Pesan yang Mengejutkan

947 Words
"Astaga! Kau membuatku pusing, Neuro. Kau boleh mengejar siapa pun yang kau inginkan, tapi—dengan istri orang lain? Ayahmu pasti akan menggantungku di depan kantor jika tahu," ujarnya, suaranya pecah di antara putus asa dan marah. Neuro hanya tersenyum, senyum yang penuh dengan kesombongan yang lembut namun berbahaya. "Tenanglah, John. Ayah tidak akan tahu!" katanya dengan nada santai, seperti berbicara tentang cuaca, bukan tentang skandal yang bisa menghancurkan reputasi keluarga mereka. John memandang Neuro dengan tatapan nanar, matanya melebar seakan ingin keluar dari rongganya. "Aku akan mencari wanita lajang yang tiga kali lipat lebih cantik darinya," tawarnya, mencoba merayu Neuro untuk keluar dari permainan api ini. "Tidak," jawab Neuro dengan tenang, nadanya datar namun penuh ketegasan. "Lima kali lipat?" sergah John, kali ini suaranya lebih tinggi, nyaris seperti memohon. "Tidak," ulang Neuro, senyumnya makin melebar. Matanya memicing, seperti serigala yang menemukan mangsa di tengah malam. "Menurutku, milik orang lain lebih... menantang." John mengangkat tangannya ke udara, ekspresi frustrasinya memuncak. "Astaga, Neuro!" serunya dengan nada hampir melengking, matanya berkedip cepat seperti sedang mencari secercah harapan yang tersisa dalam kekacauan ini. Neuro hanya tertawa kecil, suaranya rendah dan menggoda, seolah menikmati kebingungan John seperti seorang maestro menikmati simfoni yang ia ciptakan. "Kita harus bersiap untuk meeting, John. Ayolah, berhenti panik," katanya dengan nada ringan, seolah pembicaraan mereka hanyalah lelucon kecil sebelum bekerja. John menghela napas panjang, kepalanya terasa berdenyut seakan ada palu yang terus-menerus mengetuk. Ia memijat pelipisnya, berusaha meredakan rasa pusing yang kian menggila. "Apa aku harus mulai menulis surat pengunduran diri sebelum Tuan Robert mengetahui hal ini?" gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Neuro. Neuro hanya tersenyum simpul, menepuk bahu John dengan lembut namun terasa berat. "Santai saja, John," katanya sambil melangkah pergi, meninggalkan John yang masih bergumul dengan pikirannya. ** "Kenapa kamu pulang duluan semalam, Sayang?" Suara lembut Rean memecah keheningan pagi yang terasa seperti lapisan tipis es di atas danau yang membeku. Alisha, yang pikirannya tengah melayang di lautan ingatan yang menyesakkan, hanya terdiam. Matanya tertuju pada pancake di depannya, tapi pandangannya kosong, seperti menatap sesuatu yang jauh melampaui permukaan meja. "Sayang?" ulang Rean, kali ini dengan nada lebih lembut, hampir seperti bisikan yang takut mengusik sesuatu yang rapuh. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Alisha dengan kehangatan yang tidak mampu meredakan dingin di hati wanita itu. Alisha tersentak, seolah baru saja ditarik dari jurang mimpi buruk. Matanya mengerjap cepat, dan ia memandang Rean dengan ekspresi kosong yang perlahan berubah menjadi kebingungan. "Ya?" gumamnya lirih. "Kamu kenapa?" tanya Rean dengan nada khawatir. "Apa kamu masih marah karena aku mempermasalahkan penampilanmu semalam?" Alisha menggeleng cepat, mencoba menutupi badai yang berkecamuk di dalam dirinya. "Tidak," jawabnya singkat, suaranya hampir tenggelam dalam gemerisik dedaunan yang ditiup angin di luar jendela. "Yang benar?" Rean bertanya lagi, memiringkan kepala dengan tatapan yang penuh perhatian. "Tapi kenapa kamu pulang sendiri tanpa aku? Aku jadi cemas." Alisha menghela napas panjang, dadanya terasa sesak oleh tumpukan rahasia yang semakin berat. Ia mengaduk-aduk pancake di piringnya tanpa selera, seperti mencoba membongkar sesuatu yang terkubur di bawah lapisan saus sirup. "Aku hanya tidak enak badan karena sibuk akhir-akhir ini," jawabnya akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati seperti berjalan di atas pecahan kaca. Rean menghela napas lega, meski sorot matanya masih menyiratkan keraguan. "Kamu sakit? Kalau begitu istirahat saja di rumah, jangan pergi ke kantor!" katanya, nada suaranya penuh perhatian. Alisha menggeleng kecil. "Tidak, sekarang sudah baik-baik saja," ujarnya, tersenyum tipis yang tidak mampu menyembunyikan kelelahan di sudut matanya. Rean mengangguk perlahan, meski kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang. "Apa kalian menikmati pestanya? Maksudku, kamu pulang sangat malam semalam, bukan?" tanya Alisha, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada ringan yang terpaksa. Rean terlihat sedikit tergagap, sebuah reaksi kecil yang tidak luput dari perhatian Alisha. "Ah itu," katanya, menggaruk belakang kepalanya, "Aku hanya membantu Gea agar mendapatkan relasi, Sayang. Maaf karena aku tidak langsung pulang saat kau bilang tidak enak badan." Senyum tipis kembali menghiasi wajah Alisha, namun ada sesuatu yang tajam di baliknya, seperti duri yang tersembunyi di balik kelopak mawar. "Kamu memang sangat baik terhadap Gea. Terima kasih!" katanya dengan nada yang sarat makna, nyaris seperti racun yang dibungkus gula. Rean hanya tersenyum, tidak menyadari sindiran halus yang tersembunyi di balik kata-kata Alisha. "Sama-sama, Sayang. Dia juga sudah seperti adikku," jawabnya, suaranya penuh kejujuran yang terdengar palsu di telinga Alisha. Dalam hati, Alisha hampir tertawa pahit. Seperti adik? pikirnya dengan getir. Mana ada kakak yang melahap adiknya sendiri? Belum sempat ia memaki Rean lebih jauh dalam pikirannya, ponselnya bergetar keras, memecah keheningan. Alisha meraih benda itu dengan cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan kendali atas sesuatu yang berharga. Alisnya bertaut ketika melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang asing. Perlahan, ia membuka pesan itu, dan keningnya berkerut dalam-dalam saat membaca teks singkat yang hanya terdiri dari beberapa kata: "Kau tidak lupa janjimu, bukan?" Tangan Alisha bergetar, memegang ponsel dengan erat seperti ingin menghancurkannya. Wajahnya yang berubah dalam sekejap tidak luput dari perhatian Rean. "Kenapa, Sayang?" tanya Rean, nada khawatir dalam suaranya semakin jelas. Alisha segera mengetik balasan, meski hatinya sudah tahu siapa pengirim pesan itu. "Siapa kau?" tulisnya dengan jemari gemetar, sebelum mematikan layar ponselnya dengan cepat, berusaha menjaga agar Rean tidak mencurigai apa pun. "Itu ada masalah di kantor," jawabnya, mencoba terdengar biasa. Namun, getaran lain dari ponselnya segera datang, seperti gemuruh badai yang tak bisa dihindari. Dengan hati-hati, ia membuka pesan itu lagi, dan kali ini, kata-kata yang ia baca membuat dadanya terasa seperti ditikam. "Night Club Twenty One Zero pukul 20.00 tepat. Jangan terlambat! Atau suamimu akan tahu tentang selingkuhan tampannya ini." Alisha hampir melompat dari kursinya, matanya melebar penuh kengerian. Jemarinya mencengkeram ponsel dengan kekuatan yang nyaris membuat benda itu retak. “Darimana pria gila itu tahu nomor ponselku?” pikirnya panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD