Kita tidak pernah tahu, kapan rasa suka itu akan mulai membuat diri seseorang jadi lupa akan kewarasan dan kesadaran karena virus yang ditebarkan oleh dewa amor yang satu ini sangat lah sulit untuk disembuhkan. kalau patah hati maka tidak ada obat yang mujarab, begitu juga jika jatuh cinta tidak bisa dihentikan seperti aliran darah.
jika ada manusia yang rela berkorban menjadi tempat penampungan semua keluh kesah mu, atau justru selalu ada ketika membutuhkan nya, hanya ada dua alasan kenapa dia melakukan hal itu. Yang pertama karena dia mencintai mu, dan yang kedua karena dia memiliki rasa simpati yang tinggi serta berniat sekali menjalin sebuah hubungan pertemanan di antara kalian. Untuk mereka yang sedang di fase jika mengungkapkan itu takut, maka matilah dengan perasaan mu tanpa orang lain. JIka merasa mampu membuka nya, maka lakukan lah selagi ada kesempatan.
Dan Rani melakukan hal terakhir, ia menggunakan kesempatan sebanyak mungkin untuk menyatakan perasaan nya terang-terangan kepada Rega, begitu banyak peluang yang dia dapatkan dari sebuah pernyataan tapi itu cukup sulit untuk membedakan apakah ini sebuah kebenaran atau justru malah bomerang menyakitkan untuk kita.
Benar sekali, menurut hampir semua orang kalau cinta tidak memilih kepada siapa dia berlabuh, entah dia sama atau tidak dengan mu, kalau cinta sudah terpana pada orang tersebut maka kamu akan meleleh ketika ditatap nya. Rani benar-benar mulai kehilangan akal sehat nya saat diam-diam Rega mencuri pandang kearah nya, yang dimana itu juga tak lepas dari tatapan tak suka milik Susi.
Posisi mereka yang berdampingan membuat Rega seolah-olah sedang menatap nya, andai dia tahu jika pemuda itu sedang memandangi wajah murung Susi yang sejak tadi mengganggu nya. Ya, siapa yang tidak tertarik pada wanita selugu Susi tapi m***m dikeadaan tertentu dan Rega yakin kalau abang sepupu nya itu menang besar jika memang berhasil mendapatkan Susi.
Setelah rapat usai, Rani segera membereskan semua peralatan nya termasuk notebook yang menyimpan semua data penting perusahaan. Ia juga merapikan rambut panjang nya serta posisi kacamata, melihat Rega semakin dekat kearah nya gadis itu bahkan mengulas senyum manis tapi langsung pudar saat Rega justru melewati nya dan malah mengajak bicara Susi.
"Ai, kamu yakin gak papa? Kalo gak sehat mending pulang aja deh, di antar sama supir". Rega berdiri tepat dibelakang Rani, ia kehilangan banyak sekali kata-kata untuk dilontarkan tapi ia masih menahan diri agar tidak mengumpat. Ini sepenuhnya bukan salah orang lain, melainkan dirinya sendiri yang terlalu naif dan berharap tinggi pada lelaki itu. See? kenyataan selalu tidak sesuai dengan ekspetasi nya.
Rani mengerjapkan beberapa kali mata nya, kedua pipi nya panas karena malu dengan tingkah nya sendiri, namun ia juga tak bisa menghindari rasa kecewa yang menggumpal di hati.
"Gak papa pak, saya cuma kurang sehat aja. Permisi". Meskipun susi bicara dengan bahasa formal tapi tak membuat prasangka Rani musnah begitu saja, ia justru berjalan keluar ruangan tak mau mendengar lebih banyak lagi pembicaraan kedua orang itu.
Saat tiba di bilik nya yang berada disebelah tempat Arifin, Rani langsung menghempaskan diri ke kursi menghela nafas kasar. Ia tak habis pikir kenapa bisa cemburu dengan Susi yang sudah jelas tidak akan suka pada Rega, sayang sekali otak Rani sedang tidak bisa di ajak kerja sama.
Belum lama ia duduk dibilik, tak lama kemudian ia mendengar lagi suara Arifin yang menanyakan hal sama dengan Rega tadi. Apa sebegitu peduli nya kedua lelaki itu pada Susi sampai tak memikirkan perasaan nya.
"Mbak sus, yakin masih mau lanjut kerja? Kalau sakit jangan bilang-bilang ya, nanti gue repot". Rani nyaris mengeluarkan suara tawa nya karena perkataan tak masuk akal Arifin, hingga ia pun ikut mengintip dari bilik dan mengeluarkan setengah badan nya saja dari ruangan sempit itu.
"Lo juga Ar, kalo laper jangan minta sana-sini, modal dikit kenapa". Balas Rani penuh dengan ejekan dan sindiran tapi bukan Arifin nama nya kalau ambil pusing akan hal tersebut. Susi hanya tersenyum sekilas, berlalu begitu saja tak memperdulikan mereka. Seketika aura disekitar mereka mendadak berubah sendu, Rani hendak bicara saat melihat Arifin yang sedang memandang kepergian Susi. Cara pria itu menatap, hembusan nafas tak puas hati serta mimik wajah yang menggambarkan rasa gelisah dan khawatir membuat Rani tertegun.
"Ar inget ya, jangan sampai pertemanan kita rusak cuma gara-gara lo bikin Winda kecewa". Kata Rani mencoba menyadarkan lelaki itu dari rasa khawatir nya pada Susi.
"Apa hubungan nya sama tuh anak? Winda juga bukan siapa-siapa gue". Arifin memasang wajah tambeng dan menyebalkan membuat suasana hati Rani semakin buruk, tadi dia juga melihat keresahan diwajah Rega. Apakah itu juga untuk Susi?
Boss Ari, Rega, bahkan Arifin.
Mereka semua menyayangi satu perempuan saja, kalau saja itu orang lain mungkin Rani masih akan tetap percaya diri tapi ini Susi, seorang Susi dibandingkan dengan diri nya tentu saja kalah jauh. Dari segi apapun, wanita itu diatas diri nya. Rani mendadak sedih karena rasa insecure itu membuatnya mengucilkan diri sendiri, belum lagi vonis ketidak mampuan yang ia ucapkan dalam hati membuat nya semakin sadar kalau sebenarnya Rega itu pasti memiliki tipe ideal untuk mencari pasangan. Susi adalah idaman semua lelaki di kantor ini, dia dan Winda hanyalah figura saja bukan pemeran utama dalam kisah ini.
Rani memandang sebuah foto polaroid yang ditempelkan pada dinding bilik nya, disana terdapat dua orang dengan senyum merekah penuh keceriaan.
"Susah banget ya mau jadi Ratu Hutan buat kamu, lama-lama capek juga". keluh nya pada diri sendiri, mengelus foto tersebut dengan satu linangan air mata yang mengalir.