Pagi menyambut ku dengan kicauan burung beo milik tetangga. Entah sejak kapan burung itu ada di sekitar kompleks tempat tinggalku.
Seingatku, kemarin bahkan rumah itu masih kosong. Apa jangan-jangan rumah itu sudah ada yang menghuni? Bagus, aku tidak merasa ketakutan lagi di kala malam tiba.
Hari ini weekend, aku libur. Jam masih menunjukkan di angka enam lebih sedikit. Aku memutuskan untuk berolahraga ringan di sekitar taman kompleks.
Jarak rumah dengan taman tidak jauh. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat itu.
Seperti biasa, taman itu ramai. Hari ini weekend, jadi banyak keluarga yang membawa serta anak-anak. Meski hanya sekedar jalan santai atau menikmati jajanan yang di jajakan oleh pedagang kaki lima.
Bukan hanya mereka, aku juga suka makan bubur kacang ijo setelah lari beberapa putaran. Aku emang tidak mencari langsing, tapi emang punya waktu luang saja. Jadi tidak pernah takut dengan makan yang berlebih.
Di tengah-tengah menikmati pagi sambil berkeliling lapangan. Aku melihat ada seorang gadis yang merengek pada kekasihnya. Sepertinya dia sudah kelelahan, tapi kekasihnya tidak mau berhenti berlari.
Posisiku semakin dekat dengan keduanya. Aku menajamkan mataku melihat ke arah mereka. Dia Ucik, gadis yang semalam bertunangan dengan kekasih ku. Lantas, ini siapa?
Tidak, Ucik tidak mungkin selingkuh, kan?
Aku berpura-pura tidak melihat mereka. Aku juga tidak mengenal mereka secara langsung. Dan jika Ucik selingkuh, bukannya itu karma untuk Widi?
Aku berlari di samping Ucik berjongkok. Karena posisi dia berada di tengah lintasan orang lari.
Tapi, pada saat aku hendak melewati mereka. Tanganku di tarik oleh seseorang.
Dia menarikku, membawa ke dalam pelukannya. Apa orang ini sudah gila? Aku tidak bisa berkutik, karena dia membenamkan kepalaku dalam dadanya.
Aromanya maskulin, aku masih bisa bernapas dan memberontak seharusnya. Tapi badanku munafik. Badanku menikmati pelukan lelaki ini.
Aku bahkan terjerat akan aroma maskulinnya. Sehingga tanpa sadar aku melingkarkan tanganku membalas pelukannya.
“Mantan kekasih aku sudah pergi, kapan kamu berniat melepas pelukan mu?”
Sial, aku terhanyut dalam aromanya. Aku sampai lupa untuk melepaskan pelukanku pada lelaki ini. Jangankan aku melepas pelukan, yang jelas terasa sangat hangat.
Obrolan mereka saja aku tidak mendengarnya. Aduh, bagaimana kalau aku sampai di tanya dan tidak bisa jawab?
Bodo amat, sekarang aku harus segera menjauh dari orang gila ini sejauh mungkin.
Aku berlari secepat yang aku bisa. Kalau misalnya di depanku ada pencopet, mungkin aku bisa lebih kencang dari pada dia. Aku malu, aku ingin segera membenamkan diri ke dalam bantal.
Sungguh memalukan, aku malu.
Aku berniat seharian untuk tidak keluar dari dalam rumah. Tapi sayang, ada tamu yang tidak di undang terus memencet bel rumahku.
“Tunggu, sabar sedikit dong. Ini masih pagi,” kataku menggerutu dari dalam rumah.
Sungguh tidak tau sopan santun sekali orang ini.
Rumahku bukan rumah besar dan berlapis-lapis. Jadi hanya membutuhkan beberapa langkah saja dari pintu kamarku.
“Kenapa kamu ke sini?” tanyaku kaget saat melihat siapa yang datang.
Widi, lelaki tak tau malu yang pernah aku cintai ini datang ke rumahku. Dia tiba-tiba memelukku seperti tidak terjadi apa-apa.
Ingin sekali aku membalas pelukan itu, tapi aku kembali mengingat acara pertunangan Akbar semalam.
“Ini tidak benar, kita harus segera mengakhiri hubungan ini.” Kataku berusaha melepaskan diri dari lelaki tinggi dan bertubuh besar ini.
“Apa katamu? Berakhir? Jangan pernah berharap bisa lari dariku. Aku akan pastikan akulah masa depanmu.” Katanya sedikit meninggi.
“Wid, seluruh kota sudah tau. Kalau kamu memiliki tunangan, calon istri dari sederajat dengan kamu. Calon istri kaya raya, jauhi aku.”
Jebol sudah tanggul pertahanan air mataku di depan lelaki tak punya hati ini. Aku yang selama ini sudah berusaha untuk tidak menunjukkan air mataku padanya pun gagal.
“Mereka hanya tau aku pewaris kerajaan bisnis keluargaku. Tidak aku yang sangat mencintai kamu, Sita Fauziah. Kuat, kita akan kuat mempertahankan cinta kita berdua. Kita bersama akan bisa membuat tak terkalahkan.” Katanya lagi.
Manis bukan?
Manis, sampai aku pun menghapus jejak air mata yang baru saja membanjiri pipiku. Menunjukkan senyum dan kembali mengundang kekasih hati ini masuk ke dalam rumah ku.
Kami bermesraan tanpa berpikir ada seseorang di belakang kami yang nantinya akan sakit hati. Karena kami berpikir, cinta kami agung. Tidak bisa terkalahkan, sampai sebuah pesan masuk membuyarkan senyumanku.
Aku sudah terjerat kembali oleh bujuk rayunya. Sampai aku lupa, kekasihku adalah tunangan seorang gadis lain.
Hancur, hatiku kembali hancur. Kurang dari satu jam, kekasihku yang tadinya terlihat mencintaiku. Berubah menjadi seorang anak mama yang patuh akan perintahnya.
Aku kembali kalah, cinta ini hanya aku yang menguatkan. Bukan kami berdua. Sadar tidak sadar, aku menjadi selingkuhan dari kekasihku sendiri.
Hampir satu tahun, aku mungkin cukup serakah. Sampai aku berpikir memiliki lelaki nomor satu di perusahaan ku. Aku harus lekas sadar akan posisiku, sebelum semuanya menghancurkan ku.
“Sayang, jangan menghubungiku sebelum aku menghubungimu. Aku mengantar Ucik ke Jepang dalam beberapa hari, baik-baik di rumah. Jadilah gadis manis untukku.”
Kakiku lemas, seperti jeli yang lembek. Jujur saja, ini bukan sebuah hubungan. Tapi sebuah pembodohan.
Tapi, aku bisa apa? Seluruh jiwaku di kendalikan olehnya, mengatas namakan cinta.
Ya, aku mencintai dia melebihi aku mencintai diriku sendiri. Aku rela diriku terluka, hanya untuk tetap bersamanya.
Aku buta, karena aku cinta.
Aku kembali menangis, dalam diam aku meratapi nasibku. Aku dua kali mengenal cinta, dan dua kali pula dia harus mengikhlaskan pada wanita lain.
Apa tidak ada perasaan cinta yang tulus dan murni hanya untukku? Ini semua pilihanku, aku tidak bisa untuk menghindari resikonya.
Cintaku terlalu kuat, bahkan mengalahkan akal pikiran yang terus menghinaku sendiri. Betapa bodohnya aku, betapa tololnya aku, betapa butanya aku. Hanya itu yang terus menghakimi diri sendiri.
Tapi hatiku tetap menegaskan, jika suatu saat cinta itu aku miliki. Cinta kekasihku pasti aku dapatkan kembali.
Aku rela melihat kekasihku bersama dengan wanita lain. Bermanja dan bercinta dengan tunangannya. Aku hanya bisa berdiam diri dalam sebuah penantian. Menanti giliran aku menjadi yang utama seperti kata-katanya.
Percayakah kalian? Aku percaya, karena aku mengikrarkan diri untuk mencintai kekasihku yang sudah mendua. Aku memiliki keyakinan, jika suatu saat dia yang kini menemani tunangannya akan berbalik padaku lagi.
Satu jam bersama dengan dia di rumah ini. Menjadikan rumahku terasa hangat, meski hatiku sangat sakit.
Dia berpamitan padaku untuk menemani tunangannya. Aku melepaskannya meski sakit. Bagiku bahagia dia adalah kebahagiaanku. Sakitku tidak penting.