Berhubunganlah denganku

1046 Words
“Oh, hallo.” Sapaku sopan. Lelaki tinggi itu tersenyum padaku menunjukkan gigi putihnya. Dia juga memiliki lesung pipi di kedua pipinya. Tapi, milik kekasihku lebih dalam dari pada kakaknya. Lelaki itu mendekat padanya dan seakan membisikkan sesuatu padaku. “Aku tau hubunganmu dengan adikku. Maukah kau menjalin hubungan dengan ku juga? Aku pastikan kamu berada di posisi Ucik, saat bersama ku.” Bisiknya membuatku terperanjat. Dari mana dia tau, aku memiliki hubungan spesial dengan Widi? Tidak, ini tidak benar. Aku tidak akan masuk ke dalam jerat lelaki ini. Mengingat siapa dia dan bagaimana kehidupan dia dari cerita kekasihku. Dia seorang penikmat cinta, jelas dia tidak lebih baik dari kekasihku. Aku tidak boleh menjadi lebih bodoh dengan masuk ke dalam perangkap cinta kakak beradik ini. “Pergi sana, Suh suh... Kamu bau minyak nyong-nyong.” Usir Rina dengan berani. “Maaf, sahabat saya mabuk. Lebih baik kami pamit pulang, sampaikan salam ku pada adikmu. Selamat atas pertunangannya.” Kataku membantu Rina bangun dari meja. Acara pertunangan memang sudah berakhir setengah jam yang lalu. Tapi, demi menghormati pemilik acara. Kami dan para karyawan lain masih setia menikmati perjamuan. Selama perjamuan itu, aku cukup menguatkan hatiku yang sudah tak mampu bertahan lagi. Ucik, gadis itu terlihat sangat manja sekali pada kekasihku. Dan Widi juga terlihat menikmatinya. Terbukti dengan dia mengabaikan ku. Aku cukup kuat mempertahankan air mata ku untuk tak menerjang tanggul mataku dan mengalir membasahi pipi di acara tersebut. Tapi aku masih tetap wanita malang nan menyedihkan. Aku menumpahkan seluruh air mataku sepanjang perjalanan. “Bodoh!! Apa aku sebegitu bodohnya sampai tidak bisa menangis di hadapan lelaki bajingan itu? Tuhan, tolong aku. Beri kebahagiaan untukku.” Raungku di dalam mobil, sendirian menuju rumahku setelah mengantar Rina. Mataku penuh dengan air mata, sehingga membuat pandangan ku kabur. Aku tidak melihat dengan jelas apa yang ada di depan mataku. Aku melihat lampu merah, dan aku melambat. Tidak berhenti, karena aku berpikir masih jauh. Brak Terdengar suara benturan yang sangat keras. Aku merasa sedikit guncangan itu pun kaget. Sial, aku menabrak mobil di depan ku. Bagaimana aku bisa mengemudi sambil menangis? Apalagi menangisi lelaki tak punya kualitas itu? Aku keluar dari mobil dan mengharapkan sebuah maaf dari pengemudi di depan ku. “Maafkan aku, aku tidak sengaja...” kataku sedih. Aku tidak berniat untuk menangis lagi. Tapi setelah melihat mobil apa yang aku gores, aku pun tak bisa menahan tangisan ku. Benar-benar tak adil dunia ini padaku. Itu mobil Ferrari, mobil yang tak seharusnya aku senggol. Perbaikan satu setrip saja sudah menguras tabunganku. Apalagi ini, aku merusak bemper belakang mobil mewah itu. Bagaimana aku tidak menangis? “Huuuaaaaaa mati saja aku, mati sudah. Besok tidak bisa makan...” raungku dalam tangisan di tengah jalan. “Nona-nona. Jangan menangis, apa kamu terluka? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Kata seorang yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. “Tuan, bagaimana aku tidak boleh menangis? Mobilmu mahal, aku tidak sanggup mengganti biaya perbaikannya. Tapi aku harus tanggung jawab, bukan? Huuuaaaa tuan, jangan masukkan aku ke dalam penjara. Kasihan bapak sama ibuku di kampung menunggu bulananku.” Tangisanku tak bisa berhenti. Aku tau aku salah, tapi aku juga tidak punya uang. Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku jual ginjal, apa masih ada yang membutuhkan ginjalku yang sering aku sirami dengan minuman keras, ini? “Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak meminta uang darimu. Tapi izinkan aku meminta nomormu untuk mengganti dengan yang lain? Percayalah, aku bukan orang jahat.” Kata lelaki yang aku lihat sangat tampan dari sinar redup bulan malam ini. “Apa Tuan mau melaporkan ku ke polisi? Tuan, aku mau melakukan apa saja untukmu. Asal kamu tidak masuk penjara sama ganti uang. Jujur, tabunganku hanya sepuluh juta. Sangat jauh dari harga perbaikan mobil ini.” Kataku mengelap ingus yang keluar bersama dengan air mata. “Kalau perlu aku berikan ginjal, jantung sama hatiku...” kataku tanpa berpikir panjang. “Ah tidak, hatiku sudah hancur karena si bajinngan itu. Selain hati aku berikan semuanya.” Kataku meralat ucapanku sendiri. Lelaki itu hanya tersenyum ke arahku. Dia bahkan tidak menjawab apa-apa setelah mendapatkan nomor ku. Jujur, aku takut. Dia orang asing, dia tampan tapi menyeramkan bagiku. Terlalu misterius di hidupku yang tengah berkabung. Berkabung? Ya, anggap saja hari ini adalah hari kematian perasaan yang dia miliki selama hampir setahun untuk atasan tertinggi di perusahaannya. Dia pergi setelah lampu berubah menjadi hijau. Aku pun mengikuti jejaknya, setelah beberapa kendaraan membunyikan klakson ke arahku. “Ya, ya. Tidak bisakah kalian bersabar sebentar? Aku akan pergi.” Omelku sambil masuk ke dalam mobil. Aku memacu mobilku dengan kecepatan lumayan tinggi. Aku berniat melarikan diri karena merasa malu dan jengkel. Heran saja aku, kenapa masalah datang secara berurutan? Tidak bisakah datang di hari lain, atau dalam kesempatan yang lain? Aku masuk ke dalam pekarangan rumah yang juga garasi untuk mobilku. Aku yang hidup sendiri, masih merasa sepi meski tinggal di rumah yang berukuran kurang lebih sepuluh meter persegi. Aku yang baru saja bekerja selama dua tahun di perusahaan ini. Memiliki rumah besar dan mewah hanya lah sebuah mimpi. Bisa memiliki rumah ini saja aku sudah sangat bersyukur sekali. Bahkan, dengan bermodalkan rumah dua kamar ini. Aku berharap orang tuaku mau ku boyong ke kota dan menikmati hidup enak di sini bersama. Aku memang bukan orang yang gila kebersihan. Aku juga bukan orang yang suka jorok. Jadi, baru tiba di rumah aku langsung mandi dan mengganti baju tidur. Aku mandi cukup lama, biasa.... Aku suka main gelembung sabun sambil berendam. Aku tidak mengambil ponsel atau semacamnya, aku putuskan untuk tidur ketika sudah memakai baju tidurku. Tidurku cukup nyenyak untuk hati yang berduka. Entahlah, yang jelas aku lelah hari ini. Hari ini cukup melelahkan menurutku, puncaknya malam ini. Menyaksikan kekasihku, orang yang aku cintai selama hampir satu tahun. Masang cincin di jari manis wanita lain sebagai awal pengikat hubungan. Dulu aku ingat, dia pernah menyematkan cincin juga di jariku. Hanya saja, itu bukan emas atau perak. Itu tembaga, dari sini aku sudah sangat sadar diri di mana posisiku. Sudahlah, tidak akan pernah ada habisnya. Jika aku tetap terjebak pada masa lalu itu. Cinta sudah berakhir, meski hubungan tidak di akhiri. Hati sudah tidak murni untukku, meski dia bilang aku yang paling utama. Mulut lelaki memang begitu, selama dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD