Lengang

1212 Words
Setelah kejadian mendebarkan itu, mereka kembali kekediamanya. Tepatnya dikamar Benjamin. Seorang pelayan datang membawakan kotak obat. “Letakkan dimeja.” suruh Benjamin dengan penuh penekanan. “Baik.” jawab sopan pelayan itu seraya bergegas keluar. Rhea tengah sibuk menggulung lengan baju Benjamin, kemudian dia membantu membersihkan darah dan mengaplikasikan obat padanya. Dia tampak tenang, namun tangannya yang gemetar menunjukkan ketakutan yang masih ada. "Kau tidak perlu repot membantuku." kata Benjamin sembari berbalik hendak mengobati lukanya sendiri. "Istirahatlah, kau pasti masih terkejut." Mata Rhea memincing, dia menarik paksa lengan Benjamin. "Diamlah. Aku membantumu karena kau melindungi ku," Benjamin memandang Rhea yang masih sibuk mengolesi obat pada lengannya. Samar-samar tampak senyuman digurat bibirnya, rasanya dia puas. Rhea tengah sibuk bergulat dengan pikirannya. Peluru yang ia kira menancap dalam dilengan Benjamin, rupanya hanya tergores kecil. Entah mengapa dia menjadi lega. “Mungkin karena aku mengandung anaknya, perasaan menghawatirkannya muncul begitu saja.” benaknya, sembari menghela napas pelan. Rhea mengangkat wajahnya, sedangkan Benjamin merespon dengan memiringkan kepalanya. Dengan tatapan yang begitu lekat. “Mm... orang yang terluka harus dibantu, sekecil apapun lukanya. Sekalipun... hubungan kita buruk.” ucapnya terbata. Rhea tampak salah tingkah. "Emhe..., sungguh?" goda Benjamin. “Iyaa!!" jawab Rhea cepat. "Jangan berpikir aku dengan mudah memaafkanmu.” Rhea menekan sedikit kuat luka Benjamin. Benjamin yang sudah terbiasa dengan pengalaman luka tak terlalu merasakan sakit akibat penekanan luka dari Rhea. Namun, melihat wajah Rhea yang marah dia semakin ingin menggodanya. “Ah! Au... pelan-pelan.” ucap Benjamin kesakitan. “PEMBOHONG.” ketus Rhea. “Aku sungguh-sungguh. Luka ini akan membaik kalau aku menyandar di bahumu.” Benjamin menundukkan kepala, hendak menyandarkannya di bahu Rhea. "Tidak mau." Tolaknya. Dia mendorong wajah Benjamin yang mendekat kearahnya. “Jangan berharap.” meski hatinya iba, dia tak akan melunak dengan mudah. "Tegakkan badanmu, biarkan aku menyelesaikannya." suruh Rhea tegas. Dia kembali mengolesi obat di lengan Benjamin. Benjamin menatap Rhea yang tampak serius mengobatinya. Saat ini Rhea terlihat jauh lebih tenang, dia tak lagi takut untuk bersentuhan dengannya. “Apa aku harus sering terluka agar Rhea tak segan menyentuh ku.” pikir Benjamin, jemarinya mengusap kasar wajahnya. Kadang pemikirannya begitu liar. “Aku bisa mencobanya dilain waktu. Aku menyukai kekhawatirannya ini.” benaknya menyeringai. Rhea selesai membantu mengobati Benjamin. Tapi sekarang dia menjadi kesal. Benjamin tak beranjak dari duduknya dan malah menatapnya lekat-lekat. “Aku pikir kau akan menjerit dan menutup diri setelah kejadian ini. Tapi kau cukup tenang.” ucap Benjamin. “Untuk apa melakukan itu, melelahkan. Lagipula jika menjerit hanya akan membuat situasi memburuk." jawabnya. Meski dimulut dan dihati lain, Rhea mencoba terlihat berani. “Kau memang wanitaku,” Benjamin terkekeh, tak bisa menutupi kepuasannya akan Rhea. Banyak sikap tak terduga yang baru dia ketahui dari wanitanya. Dia menjadi tak sabaran mengenal lebih wanitanya ini. “Aku membenci ketika kau menyebutku wanitamu. Aku bukan milikmu.” Benjamin menyentuh belakang kepala Rhea, sedikit menekannya hingga membuatnya dekat dengannya. Dia berbisik lembut ditelinga Rhea, “Sekarang kau milikku. Bagaimana dengan panggilan sayangku.” goda Benjamin. Kini dia menatap lekat mata Rhea, memandangnya hangat. "Setiap tingkahmu mendebarkan, aku menjadi tak sabar melihat lebih banyak tingkah lucu mu itu.” Rhea menatap lurus mata tajam Benjamin. “Tidak ada yang lucu disini hanya perasaan kesenangan menahan wanita! Kau seperti pria yang menikmati setiap detik kesulitan ku!” Rhea tiba-tiba menarik kuat kerah Benjamin yang bahkan tak tergerak. Rhea merasa prustasi mengapa pria ini begitu kuat. Rhea mendekatkan wajahnya pada Benjamin. Dia berkata dengan marah, dia tak lagi gentar kala berhadapan dengan pria berwajah beringas ini. “Jelaskan padaku sekarang apa yang sebenarnya terjadi?! Hidupku dipenuhi dengan hal-hal mencengkam. Sudah cukup banyak kesialan menimpaku aku berharap tidak akan pernah terjadi lagi. Namun, tiba-tiba saja dihadapkan dengan ambang kematian!” “Jangan beniat melarikan diri dariku Tuan Benjamin.” "Yaa, nona Rhea." Balasnya. Jemari-jemarinya menyentuh lembut bibir Rhea. Benjamin tampak senang, rasanya semangatnya terpacu. Rhea menatapnya marah. Menunjukkan keseriusan. “Baiklah. Dengarkan aku, nona Rhea, sayangku." "Kau tengah mengandung penerus dari Benjamin Charillo Fuentes seorang pria yang disegani. Infomasi bahwa aku membawa wanita bersamaan dengan penerusku tentu saja sudah didengar beberapa kalangan, membuat beberapa pihak yang bertentangan dan membenciku ingin melenyapkanmu.” jelas Benjamin, dia tampak serius. Rhea sedikit mendorong d**a bidang Benjamin, wajahnya tampak pucat pasi. “Artinya aku akan sering diincar?!” “Selama kau disisiku dan menuruti semua perkataanku kau aman.” ucap Benjamin dengan enteng. Rhea tak bisa menerima kalimat enteng yang baru dilontarkan padanya itu. Rhea tertunduk prustasi “Mengapa aku harus berada disituasi mencekam denganmu!!” gumamnya lirih. Rhea mencengkeram perutnya. Kepalanya berdenyut hebat, dia tidak membayangkan situasinya menjadi lebih buruk. Benjamin tak mengira kalimatnya membuat Rhea terkejut seperti ini. Dia pikir dengan menunjukkan bahwa dia aman bersamanya akan dipandang sebagai pria gentle. Dan dia pikir dimata Rhea dia akan terlihat hebat dengan kuasanya. “Cih! Sialan. Harusnya aku tak mengatakan kalimat yang membuatnya takut.” Benjamin tak tahu bagaimana cara menenangkan Rhea sekarang. Dia mencoba mendekat, namun tiba-tiba Rhea mendongak kearahnya menatapnya tajam. Rhea terbata dengan berisi kecemasan. “Tu-nggu, mengapa kau ditakuti?” “Kau tak perlu memirkan hal tak penting.” ucap Benjamin. “Tak penting?! Aku harus tau, ini menyangkut hidupku!!” jawab lantang Rhea. Benjamin bangkit dari duduk. “Istirahatlah.” suruhnya tanpa berniat menjelaskan. Rhea mengeratkan giginya dan lagi pria ini bersikap seenaknya. Drt… drt… Ponsel Benjamin berdering. Menambah kesan kacau pada kondisi mereka. Benjamin mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian perhatian Benjamin teralih ke layar ponselnya. Tertera ‘Charles’. Setelah melihat sepintas nama dilayar ponselnya, dia bergegas meraih jaket hitam yang tampak tebal, lantas menggenakannya. “Tidakkah kau harus bertanggung jawab dan jangan melarikan diri!!” pekik Rhea lantang, dia butuh jawaban bukan pelarian diri. Benjamin terdiam sejenak, dia tengah tenggelam dengan pikirannya. “Jika Rhea tau bahwa dirinya pemimpin dari Mafia Oleander yang memiliki pergerakan rahasia dan mematikan. Jelas dia akan lebih terguncang. Perseteruan dengan organisasi lain hal yang sering terjadi. Penyerangan secara tiba-tiba tak bisa terelakan, dan itu sulit dihindari.” “Kau memintaku untuk percaya. Maka mulailah dari dirimu!!” ucap lirih Rhea, dia tampak berusaha terlihat tenang dan menutupi kekacauan yang memenuhinya. “Bersikaplah dengan tenang!” sentak Benjamin melirik Rhea tajam. Rhea terkejut, kemudian dia memalingkan wajah dengan ekspresi kecewa. Rhea sempat berpikir mungkin Benjamin pria yang sungguh memiliki rasa padanya, tindakan, dan sikapnya cukup menyakinkan. Namun, hari ini dia membantah lagi pikiran yang sempat terbesit itu. Lengang. Situasi menjadi senyap dengan dua orang yang merenggang. Rhea mengepal kuat jemarinya dan memilih menutup rapat mulutnya, emosinya bisa saja membuat Benjamin lebih naik pitam. Bagaimana jika dia tiba-tiba kehilangan kendali dan memukulnya. Dia belum mengenal pasti pria ini. Pria yang tak bisa disangka-sangka tindakannya. Terkadang lembut namun terkadang tegas dengan tatapan tajam berapi yang mengerikan. Disini siapa yang akan menyelamatkan dirinya jika pria bengis ini tiba-tiba mengamuk? “Harusnya aku tak lengah dengan sikap lembutnya, dia hanya menginginkan anaknya.” Benak Rhea mencengkeram erat roknya. Ditengah kegusaran hati Rhea, dia dikejutkan dengan Benjamin yang tiba-tiba mengecup keningnya. “Aku memiliki urusan. Jangan memikirkan hal tak penting yang menguras tenaga mu.” Benjamin lantas melengang pergi. Rhea membeku, lalu menyentuh pelan dahinya. Air mata yang berusaha dia tahan, menetes begitu saja. “Kau yang menguras pikiranku! kau pria yang bahkan tak menyadari letak kesalahanmu.” gumamnya dengan pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD