Tiga Puluh Dua

1672 Words

Bowo memarkirkan mobil di pelataran parkir kafe tempat aku dan Ronald, pengacara Elang, janjian sore ini. Jam tujuh, masih sore kan? Aku panik. Ya ampun. Aku enggak tahu, apa yang akan pengacara itu sampaikan. Huhuhu, mengingat soal perceraian yang tadi Alya katakan di telepon. Bowo menggenggam tanganku, memberi dukungan. Jantungku berdetak semakin keras dan telapak tanganku mulai berkeringat. Bersama Bowo, aku memasuki kafe itu dan menghubungi Ronald. "Halo, Pak? Sudah dimana?" Tanyaku to the point. "Tengok belakang, Bu. Saya lambaikan tangan. Oke? Nah!" Aku sudah melihatnya. "Maaf, lama nunggunya ya, Pak?" Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan Bowo. Ronald mempersilakan kami duduk, "enggak kok, saya juga baru tiba. Ini--" Ronald menunjuk Bowo, bertanya tentang peranannya. "

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD