Mau Mela Hangatkan Nggak, Pak?

1632 Words
Malam harinya Lisa yang telah selesai menyiapkan akun anonim yang akan dia pakai untuk menyebarkan foto-foto Kendra dan Kelvin yang terlihat seperti sepasang kekasih sedang berciuman, mulai mengunggah foto-foto itu ke sosial media dengan caption-caption yang mengundang tanya dan minat baca para netizen. Dalam sekejap foto-foto itu langsung tersebar ke semua lini masa dan banyak yang membagikan ulang foto-foto itu ke beranda mereka masing-masing. Para pekerja medis yang bekerja di Rumah Sakit Citra Husada pun menemukan dan menerima foto-foto Kendra dan Kelvin yang dibagikan oleh akun anonim milik Lisa di beranda mereka. "Ya ampun, kok Dokter Kendra sama Dokter Kelvin kelakuannya begini ya," komen salah satu akun bernama Vivi234 di media sosial Lovstagram. "Pantesan aja mereka kelihatan akrab sekali dan kadang terlihat manis sikapnya satu sama lain saat di tempat kerja, ternyata mereka belok toh," timpal akun Dddrfk124 ikut mengomentari foto-foto itu yang kebetulan di tandai ke akun media sosialnya Rumah Sakit Citra Husada. "Kasihan Suster Lisa, dia padahal cinta mati banget sama Dokter Kendra, eh yang dia taksir malah lebih suka jeruk makan jeruk," sahut akun lainnya. Lama kelamaan postingan foto itu mendapatkan seribu komen dalam waktu satu jam saja. Lisa tersenyum puas dengan respon para netizen yang sesuai dengan keinginannya. Kini nama Lisa yang awalnya tercoreng malu karena ditolak mentah-mentah oleh Dokter Kendra pulih seketika. Banyak para netizen dan rekan kerja Suster Lisa yang bekerja di bidang yang sama dengannya merasa iba kepada wanita itu karena jatuh cinta pada lelaki yang salah. Di tempat lain, Kendra dan Kelvin yang memang tidak suka bermain sosial media tidak tahu gosip hangat yang sedang beredar saat ini. Mereka berdua sedang sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing. Kelvin sedang makan malam dengan Stevani dan calon mertuanya, sedangkan Kendra sedang video call dengan pacar kesayangannya yang bernama Citra. "Cit Cit," panggil Kendra kepada kekasihnya itu yang saat ini sedang sibuk berdandan. "Hm," sahut Citra singkat dan tidak ada niatan sedikit pun untuk berpaling dari cerminnya saat ini. "Kamu sibuk banget deh. Nggak ada waktu libur kah? Padahal aku kangen banget sama kamu," ucap Kendra berkeluh kesah kepada kekasihnya itu. "Aku lagi banyak job, Ken. Maaf kalau aku nggak bisa sering-sering komunikasi sama kamu. Maaf juga kalau tahun ini aku nggak bisa balik ke Indo. Aku benar-benar sibuk banget," jelas Citra dengan raut wajah bersalahnya. "Honey!" tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria yang tertangkap di rekaman video call itu. "Coming!" sahut Citra dengan suara yang cukup lantang. "Please wait for a few minutes! I'll get out soon," sambung wanita itu. "Dia siapa, Cit?" tanya Kendra yang kini rahangnya sudah mulai mengeras karena marah. Laki-laki mana yang tidak merasa marah saat kekasihnya dipanggil sayang oleh pria lain dan itu dilakukan tepat di hadapannya sendiri meski hanya lewat layar. "Dia manager aku," jawab Citra cepat sembari terus menyelesaikan make up-nya. "Kenapa dia manggil kamu Honey? Kamu lagi nggak berbohong, kan?" selidik Kendra. "Ya ampun, Ken. Jangan suka curigaan gitu deh. Aku lagi males bertengkar ya sama kamu. Terserah kamu mau percaya atau nggak sama ucapanku, tapi video call ini harus segera aku akhiri. Aku ada job siang ini. Nanti aku telepon lagi pas aku sedang senggang. Udah dulu ya, bye sayang, muah," ucap Citra panjang lebar dan langsung mematikan panggilan video call itu secara sepihak. "Cit, Cit, yah," keluh Kendra yang merasa kecewa karena Citra tidak menunggunya bicara terlebih dahulu sebelum mengakhiri sambungan video call mereka. Kendra meremas gemas rambut di kepalanya karena merasa kesal dengan keadaan ini. Akhir-akhir ini hubungan Kendra dengan Citra memang tidak berjalan dengan mulus. Mereka sering bertengkar hanya karena masalah sepele. Citra yang seharusnya pulang beberapa bulan sekali ke Indonesia untuk sekedar menengoknya, tahun ini wanita itu tidak melakukannya sehingga membuat Kendra makin uring-uringan. "Hahaha," sayup-sayup telinga Kendra mendengar tawa seorang wanita di indra pendengarannya. Jika di rumah ini tidak ada Mela, Kendra pasti akan mengira kalau tawa itu adalah tawanya Nini Kun Kun, tapi, karena di rumah ini ada Mela si wanita ajaib, Kendra yakin seratus persen kalau itu pasti suara tawanya Mela, pembantu yang paling aneh sejagat raya. "Ini pasti tawanya si kumel yang lagi kesenangan stalking akun medsosnya si Sastra, Sastra itu," gumam Kendra menebak-nebak. Dokter muda itu mulai bangkit dari duduknya dan langsung bergegas berjalan ke arah balkon rumahnya yang ada di lantai dua. "Woi! Udah malem, Kumel. Tawanya tolong dikondisikan! Ganggu tahu," dumel Kendra memarahi pembantunya yang saat ini sedang asik stalking akun media sosialnya Ando Mavasatra di taman belakang. Mela terlonjak kaget saat mendengar teriakkan Sang Majikan Fir'aun-nya. "Eh, Bapak. Kirain teh sudah tidur. Maaf ya, Pak, sudah bikin tidur Bapak terganggu," sahut Mela yang kini wajahnya sudah menengadah ke arah Kendra yang ada di lantai atas. "Mel, cepetan kamu segera ke dapur! Bikinin saya cemilan!" titah Kendra tiba-tiba. "Siap laksanakan, Komandan," sahut Mela ala ala prajurit TNI. Wuss! Mela yang tidak mau gajinya kena penggal Fir'aun jaman now itu sudah langsung melesat masuk ke dalam rumah setelah menjawab perintah dari Kendra Sang Dokter Tampan. "Ckckck," decak Kendra sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Kok ada ya pembantu ajaib kayak Si Kumal?" gumam Kendra bertanya-tanya. "Padahal aku itu galaknya kebangetan lho. Kok dia masih betah aja, ckckck," lanjutnya lagi. Kendra ini benar-benar manusia ajaib yang suka ngatain orang lain ajaib, padahal dirinya sendiri jauh lebih ajaib dari orang yang dikatainnya. Selain itu, Kendra juga tipe orang yang tidak berprikemanusiaan. Dia juga tipe manusia yang kadang lupa bersyukur. Harusnya dia itu bersyukur karena mendapatkan pembantu yang tahan banting seperti produk stainless di pasaran, tahan ujaran kebencian yang selalu Kendra layangkan, dan yang pasti -hati Mela kebal terhadap semua pesona-pesona yang terpancar dari Dokter tampan itu yang bernama lengkap Kendra William. Meski sering jutek, namun pesona yang dipancarkan oleh diri Kendra masih mampu menggelepar hati-hati rapuh para wanita. *** Di dapur, Mela sedang kebingungan mau bikin cemilan apa untuk majikan tampannya itu. "Bikin apa ya, hm," gumam Mela seraya berpikir keras dengan posisi jari telunjuk yang menempel di pelipis kanannya. Kendra yang sudah turun dari lantai dua dan ikut menyusul ke ruang dapur langsung menegur pembantu kesayangannya itu. "Kumel, kenapa kamu malah ngelamun?" seru Kendra yang saat ini mulai memposisikan dirinya di salah satu kursi meja makan yang langsung menghadap ke arah dapur. "Bingung, Pak, mau bikin apa," sahut Mela lesu. "Kira-kira malem-malem gini Bapak sukanya dibikinin apa? Mau yang hangat-hangat kah?" tanya gadis itu sambil menaik-turunkan alisnya ke arah Kendra. "Melati Putri yang cantiknya kayak bidadari ini siap untuk menghangatkan ... uhuk," Mela terbatuk pura-pura. Kendra yang tidak suka digoda oleh Mela langsung meraih buah di dekatnya dan mengarahkan ke arah gadis itu namun masih tertahan, dan tindakan Dokter muda itu seolah-olah sedang berkata, "Sekali lagi kamu candain aku kayak gitu, aku timpuk kamu," ancam Kendra lewat gerak tubuhnya. "Ampun, Pak." Mela langsung mengangkat kedua tangannya tanda bahwa dia menyerah dan tidak mau ditimpuk oleh Kendra dengan buah apel di tangan lelaki itu. "Makanya jangan aneh-aneh kalau ngomong!" cakap Kendra yang kini tangannya sudah turun dan buah itu sudah berada kembali di tempatnya semula. "Abisnya seneng godain, Bapak. Lucu aja gitu responnya, hihihi," jawab Mela yang kini sedang terkikik geli. "Emangnya aku kelinci apa?" kesal Kendra. "Bapak bukan kelinci, tapi ...," Mela ingin menggoda kembali majikan tampannya itu namun keburu mendapatkan pelototan tajam dari Kendra. Akhirnya gadis itu tidak jadi meneruskan kalimatnya. "Waduh tatapannya, mengerikan," komentar Mela yang kini tubuhnya mulai mengkerut ketakutan. "Jangan kebanyakan main-main kamu, Mel! Cepat bikinin aku cemilan!" Kendra mengingatkan kembali tugas Mela. "Eh iya, hampir kelupaan. Bapak maunya dibikinin apa? Aku bingung mau bikin apa malem-malem gini. Takut nggak cocok sama selera lidah Bapak." "Mm ... aku lagi pengen yang gurih-gurih, Mel, tapi, sesuatu yang terbuat dari bahan dasar kentang gitu. Pengen ada manis-manisnya juga, tapi yang mendominasi gurihnya," papar Kendra. Mela mulai berpikir keras dan tiba-tiba sebuah resep cemilan sederhana menghampiri otaknya. "Aha, aku tahu harus masak apa buat, Bapak. Kalau gitu aku titip Ayank Satra-nya aku dulu ya, Pak," ucap Mela sambil meletakkan ponsel miliknya di atas meja makan dekat Kendra dan di dalam layar ponsel itu terpampang foto-foto-nya Satra di akun Lovstagram. "Sastra mulu yang dipikirin. Nggak bosen kamu, Mel?" julid Kendra. "Lah, kalau bukan mikirin Ayank Satra, aku harus mikirin siapa lagi, Pak? Kalau aku mikirin Bapak, pasti Bapak bakalan langsung berubah, berubah jadi Fir'aun yang suka jadi tukang penggal gaji pekerjanya," timpal Mela dengan bibir yang maju lima centi. "Itu bibirnya dikondisikan, Mel. Nggak usah maju-maju gitu!" tegur Kendra. "Oh iya, awas aja kalau kamu berani mikirin saya. Aku krek gaji kamu, Mel," ancam Dokter muda itu. "Tuh kan, baru aja diomongin, udah main ancam menggal aja. Ya Allah, apa salah dan dosa hambamu ini? Kok bisa-bisanya mendapatkan majikan Fir'aun kayak Pak Kendra, hobi banget dia penggal gaji hambamu ini, Ya Allah," tutur Mela menghiba dan mengadu kepada Tuhannya. "Dosa kamu banyak," celetuk Kendra. "Idih, Bapak sok tempe." "Sok tahu, Mel," koreksi Kendra. "Tapi aku maunya tempe, wlee," "Ya udah besok borong tempe aja di Mang Sapto biar kamu puas makan tempe." "Ih, apaan. Besok kan jadwalnya aku makan capi (sapi), Pak. Tega bener mau diganti jadi tempe," rengek Mela. "Lah katanya tadi kamu pengen tempe aja," ucap Kendra membalikkan perkataan Mela. "Itu kan cuma ... ah sudahlah, kalau debat sama Bapak tuh aku selalu kalah, selalu salah, dan aku harus selalu ngalah." tunduk Mela berpura-pura sedih. "Drama-mu, Mel, bikin eneg," cakap Kendra yang pura-pura mual. "Ah udah ah, Bapak jangan ajakin aku ngomong mulu! Aku jadi nggak konsen nih masaknya," protes Mela yang sejak tadi belum ada kemajuan dalam acara memasaknya. "Idih, siapa pula yang lagi ngajakin kamu ngomong mulu. Sok kepedean kamu," cibir Kendra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD