Dor.

1106 Words
“Tentu saja penikahan. Ada pengantin pria juga wanitanya.” jelas Charles, dia lantas melanjutkan. “Sebagai bentuk menghargai wanitanya, Tuanku ini sampai mendesak kami agar mempersiapkan tempat ini dalam waktu setengah hari. Ya! Kami tidak heran lagi karena tuanku memang sedikit gila. Tapi aku tak menyangka dia melakukan ini untuk seorang wanita.” dia berbicara dengan sopan namun penuh cercaan dan sindiran didalamnya. “Tidakkah kau merasa bicaramu terlalu banyak.” ucap tegas Benjamin, dia menatap Charles tajam. “Haha… ini hanya sedikit protes.” jawab Charles. Rhea mengepal jemarinya. Benar! Agar status sah sebagai istri, tentu harus melewati pernikahan. “Aku tak pernah membayangkan prosesinya akan secepat ini.” gumamnya. Rhea berusaha mengatur diri agar amarah tak menguasai dirinya. “Lagi dan lagi kau bertindak semau mu. Kau tak menanyakan atau berdiskusi pada ku lebih dulu. Kau berkata untuk mempercayai dirimu, namun semua tindakan mu lebih terlihat agar aku tak memepercayaimu!” lirihnya. Apa yang Rhea harapkan. Pria pongah ini bahkan tak bergeming, bak tak pernah mendengar kalimat yang dilontarannya. Kemudian Benjamin melirik kearahnya sekejap. Lalu kembali memalingkan wajahnya. Dia menarik lengan Rhea agar tak berhenti berjalan. Mereka terus berjalan menuju sebuah tempat yang akan menjadi prosesi pernikahannya. Dan seorang pemuka agama telah menunggu disana. “Apakah mengikuti permainan pria ini hal yang baik? Berusaha melarikan diri sekarang bukankah sudah terlambat?” pikiran Rhea sangat kacau. Rasanya dia berurusan dengan pria yang jauh berbahaya dari yang dia pikirkan. Namun, orang biasa mana yang mampu mempersiapkan semua ini dengan cepat? Dalam benaknya dia memiliki banyak pertanyaan. Dari awal dia tak akan bisa kalah dari pria ini. Dan lagi Benjamin memiliki banyak bawahan yang bekerja padanya. Rasanya Benjamin seperti pria jahat yang mengurung seorang wanita tak berdaya dalam sangkarnya Rhea mencengkeram erat lengannya. Pada akhirnya dia memilih mengikuti permainan pria ini hingga nanti menemukan celah untuk menyelamatkan diri dari orang berbahaya ini. Lalu mereka berhenti tepat didepan pemuka agama. Banyak berkah yang beliau sampaikan, lalu mereka diminta mengucapkan janji pernikahan, bertukar cincin, dan begitu saja pernikahan singkat berlangsung dengan hanya disaksikan oleh orang-orang Benjamin. Ini pernikahan buruk yang tak pernah dimimpikan seorang wanita. Tak ada teman, kerabat, dan orang-orang berharga lainnya. Terlebih pernikahan tanpa cinta bak lembaran yang penuh coretan. Berbeda dengan Rhea yang tampak sangat prustasi. Benjamin tampak sangat puas, dengan selesainya prosesi pernikahan ini mereka resmi terikat. “Sekarang kau istriku. Bukan lagi Rhea De Dominic namun Rhea Fuentes.” bisiknya. Rhea bahkan tak tau harus berekpresi apa setelah mendengar kalimat itu. Tiba-tiba saja Benjamin menariknya kedalam pelukannya dengan tangannya yang menyentuh belakang kepala Rhea. Dia tampak sangat awas. Lalu sedetik kemudian terdengar. Dor. Suara tembakan menggelegar, membuat jantung berdegup kencang, ketakutan mejalar disekujur tubuh. Ya! Peluru itu melintas tepat dibelakang kepala Rhea, hampir menancap dikepalanya, jika Benjamin tak kalah cepat menariknya maka sudah pasti dia tak bisa menghindari kematian. Beberapa orang-orang besar dengan cepat mengerubunggi mereka tentu untuk melindunggi, ada yang membantu sang pemuka agama ketempat aman, dan Charles juga beberapa orang lainnya bergegas berhamburan keluar mengecek situasi. Rhea tertunduk dengan tangan yang mencengkeram erat baju Benjamin. Dia bergetar hebat. “Situasi apa ini?! Tidak henti hal-hal buruk menimpaku.” benak Rhea dengan ketakutan yang tak terlukiskan. Benjamin menggertakkan giginya kala melihat Rhea bergidik ketakutan, tangannya mengepal, dan jelas dia sangat marah. “Bunuh orang yang berani mengacau dihari penting ini!!” teriaknya lantang memerintah. Sontak orang-orang didalam berhamburan keluar dan menjalankan perintah dari tuannya. Rhea mendonggak. “Bun-nuh?!” ucapnya terbata. Rhea melihat wajah serius Benjamin yang menatap kearah luar, bak tahu arah dimana penembak itu berada. Tatapannya, caranya memerintah, dan bagaimana orang-orang menurutinya Benjamin lebih kejam dari yang Rhea kira. Sikap yang ditunjukkan Benjamin selama ini padanya bukanlah dia sebenarnya. Kemudian Benjamin mengeluarkan sebuah pistol dari celana belakangnya. Rhea terkejut bukan main dia bahkan tak menyadari bahwa Benjamin membawa senjata api. “Tutup telinga mu.” suruh Benjamin. Meski Rhea ketakutan dengan situasi ini, dia menurut. Dia menutup cepat telingganya juga memejamkan matanya dan berharap situasi ini dengan cepat berlalu. Lalu samar-samar terdengar beberapa tembakan saling sahut menyahut dengan tangan Benjamin yang terus mencengkeram erat pinggang Rhea. Beberapa kali, Rhea merasa Benjamin menariknya kebeberapa posisi menghindari tembakkan yang mengarah ke mereka. Pikiran Rhea sungguh kacau. Tapi dia berusaha menekannya dan tetap tenang. Dalam situasi ini dia tak boleh gegabah, merengek, atau banyak bertanya yang nantinya menyulitkan fokus Benjamin. Rhea memilih menyimpan pertanyaannya nanti ketika situasi jauh lebih tenang. Beberapa menit berlalu, tak lagi terdengar baku tembak. Rhea memberanikan diri membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah serius Benjamin yang tampak lebih mempesona dari biasanya. Mata Rhea membulat, jantungnya berdegub dengan hebat. Lalu buru-buru dia memblokir perasaan yang terus berdegup tak jelas itu. Rhea menyadari lengan kiri Benjamin tertembak dan mengeluarkan darah segar yang terus mengalir, bahkan dikondisi penyerangan mendadak dan terluka Benjamin masih menunjukkan ketenangan. Rhea ingin memberitahu Benjamin, tapi dia mengurungkan niatnya rasanya tidak mungkin Benjamin tak mengetahuinya. Benjamin melempar pistolnya kearah Charles yang baru mendekat kearah mereka. Reflek Charles sangat baik, dia mendapatkan pistol itu. “Bodoh!” umpat Benjamin tampak sangat marah. “Kelalaian kembali terjadi!! Apa hukuman hari kemarin tak membuat kalian jera dan kembali mengulanginya lagi huh!!” ucapnya tegas penuh penekanan. Orang-orang yang baru saja masuk dengan bising mendadak diam. “Kami tak menduga lokasi kita terlacak dan bahkan beberapa orang kita yang berjaga dibeberapa sudut berhasil terkecoh. Dan lagi mereka mengkerahkan lebih dari 20 penembak jitu.” jawab Charles, dia tampak serius, tak lagi wajahnya tampak teduh dengan kelembutannya. Rasanya dia juga tengah ketakutan dengan amarah tuannya. “Kami kurang waspada.” ucap Charles hati-hati. Dengan kata lain dia gagal menjalanan tugas yang diberikan oleh tuannya. Bagi Charles yang profeksionis dalam menjalankan misinya, ini hal yang memalukan baginya. Rahang Benjamin mengeras kuat, dia tampak berusaha menekan amarahnya. “Bereskan sisanya.” “Baik.” jawab mereka serentak. Derap langkah terdengar berhamburan keluar, mereka bergegas menjalankan perintah tuannya. Situsi kemudian hening, sekarang hanya ada mereka berdua ditempat ini. Lalu perhatian Benjamin tertuju pada Rhea. Dia menatap Rhea lekat. “kau takut?!” tanyanya langsung keinti. Rhea mengepalkan jemarinya, dia kesal dengan pertanyaan Benjamin pada orang yang baru pertama kali berada dikondisi ini. Bukankah sudah jelas jawabannya. Rhea menatap Benjamin, “Tentu saja, memang siapa yang tak akan bergidik disituasi antara hidup dan mati. Ini gila dan menakutkan. Jantungku seperti roller coaster meluncur dengan kecepatan tinggi.” ucapnya lantang sembari menyentuh dadanya yang masih berdegup. Rhea menghela napas pelan. “Aku tak akan bertanya apa yang terjadi untuk saat ini. Tetapi lenganmu berdarah.” ucap Rhea sembari menarik lengan kiri Benjamin. Wajah Benjamin tampak terkejut dengan reaksi Rhea, lalu sedetik kemudian dia tersenyum lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD