Chapter 14 - Stranger

1249 Words
Maddie bersandar di batu besar yang terletak di halaman berumput samping penginapan. Malam itu, langit tampak begitu bersih dan ia baru menyadari bahwa taburan bintang di pinggir hutan memang selalu lebih indah, dibandingkan dengan perkotaan. Jika mengingat salah satu kisah putri Disney, seharusnya pada pukul satu dini hari Cinderella sudah kembali pulang. Namun, karena Maddie bukan Cinderella maka ia memilih untuk bertahan di sini—seorang diri—sejak satu jam yang lalu. Well, Maddie sebenarnya tidak bisa tidur dan mengamati bintang-bintang, adalah pilihan yang menyenangkan. Lagipula Alma serta Shone juga pasti sudah terlelap, jadi mana mungkin Maddie mengganggu jam tidur mereka. Sedangkan Aaron ... mengingatnya saja sudah membuat kepala Maddie pusing, karena saat mereka sampai pemuda itu langsung bersikap sok kuat, padahal wajahnya pucat. Bahkan sempat mengancam Shone agar menjaga jarak dengan Maddie, lalu mereka hampir berkelahi. Jadi jika mengingat hal itu, secara mendadak Maddie terserang sakit kepala. Pasalnya Maddie benci drama high school dan dia enggan untuk terlibat. Namun, seperti gadis pada umumnya, Maddie ingin menikmati saat-saat seperti ini bersama seseorang yang dia cintai. Maddie pernah bilang, bahwa dia suka melihat bintang sambil berbaring di padang rumput Maddie mengarhkan jemari ke udara, seolah bisa menyentuh bintang-bintang tersebut dan berkata, "Suatu saat nanti, pasti akan berdua atau bertiga, berempat, berlima." Sejenak, saat melihat bintang-bintang itu, kekesalan dan rasa lelah merayap menjauh meninggalkan Maddie. Suara jangkrik di dalam hutan buatan, dekat penginapan—tempat mereka melakukan aktivitas outbond tadi siang—ternyata juga menjadi sensasi tersendiri di telinga Maddie. It's like nature song. Pikir Maddie. Maddie memejamkan mata, sekadar menikmati nyanyian jangkrik dan para kodok yang sudah seperti harmonisasi orkestra di telinganya. Namun, seketika indra pendengarannya juga menangkap suara lain. Percayalah ini bukan makhluk astral atau semacamnya, tetapi jelas suara manusia dan Maddie merasa tidak asing dengan suara itu. Jadi Maddie lebih baik diam dan menguping .... ... dalam keadaan terpaksa harus berbuat demikian. "Menguping bukan hobiku, tapi ...." Maddie menggantungkan kalimatnya, sambil perlahan mengubah posisi sekadar menempelkan telinga di permukaan batu. "Akan kubayar kalian setelah menyelesaikannya." "Setidaknya beri uang muka dan kami akan melakukannya." "Hei, kalian pikir aku bodoh! Kakakku itu ketua geng dan aku tahu pikiran licik kalian." "Kalau begitu kenapa tidak minta bantuan kakakmu saja, b******k?" "Hei, hei, jangan bertengkar di tempat ini, Dexter. Kau masih dalam masa tahanan rumah, 'kan?" "Dan aku bisa membatalkan gugatanku, jika kalian membantuku." "Ini terdengar seperti rencana buruk, tapi untuk siapa?" bisik Maddie, masih di balik batu dan semakin menajamkan pendengarannya. Maddie mencoba mengintip, tetapi tidak bisa melihat dengan jelas siapa mereka. ... dan satu-satunya yang diketahui Maddie hanyalah, mereka terdiri dari lima orang. "Sepertinya dia yang mengundang mereka ke sini?" Maddie bermonolog dengan nada berbisik, saat melihat salah seorang yang memiliki postur tubuh paling berbeda. Tanpa sadar, Maddie bahkan mencoba merayap ke atas batu demi melihat wajah masing-masing di antara mereka, sekaligus menuntaskan rasa penasarannya. Yeah, kali ini Maddie sungguh penasaran dengan topik pembicaraan mereka, hingga akhirnya secara tiba-tiba pupil mata Maddie melebar. "s**l!" bisik Maddie. Suasana menjadi semakin hening dan dipenuhi dengan suara binatang malam di telinga Maddie. Bukan karena ia ketahuan sedang menguping, tetapi karena tahu apa pembahasan mereka. Dan itu buruk sekali. Maddie jadi ingin segera mencegahnya, meski tahu jumlah lawannya tak seimbang. Maksudnya Maddie pasti akan menang jika dia berada di sebuah film action. Namun, ini bukan film action, ini kenyataan. Shit! pikir Maddie, sambil mencari apa saja yang bisa dia gunakan sebagai s*****a. Namun, Maddie tersadar, ini halaman berumput yang terawat jadi tidak mungkin ada kayu atau batu di sekitarnya. Maddie semakin khawatir, pasalnya semua orang di sini pasti sudah tertidur pulas atau jika ada aktivitas illegal, mereka pasti telah mabuk dan itu buruk sekali. "Cukup buat dia sekarat, tapi belum mati. Biar aku yang melakukannya." Dan lagi-lagi mata Maddie melebar. s**l! Apa akan ada peristiwa percobaan pembunuhan malam ini? "Hei, kalian berurusan dengan kelompok yang salah, Tuan!" seru Maddie, sambil berjalan menampakkan diri lalu bersandar di depan batu besar. "Entah siapa yang kalian targetkan, tapi mereka ada di daerah kekuasaanku." Salah seorang lelaki yang tadi dipanggil Dexter memutar tubuh menghadap Maddie. "Daerah kekuasaan, katamu? Ck, lucu juga. Aku pikir kelompok Knuckle masih dipimpin oleh si b******k itu." Dia—Dexter, tersenyum miring dan sekarang Maddie bisa melihat mereka dengan jelas. Kecuali dua orang yang entah bagaimana sudah menghilang begitu saja. "Ck, s**l! Jadi dua anggotamu sudah kabur duluan. Pengecut!" maki Maddie. Namun, seketika beberapa detik sebelum Maddie ingin melanjutkan ucapannya, sesuatu yang tajam menggores pinggangnya. Maddie refleks terkejut dan seketika, aroma besi berhasil mendominasi indra penciumannya. "See? Berurusan dengan kelompok yang salah, katamu? Kau bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri." Dexter menyeringai, selayak seorang psikopat. "F*&k, hanya karena satu goresan bukan berarti tidak bisa menjaga diri." Meski Maddie merasa perih di bagian perutnya, gadis itu kini tetap memasang kuda-kuda dan bersikap siaga. "Haruskah aku membuatmu babak belur atau—" "Aku yang akan melakukannya terlebih dahulu, i***t. Persetan dengan pengeroyokan, karena kau berurusan dengan kelompok yang salah." "b******k!" maki Dexter yang dengan kasar langsung mengeluarkan pisau lipatnya dan berlari ke arah Maddie. Tidak hanya Dexter, bahkan pemuda yang baru saja melukai Maddie ikut melakukan p*********n. Sepasang bola mata Maddie pun refleks membulat, pasalnya dia tidak memiliki s*****a dan hanya bermodal tangan kosong. Maddie bahkan hanya mengenakan baju tidur! Ya Tuhan, Maddie mengembuskan napas panjang lalu berlari ke arah orang yang menyerangnya, melayangkan tendangan ke arah tangan kanan pemuda itu. Yeah, pertama dia harus menjauhkan salah satu pisau b******k itu dulu dan jika hal buruk terjadi, mau tidak mau Maddie harus jadi pecundang. *** Di atas kasur, Aaron sedang memainkan bola pingpong dengan melempar ke langit-langit lalu menangkapnya kembali. Ia mulai bosan malam ini dan tidak bisa tidur karena sakau. Berlebihan memang untuk menggunakan kata sakau, tapi Aaron yang melabelinya sendiri, karena tidak bisa melewatkan beer dan rokok meski hanya sehari. Sebenarnya bisa saja dia mengabaikannya, yaitu dengan memanfaatkan kehangatan dari para gadis. Namun, sayang kali ini Aaron hanya ingin Maddie dan dia masih terlalu sangsi bertemu Maddie. Peristiwa mabuk darat itu benar-benar memalukan bagi Aaron dan dia tidak punya wajah untuk terlihat keren di mata Maddie. Pasalnya, bagaimana bisa dia menjadi lebih payah daripada Shone hanya dalam hitungan jam? "Argh! s**l!" maki Aaron, sembari meremas bola pingpong tersebut dan bangkit dari kasurnya. Aaron melangkah mengelilingi kamarnya, mencoba mencari sebatang rokok atau beer di tas Clay dan Jack yang mungkin saja lolos dari razia tadi siang. Akan tetapi, na'as tidak ada satu pun dan teman-temannya juga pasti sudah menginap di kamar gadis-gadis itu. "b******k!" maki Aaron lagi, sembari melempar tas milik Clay ke sembarang arah dan bergegas meninggalkan kamar untuk mencari minuman soda. Sambil mengenakan earphone, Aaron melangkah santai di koridor dan menuruni tangga. Sesekali ia memutar mata, jika telinganya mendengar suara desahan dibuat-buat dari para gadis. Desahan yang mengingatkannya dengan film p***o dan juga para gadisnya. Padahal jujur saja Aaron tahu, mana yang sungguhan dan mana hanya pura-pura. "Sepertinya desahan Maddie lebih seksi," kata Aaron, sambil tersenyum tipis lalu berhenti di depan mesin minuman. Aaron mengembuskan napas. Beberapa hari ini, merasa cukup berbeda karena jika diingat sudah berapa hari dia tidak mencari sangkar untuk si gagak. Sudah berhari-hari sepertinya dan itu sudah masuk rekor, jika Aaron bisa bertahan sampai hari ini. Jadi bisa dibilang Maddie mengubahnya, tapi .... Aaron mengedikan bahu, menampik pemikiran yang tiba-tiba terlintas. "Seperti orang bodoh saja," kata Aaron, sambil membuka kaleng sodanya. Namun, beberapa detik kemudian suara kaleng soda yang terjatuh ke lantai terdengar, seiring dengan dentuman keras yang menabrak mesin minuman. Aaron mengerang pelan dan sosok di belakangnya menyeringai jahat. "Lama tidak bertemu, Knuckle."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD