Pertemuan Dengan (Dia)

1068 Words
Yuki turun dari motor Maxime seraya memberikan helm kepada cowok itu, lalu Ia pun membalikkan badannya berniat jalan duluan ke kelas. Namun belum sempat Ia melangkah, Maxime malah menarik lengannya membuat Yuki membalikkan badannya dengan cepat. Maxime mengalihkan pandangannya ke sekitar lalu beralih menatap Yuki, dicondongkan tubuhnya ke depan Yuki seperti mau menciumnya membuat gadis itu refleks mundur. "Mau ngapain?" Tanya Yuki gugup, menatap awas tubuh Maxime. "Lo gak lupa sama yang gue bilang waktu itu, kan?" Tanya Maxime dengan wajah serius, mengabaikan raut wajah Yuki yang kentara sekali sedang gugupnya. "Ten... tang apa?" Yuki melirik sekitar, beberapa siswa-siswi lainnya tengah memerhatikan Mereka. "Tentang gue, yang dirumah lo. Gue yakin lo gak lupa, kan?" Maxime menatap dalam mata Yuki, membaca pikiran cewek itu lewat matanya. Yuki terdiam sejenak, lalu teringat saat Maxime yang datang kerumahnya waktu itu. "Lo mungkin gak akan ngerti cara gue menyampaikan rasa. Cukup nikmati dan rasakan apa yang gue lakukan ke elo." Yuki menatap Maxime, lalu mendorong tubuh Maxime pelan dan berdiri tegak. Maxime masih menatap mata Yuki lekat-lekat, "Gue yakin lo masih inget." Katanya, "Dan gue gak main-main sama ucapan gue waktu itu. Lo sadari atau nggak, gue berusaha buat berlaku sesuai dengan apa kata hati gue." Lanjutnya, lalu Ia pun turun dari motornya dan berdiri dihadapan Yuki saat ini. "Jujur gue bukan cowok romantis, gue gabisa memperlakukan orang yang gue suka dengan baik. Gue cuman bisa mengikuti apa kata hati gue. Gue ga minta lo buat nerima, gue cuma minta lo buat merasakan." Ujar Maxime panjang lebar, matanya masih menatap dalam mata Yuki tanpa berniat melepas pandangannya. "Meskipun gue tahu, kalau yang ada dihati lo bukan cuma ada gue. Gue tetap berusaha buat nunjukin perasaan gue sama lo," Lanjutnya, Maxime mengusap kening Yuki dengan ibu jarinya pelan-pelan. Susahnya buat bilang 'I Love You' aja. Karena harus menyingkirkan ego dan harga diri. Betapa dua hal itu, susah untuk dilakukan Jika sudah berurusan dengan hati. ** Deva berjalan memasuki kantornya setelah membeli sarapan pagi didepan gedung kantornya saat matanya tak sengaja melihat seseorang yang sudah tak asing lagi sedang mengobrol dengan Zidan di lobi. Langkah Deva melambat, seraya memerhatikan tampilan orang itu yang kini sudah banyak berubah. "Deva lagi beli makan di depan, Nay. Perlu banget emang?" Tanya Zidan dengan kening berkerut, pasalnya Ia tidak menyangka kalau Ainayya, mantan dari Sahabatnya, Deva, akan mendatangi kantor Mereka pagi-pagi sekali. "Eng... Gak terlalu, sih. Kira-kira Deva lama gak, ya?" Naya, sapaan akrabnya, menatap Zidan penuh permohonan, entah apa yang membuat gadis itu rela-rela ke kantor orang yang notabennya mantan pacarnya itu yang jaraknya jauh sekali dari kantor tempat gadis itu bekerja. "Ada apa?" Deva datang dan berdiri disebelah gadis itu dengan wajah datar, matanya tidak menatap Naya, justru melihat Zidan dengan tatapan bertanya yang dibalasnya dengan tatapan 'Gue-gatau' nya. "Aku boleh ngomong bentar gak sama kamu?" Tanya Naya menatap Deva lekat-lekat, "Ngomong aja," Deva membalas tatapan gadis itu dengan santai, "Tapi kalo buat sekarang kayaknya aku gabisa. Maaf. Mending kamu balik ke kantormu, deh, nanti telat loh. Udah jam setengah delapan, kamu masuk jam delapan, kan?" "Iya, sih. Tapi ini urgent banget, Dev. Kita perlu bicara," Kata Naya lagi setengah memohon, Deva menatap gadis yang dulu pernah dicintainya ini dengan lekat. "Kalo kamu mau bahas tentang kita. Maaf, aku gabisa." Ucap Deva seraya berbalik menuju lift yang akan membawanya ke bagian Divisi IT di lantai 9. ** "Udah punya cewek, ya, dia?" Tanya Manda sambil matanya menatap layar ponsel yang sedang dipegang Icha. Yuki terdiam ditempatnya, mengabaikan kedua sahabatnya yang masih kepo ngestalk-in i********:-nya Deva. Bel sudah berbunyi dari 15 menit yang lalu, tapi guru di jam pertama belum masuk kelas, alhasil Icha jadi ngayap ke kelas Yuki deh buat ngekepo-in si 'Kakak Gemes' nya Yuki. Sementara Mereka berdua sedang asik membuka-buka ponselnya, Yuki malah sibuk memikirkan ucapan Maxime tadi saat di parkiran. "Meskipun gue tahu, kalau yang ada dihati lo bukan cuma ada gue. Gue tetap berusaha buat nunjukin perasaan gue sama lo," Ingatan Yuki kembali pada sosok Deva yang akhir-akhir ini slalu memenuhi pikirannya meskipun hanya sekelibat, dan sisanya selalu diisi dengan Maxime. Iya! Yuki sadar bahwa perasaannya terhadap cowok itu belum akan hilang kalau Maxime mondar-mandir dihadapannya terus. She was keep telling herself to forget about him, but she can't do it. Because, She was fall in love so deeply with him. Karena jangan terlalu berusaha keras untuk lupa. Justru hal itu, makin membuatmu terus mengingatnya. "Tuh, kan! Ini foto ceweknya pasti." Seru Manda membuat Yuki terkesiap, lalu menoleh kearah gadis itu yang sedang serius menatap layar ponselnya. "Dibilangin! Cowok cakep tuh kalo gak udah taken pasti homo. Udah deeeh, terima nasib dapet yang biasa-biasa aja tapi setia. Tul, gak? Hahaha..." Kata Icha dengan wajah songongnya, "Cewek siapa, sih?" Tanya Yuki penasaran, dicondongkan tubuhnya kedepan untuk ikut melihat layar ponselnya. ❤ 1000 likes devamahesa I never regret to knowing you, I just regretted why we have to met? View all 25 comments Auniaf putus ya? Syg bgt pdhal cocok bgt "Udah putus guys. Udah lama banget berarti ini. Hampir satu tahun yang lalu cuy." Kata Manda menatap dua sahabatnya, Icha mengangguk setuju. Yuki terdiam menatap layar ponsel dihadapannya, ternyata Deva pernah pacaran dan pacar alias mantannya itu keliatannya cantik banget meskipun Cuma keliatan dari belakang, ya Yuki mah apa kalo dibandingin sama itu cewek, cuma bulir-bulir pulpy. Yaa wajar aja lah ceweknya cakep, wong Deva nya juga cakep. Yaaah, yaudah dah. Bener juga kata Manda, cowok ganteng kalo gak punya pacar ya pasti homo. Tapi putus? Yaah, sayang banget ya, padahal keliatannya Mereka cocok banget gitu. Tapi foto yang sama cewek itu belum pernah Yuki lihat sama sekali, karena emang Yuki belum nge-stalk i********: cowok itu sampe habis, foto-foto sebelum-belumnya juga gak ada foto cewek itu. Dan hanya satu foto itu yang tersisa, mungkin yang lainnya udah dihapus karna Mereka juga udah putus, kan? Icha melihat komenan foto tersebut dari atas, ada banyak teman-teman Mereka berdua yang menyayangkan kandasnya hubungan Mereka, tanpa diketahui sebabnya apa. Padahal kayaknya keduanya termasuk kedalam pasangan yang populer dari kalangan teman-teman Mereka. Sedang asiknya baca-bacain komenan di i********:-nya Deva  bersama Icha dan Manda, pandangan Yuki bertemu dengan Maxime yang sedang berjalan memasuki kelas dengan wajah lempeng-lempeng aja. Cowok itu sempat melirik Yuki, namun langsung mengalihkan pandangannya lagi saat Yuki menyadari keberadaannya. Haruskah Yuki menerima semuanya? Bukannya ini yang Ia mau? Maxime membalas perasaannya juga? Tapi kenapa Yuki jadi ragu? *****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD