Tubuh Kinara menegang. Rasanya, jantungnya seperti dipaksa berhenti berdetak saat itu juga, ketika mendengar pernyataan kakaknya.
‘Apa mungkin Arini mendengar percakapannya dengan Rayhan tadi sore?’ Pertanyaan ini terus berputar di kepala Kinara. Membuat wanita itu jadi semakin merasa bersalah pada kakaknya.
“Nara enggak—” Belum sempat Kinara menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja Arini kembali berbicara.
“Maafin Kakak ya, Dek. Kalau b-bukan karena Kakak, kamu pasti enggak akan menderita begini.”
“Enggak, Kak. Ini bukan salah Kakak. Nara yang salah. Selama ini Nara terlalu memikirkan diri sendiri. Nara—”
“Tolong jaga anak Kakak, ya.”
“Kak Arini bicara apa, sih?” protes Kinara dengan tangis yang kembali pecah. Hatinya sakit. Dia jadi semakin takut.
"Namanya Alif. Tolong jaga dan perlakukan dia, seperti anak kamu sendiri ya, Dek.”
“J-jangan berikan dia ke orang lain. Ka-kak. C-cuma per-caya s-sama k-kamu.”
“Kak Arini! Kakak enggak boleh bicara begini! Nara enggak suka!” protes Kinara lagi. Kali ini sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.
Tidak! Kinara tak ingin seperti ini. Dia tak ingin kakaknya berbicara seolah-olah akan pergi meninggalkan mereka. Kinara tidak mau. Sungguh!
“Kakak pasti sembuh! Kakak harus jaga anak Kakak sendiri! Kakak harus hidup bahagia sama Alif!” tegas Kinara di sela-sela isak tangisnya.
Namun, bukannya mengiyakan, Arini justru mengulas sebuah senyum tipis, sebelum akhirnya memejamkan mata secara perlahan-lahan.
Tubuh Kinara nyaris ambruk saat menyadari hal itu. Pikirannya mulai berkelana kemana-mana. Apalagi saat mendengar suara alat pendeteksi detak jantung yang semakin lama terdengar semakin tak beraturan.
“D-dokterrr!!! T-tolong, D-dok!!!” teriak Kinara panik.
“K-kak Arini!” panggilnya pada sang kakak yang tak lagi memberikan respons.
“Kakak!!!” teriak Kinara yang mulai lepas kendali. Dia menangis meraung-raung di samping ranjang rawat kakaknya.
Tak berlangsung lama setelah itu, para dokter dan perawat datang dengan tergesa-gesa. Mereka mengambil posisi. Bersiap mengambil tindakan.
“Tolong tunggu di luar dulu. Kami harus mengambil tindakan,” ujar salah seorang perawat. Namun, tak diindahkan oleh Kinara.
Selain tak mau, ia juga tak sanggup berdiri. Lututnya lemas. Ia sama sekali tak memiliki tenaga.
“T-tolong s-selamatkan K-kakak saya, Dok, hiks!”
“K-kakak …, hiksss!!!”
“Tolong kerjasamanya, Mbak.”
“Kinara, ayo.” Rayhan yang entah datang dari mana berusaha membujuk Kinara sembari memapah kedua pundak wanita itu.
“E-enggak. S-saya mau di sini, Pak. K-ak Arini, hiks! K-kakak!”
“Biarkan dokter bekerja, Kinara. Kita tunggu di luar, ya."
Setelahnya, tanpa menunggu persetujuan Kinara lagi, Rayhan menggendong tubuh wanita itu. Membawanya keluar dari ruang ICU.
***
“Mau ke mana?” Rayhan menahan pergelangan tangan Kinara, saat melihat gelagat aneh wanita itu.
Namun, alih-alih menjawab, Kinara justru menyentakkan tangan. Membuat pegangannya terlepas begitu saja.
“Bukan urusan Bapak!” jawab Kinara ketus. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Rayhan yang tak lagi berusaha menahannya.
“Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, pasien ini memiliki riwayat preeclampsia pada kehamilannya. Yang di mana, apabila terjadi kejang sebelum, saat atau setelah melakukan operasi, maka penyakit tersebut akan berkembang menjadi Eclampsia.”
“Ada banyak factor yang bisa menyebabkan hal tersebut terjadi. Salah satunya adalah tensi pasien yang terbilang sangat tinggi menjelang kelahiran.”
Perkataan dokter beberapa jam lalu terus terngiang di telinga Kinara. Mengingat hal itu, membuat air matanya kembali mengalir. Demi Tuhan, dia tak menyangka kalau keadaannya akan separah ini.
“Kenapa? Kenapa harus Kak Arini yang mengalami semua ini? Kenapa bukan hamba, Ya Allah?” Kinara menghentikan langkah. Dia menatap langit. Berharap akan mendapat jawaban dari sang pencipta.
“Tolong, Ya Allah. Tolong selamatkan kakak hamba. Tolong sembuhkan penyakitnya. Kalau perlu, ambil hamba sebagai gantinya. Hamba Ikhlas, Ya Allah,” pinta Kinara penuh harap. “Setidaknya, tidak akan ada orang yang tersakiti jika hamba yang pergi,” lanjutnya dengan nada yang serat akan keputusasaan.
Kinara benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa. Dia benar-benar kehilangan arah. Bagaimana tidak, pasalnya hidupnya yang damai, diporak-porandakan dalam waktu tak lebih dari dua puluh empat jam.
“Siapa bilang tidak ada?”
“Ngapain Bapak di sini?” Buru-buru Kinara mengusap kedua pipinya saat meyadari kehadiran seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Rayhan.
“Saya khawatir sama kamu. Makanya datang ke sini.”
“Heh!” Kinara mendengus sebal. “Ternyata selain b******k, Bapak juga pintar berbohong, ya,” ujarnya sebelum melengos. Meninggalkan Rayhan yang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala, saking tak habis pikirnya dengan adik dari calon istrinya itu.
“Kinara, tunggu!” panggil Rayhan sambil mengejar langkah wanita itu. “Ayo ikut saya sebentar. Ada yang perlu saya bicarakan sama kamu,” lanjutnya.
Namun, bukannya menurut, Kinara justru mempercepat langkah. Seolah menunjukkan bahwa dia sama sekali tak berniat bicara dengan dosennya itu.
“Kinara! Ayo bicara dulu Saya tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita.”
“Kinara, tunggu!” Kesal karena tak kunjung digubris, membuat Rayhan memblokade jalan Kinara. Dia menghalangi wanita itu agar tak bisa pergi ke mana pun.
“Apa sih, Pak?” protes Kinara sambil menatap nyalang ke arah Rayhan. Dadanya naik turun, dia kesal.
“Kamu yang kenapa? Sudah saya bilang dari tadi, kalau kita perlu bicara!” balas Rayhan tak mau kalah. Sama seperti Kinara, dia pun, tampak mulai kesal.
Tak langsung menyahut, Kinara justru membuang napas kasar. Dia menatap Rayhan dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Kemudian menggeser sedikit tubuhnya ke kanan. Berniat pergi, sebelum sebuah tangan kembali menahan pergelangan tangannya.
“Lepas!” titah Kinara pelan, tapi penuh dengan penekanan.
“Tidak, sebelum kamu mau bicara sama saya.”
“Lepas atau saya teriak?” sahut Kinara mengancam.
“Coba saja teriak. Saya mau lihat, seberapa kencang teriakan—”
“Tolong!”
***
Matahari bersinar cerah pagi itu. Namun, cerahnya sinar mentari, tak cukup untuk menghangatkan hati Kinara dan sang mama yang masih saja dihantui dengan rasa takut akan kehilangan.
Bagaimana tidak, pasalnya keadaan Arini semakin lama semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap waktu, ada saja masalah pada organ tubuhnya yang diindikasi mengalami komplikasi. Percaya tak percaya, bahkan dokter pun, mulai kualahan.
“Ya Allah ….”
Kinara yang sedari tadi hanya sibuk menunduk sembari menahan isak tangis, sontak mengangkat kepalanya saat mendengar ringisan sang mama.
“Mama,” panggil Kinara sembari memeluk tubuh mamanya dari samping.
“Kalau memang mengambil Kakak kamu adalah jalan terbaik menurut Allah, In Syaa Allah, Mama Ikhlas, Nak.”
Hancur. Hati Kinara benar-benar hancur saat mendengar kalimat yang teramat-sangat menyayat hati itu. Dia menangis sejadi-jadinya sambil mengeratkan pelukan di tubuh sang mama.
“Kak Arini pasti sembuh, Ma. Kakak pasti bisa melewati masa kritisnya,” lirih Kinara di sela-sela isak tangis. “Kakak harus ketemu Alif, mereka harus hidup bahagia, hiks!” lanjutnya.
“Mama enggak tega lihat Arini menderita begini. Dia pasti kesakitan. Ada berapa banyak obat yang sudah dimasukkan ke badannya? Ada berapa banyak jarum suntik yang ditusukkan ke badannya? Semua sudah enggak terhitung, tapi apa? Keadaannya masih sama. Bahkan semakin lama semakin mengkhawatirkan,” jelas Ema panjang lebar.
Tidak, Ema bukannya tak ingin putrinya sembuh. Demi Allah, dibanding siapa pun, dialah yang paling menginginkan hal itu. Hanya saja, ia juga tak sanggup jika harus melihat putrinya menderita seperti ini. Hatinya sakit. Rasanya bagai ditusuk-tusuk menggunakan pedang yang sangat tajam.
“Demi Allah, Mama ingin Arini sembuh, tapi kalau memang Allah lebih sayang pada Arini, meskipun berat, In Syaa Allah Mama Ikhlas. Mama Ikhlas, selama hal itu bisa meringankan sakit yang kakak kamu rasakan.”
Seolah menjawab doa seorang Ibu. Tepat setelah kalimat yang berisi keputusasaan itu keluar dari mulut Ema, di menit itu juga, suara gaduh terdengar dari dalam ruang ICU.
Ema dan Kinara tak lagi panik seperti biasanya. Kali ini, mereka hanya duduk sembari berpelukan dengan erat sambil berlinangan air mata. Mereka tahu, apa yang terjadi di dalam. Keadaan Arini kembali drop.
“Keluarga Ny. Arini.” Seorang perawat keluar dari dalam ruang ICU tak lama setelahnya. Raut wajahnya tampak pias, tetapi masih berusaha mengulas senyum tipis.
“Mari masuk, Bu, Mbak,” ajaknya dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk.
Ema mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. “Baik, Sus,” ujarnya. “Ayo, Nak,” ajaknya pada Kinara.
Kinara tak langsung mengiyakan. Untuk beberapa saat, dia hanya menangis dengan kencang di kursi tunggu.
‘Tuhan, kenapa Engkau sekejam ini?’