"Mela!" panggil Kendra.
'Habis aku!' batin Mela ketakutan karena mengira dirinya sudah ketahuan mencuri dengar pembicaraan majikannya.
Dengan takut-takut Mela membalikkan tubuhnya ke arah Kendra yang saat ini sudah melihat ke arahnya.
'Aduh, kira-kira aku kena pecat nggak ya?' Mela meremas jari jemarinya karena gugup.
"Kamu habis ngapain?"
"Anu, Pak, euu itu,"
"Itu apa hah?!"
"Saya cuma itu, Pak,"
"Pasti habis kepoin si Sastra Sastra itu kan?" tebak Kendra.
"Nggak, Pak." Mela menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saya nggak lagi kepoin Ayank Satra."
"Halah bohong banget kamu. Sana cepetan masak! Sudah lapar banget ini,"
"Baik, Pak. Permisi." Mela berbalik pergi dengan napas lega. "Aku kira bakal dimarahin karena ketahuan menguping, ternyata cuma dimarahin karena dikira habis kepoin medsosnya Ayank Satra." gumam Mela merasa bersyukur.
Kelvin dan Kendra kini tengah duduk kembali di tempat masing-masing.
"Ken, si Mela sudah punya pacar?" tanya Kelvin penasaran dan tubuhnya sedikit dia condongkan ke arah depan.
"Memangnya kenapa?" kening Kendra berkerut saat mendapatkan pertanyaan seperti ini dari sahabatnya yang jarang tertarik dengan perempuan.
"Ya nggak, hanya penasaran saja ingin tahu."
"Belum kayaknya."
"Kok kayaknya, Ken? Yang jelas dong!" tuntut Kelvin.
"Si Mela kayaknya dulu pernah bilang pas interview kerja di sini katanya motivasi dia kerja sebagai pembantu itu untuk mengumpulkan biaya agar bisa bersekolah di universitas yang sama dengan laki-laki yang dia sukai, dan dia belum pernah bilang kalau si Sastra Sastra itu pacarnya dia."
"Oh, syukurlah." Kelvin bernapas lega mendengar berita ini.
Kening Kendra makin berkerut. "Kamu nggak lagi naksir pembantuku, kan Vin?"
Kelvin hanya tersenyum.
"Kamu jangan bercanda Vin!" tutur Kendra. "Si Mela itu dekil. Masa kamu suka sama orang kayak si Mela sih?" Kendra mempertanyakan.
Kelvin lagi-lagi hanya tersenyum.
***
Mela saat ini sedang prak prik pruk di dapur memasak ayam kremes kesukaan Kendra.
"Wuih wangi banget, Mel!" ucap Kelvin yang baru saja memasuki ruang makan yang satu ruangan dengan dapur.
"Iya dong, kalo nggak wangi bukan Melati Putri namanya. Mela kan gadis terwangi dan tercantik sedusun karang gedang." sombong Mela yang terlalu pede dengan dirinya sendiri sambil mengibas halu rambut panjangnya yang saat ini sedang ditutupi topi khusus agar tidak ada rambut yang jatuh ke dalam masakan yang sedang dibuatnya.
"Pffft," Kelvin hanya menahan tawa mendengar perkataannya Mela yang salah paham dengan ucapannya.
"Eh Kumel, jangan sok kegeeran. Kelvin tuh lagi bilang harum ke masakan kamu, bukan ke wangi tubuh dekil kamu." jelas Kendra yang di setiap kalimatnya pasti dibubuhi dengan cabe-cabe rawit yang bikin panas di hati dan telinga si pendengarnya.
Mela hanya bisa cembetut tanpa berani melawan ucapan majikannya yang mulutnya sepedas cabe gunung itu.
"Kumel siapa, Ken?" tanya Kelvin penasaran.
"Tuh yang lagi goreng ayam." tunjuk Kendra dengan dagunya.
"Kumel tuh panggilan kesayangannya Pak Kendra buat saya, Mas. Plesetan dari kata kumal (dekil), padahal aku cantik kayak gini kok tega-teganya dipanggil kumal, hiks hiks," jelas Mela sambil berdrama menangis pura-pura di depan Kelvin dan Kendra.
"Akting nangis kamu buruk, Mel. Kalau kamu ikut casting pasti langsung ditolak. Hahaha," komen Kelvin.
"Siapa juga yang mau jadi artis, Mas. Aku itu mau jadi dokter kayak Pak Kendra dan Mas Kelvin." sahut Mela.
"Mimpi." nyinyir Kendra meremehkan Mela.
"Kok Pak Kendra tahu aja sih kalau itu mimpi saya." timpal Mela sambil mengedip genit ke arah Kendra.
"Hoek," Kendra pura-pura muntah di depan Mela.
"Kok kamu jadi makin genit saja sama majikan kamu, Mel. Hahaha," Kelvin hanya tertawa melihat tingkah Mela, dia tahu betul kalau itu hanya candaan saja yang dilayangkan kepada Kendra.
"Jangan ngedip-ngedip genit kayak gitu lagi ke aku, sekali lagi kamu berani ngedip-ngedip kayak gitu, aku potong gaji kamu." ancam Kendra yang mulai kembali menjelma menjadi Firaun yang suka memenggal, memenggal gaji tapi kalau Firaun jaman now ini.
"Astaga si Bapak kejam bener kayak Firaun, masa dikit-dikit ngancem mau menggal sih," Mela memelas kepada Kendra.
"Siapa yang mau menggal? Aku cuma ngancem motong gaji kamu." koreksi Kendra.
"Sama aja kali, Pak. Motong sama menggal sama aja, sama-sama ngurangin gaji saya. Jangan keseringan dipenggal dong, Pak! Kalau kebanyakan yang dipenggal, nanti saya makin lama nyusulin Ayank Satra ke UGM." Mela kembali memelas.
"Kalau kamu jadi pegawai yang patuh dan rajin, serta hasil kerja kamu memuaskan gaji kamu aku naikin jadi 4 juta bulan depan. Itu kalau kerja kamu benar ya, kalau masih suka telat-telat kayak tadi jangan harap gaji kamu naik." Kendra memberi tahu kabar gembira kepada Mela tentang rencananya yang akan menaikkan gaji Mela, meski dengan embel-embel syarat kerja Mela harus memuaskan.
"Seriusan, Pak? Asik," sorak Mela sumringah mendengar kabar baik ini, "saya janji ngga bakalan telat-telat kayak tadi, Pak." janji Mela.
"Aku pegang ya janji kamu." ucap Kendra.
"Jangankan dipegang, dipeluk pun nggak masalah, Pak." ucap Mela sambil meletakan ayam kremes buatannya yang sudah matang sempurna, "Kabuuuuuur," Mela langsung lari meninggalkan ruang dapur dan ruang makan ini karena tugas memasaknya sudah selesai.
"Heh, jangan kabur kamu! Sini balik!" teriak Kendra kesal karena lagi-lagi digoda oleh Mela.
Kelvin hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua yang kadang auranya mencekam, tapi terkadang auranya jenaka seperti ini.
***
Esok harinya, Kendra dan Kelvin yang sudah selesai bertugas dikejutkan dengan kehadiran Lisa yang membawa buket bunga untuk Kendra.
Gadis itu berniat untuk menyatakan cintanya hari ini juga karena Kendra yang selalu dia goda dan selalu dia kode-kode tidak kunjung menembaknya.
Semua pekerja medis yang lewat di sekitar lorong itu berhenti sejenak karena ingin melihat pernyataan cintanya Lisa kepada Kendra.
Lisa saat ini sudah berada di depan Kendra dan mengulurkan buket bunga yang dia bawa.
"Aku tahu, Dokter Kendra suka warna putih, jadi aku bawakan bunga mawar putih ini untuk Dokter."
Kendra masih diam dengan Kelvin di sampingnya yang sama-sama diam.
"Aku sudah lama suka sama Dokter. Aku ingin hubungan kita bisa lebih dari sekedar rekan kerja menjadi sepasang kekasih. Jadi kalau Bapak bersedia berpacaran denganku, maka tolong terima bunga ini!"
Kendra menghembuskan napas kasarnya. Dia tidak habis pikir bahwa Lisa bisa melakukan hal senekat ini, menyatakan cintanya di muka umum. Apa gadis itu tidak pernah memikirkan resikonya jika pernyataan cintanya ditolak.
Kendra menerima buket bunga itu. Lisa tersenyum senang karena buket bunganya diterima oleh Kendra, tapi senyumnya tidak bertahan lama karena Kendra saat ini bukannya datang memeluknya malah berjalan ke arah tong sampah terdekat dan membuang buket bunga itu ke dalam tong sampah itu.
Semua orang di sekitarnya yang awalnya tersenyum senang karena Lisa diterima oleh Kendra kini saling berbisik merasa kasihan karena Lisa benar-benar dipermalukan oleh Kendra.
"Ayo!" ajak Kendra dengan gerakan kepalanya mengajak Kelvin untuk segera ke ruang ganti dan segera pulang ke rumah masing-masing karena jam kerja sudah habis.
Lisa hanya mematung dengan telapak tangan yang terkepal karena marah dipermalukan seperti ini oleh Kendra.
"Akan aku balas semua penghinaan ini." geram Lisa yang giginya mulai bergemeletukan.
Kelvin berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Kendra dan langsung menegur sahabatnya.
"Ken, kamu keterlaluan. Kenapa kamu mempermalukan Lisa sampai seperti itu?"
"Dia memang harus digituin, Vin. Aku sudah muak dengan semua tingkahnya yang mengganggu ketenangan hidupku."
"Namanya juga orang cinta, Ken. Jadi itu masih dibatas wajar kan?"
"Cinta sih cinta. Tapi dia sudah kelewatan. Kamu tidak tahu saja, dia itu pernah memasangkan alat pelacak di mobilku."
"Serius?" Kelvin terkejut dengan fakta ini.
"Kamu pikir saja sendiri! Aneh saja kan setiap aku pergi ke mana pun, pasti Lisa akan berada di tempat yang sama."
"Mungkin itu kebetulan," seru Kelvin.
"Bukan kebetulan. Alat pelacak ditemukan oleh montir bengkel saat mereka sedang menservice kendaraanku."
"Ya ampun."
"Bukan hanya itu saja. Lisa juga menyadap ponselku,"
"Kok bisa?"
"Kayaknya dulu pas dia meminjam ponselku, dia kayaknya lagi berusaha menyadapnya."
"Oh, aku ingat. Dulu kalau tidak salah kamu pernah mengeluh kalau nomor Citra selalu diteror seseorang ya?"
"Iya, kemungkinan itu Lisa."
"Terus dari mana kamu tahu bahwa itu Lisa? Bisa jadi kan itu orang lain."
"Dari Mami. Mami cerita kalau ada nomor yang menghubunginya dan itu nomor Lisa. Padahal nomor Mami hanya diketahui olehku dan Papiku saja. Yang lebih anehnya lagi, setiap Mami akan berkunjung ke rumah, Lisa pasti datang juga ke rumahku dan dia berpura-pura bahwa itu semua adalah kebetulan semata dan menyangkut-nyangkutannya dengan kata berjodoh."
"Itu sih sudah termasuk tindakan di luar batas normal. Lalu kenapa selama ini kamu tidak menceritakan hal ini kepadaku?"
"Memangnya aku harus selalu laporan kepadamu?"
"Ya, nggak juga sih, hehe," cengir Kelvin.
***
Kendra dan Kelvin saat ini sudah berganti pakaian dan sedang berjalan ke arah parkiran. Tidak sengaja Kelvin menginjak kulit pisang yang sepertinya luput dari sapuan tukang kebersihan.
"Aaaa!" teriak Kelvin yang akan terjatuh.
Grep.
Kendra dengan sigap menahan tubuh Kelvin agar tidak terjatuh dan kini posisi mereka seperti di dalam drama-drama romansa.
Cekrek cekrek cekrek.
Lisa yang tidak jauh dari tempat kedua laki-laki itu memotret keduanya yang masih dalam posisi seperti orang berpelukan.
Senyum sinis terbit di wajah gadis cantik itu. "Akan aku hancurkan hidupmu, Ken. Tidak akan aku biarkan satu wanita pun mendekat ke arahmu. Akan aku pastikan semua wanita jijik terhadapmu, dan kelak kamu akan mengemis-ngemis cinta padaku karena tidak ada lagi wanita yang mau dengan laki-laki gay sepertimu."
***