Kesal Tingkat Dewa

1629 Words
Pulang sekolah, Yuki sengaja memperlambat gerakan menaruh barang-barangnya ke dalam tas sambil sesekali melirik Maxime yang sudah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar kelas sambil memainkan ponselnya. Tak lama, terdengar suara notifikasi dari ponsel Yuki yang diletakannya di atas meja. Yuki segera meraihnya dan ternyata ada sebuah chat Line dari Maxime. Maxime Addausy : gw tnggu di prkiran mtor. Lgsg ksini aja Yuki Maysa : Ok Yuki beranjak dari bangkunya seraya menyampirkan ransel ke pundaknya dan melirik Manda yang juga sudah siap. "Lo pulang sama siapa, Man?" Tanya Yuki basa-basi, "Dijemput Kakak gue. Lo gapapa, kan sendirian?" Mereka berjalan beriringan keluar kelas. Yuki menyengir lebar dan mengangguk, "Udah biasaa, hehehe..." Padahal mah mau pulang berdua sama doi. "Oke deh." Tiba-tiba Yuki berhenti berjalan, "Eh, lo duluan aja deh, Man. Gue musti ke... Toilet dulu nih, kebelet gue, hehe.." ujar Yuki beralasan, "Mau gue temenin?" Tawar Manda, "Gausah. Lo duluan aja. Kakak lo pasti udah nungguin, kan?" "Iya, sih. Tapi, beneran gapapa?" Manda menatap Yuki tidak yakin, dan Yuki mengangguk pasti. "Gapapa udah." "Yaudah kalo gitu. Gue balik duluan yaa, lo tiati." Pamit Manda seraya berjalan menuju tempat Kakak nya menunggu, "Yooo... Tiati juga lo," Seru Yuki saat Manda sudah berjalan duluan didepannya. Setelah memastikan Manda sudah jauh, Yuki membelokkan langkahnya menuju parkiran motor sesuai perintah Maxime. Kalo Manda tau, bisa malu banget pasti Yuki, apalagi dia udah sesumbar mau move on dari Maxime, tapi malah kelihatan pulang bareng Maxime. Yang ada ntar dia di ceng-in mulu dah. Manda kan mulutnya sebelas-duabelas kayak Icha! Saat Yuki sudah sampai di parkiran motor, dia tidak melihat Maxime disana sama sekali. Suasana di parkiran sudah mulai agak sepi dan hanya ada beberapa motor yang tertinggal milik siswa-siswi yang masih mengikuti kegiatan di sekolah hingga sore nanti. Terdengar bunyi notifikasi Line dari ponsel Yuki. Yuki merogoh ponselnya dan melihat layar ponselnya. Dari Maxime. Maxime Addausy : lg dmna? Yuki Maysa : udh dprkiran Maxime Addausy : gw kruang gru bntar dpnggil nyokap, tnggu situ aja Yuki Maysa : Ok Yuki menaruh ponselnya ke dalam saku sambil berjalan menuju bangku yang ada disana untuk menunggu Maxime. Namun, setelah sepuluh menit berlalu cowok itu belum juga menampakkan batang hidungnya sama sekali. Yuki jadi bete sendiri. Ini sebenernya Maxime jadi mau pulang bareng gak sih? Gerutu Yuki dalam hati. Yuki mengecek ponselnya dan tidak ada satupun notif dari Maxime yang memberitahukan dimana cowok itu berada. Saat sedang fokus dengan ponselnya, Maxime datang bersamaan dengan seorang cewek yang ada dirangkulannya, Dia Alea, wajahnya pucat banget, kayaknya dia lagi sakit. Maxime pun menghampiri Yuki. "Ki," Yuki mendongak saat seseorang memanggilnya, tubuhnya kaku seketika saat melihat dua orang yang tengah berdiri didepannya. Sontak, Ia berdiri dan berjalan menghampiri keduanya. "Ki, sorry banget... Kayanya gue gabisa pulang bareng lo. Alea lagi sakit dan gue harus nganterin dia kerumahnya." Kata Maxime dengan raut wajah 'mohon-maaf' nya, Yuki melirik Alea yang sudah lemas tak berdaya di rangkulan Maxime, lalu melirik Maxime yang kini sedang menatapnya dengan penuh rasa bersalah. "Oh, yaudah gapapa... Mungkin lain kali ya. Lo anterin aja Alea kerumahnya, kasian itu dia udah pucet banget." Kata Yuki pura-pura memasang senyum 'tidak apa-apa' nya. Padahal dalam hati mah, udah kesal setengah mati sama Maxime. Tau gitu dia gamau nerima ajakan Maxime buat pulang bareng! Kalo dia naik angkot daritadi tanpa menunggu Maxime mungkin dia udah leha-leha di kamarnya saat ini. Emang bukan kehendaknya juga sih kalau Alea bisa sakit, tapi kenapa musti Maxime yang nganter coba? Emang si Putri satu itu gada yang jemput? Atau dianterin siapa gitu? Kenapa harus sama Maxime? Satu lagi. Dan kenapa Maxime harus mau? "Sorry banget, Ki. Demi apapun, Gue udah niatan buat nganterin lo balik, tapi malah gini. Gue jadi gaenak sama lo," Ucap Maxime menatap Yuki melas. Yuki memaksa senyum lebarnya, "Iya. Gapapa selow aja. Gue bisa naik angkot atau ojek online kok." "Atau gini aja, lo tunggu sini, sementara gue nganterin Lea. Nanti gue kesini lagi buat nganter lo balik. Gimana?" Kata Maxime memberi ide, Nunggu lagi? Ogah deh! Udah pernah. "Gausah. Ntar lo muter-muter, udah gapapa gue pulang sendiri. Udah biasa ini kok," Tolak Yuki, bawaannya udah males aja ngeliat Maxime. "Kalo gitu gue balik duluan deh. Bye. Tiati lo." Lanjut Yuki dengan datar, lalu Ia pun membalikkan tubuhnya dan langsung berjalan cepat menuju halte depan tempat biasa Ia menunggu angkot. Maxime menatap nanar kepergian Yuki dan melirik Alea yang sudah lemas di rangkulannya. "Kalo bukan lo sepupu gue, udah gue tinggal lo, Le." Gumam Maxime sambil berjalan menuju motornya yang terparkir sendiri dibawah pohon Mangga. "Gue denger loh, Max." Gumam Lea melirik Maxime tajam, "Lagian basi banget acara pedekatean lo. Masih jaman jadi kang ojek?" Lanjut Lea menyindir Maxime dengan suara lemahnya, "s****n! Beneran gue tinggalin sih, Le." Ancam Maxime seraya menaiki motor matic-nya, diikuti Lea di belakangnya. "Gue bilangin tante Naya, sih." Tadi, saat Maxime dipanggil ke ruang guru sama Mama-nya, kirain Dia mah ada masalah apa gitu atau urusan apa, gataunya disuruh nganterin Lea yang sedang sakit yang notabennya adalah sepupunya. Sepupunya? Iya! Maxime sama Alea itu sepupuan. Mama-nya Maxime adalah adik dari Papa-nya Lea, tidak banyak yang tau emang, karena Mereka juga tidak mau terlalu di publish. Dikarenakan supir yang biasa jemput Lea sedang sakit, jadinya tidak ada yang menjemputnya, Kakak laki-lakinya sedang ke luar kota, Papa-nya ke luar negeri karena urusan kantor, dan Mama-nya sedang di Jogja mengunjungi Kakek-Nenek nya. Alhasil Maxime lah jadi sasarannya. *** Yuki membanting tubuhnya diatas kasur masih dengan seragam sekolahnya. Matanya terpejam sesaat, udara sejuk dari Air Conditioner seketika meresap ke kulitnya yang membuatnya bernafas lega. "Akhirnya ketemu AC jugaa.... Anjir panas amat yak," Gumam Yuki seraya memejamkan matanya. Terdengar suara notifikasi Line dari ponsel Yuki yang ada di genggamannya, sontak Yuki membuka matanya dan melihat layar ponselnya. Chat dari Maxime ternyata. Heleh! Maxime Addausy : udh nympe? Yuki terdiam sejenak, enggan membalas chat-an dari cowok itu setelah memberinya harapan palsu! Yuki Maysa : udh Singkat. Padat. Jelas. Udah lah itu aja! Setelah itu Ia beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti baju rumah. *** Maxime menatap layar ponselnya lekat-lekat saat chat darinya belum juga mendapat balasan dari Yuki. Maxime Addausy : skali lg gw mnta maaf ya, gbsa ngnterin lo balik td Maxime Addausy : bsk gw jmput lo deh, Read. Status pesannya itu sudah dibaca oleh Yuki, tapi belom dibales juga sama cewek itu. Maxime hendak menelepon gadis itu saat Yuki akhirnya membalas pesannya. Yuki Maysa : iya gpp, gausah bsk gw dianterin bang kev Maxime Addausy : thnks. Gpp bsk gw jmput aja ya? Yuki Maysa : ydhlh serah lo Yuki menghembuskan nafasnya keras-keras setelah membalas chat dari Maxime. Direbahkan tubuhnya diatas kasur berniat untuk tidur siang dan mengabaikan pesan dari Maxime. *** Pagi harinya, Yuki sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas ransel yang tersampir dipundaknya. Dia sedang memakai sepatu didepan pintu rumahnya setelah membaca chat Maxime barusan. Maxime Addausy : otw Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu gerbangnya dan tak lama suara orang itu pun terdengar memberi salam. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam," Yuki mengikat tali sepatunya dengan kencang, setelah itu Ia berdiri dan berjalan menuju pintu gerbang seraya membukanya. Alangkah terkejutnya Dia saat melihat orang didepannya kini. Deva, Dengan pakaian rapi seperti pagi biasanya Ia berangkat kerja, tapi sepertinya ada yang berbeda, kemejanya itu bukan modelan slim-fit seperti biasanya, ukurannya agak longgar-an dan lagi, rambutnya itu disisir kebelakang masih dengan kacamata minus-nya dan badannya tuh wangi banget, wanginya sampe yang semerbak tapi ga bikin mual! Deeeeeh, yang begini nih yang menggoda iman. Minta banget dihalal-in. "Eehh, Yuki. Mau berangkat sekolah, ya?" Sapa orang itu ramah, Yuki tersenyum lebar dan mengangguk, "Iya. Hehehe... Ada apa ya, Kak Deva?" Tanya Yuki sopan, "Oh ini, saya mau balikin obeng yang kemarin saya pinjem buat benerin kran air dirumah. Trimakasih ya," Kata Deva seraya menyodorkan obeng ditangannya, "Oh iya, Kak, sama-sama. Sama siapa kemarin minjemnya?" Tanya Yuki seraya mendongak menatap Deva yang keliatannya seger banget pagi ini, rambutnya itu masih agak basah. Brrrr... "Sama Kevin kemarin. Dia kakak kamu, kan?" "Ohhh bang Kev. Iyaa dia kakak-ku," "Udah kerja?" "Belom. Masih kuliah semester akhir. Sekarang lagi ribet-ribetnya tuh dia nyusun skripsi." "Ohh, masih kuliah. Kamu kelas berapa sekarang? Tiga bukan, sih?" "Iya, aku kelas tiga," "Nah, kamu mau kuliah dimana nanti?" "Gatau nih, Kak, masih mikir-mikir. Hehehe..." Yuki nyengir lebar membuat Deva tersenyum kecil melihatnya. Dan terjadilah obrolan panjang antara Deva dan Yuki tanpa menyadari ada sebuah motor matic merah yang sudah berhenti didekat keduanya. Maxime membuka helmnya dan keningnya langsung berkerut dalam saat melihat Yuki yang sedang mengobrol asik dengan orang didepannya. "Saya kuliah jurusan IT di Binus dulu. Belom lama ini kerja di Bank bagian IT jadi Sistem Analis disana. Kerjaannya yaa gitu deh, kamu kalau saya jelasin ntar ngantuk," Jelas Deva panjang lebar, Yuki tertawa. Maxime yang melihatnya jadi kesal dan refleks memencet klakson membuat kedua orang itu menoleh bersamaan. "Temen kamu, Ki?" Tanya Deva seraya melirik Yuki, "Iya, temenku." Yuki mengangguk, Iya temen! "Udah mau berangkat, ya? Yaudah gih, kamu berangkat, ntar telat lagi." Deva menoleh kearah Yuki seraya menunjukkan senyuman manisnya, Yuki mengangguk, "Iya, yaudah aku berangkat ya, kak. Permisi. Assalamualaikum," Pamit Yuki pada Deva setelah meletakkan obeng di tempatnya. "Iya, Waalaikumsalam, hati-hati." Yuki mengangguk dan berjalan menghampiri Maxime yang masih nangkring di atas motornya. "Kirain gajadi bareng lagi," Kata Yuki setengah menyindir, "Itu siapa?" Tanya Maxime menatap Deva yang berjalan memasuki rumahnya, mengabaikan nada sindiran Yuki. Yuki membalikkan badannya melihat Deva yang sudah memasuki rumahnya. "Oh, itu Kak Deva, tetangga baru gue. Kenapa emang?" Tanya Yuki seraya menerima helm yang diberikan Maxime. Maxime menoleh kearah Yuki dan menatapnya lekat, "Lo deket sama dia?" "Deket lah. Orang kita tetanggaan." Kata Yuki santai, Maxime terdiam sejenak, lalu kembali membalikkan badannya dan berkata dingin, "Yaudah Naik." Perintahnya, sontak Yuki pun langsung menurutinya. *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD