Mengikisnya Sebagian Ragu

939 Words
**** TEEETT "Ki, ayo ganti baju. Jam olahraga udah mulai nih," Manda berdiri dari duduknya sambil membawa baju olahraga miliknya, "Iya, bentar. Gue nyari baju olahraga gue dulu," Yuki mengubek-ubek tasnya mencari baju olahraga miliknya, tapi setelah hampir lima menit mencari, baju olahraganya itu gak ada. Kemana ya? "Ada gak?" "Gak ada, Man. Kemana ya?" "Coba lo inget-inget lagi. Tadi lo masukin ke tas gak?" Yuki mencoba mengingat-ingat, perasaan tadi dia udah masukin ke dalam tasnya sebelum berangkat sekolah deh, tapi kenapa gak ada ya? "Kayaknya sih udah, Man. Gue lupa." "Coba di kolong meja, atau bawah bangku." Yuki melongok ke kolong mejanya, kosong, ke bawah bangku nya juga gak ada. Hufhh.... Yuki udah nyerah lah, kayaknya tadi dia lupa masukin ke dalam tasnya, alamat dihukum ini mah sama Pak Herman. "Kayaknya beneran gak bawa deh gue. Mampus aja lah kena hukum sama Pak Herman." Gumam Yuki pasrah, Manda mengelus bahu Yuki. "Yaudah, sabar aja ya. Kalo gitu gue ke ruang ganti dulu." Yuki mengangguk lemah. Lalu berjalan gontai ke luar kelas dengan wajah menunduk. Yuki berhenti saat sepasang sepatu berdiri didepannya, Yuki mendongak, dilihatnya Maxime sudah berdiri dihadapannya dengan baju olahraga yang ada di kedua tangannya. "Nih, pake punya gue," Maxime menyodorkan baju olahraganya pada Yuki. Yuki mengerutkan keningnya bingung, "Hah? Terus nanti lo gimana?" Tanya Yuki menatap mata Maxime. "Udah pake aja. Gampang gue mah, bisa minjem ke kelas sebelah." Maxime meraih kedua tangan Yuki dan meletakkan baju olahraganya di telapak tangan gadis itu. Yuki masih terdiam ditempatnya, "Udah cepetan ganti baju." Perintah Maxime, lalu cowok itu pun berlalu dari hadapan gadis itu. Yuki menatap punggung Maxime yang berlari tergesa-gesa ke kelas sebelah untuk meminjam baju olahraga, untung kelasnya dengan kelas sebelah jam olahraganya di hari yang sama, cuma beda di jamnya aja. Yuki meremas baju Maxime di tangannya, tanpa disadarinya bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman kecil, meskipun benaknya dilanda kecemasan kalau-kalau Maxime tidak mendapatkan baju olahraga pinjaman. --- Yuki tiba dilapangan dengan nafas tersenggal karena berlari, Manda yang melihatnya sontak menghampiri. "Ini ada bajunya, Ki. Lo nyarinya gak fokus kali tadi?" Tanya Manda melirik baju olahraga Yuki yang agak kebesaran. "Kok kayaknya gombrong banget sih. Ini antara lo nya yang kekecilan apa bajunya yang kegedean?" Kata Manda lagi, Yuki hanya tersenyum kecil masih mengatur nafasnya yang tersenggal. Matanya berkeliling mencari sosok Maxime, dan setelah menemukan cowok itu, Yuki bernafas lega. Maxime berhasil dapet pinjaman baju olahraga juga akhirnya dan sekarang cowok itu sedang sibuk meregangkan otot bersama Saga dan Abra, temannya, sambil mengobrol. Maxime melirik Yuki yang sedang menatapnya tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu tersenyum seraya menunjuk baju olahraga yang dipakainya dan berbicara tanpa suara. "Dapet." Yuki tersenyum lebar dan menegakkan tubuhnya saat pluit Pak Herman sudah berbunyi nyaring pertanda pelajaran akan dimulai. .... Pelajaran Olahraga berakhir, siswa-siswi mendapat waktu untuk beristirahat selama lima belas menit untuk berganti baju dan membeli minuman sebelum masuk pada jam pelajaran berikutnya. Maxime dan anak cowok lainnya memilih bermain bola untuk menghabiskan waktu. Sementara Yuki, Manda dan Anggi, teman sekelasnya, memilih duduk-duduk santai di bangku panjang pinggir lapangan sambil memerhatikan anak cowok bermain bola. "Ini ketemu dimana baju lo, Ki?" Tanya Manda sambil menyeruput Es Teh-nya dan melirik baju Yuki yang keliatan aneh sekali di badannya. Sumpah! Yuki jadi keliatan kayak orang-orangan sawah. Yuki berpikir sejenak, gak mungkinkan Dia bilang pada Manda kalo Maxime yang memberikan bajunya pada Yuki, apa kata Manda nanti? "Eng... Di tas." Jawab Yuki setengah tidak yakin, diiringi cengiran lebarnya. Manda mengerutkan keningnya bingung, "Lo bilang di tas gak ada tadi," Kata Manda sedikit curiga, "Gue gak fokus tadi nyarinya. Hehehehe..." Ngeles Yuki masih dengan cengiran lebarnya, Yuki mengalihkan pandangannya ke arah lapangan, dan melihat Maxime yang sedang mengusap keningnya dengan lengan sambil tertawa bersama temanya, cowok itu keliatan capek banget. Yuki beranjak dari duduknya, Manda yang melihatnya pun sontak bertanya, "Mau kemana lo?" "Beli minum," Jawabnya singkat dan langsung berlalu menuju kantin. Manda mengerutkan keningnya bingung seraya melirik Anggi disebelahnya, lalu matanya melirik botol minum Yuki yang isinya masih penuh di sebelahnya. .... Yuki berdiri bersandar di dinding samping pintu ruang ganti cowok dengan sebotol minuman di tangannya, menunggu Maxime keluar dari dalam yang sedang berganti baju. Pintu terbuka, sontak Yuki terlonjak kaget dan mendadak jadi gugup saat Maxime keluar ruang ganti sambil membawa handuk kecil ditangannya. Maxime mendongak dan terkejut saat melihat Yuki yang berdiri dihadapannya saat ini. "Yuki. Kenapa?" Tanya Maxime seraya melirik pakaian Yuki yang belum mengganti baju olahraganya. "Lo belom ganti baju?" Lanjutnya, Yuki menggeleng pelan, lalu tangannya menyodorkan botol minumannya kehadapan Maxime. "Nih buat lo." Maxime menatap botol minum tersebut dengan kening berkerut, lalu melirik Yuki yang menunduk malu seraya tersenyum penuh arti. "Apaan nih? Sogokan karna udah minjemin baju?" Tanya Maxime dengan nada menggoda, Yuki mendongak dengan senyum malu-malu kucingnya. "Hehehe... gue belom bilang makasih sama lo tadi. Anggep aja ini sebagai ucapan makasih gue. Baju lo biar gue cuci dulu dirumah, nanti gue balikin." Kata Yuki yang sudah agak lebih santai pembawaannya. Maxime menerimanya dan mengangguk, "Thanks kalo gitu," Lalu dibukanya tutup botol tersebut dan menenggak isinya hingga tandas hampir setengahnya. Yuki yang melihatnya heran sendiri, ini orang antara kehausan sama doyan. "Haus, Pak? Ampe gak nafas sih minumnya," Ejek Yuki membuat Maxime menoleh menatapnya lalu terkekeh. "Iya, nih. Capek banget gue. Untung ada yang bawain minum," Maxime menaikkan satu alisnya menatap Yuki seraya menenggak minumnya kembali sampai tandas tak bersisa. Yuki mengulum senyumnya seraya menunduk malu. Betapa lemahnya Ia, baru digituin aja udah meleleh. Duh, Yuki. Ini nih yang bikin lo gamon terus. Semenjak kejadian hari ini, keraguan dihati Yuki terhadap Maxime mulai memudar, tidak sepenuhnya, tapi setidaknya mengikis separuh dari rasa ragunya pada cowok itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD