Datanglah

1273 Words
"Ya pernah, kami bertemu satu kali," Rean segera mengalihkan tatapannya ke arah Alisha, meminta penjelasan sedangkan Alisha hanya berdiri dengan bingung, sama sekali tidak ingat pernah melihat pria bernama Neuro ini. la menggeleng memberikan jawabannya kepada Rean. Tatapan mata Neuro memang terlihat tidak asing, tapi dimana ia pernah melihatnya? "Istri Anda tidak akan ingat, kami hanya tidak sengaja berpapasan. Sepertinya dia sangat setia dengan pasangannya. Dia tidak menoleh bahkan ketika saya menyapanya lembut," Alisha dapat merasakan lengan Rean yang menyentuh bahunya terasa makin kuat. la menatap wajah Rean yang mengeras, kecemburuan pria itu selalu berlebihan, "Kenapa Anda menyapa istri saya?" Tanya Rean dingin. Neuro yang sepertinya tidak menyadari tatapan dingin Rean hanya mengangkat bahunya santai, "Hanya ingin saja karena istri Anda sangat cantik, saya tidak tahu jika dia sudah menikah," Alisha yang mulai merasakan ketegangan dari arah sampingnya tiba-tiba mengangkat suara, "Ah, sepertinya saya harus ke toilet," "Perlu saya antar Nona Alisha?" Tawar Neuro. "Tidak perlu, saya suaminya yang akan mengantarnya," Sergah Rean cepat. Alisha hanya mendesah, sepertinya Rean sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Sekali lagi Alisha menatap tajam pada Neuro, pria ini siapa sebenarnya? "Baru datang kau sudah membuat masalah," Neuro meringis mendengar ucapan Robert, ayahnya. la memberikan raut wajah tanpa dosa, tidak sepenuhnya paham dimana letak kesalahannya, "Aku hanya sedang menyapa mereka, apa salahnya?" Robert terlihat menampilkan raut wajah gemas pada Neuro, "Astaga, kau selamat karena sedang di tempat umum, Neuro. Kalau di rumah, Ayah pasti akan memukulmu karena membuat rekan kerja kita tidak senang," Neuro kembali meringis kecil, "Maafkan aku, Ayah. Aku harus pergi ada sesuatu yang harus aku urus.” Robert ingin menahan langkah Neuro, namun Neuro sudah terlebih dulu melarikan diri darinya. Robert hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Neuro. Dari kejauhan Neuro dapat mendengar ayahnya mengeluh. "Astaga, anak itu selalu membuatku pusing!" Neuro yang tidak ingin ambil pusing kembali melangkahkan kakinya Wanita itu, ia sudah menemukan wanita itu, ia tidak akan melepasnya dengan bodoh seperti kemarin. Neuro mengarahkan kakinya ke arah toilet, matanya memicing kala melihat Rean sedang bersama dengan seorang wanita. la dapat mengenali bahwa wanita itu bukan Alisha. Neuro mengangkat alisnya bingung, siapa wanita yang sedang bermanja pada lengan Rean? Neuro yang penasaran akhirnya mengikuti mereka yang terlihat berlalu dari sana menuju ke tempat lain. Neuro semakin aneh kala melihat mereka menuju ke sudut tempat yang sepi, apa yang akan mereka lakukan sebenarnya? Mata Neuro melebar saat melihat wanita itu melahap bibir Rean rakus. Astaga, apa suami Alisha ini ternyata berselingkuh? Apa ini alasan Alisha mabuk-mabukan malam itu? Demi Tuhan, ini tempat umum kenapa mereka bermesraan seperti itu disini? Neuro memilih menyingkir, enggan melihat pemandangan menjijikkan ini lebih jauh. Lebih baik ia mencari keberadaan Alisha. Sudut matanya dapat melihat Alisha yang hendak berjalan ke arah kemari, entah kenapa Neuro merasa harus mencegahnya melihat pemandangan ini. "Nona Alisha,” panggil Neuro cepat. Alisha terlihat menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Neuro. "Ah, Pak Neuro," "Bisa bicara sebentar? Hanya sekitar sepuluh menit," Alisha hanya mengangkat alisnya, sepertinya bingung karena Neuro tiba-tiba memanggil dirinya bukannya Rean. Wanita itu terlihat ragu sejenak, namun kemudian ia mengangguk kecil mengiyakan permintaan Neuro. Neuro tersenyum tipis, selagi Rean sibuk dengan selingkuhannya, ia akan berbicara dengan istrinya ini. Neuro akhimya mengajak Alisha ke arah balkon dimana tidak ada siapapun yang melihat mereka. Neuro tidak ingin membuat rumor yang lebih merepotkan mengingat status Alisha yang merupakan seorang istri. Pertama, ia harus menjauhkan Alisha dari tempat Rean. "Sebenarnya ada apa?" Wanita itu terlihat melipat tangan di depan d**a sesaat setelah mereka sampai. Neuro hanya bisa mendesah, harga dirinya terasa semakin terinjak karena Alisha sama sekali tidak mengingat kejadian itu. "Kau sama sekali tidak mengingatku?" Neuro mulai memancing Kening Alisha terlihat berkerut, sepertinya dia memang tidak mengingat apapun. Neuro mulai merasa kesal. "Night Club, Twenty Zero Seven, kau pasti tahu," sambung Neuro lagi. Dalam sekejap raut wajah Alisha yang tenang berubah, matanya melebar tidak percaya menatap Neuro. "Kau???" Neuro tersenyum menyeringai saat ingatan Alisha mulai terbuka ketika ia menyebutkan bar malam itu. la mencondongkan wajahnya ke arah Alisha lalu berbisik pelan, "Ya itu aku, aku selingkuhan tampanmu, Sayang." "Tidak mungkin!" Alisha bergumam tidak jelas saat mendengar ucapan Neuro. la tidak menyangka jika pria yang pernah bermalam dengannya adalah Neuro Edenvile, putera bungsu Tuan Robert. Alisha memijat kepalanya yang terasa berputar, kenapa ia harus dipertemukan kembali dengan pria itu sekarang? "Akhirnya sekarang kau ingat.” Neuro tersenyum tenang sementara Alisha menatapnya cemas, "Bagaimana kau bisa setenang itu setelah meninggalkanku pagi itu, Nona? Aku merasa sangat sedih," sambung Neuro lagi ringan. Seringaian Neuro di wajah tampannya terlihat sangat menyebalkan di mata Alisha. Hah, pantas saja netra biru Neuro terlihat tidak asing, ternyata dia adalah pria malam itu. Meski Alisha merasa lega karena ternyata ia tidak tidur dengan seorang pria dengan tampang asal, tapi ia tidak yakin jika pria bernama Neuro ini merupakan pria baik-baik. Netra biru Neuro terasa sangat mengintimidasi dan penuh kelicikan. "Itu hanya sebuah kesalahan!" sergah Alisha cepat, wajahnya menunduk merasa sangat malu. Setelah wajah pria itu terungkap, sedikit demi sedikit ingatan pada malam itu terbuka di pikirannya. Astaga, kenapa ia bisa seliar itu bercinta dengan orang lain? Sorot wajah Neuro seketika berubah tegang mendengar perkataan Alisha, matanya memicing tidak terlihat senang, "Kesalahan?" Alisha mengangguk, "Ya, kesalahan saat saya mabuk. Saya minta maaf atas kelancangan saya waktu itu, saya minta Anda tidak membahasnya lagi dengan siapa pun," jelas Alisha. Alisha menunjukkan raut wajah penuh penyesalan di depan Neuro, ia menggigit bibirnya. Bagaimana jika Neuro membongkar hal ini pada Rean? Rencananya untuk membalas dendam akan hancur berantakan. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu setelah kita sama-sama menikmatinya, Nona?" Alisha hanya bisa mendesah mendengar nada suara Neuro yang terkesan tersinggung. la kembali melipat tangannya, berusaha menunjukkan bahwa tidak semudah itu ia terintimidasi oleh Neuro. "Lalu Anda mau saya bagaimana?" Tanya Alisha cepat, tidak ingin memperpanjang permasalahan ini. la sudah cukup pusing dengan satu pria, tidak mungkin ia menambah permasalahan lain dengan pria ini. Terdengar Neuro berdecak, "Aku hanya merasa kesal karena kau sama sekali tidak mengingatku, Nona. Padahal kau sampai merampas kemejaku pagi itu, bukankah itu sangat tidak sopan meninggalkan pasangan tidurmu begitu saja?" Alisha menghela nafasnya panjang, "Lalu kau mau aku bagaimana? Ingin kuberikan kompensasi untuk tubuh dan kemejamu?" tanya Alisha mulai kesal, ia mulai menghilangkan nada bicara formalnya kepada Neuro. Pria itu tampaknya ingin mempersulit permasalahan ini. Rahang Neuro terlihat bergemeretak mendengar perkataan Alisha. Matanya yang terlihat tenang mulai memberikan tatapan yang menusuk, "Apa maksudmu Nona? Kau pikir aku seorang pria bayaran?” "Lalu?" "Kau telah melukai perasaanku, Nona. Sungguh, menurutmu apa yang akan dilakukan suamimu jika dia mengetahui bahwa kau pernah bermalam bersamaku?" Alisha memutar mata sepenuhnya tidak paham kemana arah pembicaraan Neuro. Meski Alisha berusaha untuk terlihat acuh, perkataan Neuro kali ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya Neuro mengancam dirinya. "Apa maumu?" Alisha mulai bertanya dengan nada paling sinis. la mulai menunjukkan emosinya, sama sekali tidak senang dengan pertemuan mendadak ini. Neuro menampilkan senyum menyeringai, terlihat merasa menang karena Alisha kini terjebak. Pria itu tiba-tiba kembali mendekatkan wajahnya membuat Alisha secara otomatis memundurkan langkah. Napas Alisha terasa terhenti saat Neuro berhasil memojokkannya di sudut tembok. Jarak wajah mereka yang terlalu dekat membuat Alisha merasa gugup seketika. Aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Neuro cukup mampu menghilangkan fokusnya. Apa yang ingin pria ini lakukan sebenarnya dalam jarak mereka yang berbahaya? "Menurutmu apa yang bisa dilakukan selingkuhanmu ini, Nona?" Alisha yang sadar bahwa Neuro telah mempermainkannya segera mendorong tubuh pria itu menjauh. Sial, bisa-bisanya dia berurusan dengan pria gila ini! Neuro terkekeh kecil saat melihat wajah Alisha yang memerah bagai kepiting rebus. Sebelum Alisha kembali melarikan diri, pria itu kemudian mengulurkan sebuah kertas kecil ke arah Alisha, "Datanglah ke sini, aku akan mengatakan keinginanku di sana."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD