Tidak ada pengemudi yang lebih buruk, selain Maddie. Faktanya, di jalan raya menuju danau buatan dekat sekolah, meski gadis itu mengemudikan mobil dengan kecepatan normal, Aaron tetap tidak bisa menyembunyikan ketegangan.
Aaron masih menyayangi mobilnya dan dia tidak akan segan membunuh Maddie, jika hal buruk terjadi malam ini.
"Kau ingin merusak mobilku?!" Aaron lagi-lagi meninggikan suara saat Maddie hampir saja menabrakan mobilnya ke tiang listrik pinggir jalan raya. "Berikan kemudinya dan duduk manis di sini!" perintah Aaron.
"Kau pikir kita akan selamat jika aku membiarkan orang yang terluka mengendarai mobil?"
"s**l! Memangnya ini ulah siapa?!" Aaron semakin emosi. "Hentikan mobilnya dan rawat lukaku, lalu akan kubawa ke mana pun kau mau!"
"b******k! Itu bukan salahku. Kau yang membuatku harus kabur dari rumah karena sudah membangunkan orang tuaku."
"Persetan dengan mulut pintarmu!" Aaron menarik tubuh Maddie lalu menjauhkan tangan dan kaki gadis itu untuk menghentikan paksa mobilnya.
"Hei, kau—" Ucapan Maddie lantas terhenti saat tetesan darah sudah banyak mengotori jaket yang dikenakan Aaron.
Dan akhirnya Maddie sadar bahwa prilaku tak disengaja beberapa waktu lalu, telah membuat Aaron mengalami perdarahan. Dengan kata lain, ia hampir saja membunuh seseorang.
Buru-buru Maddie mengambil bungkusan plastik di atas dasbor, lalu keluar mobil, dan membuka pintu penumpang.
"Begitu lebih baik. Ke mana kita akan pergi?" tanya Aaron saat melihat Maddie berdiri di depan pintu mobil.
Sepertinya Aaron melupakan fakta bahwa tangan kanannya kali ini sedang mengeluarkan aroma besi, seperti seseorang yang gagal bunuh diri.
Maddie bergeming. Lebih tepatnya berpikir—itu jaket kesayangannya dan darah Aaron ada di sana.
Dalam pikirannya Maddie tidak menyangka, bahwa pisau dapur akan setajam itu. Menandakan jikalau Maddie tidak pernah memasak, tetapi selain itu Aaron 'kan memang sinting!
Sinting, karena di dunia ini tidak siapa pun yang mau memegang erat pisau dapur seperti sedang memegang timun, kecuali Aaron.
Itulah yang Maddie sesali baru-baru ini, padahal waktu itu Maddie hanya mengancam Aaron.
Alasannya cukup simpel, yaitu karena Aaron ingin mencuri ciuman Maddie saat pemuda itu menyusul ke dapur.
Baiklah, Maddie pikir Aaron ingin memerkosanya.
Namun, sebenarnya Aaron hanya ingin menyusul Maddie karena terlalu lama menunggu, tetapi reaksi Maddie ternyata berlebihan.
"Bodoh! Apa kau sinting?" tanya Maddie, sambil melirik ke arah tangan kanan Aaron yang sudah seperti habis membunuh seseorang.
Aaron mengernyit lalu mengikuti arah pandangan Maddie.
"Oh, mungkin kau tipe sadisme, sampai harus membuatku berdarah." Aaron mengerling, sambil mengedikan bahu, dan membuka jaket Maddie.
Namun, tidak jadi karena Maddie buru-buru menahannya. Udara malam ini cukup dingin untuk bertelanjang d**a dan Maddie tahu, Aaron akan memamerkan d**a yang menurut Maddie biasa saja.
Maddie terlalu meremehkan tubuh Aaron.
"For God's sake, Aaron! Ambil ini lalu rawat lukamu dan jangan berpikir, bahwa aku akan melakukan hal itu." Maddie menyerahkan bungkusan plastik tersebut di tangan kiri Aaron lalu bersandar di samping mobil.
"Aku tidak mengerti dengan hal itu?" Aaron mengeluarkan kakinya, tetapi masih duduk di kursi penumpang. Ia menatap Maddie, memerhatikan bahasa tubuh gadis itu.
"Kau hanya pura-pura bodoh."
"Itu yang kau maksud bisa saja berbeda. Bisa saja itu adalah membelikanku bacon."
"Aku tahu jalan pikiranmu."
"Oh, come on! Mengapa sulit sekali menjelaskan kata ambigu itu? Atau jangan-jangan ... you think something naughty." Aaron tersenyum kecil, saat melihat Maddie mendengkus kesal.
Sepertinya menggoda Maddie adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi Aaron. Ia jadi ingin mencuim Maddie lagi, tapi pastikan bahwa gadis itu tidak membawa s*****a tajam.
Aaron masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana pisau itu menembus telapak tangannya.
Tentu saja hal itu menyakitkan. Namun, Aaron mau terlihat keren dan mengatakan bahwa sebaiknya Maddie tidak main-main dengan benda tajam, terlebih jika berhadapan dengan Aaron.
Sudah dikatakan berulang kali bahwa Aaron itu sinting, jadi dia hanya bertingkah lalu menyembunyikan rasa sakit.
Aaron pikir hal itu bisa membuatnya terlihat keren, tapi yang ada Maddie malah menendang lalu berteriak.
Alhasil kedua orang tua Maddie terbangung lalu Aaron berakhir di sini, karena Maddie menariknya paksa.
"Berikan anti septik dan jangan manja." Maddie mengulurkan tangan, setelah berdiri di hadapan Aaron.
"Lakukan dengan lembut, Babe."
"Dalam mimpimu!" ucap Maddie ketus, sambil mengambil bungkusan plastik berisi obat-obatan untuk luka.
Namun, belum sempat menyentuh botol berisi cairan anti septik, Aaron malah lebih dulu menarik tangan Maddie dan membuatnya semakin dekat hingga hanya tertinggal beberapa senti.
"If you don't like it, it's better to kick me." Aaron menarik tangan Maddie semakin dekat.
Mengabaikan tangan kanan yang masih berlumuran darah, Aaron menekan kepala Maddie dengan menggunakan punggung tangan.
Saat itu pula sepasang mata Maddie melebar.
Bayangan itu kembali memenuhi kepalanya, sehingga dengan gerakan refleks, Maddie memukul bagian perut Aaron.
"Nice shoot," bisik Aaron dengan wajah meringis menahan sakit. "I like you fight me back, daripada memperlihatkan ekspresi menjijikan itu."
Kedua bahu Maddie seketika naik turun, matanya terbelalak, bahkan ekspresi terkejut tidak bisa ia sembunyikan. "What do you want? Why you like to fight me?"
Mendengar pertanyaan Maddie yang cukup membosankan, ia keluar dari mobil dan duduk di pinggir jalan, bersandar dengan audi kebanggannya.
Untung saja jalanan sudah sepi, sehingga keberadaan mereka tidak menganggu aktivitas lalu lintas.
"Damn it! Kau terlalu sering nonton opera sabun."
"Ini bukan waktunya bercanda, Aaron. Aku bisa saja melaporkanmu atas tindakan pelecehan."
"Dan kau akan masuk kategori naif. Hi, girl! Anak 15 tahun saja sudah berciuman, jadi hal itu wajar, 'kan?"
"Setiap orang berbeda. Seperti kau yang i***t dan Zayn Malik yang tampan."
Alright, perbandingan yang aneh.
Jangan sampai Maddie ketularan t***l atau dia hanya ingin mengejek Aaron.
Aaron tidak menjawab pernyataan Maddie. Terlalu malas meladeni omong kosong gadis itu, terlebih darahnya sudah semakin banyak saja. Jadi, Aaron memilih untuk mengobati lukanya sendiri.
Sayangnya, pekerjaan ini ternyata cukup sulit karena Aaron tidak kidal. Namun, di waktu bersamaan Aaron juga tahu, Maddie tidak akan membantunya.
Lagipula luka yang dia dapatkan tidak seberapa parah, jika dibandingkan dengan luka-luka saat berhubungan dengan kekuatan geng.
Selain itu, Aaron juga sedang berusaha untuk lebih menggunakan otak, daripada hasrat lelakinya. Aaron memang ingin berada di dalam diri Maddie, tetapi tidak disangka Maddie terlalu naif.
... atau pura-pura naif. Aaron tidak tahu. Tapi hal itu sudah membuat Aaron gila.
Di sisi lain, Maddie mengamati Aaron yang kesulitan mengikat perbannya, sehingga ia memilih untuk mendekat.
"Angkat tanganmu," perintah Maddie.
"s**t, apa kau baru saja memerintahku?" Aaron menampilkan tatapan dinginnya. Ia tidak bisa menerima ucapan barusan, entah karena apa, tapi ini cukup mengganggu.
Padahal sebelumnya Maddie juga jelas-jelas memerintah Aaron.
Maddie menghela napas panjang. Baginya sungguh merepotkan berbincang dengan orang berpikiran pendek seperti Aaron.
"Oh, Godness, kau tidak bisa melakukan itu sendirian." Maddie melipat kedua tangan di atas d**a. "Lagipula jika tangan kirimu masih di sana, kau pasti akan melakukan hal yang sama."
"Aku tidak mengerti dengan hal yang sama itu." Aaron tersenyum miring. Ia berusaha menahan tawa.
Bahasa Maddie yang terkadang memiliki arti jamak, ternyata telah menjadi favorit Aaron untuk membuatnya kesal.
"s**t, kau itu t***l sungguhan atau hanya ingin membuatku kesal?!" Maddie memutar mata, merasa frustrasi dengan perangai Aaron.
"Aku hanya ingin kalimat jelas." Aaron juga tak kalah memberikan tampang cuek yang bagi Maddie sangat memuakan.
"So childish. Cepat angkat tangan kirimu dan biarkan aku membantu."
"Lalu berciuman. Kau tahu, Mad, bibirmu manis."
"Berhenti bicara atau akan kujahit bibirmu."
"Tidak masalah jika kau bersedia memberikannya."
"Aku tidak segampang yang kau pikir."
"Yang berarti cepat atau lambat kau akan memberikannya jika aku membuatnya sulit."
"Lebih baik bicara dengan p****t pintarmu saja, Aaron."
"By the way, you have sexy a*s t—" Ucapan Aaron seketika terputus saat Maddie menutup bibir Aaron dengan tangan kirinya.
"s**l! Aku tahu kau menyembunyikan rasa sakit di telapak tanganmu. Jadi diam dan biarkan semuanya menjadi mudah."
Maddie mengarahkan tangan kiri Aaron ke udara dan segera memperbaiki balutan perban di tangan kanan Aaron. "Lagi pula aku bisa membuat luka ini menjadi semakin parah, seperti menaruh pasir jalanan itu di sini."
"Alright, kau seperti psycho."
"Kau bisa bercermin dengan air danau dan lihat siapa psychopath yang sesungguhnya."
"Ok." Aaron segera bangkit. Namun, segera ditahan Maddie.
"b******k! Kau benar-benar bodoh, ya? Itu kalimat sarkasme." Kesabaran Maddie benar-benar diuji. "Tetap di sini dan biarkan semuanya menjadi cepat. Aku tidak ingin lama-lama bersamamu di sini."
Well, Maddie memang tidak ingin terlalu lama dengan pemuda sinting ini.
Namun, ia juga tak tahu alasan tentang mengapa harus kabur dari rumah, hanya demi menyelamatkan Aaron yang jelas-jelas mengganggu ketenangannya.
Ini terlalu tiba-tiba.
Padahal jelas-jelas, Maddie bisa berlindung di balik punggung ayah tirinya lalu Aaron bisa saja berakhir di kantor polisi.
Akan tetapi, sepertinya Maddie tidak yakin membiarkan hal itu terjadi.
Entahlah, antara Maddie yang memang terlalu naif atau dia memiliki sifat pemaaf dan kemanusiaan tinggi.
Selagi Maddie memperbaiki balutan perban di tangan kanan Aaron, diam-diam pemuda itu mengamati Maddie dan di waktu bersamaan, ia juga sedang berperang.
Berperang dengan otak dan nafsu.
Sial! Bukankah ini sangat merepotkan?
Otak yang menolak untuk memerkosa Maddie dan nafsu yang terus memprovoksi untuk melihat belahan itu.
Sial! Di saat seperti ini mengapa Maddie tidak sadar bahwa baju tidurnya, berhasil mengganggu Aaron.
Apa Maddie sengaja menyiksa Aaron?
Brengsek! Jika tidak ingin mengapa harus dipaperkan? Pikir Aaron yang diam-diam ingin memberikan pijatan pada dua daging kembar milik Maddie.
"This will sound weird, but sorry that I kissed you." Aaron mengerling, tidak ingin menatap Maddie. "Hanya penasaran kenapa di sekolah kau tidak menendangku dan malah lari, lalu ekspresi macam apa itu? That's disgusting."
Aaron tahu wajahnya terlihat aneh, karena tidak pernah mengucapkan kalimat menjijikan itu. Jadi ia memilih untuk mengalihkan pandangan.
Namun, siapa sangka, bahwa pikiran liarnya masih saja bermain.
Maksudnya, mungkin saja dengan mengucapkan kalimat itu bisa membuat Maddie ingin menciumnya. Seperti kata Samuel setiap kali ia selesai menonton film romantis.
Teori yang menurut Aaron tidak masuk akal, tetapi boleh dicoba karena yang dihadapinya bukan gadis-gadis penggila Aaron, melainkan Maddie.
Maddie yang lebih memilih menendang Aaron, daripada tidur di bawahnya.
"Kau benar-benar masokis," bisik Maddie tepat di telinga Aaron lalu melayangkan pukalan di kepala pemuda itu. "Wash your brain because I know you think something else when you said sorry."