Ku terpikat pada tuturmu.
Aku tersihir ciummu.
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia.
Ku harap kau tahu, bahwa ku terinspirasi hatimu.
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku slalu didekatmu.
~ Raisa - Jatuh Hati ~
***
Sore-sore, disaat Yuki sedang menikmati waktunya menonton televisi, Bunda tiba-tiba memanggilnya dari arah dapur.
"Yuki."
"Ya?"
"Sini kamu."
Yuki beranjak dari sofa dan berjalan dengan lesu menuju dapur, Ia baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya setelah 15 menit yang lalu baru pulang dari sekolah. Sumpah deh, kurikulum baru ini bener-bener menguras tenaga dan pikirannya. Materi pembelajaran memang lebih sedikit, tapi waktunya justru lebih banyak, belum lagi ditambah PM karena sebentar lagi akan melaksanakan UN. Huffhh...
Yuki pun menghampiri sang Bunda yang entah sedang melakukan apa di dapur.
"Kenapa, Bun?"
Yuki berdiri di ambang pintu dapur, menatap Bunda dengan kening berkerut, lalu terkejut saat melihat dapur yang isinya seperti kapal pecah.
"Masha Allah, Bunda, ini kenapa dapur udah kayak kena badai topan, sih?" Yuki berjalan menghampiri Bunda yang sedang mengeluarkan satu loyang kue berbentuk bulat dari dalam oven.
"Hush! Kamu tuh, Bunda minta tolong dong, mau ya?" Bunda melirik Yuki sambil menaruh kue yang baru di keluarkannya dari dalam oven ke piring, lalu memotong-motongnya.
Yuki melihat kue yang sedang dipotong Bunda lalu mengangguk, "Boleh," saat Yuki hendak mencomot kue tersebut, tangannya malah langsung ditepis Bunda.
"Aduh!"
"Sopan kamu. Ini buat dikasihin ke tetangga baru disebelah. Buat kamu udah Bunda simpan di kulkas." Omel Bunda,
Yuki mengerucutkan bibirnya sebal, lalu teringat kata-kata Bunda barusan.
Apa tadi? Buat tetangga baru disebelah? Yang ada 'cowok itu'?
"Bunda minta tolong ya, kasihin kue nya ke tetangga baru kita disebelah, anggep aja silaturahmi dan salam perkenalan." Kata Bunda dengan senyum lebarnya, menatap Yuki penuh permohonan.
"Kenapa harus aku?" Yuki mulai jail mencomot ujung-ujung kue dan memakannya
"Tadi kata kamu boleh dimintain tolong," Gerutu Bunda
"Kenapa gak Bunda aja? Biar lebih afdhooll."
"Kamu gak liat ini dapur udah kayak kena badai topan kata kamu. Bunda mau rapiin ini dulu sebentar. Emang kamu mau beresin?" Bunda melirik Yuki dengan satu alis terangkat,
Yuki melihat seisi dapur lalu bergidik, dia lebih baik nyapu dan ngepel lantai deh daripada berurusan dengan dapur.
"Gak deh, Bun. Thanks a lot."
"Nah yaudah, gih sana tolong kasihin."
Yuki mengembuskan nafas keras-keras, lalu melirik kue diatas meja dan mengambilnya.
"Yadeeh, Yuki kasihin. Kalo gitu Yuki pamit dulu. Assalamualaikum." Yuki mulai beranjak dari dapur, dan berjalan menuju pintu.
"Kayak dari sini ke Bogor aja kamu pake pamit."
"Bunda jawab salam hukumnya wajib loh." seru Yuki saat sampai diambang pintu depan.
"Iyaaa, Waalaikumsalam Warrohmatullahi Wabarokatuh." Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadis satu-satunya, sifatnya itu ajaib bener emang, entah nurunin siapa.
Yuki cekikikan sendiri mendengar jawaban Bundanya, lalu membuka pintu dan berjalan menuju rumah disebelahnya yang hanya dibatasi oleh pagar tembok setinggi dua meter.
Yuki sudah berdiri didepan pintu gerbang rumah tersebut yang terbuka sedikit, lalu dengan pelan Yuki membukanya agar lebih lebar lalu berjalan menuju teras depan rumah lantai dua bergaya minimalis tersebut.
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum." Salam Yuki,
"Waalaikumsalam." Terdengar sautan dari dalam rumah dan tak lama pintu kayu dan terdapat ukiran aksara Jawa didepannya pun terbuka.
Yang pertama kali Yuki lihat adalah sosok wanita seumuran Bunda yang masih cantik diusianya, mengenakan hijab dan sedang tersenyum hangat menyambut Yuki.
"Ada apa ya, de?" Tanya Wanita itu ramah,
"Oh iyah. Ini tante, saya dari rumah sebelah, disuruh kasih ini sama Bunda, katanya buat silaturahmi dan salam perkenalan." Kata Yuki sambil menyorongkan piring berisi kue bolu pandan tersebut.
"Oh yaampun, terima kasih. Ayo masuk masuk, nak siapa namanya?" wanita didepannya menerima kue yang diberikan Yuki, lalu meminta gadis itu untuk memasuki rumahnya dengan sopan.
"Yuki, Tante."
"Nak Yuki, mari masuk. Nama Tante Asih, panggil Ibu aja, gapapa." Yuki mengangguk sopan lalu mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumahnya setelah memberikan kue tersebut.
Yuki dibawa menuju ruang tamu rumahnya dan didalamnya banyak sekali barang-barang yang masih belum dibereskan, beberapa masih ada didalam kardus besar yang ada di pinggiran tembok dan ada beberapa yang sudah di keluarkan tapi belum diletakkan ketempatnya.
Yuki melihat sebuah lemari kaca besar di sebelah kanannya, yang dijadikan sekat antara ruang tamu dengan ruang makan dan dapur. Didalamnya berisi segala macam pernak-pernik dari kaca, ada berupa gelas pajangan, piring, dan beberapa piala yang terpajang, dan ada dua bingkai foto yang terselip di dalamnya.
Tanpa sadar, Yuki menghampiri lemari tersebut dan melihat foto yang terpajang disana. Foto anak kecil yang sedang memegang piala didampingi oleh seorang laki-laki dewasa.
"Itu Deva, Anak Ibu. Dan disebelahnya itu Almarhum Papanya, suami Ibu." tutur Bu Asih menjelaskan, Yuki mengangguk lalu tersadar saat Ibu itu menyebutkan nama anaknya.
Jadi namanya Deva? Kok namanya sama kayak aktor favoritnya Manda?
"Deva, bu? Kayak nama artis aja. Hehehe..." Celetuk Yuki membalikkan badannya menatap Ibu tersebut, lalu terkekeh lucu membuat Bu Asih ikut tertawa.
"Iya, ya? Hahaha... Banyak yang bilang mukanya juga mirip, tapi enggak kok beda. Nama lengkapnya itu Ardeva Mahesa, biasa dipanggilnya Deva. Oh iya, ayo nak Yuki duduk dulu, Ibu buatin minuman. Kamu mau minum apa?"
"Aduh, gak usah, Bu. Ngerepotin, Yuki gapapa, kok."
"Gapapa, kok. Teh mau?"
"Yaudah deh kalo gitu."
"Yaudah sebentar ya."
"Iya, Bu."
Yuki duduk disalah satu sofa panjang sambil mengedarkan pandangannya ke seisi rumah tersebut, belum terlalu rapi sih karena memang Mereka baru pindah beberapa hari yang lalu, jadi masih banyak barang yang belum ditata ditempatnya.
Saat matanya asik berkeliling, tak sengaja Ia menemukan beberapa frame foto di sebelah meja televisi. Yuki pun beranjak dari sofa dan mendekati meja kecil tersebut yang sepertinya khusus digunakan untuk meja pajangan, karena bukan hanya frame foto saja tapi ada beberapa mainan lego berbentuk kartun dan juga ada beberapa hotwheels juga dipajang disana.
Yuki memerhatikan foto tersebut satu persatu. Frame pertama, berisikan foto keluarga yang lengkap terdiri dari Ibu, Ayah dan satu anak cowok yang masih kecil. Frame kedua, foto anak kecil tadi tapi sendirian yang menggunakan seragam SD dan sedang nyengir menunjukkan giginya yang ompong. Yuki tertawa lucu saat melihatnya. Frame ketiga, foto Ibu Asih dengan suaminya yang berdiri berdampingan dengan Ibu Asih memegang lengan suaminya.
Dan Frame terakhir, foto seorang laki-laki menggunakan jaket hitam dan celana jeans hitam dengan syal coklat yang menutupi lehernya dan kacamata hitam, berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke kantung jaket di sebelah rel kereta yang sepi, sepertinya itu di luar negeri, tapi Yuki tidak tahu dimana lebih tepatnya.
Yuki tersenyum melihatnya, itu kan 'cowok itu', cowok yang udah jadi favorit Yuki. Yang Yuki lihat dengan kemeja slim fitnya, yang melemparkan senyum manisnya pada Yuki dan yang membuatnya seolah terhipnotis karena senyumnya itu.
"Nak Yuki. Ini minumannya,"
Yuki tersentak kaget dan langsung menegapkan tubuhnya saat mendengar suara Bu Asih datang sambil membawa secangkir teh.
Bu Asih meletakkan cangkir teh tersebut di meja dan tersenyum saat Yuki berjalan lalu duduk disebelahnya.
"Maaf, Bu, udah lancang liat-liat," Kata Yuki merasa tidak enak, karena sudah melihat-lihat barang di rumahnya tanpa ijin.
"Gapapa toh, nduk. Kamu boleh lihat-lihat. Tapi maaf banget ini masih berantakan banget rumahnya. Soalnya Ibu kan cuma berdua sama anak Ibu, gak ada yang bantuin, dan anak ibu juga harus kerja, kan. Jadi yaa agak lama beresinnya. Hehehe..." Tutur Bu Asih, diakhiri kekehan pelannya.
"Iya, bu, gapapa kok. Lhoo, Emang suami Ibu kemana?" Tanya Yuki dengan kening berkerut.
Bu Asih sempat menunduk sedetik lalu tersenyum tipis, "Suami Ibu udah meninggal, 10 tahun yang lalu."
Yuki kaget, "Oh yaampun, Innalillahi. Maafin Yuki, Bu, Yuki gatau." Yuki menunduk merasa tak enak sudah membahasnya.
"Gapapa sayang, itu udah lama banget kok, Ibu juga udah baik-baik aja sekarang." Kata Bu Asih dengan senyum tipis, membuat Yuki merasa tidak enak karena sudah membahasnya.
"Sekali lagi Yuki minta maaf, Bu. Yuki gada maksud buat bahasnya,"
"Iya sayang, gapapa kok. Ohiya, Yuki masih sekolah? Atau sudah Kerja?" Tanya Bu Asih dengan senyuman manisnya, senyumnya ini ngingetin Yuki sama Deva, 'cowok itu'.
"Masih, Bu. Kelas tiga SMA." Jawab Yuki,
"Owalaaah, masih SMA, toh. Sudah mau lulus, ya? Mau kuliah dimana?"
"Iya, Bu. Hehehe... Belum tau, nih, masih bingung."
"Owalah, kalo Deva sih udah kerja, Nak Yuki. Belum ada setahun sih, karna Dia kan baru lulus kuliah juga, dan alhamdulillah pas ngelamar kerjaan langsung dapat." Cerita Bu Asih, membahas anaknya itu.
Deva, ya? Ahh... Kenapa d**a Yuki langsung berdentam kencang saat mendengar namanya?
"Ohh, emang Kak Deva kerja dimana, Bu?" Tanya Yuki, merasa ada desiran hangat waktu Yuki nyebut cowok itu dengan sebutan 'Kak', entah kenapa. Serasa ada yang beda aja gitu.
"Di bank dia, di daerah Harmoni. Ibu lupa sih namanya, nanti kamu tanya-tanya aja sama orangnya langsung," Jawab Bu Asih, "Biasanya sih jam segini Deva udah pulang, tapi gatau deh nih, belum ada kabar." Lanjutnya sambil melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah lima sore.
Dan tak lama, suara deruman motor terdengar memasuki halaman rumah tersebut.
"Nah, tuh kayaknya dia udah pulang." kata Bu Asih sambil menunjuk kearah pintu depan.
Sontak Yuki pun menoleh saat Bu Asih menunjuk kearah pintu depan, dan tubuhnya langsung membeku seketika saat melihat Deva yang sedang berjalan memasuki rumah dengan tas ransel dipundak dan jaket kulit yang tersampir di pundak kirinya.
"Assalamualaikum." Salamnya dengan wajah lelah yang kentara.
"Waalaikumsalam." Jawab Bu Asih dan Yuki serempak,
"Eh, ada tamu, Ma?" Deva menyalimi tangan Ibu Asih dan melihat Yuki yang duduk di sebelah Ibunya.
"Iya, ini tetangga baru kita yang rumahnya disebelah. Nak Yuki, ini Deva anak Ibu." Bu Asih memperkenalkan Deva pada Yuki.
Deva melap tangannya sebentar dengan baju lalu mengulurkan tangannya dihadapan Yuki, Yuki sempat tertawa dalam hati dan akhirnya menyambut uluran tangan cowok itu.
"Deva. Maaf yaa kalo kotor, saya belom cuci tangan soalnya," Katanya sambil tertawa yang membuat kerutan di kedua sudut matanya, dan entah kenapa justru membuatnya semakin terlihat menawan aja gitu. Ahh yaampun...
"Hai ka, Aku Yuki. Iya, Gapapa kok ka." Yuki mengangguk sungkan,
Dan saat Yuki bersalaman dengan Deva, jantungnya itu berpacu dua kali lipat, serasa abis lari marathon. Tangannya Deva itu kekar banget, berkat hasil fitness nya mungkin, jadi lebih berotot, telapakan tangannya juga gak kasar, malah terkesan halus.
Heleeehhh, ini sih namanya rejeki nemplok di Yuki. Udah mah ngeliat tampang Deva yang ganteng banget setelah pulang ngantor meski gurat lelah terlihat di wajahnya, diajakin salaman, terus dikasih tawanya yang terdengar berat-berat seksi. Duuuhhh, Yuki gakuaaat lama-lama beginiiii. Kamera mana kamera? Mau nyerah aja Yuki rasanya.
"Yaudah, Ma. Deva mandi dulu deh, beres-beres. Kalian lanjut aja ngobrolnya," Pamit Deva seraya beranjak dari sana menuju kamarnya di lantai dua.
"Yaudah, gih sana. Gaenak ada cewek cakep kamu nya masih jelek." Ledek Bu Asih, Deva malah tertawa dan melirik Yuki yang menunduk malu ditempatnya.
"Iyaa. Yuki, saya tinggal bentar, ya." Pamit Deva pada Yuki, Yuki mendongak dan mengangguk sopan, "Iya, Kak." Lalu cowok itu pun membalikkan badannya berjalan menuju tangga.
"Deva itu anak Ibu satu-satunya, Yuki. Jadi yaa, Ibu gatau lagi deh kalau gak ada dia." Tutur Bu Asih membuat Yuki menoleh kearahnya, Yuki hanya mengangguk mafhum dan terkekeh.
Satu hal yang Yuki ketahui tentang cowok itu adalah, bahwa ternyata selama lebih dari sepuluh tahun ini, sosok Papa nya tidak ada disampingnya, menemaninya saat wisuda kelulusan dan tidak bisa melihat bagaimana Deva kini mulai mengembangkan karirnya didunia perkantoran.
Entah kenapa, Yuki masih ingin lebih tahu banyak tentang cowok itu, baik dari segi keluarga maupun tentang lingkungan di sekitar Deva, bagaimana Dia bergaul dengan temannya dan bagaimana dia melewati masa-masa kelamnya tanpa sosok Ayah yang mendampinginya. Karena seorang laki-laki adalah cerminan diri dari sosok Ayahnya. Itu menurut Yuki sih, karena seperti yang Yuki lihat di keluarganya, Abangnya itu bener-bener cerminan sosok Ayahnya. Tegas, humoris dan cuek. Bahkan, kalau Ayah nya sedang ke luar kota, Abang nya itu sudah seperti pengganti sosok Ayah nya saja kalau dirumah.
Setelah bercengkrama selama hampir setengah jam dengan Bu Asih, bercerita banyak mengenai keluarga dan juga anaknya, Deva. Akhirnya Yuki pamit pulang karena sudah lumayan sore, Dia harus menyapu dan mengepel rumahnya sebelum mandi sore.
Maka setelah Yuki keluar dari rumah Bu Asih, Yuki berjalan menuju rumahnya dan membuka pintu gerbangnya yang tak dikunci.
Yuki berhenti sejenak saat menyadari ada sebuah motor matic berwarna merah yang terparkir di dekat garasinya. Kayaknya gak asing sama motornya.
Saat Yuki berjalan memasuki teras, tubuhnya langsung membeku saat melihat orang yang kini sedang mengobrol dengan Abangnya.
"Maxime..?" Panggilnya tanpa sadar,
Maxime menoleh kearahnya dan saat itu juga tatapan Mereka bertemu.
****