Chapter 13 - Intoxicated

1176 Words
Andai masih ada kursi penumpang yang kosong atau si nerdy-Josh-mau bertukar tempat duduk, mungkin Maddie tidak akan berada di samping Aaron sepanjang perjalanan, selama tiga jam ke depan. Sebenarnya tidak ada hal aneh yang terjadi antara Aaron dan Maddie selama perjalanan. Namun, di awal perjalanan Aaron selalu sukses membuat Maddie kesal. Pertama, saat bis belum dijalankan, Maddie memang menyempatkan diri untuk mengganti perban di tangan Aaron. Awalnya, Maddie tidak peduli dengan tatapan iri para penggemar, si perak. Toh, dia hanya bertanggung jawab atas tindakannya beberapa hari lalu. Namun, pada akhirnya hal itu malah berakhir menjengkelkan. Pasalnya Aaron selalu menatap Maddie secara intens, sedangkan Maddie tidak suka diperlakukan demikian. Jadi tentu saja perkelahian kecil juga tidak bisa dihindari di antara keduanya. Aaron bahkan mendapat bonus pukulan di bagian kepalanya dan Maddie mendapat benturan kening dari Aaron. Hal itu memang terlihat romantis jika berada di sereal drama, tapi tidak bagi mereka berdua. Bagi Aaron itu menyenangkan, agar Maddie memerhatikannya. Dan bagi Maddie, ia ingin sekali melempar Aaron ke lubang hitam sekarang juga. Well, kembali ke pembahasan awal. Kedua, Aaron selalu menggoda Maddie, melakukan tindakan berlebihan saat bis berada di tikungan, demi mencuri satu ciuman. Err ... sebenarnya tidak juga, sih, tetapi ini menyenangkan sebagai pengalihan, dari satu kekhawatiran Aaron setiap kali berada di bis. Well, Aaron tidak suka bis. Maka dari itu, meski sejak awal Aaron telah mengetahui, bahwa Maddie tidak akan suka, ia akan tetap melakukannya sebagai pengalihan. Aaron memang egois dan tidak mau terlihat seperti pecundang di depan siapa pun, jadi selama Aaron mengganggu Maddie, gadis itu lebih memilih untuk memasang tirai pembatas, dengan menggunakan jaket. Tapi Aaron malah tertawa. Baginya itu lucu dan bagi Maddie itu menakutkan. Maddie tidak suka disentuh dan sepertinya Aaron masih belum mengerti tentang hal itu. ... atau pura-pura tidak mengerti. Entahlah, tidak ada yang tahu tentang isi pikiran manusia, bukan? ... dan ketiga sampai sekarang, saat mereka benar-benar tenang di kursi penumpang, Maddie tidak menyangka Aaron malah tertidur di pundaknya. Hal paling menenangkan, sekaligus membuat Maddie risi setelah berada di dalam bis selama satu jam. Itu artinya masih ada dua jam tersisa yang harus dilewati Maddie dalam keadaan seperti ini. Melelahkan sekaligus menyebalkan. Melelahkan karena pundak Maddie akan menjadi pegal dan menyebalkan, karena dia juga ingin tidur atau setidaknya menikmati perjalanan. Tidak. Maddie tidak akan pasrah karena jika dibiarkan semakin lama, mungkin nanti bisa saja tangan Aaron menjalar ke mana-mana. Entah sejak kapan, Maddie selalu berpikir bahwa Aaron pasti akan mencuri kesempatan untuk menyentuhnya. Namun, itu 'kan bukan sekadar dugaan karena kenyataannya, sekarang Aaron dengan enteng meletakkan kepala di bahu Maddie. Hal kecil yang nantinya pasti akan menjadi besar. Dengan alasan tertidur, bisa saja Aaron menyentuh bagian pribadinya. Jadi Maddie harus waspada dan dia tidak menerima ejekan dari si perak s****n itu. "Lihat saja, apa masih bisa pura-pura tidur setelah aku melakukan ini?" Maddie tersenyum miring, sambil melirik ke arah Aaron yang mungkin sedang pura-pura tidur. Napas Aaron hangat. Pikir Maddie tiba-tiba, tetapi segera ia menggelengkan kepala cepat-cepat. Bukan waktunya berpikir aneh, lagi pula bukankah Maddie ingin mengganggu Aaron? Maddie bersenandung pelan, sambil mengambil ipod di saku jaket dan mengganti lagunya. Rencana Maddie sebenarnya simpel, yaitu cukup menggerak-gerakan bahu—menari di atas kursi, seolah sedang mendengarkan musik bernada lincah. Padahal Maddie sedang mendengarkan lagu The Story Of Us-nya Taylor Swift dan itu tidak selincah demikian. "Kau tidak bisa diam, ya?" bisik Aaron dari pundak Maddie. Mata si perak tampan itu rupanya masih terpejam, seiring Maddie yang tiba-tiba menghentikan gerakan karena ditegur. "Aku tidak dengar." Maddie kembali melakukan gerakan absurd, sambil membiarkan musik bergema melalui eraphone-nya. "Babe, bisakah kau tenang dan hentikan tarian e****s s****n itu?" Aaron semakin terdengar lemah. Namun, Maddie masih tak peduli. "Next chapter," cetus Maddie mengikuti lirik lagu Taylor Swift. "Maka pindah dari bahuku. Kau buta? Aku tidak pernah melakukan tarian e****s, i***t!" "Barusan kau melakukannya, Babe." Suara Aaron semakin melemah dan Maddie jadi merinding. Suara itu hampir seperti bisikan dan Maddie merasa aneh jika Aaron yang melakukannya. Akan tetapi, seketika suatu pemikiran terlintas di kepala Maddie. "Kau mabuk darat?" tanya Maddie dengan nada prihatin. Aaron mendecih. "s**l! Tentu saja tidak. Kau pikir aku payah?!" Aaron membuka matanya lalu segera bersandar pada sandaran kursi penumpang. Gejolak di perut dan kepala yang rasanya tak nyaman lagi-lagi menyerang Aaron, setiap dia harus masuk ke dalam bis. Dia benci bus. Benda panjang beroda empat ini selalu sukses membuatnya seperti i***t, tetapi segala pengalihan untuk menjauhkan mabuk darat ternyata tak mempan bagi Aaron. Sial! Kenapa dia jadi tidak bisa tidur seperti biasa? Apa karena Maddie. "Berapa lama lagi?" tanya Aaron, sambil menyeka keringat dinginnya. Maddie menoleh dan sebenarnya ia ingin tertawa. Jadi Aaron sungguhan mabuk darat dan sekarang dia berusaha menyembunyikannya, agar tidak menjadi bahan olokan yang lain. Well, meski Maddie tak berniat untuk mengolok, tapi lucu juga melihat preman sekolah mabuk darat. It's like cheesy. Lot of laugh, Maddie harus jadi yang pertama untuk menertawai Aaron. "Satu setengah jam lagi." Maddie memasang tudung hoodie-nya lalu bersandar, sambil memejamkan mata. Telinganya masih terpasang earphone dan tiba-tiba, seseorang mengambil salah satunya. "Babe, I'm dying. So ... don't shake your body and let me sleep on your arms." Aaron berbisik tepat di telinga Maddie, sambil memasang earphone dan kembali berusaha tidur di bahu gadis itu. "Taylor Swift? Kau mendengar ini karena ... oh, jangan katakan kau ingin membuat cerita tentangku juga." "Dalam mimpimu, i***t!" Maddie mendengkus kesal. "Kenapa tidak bilang kalau kau mabuk darat, bodoh?" "Kau itu bodoh, ya?" "Kau bahkan tidak melihat dirimu sendiri." "Mereka akan memandangku konyol." "Dan kau sudah melakukannya," kata Maddie, sambil mengganti playlist musiknya menjadi lagu-lagu dari One Direction. Aaron bergelut. Diam-diam, ia masih berusaha keras mengalihkan sugesti s****n itu. Sedangkan dalam pikiran Maddie, ia malah merutuk, kenapa Aaron jadi semanja ini? Pantas saja dia memaksa untuk duduk bersama. Rupanya sebagai alasan untuk menyembunyikan itu, tetapi .... ... kenapa Maddie jadi sedikit kesal, jika ada gadis lain yang mengetahui kelemahan Aaron? Tidak. Maddie menggeleng keras lalu kembali fokus pada musiknya. Berusaha mengabaikan Aaron yang semakin lama, bernapas bernapas berat. Maddie jadi khawatir, sehingga matanya berkeliaran mencari kantong plastik. Namun, yang ada dia malah bertanya hal konyol. "Kau melakukan hal ini dengan gadis lain juga, 'kan?" tuduh Maddie yang entah bagaimana, malah terdengar seperti gadis yang jealous. Aaron tersenyum, meski wajahnya memucat. "Kau cemburu, Babe?" "Percaya diri sekali!" "No problem, just safe me." "Huh? No way, it's disgusting!" Buru-buru Maddie mendorong kepala Aaron agar segera menjauh. "Aku tidak akan ... damn!" Ipod Maddie terjatuh ke lantai bis, earphone-nya saja nyaris terinjak dan sebelum semua murid di sini mendengar, Maddie buru-buru mengambil kantong plastik untuk Aaron. Aaron memucat. Keringat dingin semakin deras mengucur dan beruntung, Maddie sempat mengeraskan volume musik dari ipod-nya yang sempat terjatuh. So .... ... apa yang diam-diam Aaron khawatirkan terjadi juga. Dan Maddie tidak mengejek atau menertawakan Aaron seperti keinginan awalnya, melainkan malah berbaik hati mengusap pelan punggung Aaron. Sesekali memijat dan Aaron merasa malu di waktu bersamaan. Pasalnya dia jadi terlihat seperti pecundang dalam waktu yang singkat. F*&k. Batin Aaron, sembari mengeluarkan isi perut bekas pesta semalam dan sarapan tadi pagi. Sigh, ini sungguhan konyol. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD