"Gue duluan semua," Maxime melambaikan tangannya pada teman-teman main futsalnya hari ini.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore saat Maxime memutuskan untuk pulang duluan. Maxime mengelap wajahnya dengan handuk kecil seraya berjalan ke tempat dimana motornya terparkir.
Maxime merapikan peralatan futsalnya dan memasukkannya kedalam bagasi motor. Tiba-tiba, tubuhnya tersentak saat pikirannya melayang ke satu sosok yang akhir-akhir ini membuatnya resah.
Yuki.
Lagi apa ya dia?
Maxime menutup jok motornya perlahan dan berpikir sejenak. Tidak ada salahnya Ia main kerumah Yuki sebentar, lagipula jarak dari tempatnya main futsal ke rumah Yuki juga gak jauh-jauh amat. Dan kalaupun nanti ditanya, sepik aja mau ketemu Kevin. Padahal mah, cuma pengin lihat Yuki.
Setelah lama menimbang, Akhirnya, Maxime memutuskan untuk mengikuti kata hatinya untuk mampir sebentar ke rumah Yuki. Cuma sebentar, beneran. Cuma pengin lihat Yuki doang. Maxime udah lelah denial terus sama perasaannya terhadap gadis itu. Dia mutusin buat jalanin aja apa yang dirasakannya itu dengan santai dan biasa aja, biarkan hatinya menuntunnya kali ini. Dia juga sebenarnya bukan orang yang romantis dan bisa dengan mudah mengungkapkan apa yang dirasakannya begitu saja. Maxime lebih suka menunjukkan kasih sayangnya lewat sikapnya daripada kata-kata, intinya talk less do more.
Biar semuanya mengalir dengan apa adanya. Let it flow. Ia hanya akan membiarkan Yuki mengetahui perasaannya lewat sikapnya.
Maxime menghentikan motornya didepan pagar sebuah rumah minimalis berlantai dua dengan paduan warna coklat dan putih. Sederhana. Tapi terkesan mewah.
Saat Maxime mengedarkan pandangannya, Ia melihat Kevin yang sedang mencuci motor di depan garasi rumahnya.
Dengan iseng, Maxime memencet klakson berkali-kali membuat Kevin kesal dan mendongak untuk melihat orang kurang kerjaan itu.
"Set! Elu, Max. Gua kira siapa. Kurang kerjaan banget lo." Kevin menghampiri Maxime yang masih nangkring di atas motornya.
Maxime hanya tertawa kecil menunjukkan kedua lesung pipinya.
"Masuk, masuk." Suruhnya, "Abis futsal, lo?" Tanya Kevin, sambil membuka pagar rumahnya lebih lebar agar Maxime bisa memasuki motornya ke dalam halaman rumahnya.
"Iya. Lo gue ajakin gamau," Kata Maxime sembari turun dari motornya dan mengikuti Kevin yang berjalan menuju teras depan rumahnya yang terdapat bangku dan meja kecil disana.
"Gue nugas tadi. Biar cepet-cepet lulus laaah. Hahaha..." Kata Kevin sembari mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
Maxime duduk disebelahnya sambil meluruskan kakinya ke depan. "Sepi amat rumah lo?" Tanya Maxime basa-basi, mengedarkan pandangannya, mencari Yuki sih lebih tepatnya.
"Iya, bokap kan lagi ke Medan. Nyokap di dapur. Si Yuki gatau kemana tuh anak. Kata Bunda nganterin kue ke tetangga baru disebelah, tapi lama bener kayak dari sini ke Bandung. Berjam-jam." Jawab Kevin ngasal,
Maxime tertawa, "Macet kali dia di tol," Balas Maxime lebih asal.
"Hahaha k*****t!" Kevin melempar lap ditangannya ke arah Maxime.
"Lo kapan dah lulus?" Tanya Maxime, kali ini dengan serius, kepalanya menoleh kearah Kevin yang sedang memainkan ponselnya.
"Insha Allah sih tahun ini. Ya, semoga aja skripsi gue langsung di acc gapake revisi-revisian segala." Jawab Kevin tak kalah serius, masih sibuk dengan ponselnya.
"Yhaa. Gimana mau langsung di acc, bab satu aja lu belom kelar, kan? Jangan bab satu dah, kata pengantar aja lu masih revisi." Ledek Maxime dengan tawa setannya.
"k*****t lo! Pulang sono lu! Enak aja lo kalo ngomong," Umpat Kevin kesal, "Tapi, emang iya sih, kemarin gue bimbingan bab dua eh disuruh revisi lagi. k*****t lah! Pusing urang teh." Lanjut Kevin dengan wajah datarnya, langsung keluar deh logat sundanya.
Maxime tertawa sambil melihat wajah Kevin yang frustasi, "Anjiiir! Gila lo emang. Mangkanya kalo punya otak pas-pasan jangan sok-sokan kuliah." Ledek Maxime membuat Kevin menjitak kepalanya dengan kesal.
"Anjing! k*****t! Kalo bukan anaknya Bu Naya dah gua pites lu." Umpat Kevin kesal, membuat Maxime tertawa ditempatnya.
Kevin ini alumni sekolahnya Maxime dan Yuki. Dan Bu Naya, adalah salah satu guru yang akrab sama Kevin, udah Kevin anggap kayak Ibu nya sendiri. Soalnya Bu Naya itu baaaiiiik banget, terus ramah lagi. Lhaaaa tapi kenapa anaknya jadi begajulan gini, sih? Maxime emang pinter, cuman emang otaknya rada-rada somplak dikit, jadi yaaa gitu deh. Dan kalo orang yang udah kenal lama sama Maxime, udah maklum banget lah sama sifatnya yang satu itu. Udah biasa. Termasuk Kevin, mangkanya Kevin suka aja bercanda-canda sama Maxime, main ledek-ledekan, manggil lo-gue tanpa ada yang tersinggung satu sama lain meskipun jarak usia Mereka terpaut empat tahun.
"Maxime...?"
Maxime menoleh ke seseorang yang barusan memanggilnya saat sedang seru-serunya meledek Kevin. Dan tubuhnya jadi kaku seketika saat Yuki yang berdiri tidak jauh darinya, sedang menatapnya dengan kening berkerut.
Kevin ikut menoleh kearah Yuki, "Darimana kamu, dek? Nganterin kue lama banget kayak jarak dari sini ke Bandung aja," Omel Kevin, mulai deh bawelnya.
Yuki memutar bola matanya malas, "Tadi ngobrol dulu sama Bu Asih, gaenak udah disediain minuman." Tutur Yuki sambil berjalan kearah Kevin dan berdiri disebelahnya.
"Terus, lo ngapain kesini, Max?" Tanya Yuki pada Maxime yang daritadi hanya memerhatikan Yuki dan Kevin.
Kevin melirik Maxime sejenak, "Au nih anak moa ngapain kali kesini. Nyepam aja dirumah orang," Sindir Kevin bercanda.
Maxime melempar Kevin dengan lap yang dibuat Kevin melemparnya tadi sambil mengumpat kesal.
"Anjing! Gua balik dah kalo gitu," Maxime beranjak dari kursinya pura-pura ngambek,
"Gidah sono lu! Ganggu waktu gue aja, udah tau gue sibuk." Usir Kevin dengan nada bercanda, mendorong-dorong tubuh Maxime untuk pergi.
"Tahan dong, Vin. Kayak di sinetron-sinetron gitu. Ahh lu mah gaasik." Maxime malah ngomel-ngomel gak jelas dan kembali duduk dikursinya.
"Ngapain duduk lagi? Katanya mau balik?"
"Gajadi. Belom dikasih makan sama minum soalnya," Kata Maxime asal,
"Kode banget anjir!" Kevin tertawa seraya melempar Maxime dengan lap ditangannya sambil tertawa-tawa.
Yuki yang melihat kelakuan dua cowok didepannya itu cuman bisa ketawa sambil geleng-geleng kepala heran. Maxime ini anaknya kocak abis ya, Yuki udah tau karena sering denger Dia becanda sama temen-temannya di kelas. Ditambah duel sama Abangnya yang emang rada somplak dikit otaknya, yaaah yaudah daaah.
Tiba-tiba, Kevin beranjak dari bangkunya, "Gue kedalem bentar, sekalian ngambil minum buat anak moa satu ini. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu berdua." Kata Kevin, lalu Ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Yuki dan Maxime berdua.
Yuki mengambil tempat duduk yang tadi diduduki oleh Abangnya. Lalu, terjadi keheningan beberapa saat diantara Mereka, Yuki bingung mau ngomong apa sama Maxime, sementara jantungnya gak berhenti berdetak saat Ia tahu Maxime ada dirumahnya sore-sore begini.
Sedangkan Maxime juga bingung mau ngomong apa sama Yuki disaat jantungnya masih belom berhenti berdetak seperti sekarang ini.
"Em, lo ngapain kesini, Max? Tumben banget," Tanya Yuki akhirnya, ia rela kubur dalam-dalam semua rasa gengsinya, karna sejujurnya Yuki paling gasuka suasana canggung begini. Nungguin Maxime ngomong duluan? Hyaah, jangan ngarep deh! Nunggu dia peka aja ga peka-peka. Maxime tuh kelewat cuek soalnya.
"Main aja, sih. Kebetulan abis futsal dideket-deket sini. Kenapa, ga boleh, ya, gue main kerumah lo?" Maxime memberanikan diri menatap mata Yuki, Yuki membalas tatapannya hanya beberapa detik lalu membuang mukanya.
"Bebas aja, sih. Lagian lo kesini buat ketemu Bang Kevin, kan?"
Maxime terdiam sesaat, tatapannya masih belum lepas dari Yuki yang lebih memilih melihat kearah lain.
Menghela nafas pelan, Maxime membenarkan duduknya dengan menumpu kedua siku ke lututnya. "Iya, sih," Yuki menoleh cepat kearahnya.
Jadi, Maxime kesini cuma mau ketemu sama Abangnya? Oh, Oke.
Padahal Yuki udah ngarep Maxime kerumahnya cuma buat ketemu dengannya, meskipun sedikit sih, tapi entah kenapa Yuki ngerasa kecewa aja gitu. Jadi, selama ini Maxime emang ga pernah ngeliat Yuki sebagai orang yang suka sama dia, ya?
"Oh," Yuki bergumam pelan, menundukkan wajahnya dalam.
"Ada alasan lain juga sebenernya, tapi gue yakin lo gamau tau, kan?"
Belum juga ngomong, udah dibilang gamau tau aja. Tapi yaudah lah..
Yuki mendongak menatap Maxime lalu menggeleng pelan, sekalipun banyak alasan yang membuat Maxime datang kesini, tetap aja Dia bukan termasuk daftar orang yang ingin ditemui oleh cowok itu, kan?
"Yaudah kalo gitu, gue kedalem dulu. Biar gue panggil Bang Kevin," Yuki berdiri dari duduknya, namun saat Ia mau masuk ke dalam rumah, Maxime menahan tangannya.
Yuki menoleh kearah Maxime dan melirik lengannya yang dipegang Maxime, "Kenapa?" Tanya Yuki pelan, jantungnya udah kebat-kebit daritadi, apalagi Maxime memegang tangannya begini, yah yaudah dah. Runtuh dunia pertahanannya.
Kirain getaran itu udah hilang. Ternyata masih ada.
"Temenin gue aja disini, cuma bentar doang, kok." Kata Maxime pelan, Yuki memiringkan wajahnya menatap Maxime. Cowok itu seperti mau berbicara sesuatu padanya namun ditahan.
Ini seriusan Maxime nyuruh Yuki nemenin dia disini? Cuma berdua doang?
Setelah lama berpikir, Akhirnya, Yuki menyetujui permintaan Maxime untuk menemani cowok itu sebentar.
"Lo inget sama apa yang gua omongin hari minggu kemarin?" Tanya Maxime tiba-tiba, saat keduanya sudah duduk kembali ke bangku masing-masing.
Yuki menoleh kearah Maxime dengan kening berkerut, "Omongan lo yang mana?"
"Yang kita ketemu waktu lo lagi jogging sama Kevin,"
Yuki terdiam sejenak, lalu pikirannya melayang disaat pertemuan tak terduga waktu itu.
"Jangan gengsi buat nutupinnya lagi ya, gue tau semuanya, kok."
Sontak, Yuki menoleh cepat kearah Maxime dan mendapati cowok itu yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Ahh, tatapan itu lagi!
"Max," Panggil Yuki pelan,
"Ya?"
"Lo sebenernya kenapa, sih?"
****