“Siapa pun, tolong!!!”
Teriakan yang menggema dari dalam rumah membuat perhatian kedua insan yang tengah bersitegang itu teralihkan seketika. Dengan jantung yang sama-sama berdebar keras, mereka melirik satu sama lain, sebelum akhirnya berlari kocar-kacir ke arah sumber suara.
“Arini! Bangun, Nak!!!” teriak wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah Ema. Ibu kandung Kinara dan Arini.
“Kak Arini kenapa, Ma?” tanya Kinara panik setibanya di dalam rumah. “Kak Arini! Bangun, Kak!” panggilnya sembari menggerak-gerakkan tubuh Arini yang telah tak sadarkan diri.
“Kita ke rumah sakit sekarang!” ujar Rayhan cepat. Kemudian bergegas mengangkat tubuh Arini ke dalam mobil.
“Ayo, Bu!” ajak Rayhan. Dia memberi isyarat kepada Ema agar dapat memangku kepala Arini di kursi penumpang bagian belakang.
Kinara ingin ikut. Dia sudah akan naik ke dalam mobil saat itu, tetapi aksinya dihentikan oleh sang mama. “Nara, kamu jaga rumah ya, Nak.”
“Tapi, Ma. Nara juga mau ikut. Nara mau temani Kakak,” tolak Kinara dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk.
“Kamu tunggu di rumah aja, ya. Takutnya ada sesuatu yang diperlukan. Nanti malah repot kalau harus bolak-balik,” balas Ema memberi pengertian.
Mendengar hal itu, meski merasa sedikit kecewa, tetapi Kinara tak dapat berbuat apa-apa selain mengangguk pasrah. “Ya sudah, Mama hati-hati, ya. Tolong kabari Nara terus ya, Ma,” pintanya lirih.
“Kak Arini, semoga kakak baik-baik aja,” lirih Kinara sembari mengusap air mata.
Kinara baru berniat masuk ke dalam rumah saat itu. Namun, belum sempat benar-benar masuk, langkahnya sudah lebih dulu terhenti karena sesuatu.
“Ya Allah ….” Wanita itu meringis pelan sembari memegang sudut mata kirinya yang mendadak berkedut hebat. “Semoga enggak ada hal buruk yang terjadi.”
Waktu terus berjalan. Terhitung Sudah lima jam, sejak ia ditinggalkan sendiri di rumah ini oleh ibu, kakaknya dan juga Rayhan.
Dalam waktu lima jam ini, tak sedetikpun, pikiran Kinara beralih dari Arini. Apa lagi, hingga saat ini tak ada seorang pun, yang memberinya kabar tentang keadaan sang kakak.
Beruntung, tak lama setelah itu teleponnya berdering. Menampilakan nama seseorang yang di akhir hurufnya terdapat symbol hati.
“Halo? Gimana keadaan kakak saya, Pak?” tanya Kinara to the point. Untuk sejenak, wanita itu mencoba mengesampingkan egonya.
“Bayinya sudah lahir. Laki-laki. Sekarang sudah dibawa ke ruang bayi dan ditangani di sana, karena tadi sempat terminum air ketuban.”
Kinara terdiam sejenak. Dia takut terjadi sesuatu pada keponakannya.
“T-tapi dia enggak apa-apa ‘kan, Pak? Terus Kakak saya gimana?” tanyanya bertubi-tubi. Jelas ada kepanikan yang tergambar jelas dalam nada bicara wanita itu. Sayup-sayup, bahkan terdengar isak tangis di sela-sela perkataannya.
“In Syaa Allah. Kita doakan saja yang terbaik. Tentang Arini, dia—”
Lagi. Untuk kedua kalinya, jantung Kinara dibuat berdetak keras. Entah kenapa, firasatnya benar-benar tak enak. Dia takut. Benar-benar takut kalau sampai terjadi sesuatu pada sang kakak.
“Kak Arini enggak apa-apa ‘kan, Pak?” tanya Kinara dengan suara yang sudah sangat parau.
“Arini sedang ditangani di ruang ICU. Tadi dia sempat kejang setelah melakukan operasi. Kita doakan saja, semoga dia bisa melewati masa-masa kritisnya.”
Hancur! Hati Kinara benar-benar hancur saat kalimat demi kalimat itu menyapa Indera pendengarannya. Arini kakaknya, wanita yang beberapa jam lalu masih memeluk dan menasihatinya, kini tengah berjuang melewati masa kritis? Apa ini? Kenapa bisa seperti ini?
“Kinara,” panggil Rayhan dari balik sambungan telepon. Namun, tak direspons oleh Kinara.
“Halo? Kinara? Kamu masih di sana?”
“I-iya, Pak,” jawab Kinara pelan. “S-saya mau ke sana. Boleh, ‘kan? Saya mau lihat kakak saya,” lanjutnya.
“Tentu saja. Saya memang mau menyuruh kamu ke sini. Sekalian, tolong bawa keperluan bayi yang sudah kakak kamu siapkan. Bawa juga keperluan Ibumu.”
“Iya, Pak."
“Kamu bisa berangkat sendiri? Atau perlu saya kirim supir ke sana?” tanya Rayhan khawatir.
Jika dulu, mungkin Kinara akan langsung salah tingkah mendapat perhatian seperti ini. Namun, sekarang …, ah, hatinya sudah mati rasa.
“Enggak perlu, saya bisa sendiri.”
“Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”
Setelah mengatakan hal itu, Rayhan memutuskan panggilan. Kinara yang menyadarinya pun, langsung bergegas menyiapkan barang-barang yang harus dibawa, kemudian berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ke atas motor maticnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Kinara sampai di rumah sakit. Tempat di mana kakaknya dirawat.
Tanpa berlama-lama, ia membawa semua barang-barang ke ruangan yang diberitahukan Rayhan melalui pesan w******p.
“Mama!” panggil Kinara saat melihat siluet sang mama dari kejauhan. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar yang tertuju ke arahnya.
“Kak Arini baik-baik aja ‘kan, Ma?” tanya Kinara langsung setibanya di hadapan sang mama yang tengah berdiri cemas di depan ruang ICU.
“Kita doakan yang terbaik ya, Nak,” jawab Ema sembari memeluk tubuh sang putri yang tampak bergetar hebat.
“Nara takut, Ma. Nara takut Kak Arini kenapa-kenapa,” aku Kinara jujur.
Sungguh! Kinara sama sekali tak bisa memobohongi dirinya. Sejak mengetahui fakta bahwa Arini tengah kritis, pikiran-pikiran buruk terus saja menghantuinya. Dia takut Arini meninggalkan mereka.
“Doakan kakakmu terus ya, Nak. Semoga dia bisa melewati masa kritisnya,” ujar Ema yang mulai ikut menangis.
Rayhan yang berada di sana, tak bisa tak terenyuh melihat tangisan sepasang ibu dan anak itu. Hatinya ikut sakit menyaksikan hal tersebut. Dia juga turut merasa bersalah, karena secara tak langsung menjadi penyebab di balik peristiwa ini.
“Keluarga Nyonya Arini!” panggil seseorang yang baru saja keluar dari ruang ICU. Benar, yang keluar adalah dokter dan seorang perawat.
“Kami keluarganya!” jawab Kinara, Ema dan Rayhan secara bersamaan.
“Bagaimana keadaannya?”
“Maaf, Pasien ….”
***
“Kakak.”
Setelah cukup lama terdiam sembari melihat keadaan Arini dari kejauhan, akhirnya Kinara memberanikan diri menghampiri wanita itu.
Dia dengan terang-terangan menangis. Membiarkan Arini melihat kesedihannya.
“Kakak kenapa?” tanya Kinara di tengah-tengah isak tangisnya.
Kinara tahu, ini adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ada. Namun, sungguh! Dia benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa di hadapan kakaknya yang tengah terbaring lemah, tak berdaya.
Hatinya benar-benar sakit, apalagi saat melihat berbagai macam alat medis yang ia sendiri tak tahu apa namanya, ditempelkan di hampir sekujur tubuh sang kakak.
“Kakak kenapa bisa begini?” tanya Kinara lagi. Kali sembari mendudukkan diri pada kursi yang terdapat di samping ranjang kakaknya.
“K-kakak haus, Dek, tolong ambilkan Kakak air,” keluh Arini pelan. Sangat pelan, hingga nyaris menyerupai sebuah bisikan.
Namun, bukannya merespons, Kinara justru menangis pilu di tempat duduknya. Dia merasa bersalah karena tak bisa memenuhi permintaan Arini. “Maafin, Nara, Kak,” lirihnya.
“Kata dokter, Kakak belum boleh minum. Jadi, sabar dulu, ya,” ujar Kinara memberi pengertian.
“Sedikit aja, Dek. Kakak haus banget.” Arini mulai memohon.
“Tapi, Kak--” Kinara mulai meringis, dia benar-benar bingung harus melakukan apa. “Nara tanya perawat dulu, ya,” lanjutnya. Berniat meminta izin pada perawat agar dapat memberikan air kepada kakaknya.
Baru saja Kinara ingin bangkit dari duduknya, tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditahan oleh Arini. “Dek.”
“Iya, Kak?”
“Kakak mau bicara,” ujar Arini pelan.
“Kakak mau bicara apa?” tanya Kinara penuh perhatian. Namun, masih diiringi dengan tangisan.
“Jangan nangis,” ujar Arini dengan napas yang mulai terengah-engah. Tangan lemahnya berusaha meraih pipi sang adik yang telah basah akibat air mata.
Sadar akan isyarat yang diberikan oleh Arini, membuat Kinara spontan memajukan wajah. Membiarkan sang kakak menyentuh pipinya.
“Kakak enggak apa-apa. Jangan nangis lagi, ya,” ujar Arini menenangkan.
Kinara mengangguk kecil. Mengiyakan permintaan sang kakak, meski pada kenyataannya, tangisannya tak kunjung dapat mereda.
Apalagi saat melihat kakaknya yang terus-terusan berusaha melepaskan masker oksigen.
“Jangan dibuka, Kak,” cicit Kinara sambil berusaha membenarkan masker oksigen kakaknya yang tak bisa lagi tersangkut di daun telinga. Saking lemahnya daun telinga wanita itu.
“D-dek." Arini menatap adiknya dengan tatapan yang sangat sayu.
“Iya Kak?”
“Kenapa enggak pernah bilang kalau orang yang kamu suka itu Mas Aska?”
-Bersambung-