Confused

1752 Words
"Gue gak harus bilang ke elo kan, kalo gue kenapa-kenapa?" Maxime bertanya dengan wajah datar, matanya menatap lurus kedepan, enggan melihat Yuki. "Maksudnya?" "Lo mungkin gak akan ngerti cara gue menyampaikan rasa. Cukup nikmati dan rasakan apa yang gue lakukan ke elo." "Gue gak ngerti, Max! Maksud lo apa, sih?" "Terkadang ada hal yang memang ga bisa lo ngerti, Ki." katanya dingin. Maxime beranjak dari tempatnya, "Gue balik. Mulai sekarang, lo gausah bingung kalo kadang-kadang sikap gue kek gini lagi ke lo. Kayak yang gue bilang tadi, cukup nikmati dan rasakan. Oke?" Yuki menatap Maxime cukup lama, lalu mengangguk bodoh saat cowok itu tersenyum manis seraya mengusap rambutnya pelan. "Gue balik ya." "Iya, hati-hati." Maxime menatap Yuki lama, lalu tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia pun menaiki motornya dan membawanya keluar dari halaman rumah Yuki, meninggalkan Yuki yang hanya terdiam bodoh ditempat melihat kepergiannya. Terus, Yuki harus gimanaaa?? - Yuki bergerak gelisah diatas tempat tidurnya mengingat pembicaraannya dengan Maxime tadi sore. Daritadi, tubuhnya udah kayak pisang roll, guling sana guling sini. Gatau apa yang harus dia lakukan setelah ucapan Maxime dan perilaku cowok itu terhadapnya tadi sore. Dari dulu, mana pernah Maxime mau berbicara langsung secara empat mata padanya, apalagi sampai harus ngelus-ngelus kepalanya kayak tadi. Lhaa ini? Kan bikin Yuki bingung! Arrghhhh.... Sumpah ya! Cowok itu membingungkan. Apalagi cowok kayak Maxime. "Lo mungkin gak akan ngerti cara gue menyampaikan rasa. Cukup nikmati dan rasakan apa yang gue lakukan buat lo." "Apa itu artinya Dia udah buka hati buat gue?" Gumam Yuki bermonolog, Disaat dirinya sedang sibuk memikirkan ucapan Maxime, tiba-tiba Bunda memanggilnya dari luar dan tak lama terdengar suara pintu kamarnya dibuka. "Yuki." "Apa, Bun?" Bunda memasuki kamar Yuki dan melihat anak gadisnya sedang tidur-tiduran dikasur yang spreinya berantakan cuma bisa geleng-geleng kepala. "Kamu ngapain aja, sih? Ini sprei kenapa pada berantakan gini?" Omel Bunda berdiri disamping tempat tidur Yuki. "Iya, nanti Yuki beresin. Bunda kenapa manggil?" Tanya Yuki seraya bangun dari tidurannya dan duduk bersila diatas kasur. "Ayah minta bikinin spaghetti. Kebetulan stoknya abis didapur. Tolongin Bunda ya, kamu ke supermarket depan beli spaghettinya?" "Ayah udah pulang, emang?" "Belom. Nanti malam baru landing katanya, soalnya tadi pesawatnya delay satu jam. Mau ya, dek?" "Abang kemana?" "Lagi nugas dirumah temennya. Belom balik." "Terus Yuki ke supermarketnya naik apa? Sepeda? Kan copot rantenya, Bun, kemarin." "Yaudah jalan. Gapapa olahraga, dek, sehat. Mau ya?" "Hufhh... Yaudah deh, mana uangnya?" Yuki beranjak dari kasur dan berjalan menuju lemari untuk mengganti baju rumahnya. Bunda merogoh saku bajunya dan memberikan Yuki selembar ratus ribuan. "Beli aja lima bungkus. Sisanya terserah kamu mau beliin apa kek." Kata Bunda, "Yaaah, palingan sisanya cuman seceng." Cibir Yuki manyun, "Heh, segitu juga duit kali." "Iya, Iya, Bun. Yaudah, Yuki pergi dulu. Assalamualaikum." "Iya, Waalaikumsalam." *** Menjelang isya, suasana komplek di perumahan tempat Yuki tinggal memang selalu sepi, palingan hanya beberapa mobil dan motor yang seliweran. Yuki berjalan santai sambil mendengarkan lagu lewat headset yang nempel ditelinganya untuk mengisi sepi, sembari membuka akun Instagramnya dan melihat Timeline yang kebanyakan diisi dengan post-an teman-temannya dan beberapa artis yang Yuki follow. Tiba-tiba, Yuki teringat dengan cowok tetangga sebelah. Kak Deva. Kenapa gak coba dia cari aja akun Instagramnya? Kali aja gak di kunci terus bisa bebas deh stalk-in Dia. Lumayan laah, buat penyegaran mata. Yuki mulai mencari nama Deva di kolom search dengan nama lengkapnya. Ardeva Mahesa. Ketemu! Nama usernamenya itu @devamahesa. Saat Yuki buka profilnya ternyata gak di private. Asiiikkk bisa puas-puasin stalk-in dia deh. Yuki agak kaget saat melihat followers i********: Deva yang hampir seribu lebih bahkan hampir mencapai dua ribu. Gila! Berarti populer juga nih cowok. Saat Yuki melihat feeds i********: milik cowok itu, patut lah banyak banget followersnya. Foto-fotonya itu artsy banget dan keren-keren. Memang kebanyakan foto dirinya sendiri sih, tapi bagus aja cara pengambilannya, dan kayaknya si Deva ini sering ke luar negeri gitu ya? Atau emang orangnya sering hunting foto gitu? Entahlah, yang jelas Yuki suka banget ngeliatin foto-fotonya. Yuki menscroll profil Deva, melihat-lihat postingan cowok itu. Dan ada satu foto yang menarik perhatian Yuki. Foto Deva disebuah stasiun kereta api yang diambil dari samping, kedua tangannya bersidekap didepan wajahnya dan menggunakan kacamata hitam serta syal, dengan efek gelap menghadap kearah rel kereta api. devamahesa Dari pelbagai alasan bahagia yang bisa kujangkau, satu sudah yang benar-benar kusentuh. Captionnya itu! Ah. Entah kenapa Yuki malah terpanah dan menatap lama postingan cowok itu sambil melihat komenan-komenannya yang kebanyakan meledekinya. Sedang asyiknya membaca komenan postingan Deva. Sebuah motor berhenti tepat disampingnya, membuat Yuki berjingkrat kaget dan sontak melepaskan headsetnya. Dan betapa terkejutnya dia saat orang yang sedang Dia stalking Instagramnya malah ada dihadapannya saat ini. "Kak Deva?" Deva tersenyum manis yang membuat Yuki seketika lemas ditempatnya. "Mau kemana malam-malam gini? Sendirian lagi?" Tanya Deva  melirik sekitar Mereka yang sepi. "Eh, Anu... Mau ke supermarket depan, disuruh Bunda. Kakak mau kemana?" Tanya Yuki nervous, apalagi sekarang Deva sedang menatapnya dengan kening berkerut dari atas motor ninjanya. "Ohh, kebetulan kalo gitu. Bareng aja sama saya. Saya juga mau ke supermarket depan." Tawar Deva, Yuki setengah melotot mendengarnya. "Eh, Gausah, nanti ngerepotin lagi, Kak. Gapapa kok aku sendiri," Tolak halus Yuki padahal dalam hati mah mau banget, cuman yaa gengsi laah, maluu coy! "Ga ngerepotin sama sekali malah. Tujuan kita kan sama. Sekalian aja biar bareng." Katanya lagi, membuat Yuki jadi susah buat menolaknya, Kalo tujuan hidup kita sama gak, Kak? Hehehe... Yuki terdiam sesaat, pura-pura berpikir padahal mah dalam hatinya mau banget. "Eng... Yaudah deh kak." Katanya pelan. Lalu Deva menyalakan kembali motornya dan menyuruh Yuki untuk naik di jok belakangnya. Yuki agak kesusahan karna jok belakangnya yang tinggi membuat Deva berinisiatif memegang tangannya untuk tumpuan Yuki supaya bisa naik. "Udah?" Tanya Deva memastikan Yuki sudah aman duduknya. "Udah." Deva pun mulai menjalankan motornya, sementara Yuki memegang ujung kaos yang dikenakan Deva saat itu supaya tidak terjungkal ke belakang. Hadeeeeeeh.... Ini jantung Yuki rasanya udah kayak ada pesta kembang api ditambah bunyi drum band yang menggelegar-legar. Berisik banget! Pliiisss jantuung. Bisa biasa aja gak? Yuki menatap punggung Deva didepannya, saat ini Deva memakai kaos santai berwarna coklat polos dengan celana army selutut. Kaosnya itu agak ngetat dan membuat badannya terbentuk dengan jelas terutama dibagian otot lengannya. Hadheehhhh Yuki udah lemass banget lemaasss ini ngeliatnya. Gak jauh beda sama saat cowok itu pake kemeja modelan slim fit. Sama-sama bikin sesak nafas! Dan punggungnya itu loohhhhh pelukable banget! Sumpah! Ingin rasanya Yuki bersandaaarrrrr. *** Sesampainya Mereka di supermarket, Yuki menunggu Deva yang sedang memarkir motornya, dan setelah selesai, Mereka pun berjalan bersama memasuki supermarket tersebut. "Kamu beli apa, Ki?" Tanya Deva saat keduanya sudah berada di dalam. "Mau beli spaghetti, sih, Kak." Jawab Yuki, "Ohh, kayaknya kalau makanan instant ada disebelah sana deh." Deva menunjuk kearah balik punggung Yuki, Yuki membalikkan badannya dan mengangguk. "Terus, Kakak mau beli apa?" Tanya Yuki balik, "Ohh, saya mau cari buah-buahan disana," Deva menunjuk kearah belakangnya berlawanan dengan Yuki. "Ohh yaudah kalo gitu. Berarti kita beda tujuan ya? Hahaha..." "Haha, Iya nih... Yaudah, nanti kalo kamu udah selesai, samperin Kakak aja, ya?" "Sip!" Yuki mengacungkan jempolnya mantap. Deva membalasnya dengan senyum lebarnya. Lalu Mereka pun mulai berpisah untuk mencari apa yang Mereka ingin beli. - "Kak Deva kok mau, sih, beli belanjaan-belanjaan gini?" Yuki melirik kantong plastik Deva yang keliatannya lebih banyak darinya. Ternyata bukan hanya buah-buahan yang di beli Deva, tapi berbagai sayur-sayuran dan bahan masakan lainnya. Yuki juga sempat kaget saat melihatnya, kok ya ada cowok mau grocery shopping gini? Gak malu apa beli bahan-bahan masakan yang notabennya dilakukan oleh kaum wanita. "Ya, memangnya kenapa?" Deva melirik Yuki disebelahnya dengan kening berkerut. "Yaa, gapapa sih, maksudnya tuh mana ada gitu cowok yang mau belanja beginian. Pasti gengsi, lah." Kata Yuki "Hehehe... Iya sih, tapi ya mau gimana? Saya ga mungkin nyuruh Mama saya untuk ke supermarket dan bawa belanjaan yang segini banyaknya. Kalau saya masih bisa lakukan sendiri, kenapa nggak?" Yuki tertegun mendengarnya. Deva ini anaknya pengertian dan penyayang banget ternyata, apalagi sama Mama nya, mungkin karena dia anak satu-satunya dan hanya tinggal berdua dengan Mama nya membuatnya jadi berpikiran dewasa, bukan justru merepotkan Mama nya dan menjadi anak yang manja. "Iya, sih." Sesampainya Mereka di parkiran motor, Deva mengikat belanjaannya di stir motor dan mulai menaiki motornya. "Yuk, naik." Deva menyuruh Yuki untuk naik ke jok belakangnya. Deva pun mengulurkan tangannya agar Yuki bisa dengan mudah naik ke joknya yang tinggi. "Udah?" "Udah." Deva pun langsung melajukan motornya kembali ke rumah. *** Yuki turun dari motor Deva dengan bantuan Deva yang memegang tangannya. Oke, empat kali megang tangan dalam sehari! Yuki menertawakan dirinya sendiri yang keliatannya ribet banget sampe merepotkan Deva juga, lalu berdiri dihadapan Deva yang masih nangkring diatas motornya. "Sekali lagi Makasih ya Kak buat tumpangan gratisnya. Maap aku ribet banget kayaknya, hehehe..." Ucap Yuki tulus, terkekeh saat mengingat dirinya yang terus merepotkan Deva. "Iyaa, sama-sama. Gapapa, kok. Yaudah, kamu masuk gih sana." Suruh Deva, Yuki pun mengangguk dan berbalik membuka pintu gerbangnya dan memasuki rumahnya. Sementara Deva, hanya menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Yuki yang sudah hilang dari pandangannya. "Bener-bener mirip," Gumamnya, lalu kembali menyalakan motornya dan berbalik menuju rumahnya. *** Yuki merebahkan dirinya di kasur seraya menutup mukanya dengan bantal, meredamkan suara teriakannya dengan hati membuncah. Betapa senangnya dia hari ini bisa mengobrol berdua dengan Deva, bahkan di bonceng dengan motor cowok itu lagi! Entah kebaikan apa yang Yuki lakukan hari ini sampai mendapatkan anugerah yang begitu indahnya. Masih dalam suasana hati yang bahagia, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Ada sebuah Line masuk, saat Yuki membukanya, keningnya berkerut bingung. Maxime Addausy added you as a friend by phone number "Maxime? Nge-add gue lewat nomor handphone? Berarti dia punya nomor gue, dong?" Yuki bermonolog sendiri, dan tak lama notifikasi lainnya muncul. Dari Maxime. Cowok itu mengirimkan chat padanya. Maxime Addausy : jgn lupa di add line gue Yuki mengerutkan keningnya bingung, tapi tetap menuruti perintah cowok itu. Ia pun meng-add back Line Maxime, menambahkan cowok itu kedalam daftar pertemanannya. Yuki Maysa : Udh Maxime Addausy : blm tdr? Yuki Maysa : blm Maxime Addausy : tdr sana Yuki Maysa : Iya ntar Maxime Addausy : knpa ntar? Yuki Maysa : blm ngantuk Read Maxime tidak membalasnya. Yuki terdiam sejenak. Ini beneran Maxime mengiriminya sebuah permintaan pertemanan di Line? Lewat nomor telepon? Berarti Maxime punya nomor Yuki, dong? Kok bisa? Terus, cowok itu juga tidak segan untuk mengimkan chat padanya. Mau memulainya duluan? Yaa, meskipun kesannya datar banget sih isi chatannya. Fix! Yuki makin dibuat bingung sama cowok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD