Maxime malah jadi suka mencari tahu tentang Yuki, mulai dari kebiasaan-kebiasannya di sekolah, sampe alamat rumahnya dan juga nomor teleponnya. Iya! Maxime punya nomor Yuki, disimpan juga di kontaknya. Tapi dia gak pernah ngehubungin gadis itu, Buat apa? Toh disekolah pun Mereka sering bertemu, meskipun gak ada percakapan yang berarti sih. Dan sadar atau nggak, Maxime merasa hatinya mulai bisa menerima sosok Yuki. Ia tidak lagi merasa bahwa tawa Yuki itu menggelikan, melainkan tawanya itu lucu dan unik, dan banyak orang yang gak punya tawa seperti Yuki itu. Pokoknya segala apapun yang Yuki lakukan, sekalipun itu konyol ataupun garing, Maxime suka aja ngeliatnya, didalam hatinya tuh kayak ada yang getar-getar manja tapi Maxime gatau itu perasaan apa. Sedang asiknya menikmati perasaan yang entah apa namanya, Ia mendengar kabar dari Saga bahwa Yuki sudah mulai mau melupakannya. "Lo sih, Max! Sok gak peka. Yuki nyerah tuh sama lo. Mau mop on dia katanya." Elah ini Saga tau dari mana lagi? Saat itu Maxime langsung terdiam, mungkin perasaannya pada Yuki itu cuma sebatas perduli dan bukan karna ada apa-apa, jadi dia yaudah biarinin aja. Sampe suatu ketika dia denger sendiri dari mulut Yuki, saat Ia tidak sengaja berjalan dibelakang gadis itu yang sedang berjalan menuju kantin bersama Icha dan Manda. "Gue mah udah sering, Ki, denger lu mau mop on tapi kagak jadijadi. Udah biyasaa..." Itu suara Manda. "Tapi ini beneran, Man! Gue udah nyerah, Maxime terlalu jauh buat gue gapai." Kata Yuki saat itu, membuat Maxime menghentikan jalannya dan menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh. Benarkah Dia sejauh itu? Dan apa perasaan yang dirasakannya sekarang? Terus, Kenapa dia ngerasa sesak sekali mendengarnya? Ini perasaan yang sama ketika Dia tahu bahwa Keyra sudah memiliki pacar, bahkan kayanya jauh lebih menyesakkan. Apa Cuma karena Maxime takut kehilangan orang yang suka padanya aja? Atau emang pure karna perasaannya pada Yuki mulai tumbuh? Maxime bingung harus gimana, membiarkan aja gitu Yuki move on darinya? Tapi gabisa, kayanya Maxime mulai ada ketertarikan khusus sama Yuki. Dan mulai saat itu, Maxime bertekad untuk mulai mendekatinya secara terang-terangan. Apapun caranya. Ia tidak mau lagi orang yang disukainya dimiliki oleh orang lain.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD