Chapter 11 - Milk Bottle

1431 Words
"God dammit!" maki Aaron, sembari menendang bak s****h kosong di dekat loker. Tidak ada yang lebih mengesalkan, selain saat Aaron mengetahui bahwa Maddie lebih memilih Shone, daripada dirinya. Peristiwa itu terjadi tadi pagi, ketika Maddie dan Aaron terpaksa pulang pagi-pagi buta karena tertidur semalaman di pinggir jalan. Jadi Aaron bertemu orang tua Maddie dan Maddie memulai drama. Maddie bercerita bahwa dia baru saja keluar untuk menemui Aaron yang ingin bunuh diri dan mereka adalah teman dekat. Itu buruk sekali, secara tidak langsung Maddie memosisikan Aaron seperti Shone. Dan Aaron jelas tidak menyukainya. Namun, hasilnya orang tua Maddie percaya karena melihat perban di tangan Aaron, dan pemuda itu merasa seperti orang bodoh. Padahal kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Mereka terlambat karena perlombaan konyol yang dicetuskan Aaron. Beradu tentang siapa yang paling kuat menahan kantuk, sambil jogging. Entah itu bisa dikatakan konyol atau bodoh. Selain itu hal yang membuat Aaron semakin kesal adalah, ketika Maddie memilih masuk ke dalam mobil Shone daripada pergi bersamanya. Padahal Nyonya Ave sudah mempersilakan mereka berdua untuk pergi bersama, karena Mr. Ave akan pergi ke London hari ini dan Aaron juga baru selesai dengan sarapan gratis dari Nyonya Ave. Well, awalnya Aaron memang bersikap tidak peduli. Akan tetapi, lama-kelamaan sepertinya menarik. Aaron memang sempat mendengar bahwa Shone terus-menerus membujuk Maddie agar ikut dengannya. ... dan semakin lama membuat Aaron benar-benar kesal. Pasalnya fakta tersebut memperlihatkan bahwa Aaron kalah dari Shone. Karena bagaimana pun, jika dibanding Shone, Aaron jauh lebih keren. "Yo, p&@sy, what's up? Kau menghilang saat pesta semalam. Ada apa? Sudah menemukan jalang yang lebih seksi?" Clay memukul bahu Aaron dan mengabaikan mood buruk pemuda itu. "Bisnis," jawab Aaron pendek. "Menjual jasa p*******n?" "F&*k, no, you b***h!" Aaron mendorong d**a Clay dan melangkah meninggalkan pemuda itu dengan perilaku yang jelas sekali terlihat gusar. Jelas saja, barusan ia melihat Maddie yang melintasi mereka, sambil berbincang dengan Shone dan si gadis pirang. Konyol sekali, Aaron tidak bisa mencari alasan yang lebih keren, selain tidak terima karena kalah dengan si pecundang Shone. Di sisi lain, Clay yang melihat sikap Aaron malah tertawa, lalu berlari kecil menghampiri Aaron—merangkul pemuda itu layaknya persahabatan antar lelaki. Aaron mungkin butuh rokok atau beer, tapi tampaknya dia tidak memiliki apa pun saat ini. "Kau tahu, Dude? Kau bisa cerita." Clay berjalan di sisi Aaron, sambil sesekali melakukan toast dengan beberapa anak populer yang menyapa mereka. "Tidak perlu." "Oh, come on, Dude! Dari berbagai sudut kau jelas terlihat gusar. Apa jalang itu tidak memuaskanmu?" Err ... Clay benar-benar tidak tahu tentang siapa yang dia bicarakan. "Hi, just shut up your f*&king mouth! Kepalamu akan tetap di sana, jika kau berhenti menyebutnya jalang," ujar Aaron dingin, penuh ancaman. "So scary. Kau kesal karenanya." Clay tertawa lagi. "Itu bukan gayamu. Kau bisa mendapatkan yang lain atau karena rasanya lebih enak?" "F*&k! Just talk with your a*s, b***h!" Setelah memukul kepala Clay, Aaron merebut rokok di saku Clay. Ia butuh benda itu dan semalam dia kehilangan benda tersebut, karena terlalu bersemangat bergulat dengan Maddie. Namun, Clay ternyata tahu tempat, sehingga ia segera merampas benda tersebut. Well, Clay hanya tidak ingin rokoknya disita hanya karena tindakan bodoh Aaron. Dan kebetulan Clay juga cuma punya satu bungkus rokok untuk satu hari. "Tahan, Bung! Perkumpulan atau rooftop? Aku tidak akan segan membunuhmu jika barangku disita hanya karena masalahmu." "Rooftop. Aku perlu tiga." "P*&sy," maki Clay setelah mengetahui berapa yang diinginkan Aaron. "Kelas sejarah membosankan dan aku bosan." "Kau kesal, Bodoh." "s**l, tidak lebih bodoh darimu." "Jadi mau nongkrong sampai jam makan siang?" "IDK." "Fine, i***t. Aku jadi penasaran dengan gadis itu atau jangan bilang kau berkelahi dengan anggota geng, tanpa memberitahuku!" "Otakmu sungguhan perlu dibedah." "Aku akan membalas luka ditanganmu itu." Aaron mengernyit, setelah mendengar arah pembicaraan Clay. "Kau terlihat semakin bodoh, so shut up dan cepat berikan benda s****n itu sebelum aku membunuhmu," tukas Aaron, sambil menarik tas ranselnya lalu melangkah terlebih dahulu menuju rooftop. Sedangkan Clay yang berjalan di belakang Aaron, malah menduga-duga. Ini pasti bukan karena hanya sekadar jalang, tetapi ada sekelompok geng yang mau merebut kekuasaan mereka. Brengsek! Sudah cukup lama tidak berkelahi dan setelah ini mungkin akan ada unjuk kebolehan. Batin Clay. *** Membanting pulpen, Maddie kembali mengumpat kesal untuk kesekian kali ketika ia dan Alma sedang belajar bersama di bangku taman sekolah. Jangan tanya di mana Shone, karena pemuda itu adalah sumber kekesalan Maddie. Tadi pagi, di lorong tangga, Shone menyatakan perasaannya kepada Maddie. Awalnya Maddie tidak kesal, ia hanya terkejut—jadi refleks Maddie menolak Shone. Namun, setelah itu ternyata Shone melakukan kesalahan dengan menyinggung seseorang yang bernama Steven. Steven—mantan kekasih Maddie yang sungguhan tidak ingin dia ingat. "Hei, apa kau tahu?" tanya Alma tiba-tiba, sembari menghentikan aktivitas menulisnya. Maddie mengalihkan pandangan ke arah Alma. "Apa?" "Aku kasihan pada benda-benda yang berakhir di tanganmu." Alma menopang wajah dengan kedua tangan. Sejak kelas kedua, Alma bisa melihay dengan jelas bahwa Maddie dalam mood buruk. Begitu pula dengan Shone. Anak itu menghilang tiba-tiba. "Setelah putus dengan Clay, apa kau kembali berkencan?" tanya Maddie, sembari menyisir rambutnya dengan jari dan seakan ingin mengalihkan perbincangan. Alma refleks mengerut. "Kau yakin? Kupikir kekesalanmu bukan karena itu." Alma menyipitkan mata, seolah hal tersebut bisa menemukan sesuatu yang aneh pada diri Maddie. Mereka terdiam sejenak, hingga akhirnya Maddie memukul meja kuat-kuat. Tiba-tiba pikiran tentang Shone kembali hadir. "s**l! Aku tidak tahu harus mengatakan apa jika bertemu Shone!!" "Allright, tell me what happen, Babe?" ungkap Alma, sembari melipat kedua tangan di atas meja. "Kupikir kalian sedang perang dingin." Maddie menghela napas berat. "Aku tidak tahu di mana Shone mengetahui itu, tetapi hal tersebut membuatku kesal. Dia baru saja menyatakan cinta padaku." Maddie melirik ke arah kotak pensil Alma lalu buru-buru berkata, "Berikan aku pensil s****n itu. Butuh sesuatu untuk menyalurkan emosi." "Lalu? Aku tidak mengerti mengenai hal itu yang kau maksud." "Oh, please, Alma! Berikan saja pensil itu sebelum meja ini sungguhan hancur." "Kau membingungkan sekaligus menyeramkan," ucap Alma sembari memberikan pensil untuk Maddie. "Dan seharusnya jika kau ingin cerita, jauhi kata-kata ambigu. Aku bukan peramal." "Dan aku juga tidak bilang kau peramal. Aku hanya butuh benda untuk menyalurkan emosi." "Kalau begitu, aku yang bertanya." "Yes, please." "Kau berkencan dengan Aaron?" Saat itu pula mata Maddie membulat. "Fine, akan kuceritakan dan itu artinya aku butuh banyak pensil." "Kau bisa gunakan semua pensil milikku, Babe." *** Aaron dan Clay masih berada di rooftop. Mereka berbaring, memandang ruang luas di atas bumi, sembari menikmati rokok. "Jadi kau menginginkan Maddie?" Clay menyimpulkan kekesalan Aaron saat mereka baru saja melakukan adu panco untuk menyalurkan amarah. Aaron tidak pernah bercerita panjang lebar tentang kerisauan hatinya, tetapi biasanya dia akan melampiaskan hal itu dengan adu kekuatan. "s**t! Ofcourse no. Dia yang mengundang lalu menolak." "Kupikir kau sedang jatuh cinta tahap pertama." Clay menampakkan senyum kambingnya lalu segera pergi—tidak ingin mendapatkan pukulan sayang dari Aaron. "Jatuh cinta lubang pantatmu!" maki Aaron berlari menyusul Clay. "Jika memang itu yang terjadi, aku siap makan pasta melalui lubang hidungku, i***t!" "Oh, really? Can't wait for that moment." Clay tertawa nyaring. "Kupikir Samuel harus tahu. Bagaimana pun dia pakar cinta." "Then I'll kill you." Clay mengedikan bahu, sembari menampilkan senyum kambing yang memuakan lalu seketika ia berhenti. "Hi," bisik Clay, sambil memberikan isyarat agar Aaron melihat apa yang dia lihat. "Sainganmu." "Ch, asshole." Aaron tersenyum licik saat melihat Shone di mesin minuman dekat kantin. Lelaki itu membawa dua botol s**u full cream dan seketika, Aaron tahu untuk siapa s**u tersebut. "Sup, Bung?" sapa Aaron. Menghampiri Shone dan bersandar di mesin minuman. "s**u full cream?" Shone menoleh ragu. "Err ... yeah, but ...." Aaron tersenyum miring lalu menggebrak mesin tersebut. "I know what you think, d**k! Give it to me and you'll be safe," bisik Aaron, sambil merebut dua botol s**u full cream dan pergi meninggalkan Shone. Shone ingin menyusul dan mengambil kembali miliknya. Namun, akibat tinggi badan yang jauh berbeda membuat Aaron dengan mudah menghindar. Aaron tertawa, sedangkan Clay memilih menahan Shone dengan tinjuannya. Tidak terlalu keras, tapi cukup menyakitkan untuk Shone. Sampai-sampai pemuda itu harus meringis menahan sakit. F*&k you, Aaron! Batin Shone, saat melihat apa yang telah dilakukan pemuda itu di kantin. Shone telah dipermalukan dan ia bisa mendengarnya dengan jelas. "I'll do whatever I want, babe." Aaron meletakkan satu botol s**u full cream di meja Maddie dan Alma lalu menatap tajam ke arah Shone yang berdiri di dekat mereka. "Sepanjang malam kau juga meminum ini, 'kan? Kupikir sekarang kau masih membutuhkannya untuk mengalihkan fantasi luar biasa yang kita ciptakan sampai tadi pagi." ... dan sepertinya tidak ada yang tahu bahwa sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi. Antara Shone dan Aaron. Seakan semut yang mengigit karena terinjak oleh kaki manusia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD