Chapter 12 - Waiting My Sexy Nurse

1718 Words
Lagu Ready For It? dari Taylor Swift bergema cukup keras di kamar Maddie, padahal sekarang masih terlalu pagi untuk membuat keributan. Terlebih hari ini sabtu dan sebagian orang memilih bersembunyi di balik selimut, di pukul enam pagi. Bahkan Nyonya Ave masih terlelap di kamarnya. Well, sebenarnya Maddie sudah terjaga sejak pukul empat subuh dan hal itu terjadi karena Alma selalu menelepon, membangunkan Maddie agar segera bersiap sebelum menjemput Maddie. "Damn, ini terlalu pagi untuk pergi ke sekolah! Bahkan bis akan datang pukul delapan. Kau tahu, Alma? Kita sudah seperti menggantikan tugas penjaga sekolah," keluh Maddie saat menutup resliting koper berisi pakaian, sembari menelepon Alma. "Siapa bilang kita akan ke sekolah se-pagi ini?" tanya Alma melalui speaker handphone. "Aku hanya memintamu bersiap, karena sekarang aku sudah di depan rumahmu." Seketika mata Maddie membulat. Sungguhan Alma sudah di depan rumah? Tapi .... Sial! Pikir Maddie lalu buru-buru keluar dari kamarnya, sembari menggerek koper dan mengambil dua lembar roti tawar di meja makan. Untung saja Maddie tidak perlu membangunkan mom, karena wanita itu sudah mengetahui agendanya selama beberapa hari ke depan. Selain itu, Maddie juga tahu bahwa mom kelelahan dan dalam kondisi kurang fit. Jadi meninggalkan pesan di pintu kulkas tentang kegiatan kepemimpinan sekolah pun sudah cukup. "Sebenarnya apa yang kau rencanakan, heh?" tanya Maddie, sambil memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil Alma. "Kau tahu, kita akan berkumpul jam delapan pagi, 'kan?" "Aku tidak buta dan tuli, Mad." "Lalu? Jika kau melakukan hal aneh aku akan berangkat ke sekolah dengan jalan kaki." "Tidak akan kubiarkan. Masuklah, biar aku yang menyetir. Meski tidak punya SIM, tapi aku mahir mengendarainya," kata Alma, sembari membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya. Maddie pun memilih menurut saja. Lagipula terlalu merepotkan jika berjalan kaki menuju sekolah dengan membawa koper. Pasalnya Maddie suka berlari-lari kecil dan melakukan hal tersebut, sambil membawa koper tentu akan sulit sekali. Di sisi lain, lebih tepatnya di kursi kemudi, Alma malah tertawa pelan karena melihat sikap Maddie yang bukan seperti biasanya. Maddie menguap lebar lalu menutupi kepala dengan tudung hoodie, seolah ingin melanjutkan tidur. Sekali melihatnya saja, Alma memahami bahwa Maddie kurang suka aktivitas di awal pagi.  Akan tetapi, demi pertemanan mereka Alma harus melakukan hal ini karena gadis itu tidak suka keadaan yang terjadi sejak dua hari lalu. Maddie dan Shone terlibat perang dingin, karena tindakan Aaron yang menurut Alma telah memprovokasi mereka berdua. Padahal sebelum kehadiran Aaron di kantin, sambil membawa dua botol s**u, hubungan Maddie dan Shone hampir membaik. ... dan Alma percaya bahwa Aaron hanya berbohong tentang semua perkataannya, tetapi Shone malah memilih untuk tidak percaya dengan ucapan Maddie. So it's like drama high school and Maddie is the main character. "Jadi mau ke mana?" tanya Maddie, ketika Alma sudah menjalankan mobilnya. "Ini bukan jalan menuju sekolah." "Bertemu Shone dan memperbaiki semuanya," jawab Alma, sambil mempercepat laju mobilnya. "Kau bercanda." "Sayangnya tidak, Maddie. Aku sudah bilang, 'kan kalau aku tidak suka situasi ini." Maddie mengembuskan napas, mengambil roti tawar dalam kantong kertas kemudian memakannya. "Shone bahkan lebih terprovokasi dengan ucapan Aaron. Seriously, dia sudah seperti pacarku saja." "Karena dia suka padamu, Maddie. Kau yang bilang bahwa dia menyatakan perasaannya padamu, jadi wajar jika Shone bersikap seperti itu karena kau menolaknya." "Tapi bukan berarti Shone jadi mengabaikanku karena aku melerai perkelahian mereka, 'kan?" Maddie mengubah posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Alma. "Aku melakukan itu karena tahu, Shone akan kalah jika berkelahi dengan Aaron." Fakta yang realistis jika memikirkan pernyataan Maddie, mengenai siapa yang menang saat perkelahian Aaron dan Shone di kantin dua hari lalu. Namun, Maddie sepertinya tidak sadar bahwa Shone melakukan hal itu karena dia juga memiliki alasan. Beruntung, Alma peka akan hal itu jadi hari ini, Alma malah bertugas menjadi mediator untuk mendamaikan mereka berdua. "Alright, katakan alasanmu saat kalian bertemu dan ingat, jangan gunakan emosi atau aku akan melempar wajah kalian dengan sepatuku." Maddie memutar mata, saat Alma menekan klakson, dan menghentikan mobil ketika melihat Shone sedang duduk menunggu mereka di atas pohon tumbang di tepi hutan Lorton Lick Street. ... dan lagi-lagi suasana di antaranya menjadi canggung. Alma benci itu, jadi tanpa menunggu lama Alma langsung menyeret Maddie untuk berhadapan langsung dengan Shone. *** Di depan gerbang Santonius High School, empat bis sudah terparkir rapi dan beberapa di antaranya terlebih dahulu pergi menuju perbukitan tempat pelatihan kepemimpinan. Mereka yang pergi lebih dulu adalah kumpulan anak-anak tepat waktu dan sisanya, adalah anak-anak bermasalah dengan waktu. Jadi selama hampir setengah jam mereka harus mendengar ocehan pengembangan diri yang sangat membosankan. "Oh come on, ini bukan hari kemerdekaan. Kenapa seperti upacara peringatan saja?" Alma mengeluh, sembari mengikat rambut menjadi kucir kuda. "Itu karena mereka ingin kita tau bagaimana rasanya menunggu," kata Maddie. Ia berdiri di sisi Alma dan sesekali dia melirik ke arah yang sama, yaitu sebelah kanan, samping gadis berpenampilan urban. "Dan aku sudah menunggu sebelumnya." "Entahlah," jawab Maddie pendek yang membuat kening Alma mengerut. "Kau tidak di sini, Mad." Alma menepuk bahu Maddie lalu menyeret koper saat barisan dibubarkan. Yeah, benar Maddie tidak di sini saat Mr. Lee berpidato tentang pengembangan diri, melainkan berada pada satu objek berwarna perak, tepat di sisi gadis urban. Shone menghampiri mereka berdua dan Alma tahu, apa yang ingin dilakukan pemuda itu. Shone ternyata tidak menyerah, padahal saat di pinggir hutan tadi dia kembali ditolak Maddie. Namun, beruntung mereka sekarang sudah berdamai. "Good luck, Shone. Aku ada di bis yang berbeda jadi aku duluan," pamit Alma. Shone dan Maddie mengangguk kompak lalu saling pandang. "Kenapa? Kau butuh bantuan?" tanya Maddie to the point. "No, but ... apa kau butuh bantuan untuk memindahkan kopermu ke bagasi?" Refleks Maddie mendecih. "Kau pikir aku lemah? Oh, Shone berhentilah bersikap seolah aku gadis manis yang tidak bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini," kata Maddie, sambil mendaratkan ciuman pipi ke arah Shone. Shone memerah dan bagi Maddie itu manis. Namun, sayang mengapa dia tidak memiliki perasaan untuk pemuda itu? "No, I mean ... ck, hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa supaya kau melihatku seperti seorang lelaki." Maddie merangkul bahu Shone. "Kau lelaki dengan caramu sendiri. Contohnya lapang d**a, mungkin?" "Kau mengesalkan." "Sudah semestinya, supaya kau marah padaku dan itu tandanya kau sayang padaku." "Tapi sayang yang kau pikirkan berbeda dengan yang senyatanya." "Aku tahu. Maaf." "No problem. Cari lelaki lain, tapi jangan yang seperti—" Seketika ucapan Shone terputus, saat Aaron tiba-tiba muncul di samping mereka dan membawa koper Maddie. Tanpa permisi dan sukses mengabaikan mereka berdua. Ia bahkan sudah berjalan beberapa langkah dengan koper Maddie di tangan kiri, duffel bag di bahu kanan, dan tangan kanan di saku celana bagian depan. Well, sepertinya ada yang tidak sadar bahwa hal itu berhasil membuat para gadis histeris tertahan. "Kau tidak ingin terus berada di sini dan ketinggalan bis, 'kan, Beb?" tanya Aaron datar, sambil memutar setengah tubuh, dan sebelumnya menyisir rambut perak itu ke belakang menggunakan jemarinya. Err ... bahasa tubuh yang keren. Seketika para gadis kembali histeris. Bagaimana tidak, secara tidak langsung pose tersebut memang terlihat cool. Maddie bahkan sempat terpesona, meski hanya hitungan detik. Namun, sayang, Shone juga sempat memergoki reaksi Maddie dan itu cukup menyakitkan. "Hei, kembalikan koperku!" titah Maddie, sambil melangkah lebar menghampiri Aaron. Aaron tersenyum tipis. "Kau masuk ke bis dan aku menyusul." "Aku bisa melakukannya sendiri." "Dan membiarkan si domba itu membantumu? s**t, yang benar saja?!" "Kau sinting! Kau bahkan bukan pacarku." "Tapi akan, b******k!" ralat Aaron yang tanpa sadar membuat Shone memanas di belakang sana. Hal wajar karena Shone tidak ingin Maddie bersama Aaron. Maksudnya, Maddie bisa saja berkencan dengan lelaki lain, tapi jangan Aaron karena ia tahu bagaimana perangai pemuda itu. "F*&k! She said return the suitcase!" seru Shone, sambil berlari kecil menghampiri Aaron dan Maddie untuk mengambil alih kopernya. Namun, buru-buru Maddie menahannya. Ya Tuhan, Maddie tak habis pikir, sejak kapan ia terlibat drama seperti ini dan sekarang seolah-olah dia populer saja. "Shone, stop it," perintah Maddie, sambil menahan tubuh Shone. Sial! Mr. Lee memerhatikan mereka dan sebentar lagi pria itu pasti akan datang. "Aku pergi denganmu," kata Maddie akhirnya yang membuat Shone tersenyum bangga karena secara tidak langsung Aaron hanya sebagai pengangkut koper tidak berguna. Refleks Aaron menarik tangan Maddie dan memanggil Mr. Lee untuk mengarahkan di bis mana Shone bisa masuk. Err ... cukup cerdas untuk mengusir nyamuk dan itu berhasil jadi pertandingan antar lelaki ini berhasil dimenangkan Aaron. "Apa yang kau lakukan, eh?! Kau tidak tahu, bahwa Shone—" Ucapan Maddie terputus saat Aaron memukul kepala gadis itu. "b******k! Apa kau menolakku? Ikut denganku sekarang. Aku sudah membantumu membawa koper s****n ini." "s**l! Aku bahkan tidak ingat kapan memintamu membawakannya!" "Karena aku melakukan apa yang ingin kulakukan." "Kau belum mengganti perban di tanganmu?" Maddie mengalihkan pembicaraan, saat secara tidak sengaja melihat ke telapak tangan kiri Aaron. Aaron menghentikan langkah dan melihat sekilas ke tangan kirinya. Sial! Perban s****n itu kotor sekali. Aaron benar-benar melupakan luka tersebut atau memang sengaja melupakannya, agar Maddie memerhatikannya. Dasar, kurang perhatian! Aaron mengedikan bahu dengan gerakan santai. "Aku menunggu suster seksi-ku yang menggantikannya." "Siapa?" "Kau cemburu atau pura-pura bodoh?" Maddie menginjak kaki Aaron kuat-kuat. "Enyahlah dari mataku, d**k!" Lalu Maddie pergi begitu saja ke dalam bis. Meninggalkan Aaron yang tersenyum simpul karena akhirnya kembali membuat Maddie jengkel. Yeah, bagi Aaron memang lebih baik, Shone dimusnahkan saja, tetapi sepertinya akan sulit karena lawannya itu adalah sahabat Maddie jadi menghajar secara perlahan akan menyenangkan. Lagipula Shone sekarang sudah berani melawan. Pertanda bahwa Aaron harus kembali mendisiplinkannya. Selagi Aaron memasukan koper Maddie dan duffel bag-nya ke bagasi, di sisi lain Shone mengirimi pesan untuk Maddie. Sebuah peringatan yang hanya membuat Maddie tersenyum jenaka, karena menganggap bahwa Shone cemburu. Padahal andai Shone bisa membaca hatinya, sedikit pun Aaron tidak pernah masuk ke dalam tipenya. "Mengabaikanku dengan membalas pesan lelaki lain? Ponselmu menjadi milikku selama perjalanan, Babe." Secepat kilat ponsel Maddie pun beralih ke tangan orang lain dan itu tentu saja Aaron, yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Maddie, padahal Maddie ingat sekali bahwa di sisinya itu adalah seorang gadis. "Kau mengusirnya?" "Dia mengambil tempatku." "s**t! Kembalikan ponselku dan suruh kembali gadis itu atau—" "Atau kau akan memukulku. Fine, lakukan saja jika kau ingin diturunkan di tengah jalan bersamaku dan itu bisa jadi lebih parah." Aaron menampilkan senyum rajanya, sambil menatap langsung ke arah Maddie dan hal tersebut membuatnya ingin menonjok wajah Aaron. Aaron selalu pandai memilih tempat untuk membuat Maddie kesal dan terpaksa harus menurut. Sial! Batin Maddie.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD