"Jadi pria yang bersamamu saat itu adalah Neuro Edenvile? Astaga, Alisha, dia itu tampan sekali, seperti sebuah karya seni yang diukir oleh dewa-dewa langit dengan telaten! Kau benar-benar beruntung," seru Jeselyn, matanya berbinar seperti menemukan berlian di antara pasir gurun.
Alisha hanya bisa berdecak kesal mendengar jawaban Jeselyn. Alih-alih memberikan saran, temannya itu malah sibuk mengagumi Neuro, seolah pria itu bukan manusia biasa, melainkan pangeran dari negeri dongeng yang mempesona dengan senyum mautnya.
"Demi Tuhan, Jeselyn! Dia itu benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa kau memujinya seperti itu?" Alisha mengembuskan napas kasar, wajahnya memerah seperti matahari senja yang marah.
"Kau harus membantuku mengurus belut licin itu. Dia bahkan meneror ponselku!" Dengan nada yang semakin panik, ia berseru, "Bagaimana jika Rean tahu semua ini?"
Jeselyn hampir saja tertawa terbahak mendengar ungkapan Alisha. Belut licin? Mana ada belut yang begitu memikat hingga bisa membuat wanita mana pun lupa cara bernapas?
Jika ada belut semacam itu di dunia ini, Jeselyn tak akan ragu memelihara beberapa ekor di dalam kamarnya, hanya untuk memeluknya setiap hari.
Namun, melihat wajah Alisha yang gusar, Jeselyn menghapus senyum dari bibirnya, lalu menautkan kedua tangannya di depan d**a seperti tengah mencoba menahan diri untuk tidak tertawa lebih keras.
"Aneh sekali. Kenapa dia berusaha menerormu? Apa seleranya sudah berubah?" tukasnya, dengan nada sedikit heran.
Jeselyn melirik Alisha yang berdiri dengan cemas. Wanita itu, dengan rambut hitam sehalus sutra dan mata cokelat yang berkilau seperti batu permata, memang memiliki daya tariknya sendiri.
Tapi penampilannya yang formal dan sikapnya yang kaku tampaknya bertolak belakang dengan kepribadian Neuro yang bebas seperti angin yang menari di atas lautan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" suara Alisha memecah lamunan Jeselyn.
Jeselyn segera mengalihkan pandangan, takut-takut, seperti seorang anak kecil yang baru saja tertangkap basah mengintip permen di dalam toples. "Tidak!" jawabnya cepat, mencoba menutupi pikirannya yang melayang-layang.
Alisha kembali berdecak, kali ini lebih keras, dan menyilangkan tangan di depan d**a. "Pembicaraan ini sama sekali tidak membantu! Teman macam apa yang berkata seolah-olah aku ini tidak punya daya tarik untuk pria?"
Nada suaranya terdengar semakin tinggi, nyaris menyerupai petir yang menggelegar di langit mendung. "Lebih baik aku pergi!"
"Eh, tunggu sebentar! Maafkan aku!" Jeselyn menahan Alisha dengan cepat, wajahnya menampilkan ekspresi penuh penyesalan yang terlalu dramatis untuk dilewatkan begitu saja.
Dengan enggan, Alisha kembali duduk, tapi wajahnya masih terlipat seperti kain yang belum disetrika.
"Jadi, dia meminta bertemu?" tanya Jeselyn akhirnya, mencoba mengarahkan pembicaraan kembali ke pokok permasalahan.
Alisha mengangguk pelan, lalu mengembuskan napas panjang. "Begitulah."
"Kalau begitu, temui saja. Kau harus tahu apa yang dia inginkan, bukan? Tidak mungkin dia mau bermain-main dengan seorang wanita bersuami. Mungkin dia hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting."
"Tapi kesepakatan apa?" Alisha menatap Jeselyn dengan sorot mata penuh pertanyaan. "Perusahaannya berbisnis dengan perusahaan Rean. Kenapa dia malah ingin bertemu denganku?"
"Maka dari itu, kau harus menemuinya agar kau tahu apa keinginannya," jawab Jeselyn dengan nada tenang, mencoba menjadi suara kebijaksanaan di tengah kebingungan Alisha.
Alisha menarik napas panjang, lalu mengembuskannya seperti seseorang yang berusaha mengangkat beban berat dari pundaknya. "Hah, kau benar. Baiklah, aku akan menemuinya."
"Tapi jangan minum alkohol," sahut Jeselyn cepat, mengangkat satu jari untuk menegaskan peringatannya.
Alisha meringis kecil, lalu mengangguk. Alkohol memang barang terlarang baginya sementara ini, seperti racun manis yang bisa membawanya pada kehancuran.
Melihat Alisha yang mulai tenang, Jeselyn tersenyum, lalu membuka beberapa file kerja mereka. "Nah, sekarang sudah siap bekerja dan membahas produk baru kita?"
Alisha menutup mulutnya dengan tangan, baru teringat bahwa mereka sudah membuang waktu selama setengah jam hanya untuk membahas Neuro pagi ini. "Astaga. Maafkan aku. Baiklah, sekarang aku siap."
Jeselyn tersenyum, dengan nada lega yang hampir menguap di udara. "Bagus!"
**
Untuk kesekian kalinya, Alisha menarik napas panjang, seolah berusaha menyedot seluruh keberanian dari udara malam yang dingin menusuk kulit.
Tangannya ia kepalkan di samping tubuh, meminta kekuatan dari semesta agar ia mampu menghadapi belut licin itu—pria yang sama licinnya dengan kata-kata manis yang ia semburkan seperti racun mematikan.
Matanya menatap bar malam yang dimaksudkan oleh Neuro dengan cemas. Lampu neon yang berkelap-kelip tampak seperti mata-mata tajam yang mengawasinya dari kejauhan, menelanjangi keraguannya.
Alisha menggigit bibirnya kuat, hingga hampir merasakan rasa logam dari darah yang nyaris muncul. Sudahlah, pikirnya, ia sudah sampai sejauh ini. Mundur hanya akan menjadi tanda kelemahan.
Kaki jenjangnya melangkah perlahan, irama dari heels tinggi yang ia kenakan bergema lembut di trotoar.
Setiap langkahnya terasa seperti denting jam, menghitung detik-detik hingga ia bertemu pria itu. Kita lihat, apa yang sebenarnya diinginkan pria gila itu dariku, pikirnya dengan dingin.
Dari salah satu meja bundar, Neuro terlihat melambai, senyumnya lebar seperti seorang anak nakal yang baru saja menemukan mainan baru.
Wajahnya tampak tanpa dosa, namun di balik mata abu-abu itu, Alisha bisa melihat kilatan licik, seperti serigala yang mengintai mangsa.
Alisha memasang wajah dingin, seolah menutupi badai yang berkecamuk di dalam dirinya, lalu berjalan menghampiri pria itu.
"Mau minum?" tawar Neuro, suaranya halus seperti madu yang mengalir, namun dengan sengatan racun di ujungnya.
Alisha mengangkat sebelah tangannya, gerakan anggun yang penuh ketegasan. "Tidak, terima kasih," jawabnya datar.
Neuro melipat bibir, berpura-pura kecewa, lalu mendesah pelan. "Sayang sekali. Padahal kau lebih terlihat menyenangkan saat mabuk," katanya dengan nada menggoda yang membuat darah Alisha berdesir, bukan karena terpesona, melainkan karena amarah yang mulai membara.
"Jangan berbasa-basi lagi di depanku. Katakan padaku, sebenarnya apa maumu? Dan darimana kau bisa tahu nomor ponselku?" tanya Alisha dengan tatapan sengit, suaranya tajam seperti ujung belati.
Neuro menyandarkan tubuhnya ke kursi, gerakannya santai seperti seseorang yang menikmati permainan. "Mudah. Aku tinggal masuk ke dalam website perusahaanmu dan taraaaa," katanya sambil menjentikkan jari.
“Semua informasi tentangmu ada di sana. Aku bahkan tahu makanan favoritmu." Ia mengerling jahil, senyumnya penuh kemenangan.
Tanpa sadar, Alisha menancapkan kuku-kukunya ke telapak tangannya sendiri, rasa sakit kecil itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang.
Bodoh! makinya dalam hati. Ia seharusnya mengganti nomor itu dengan nomor telepon kantor, bukan nomor pribadinya. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh?
"Lalu sekarang apa maumu?" tanya Alisha kembali, suaranya kini terdengar lebih tajam.