Aaron akan menjadi lebih fokus jika ia penasaran dan merasa tidak aman.
Itulah fakta yang diketahui teman-teman dekat Aaron.
... dan hari ini, hal itu sedang terjadi, padahal di rumah perkumpulan sedang heboh dengan game The Evil Within 2.
Di ruang tengah, Clay sedang berebut stick dengan Samuel hanya karena ingin mendapat bagian lebih cepat untuk memainkan game tersebut, sedangkan Jack, di sofa besar berusaha meminimalisir pergerakan demi mencuri g***a tak bertuan yang tergeletak di atas meja.
"F*&k! Kau mencuri ganjaku?!" Samuel memukul kepala Jack, saat Clay berhasil mengambil alih stick dan menyadari bahwa barang berharganya sudah raib dibakar Jack diam-diam.
"Whoa! Calm down, Sam." Jack buru-buru bangkit dari tempatnya lalu menghisap dalam benda tersebut, sebelum Samuel merebutnya. "Kau tinggal minta bagian pada Aaron dan aku akan memberikannya."
"F*&k! Seperti kau tidak kenal Aaron saja!" Samuel berhasil merebut ganjanya lalu mendorong tubuh Jack dan pergi meninggalkan ruang tengah.
Clay tertawa, sedangkan Jack menekuk wajah karena perbuatan Samuel.
"Bukan pacar yang baik, heh?" goda Clay, tanpa mengalihkan pandangan ke layar TV. "Kau harus bersikap manis dengan pacarmu itu. Cuma dia yang menerima kau tidur dengan gadis lain."
"Shut up your f*&king mouth, b***h! Itu karena kami sama-sama B."
Jack melempar botol plastik kosong ke arah Clay dan hal itu refleks membuat Clay bangkit dari tempatnya dengan wajah kesal.
"Hi, what's wrong with you, Bro?!"
"What?! Do you want to fight me, huh?!"
"s**t!" maki Clay ketus, sembari melingkarkan lengan ke pinggang Jack dan berusaha untuk membanting pemuda itu.
Mereka bergulat, saling mengucapkan sumpah serapah, dan hal itu berhasil menarik perhatian anak-anak lain yang sebelumnya berkumpul di tepi kolam renang.
Sambil berseru untuk mendukung Jack dan Clay, di waktu bersamaan mereka juga memasang taruhan sekadar bersenang-senang. Meski pada akhirnya, uang tersebut akan digunakan bersama untuk memeriahkan pesta di rumah perkumpulan.
Di sisi lain, Aaron yang mengurung diri di kamar Clay, berusaha mengabaikan keributan tersebut dengan perasaan gusar.
"s**t, tidak bisakah bumi menelan mereka?" Aaron mengembuskan asap rokok, sambil menggerakan jemari di atas keyboard dengan kasar.
Be honest, Aaron cukup terganggu dengan keributan yang ada di lantai satu, tetapi juga terlalu malas untuk memperingatkan mereka.
Bukan karena Aaron takut dan dianggap cupu oleh teman-temannya, tetapi karena apa yang ada di layar laptop ini ternyata lebih menyenangkan.
Lagi pula siapa yang berani melawan Aaron di sini? Tidak ada, bukan? Kecuali jika mereka memang ingin berakhir di tangan Aaron
"F&*k! You are the sexiest girl," bisik Aaron, ketika menemukan foto Maddie di laman i********:.
Aaron tersenyum asimetris.
Tidak rugi bagi Aaron, menyeret pemuda gendut di gedung D tadi, kemudian mengandalkan jiwa stalkernya untuk menemukan Maddie.
Well, kejadian saat di koridor gedung D tadi memang diluar ekspetasi Aaron, padahal dia ingin Maddie memukulnya lalu memulai perkelahian.
Alih-alih Aaron ingin Maddie terkena masalah di sekolah. Namun, Maddie malah bersikap berbeda dan hal itu membuat Aaron ingin tahu.
Ada apa dan mengapa Maddie harus lari? Dan sepertinya gadis itu menangis, jadi Aaron tidak terima jika musuhnya melemah begitu saja.
Plus Maddie itu seksi dan bibirnya lembut. Pikir Aaron, sembari memerhatikan salah satu foto Maddie saat musim panas.
"It's like playboy magazine."
Aaron melepas t-shirt lalu melemparnya ke sembarang arah. Seketika ia kegerahan.
Lagu Rack City dari Tyga terdengar di kamar Clay, seolah Aaron sengaja membesarkan volume suara, akibat teman-temannya di lantai satu sudah semakin ribut.
Sesekali kepala Aaron bergoyang mengikuti alunan musik dan tidak jarang dia ikut bernyanyi di beberapa lirik.
Dan seperti sebuah lelucon paling payah sedunia, Aaron menampilkan senyum tipis setelah menelisuri sebagian postingan foto Maddie di i********:.
Yeah, ini benar-benar konyol.
Pertama, Aaron tidak tertarik dengan media sosial dan selama ini yang membuat serta memainkannya adalah Clay.
Clay pernah bilang, bahwa Aaron memiliki tampang yang menjual jadi dengan alasan tersebut, Clay menggunakan foto-foto candid Aaron untuk menggaet para gadis dan mengajak mereka ke pesta.
Dua, Aaron tidak pernah setertarik demikian dengan hal-hal seperti sekarang. Maksudnya, Oh, Godness! Bermain medsos berjam-jam itu hanya membuang-buang waktu, 'kan?!
Dan tiga, Aaron ingin Maddie sekarang. Melakukan hal serupa lalu menunggu gadis itu memukulnya.
Berkelahi itu menyenangkan, terlebih jika melawan gadis seksi seperti Maddie. Seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan Black Widow.
Bersamaan dengan hasrat ingin berkelahi, sesaat pikiran kotor memenuhi kepala Aaron. Ia masih bisa mengingat, tentang bagaimana rasa dari gumpalan daging di bagian belakang milik Maddie saat ia mencuri ciuman gadis itu.
Empuk.
Padat.
Dan hangat.
Itu bodoh! Sejak kapan p****t bisa lebih seksi, daripada d**a?
Aaron benar-benar tak habis pikir, tetapi ia tertantang untuk melakukan hal lebih. Mungkin saja sampai membuat Maddie harus mengotori tangan dengan darah akibat perbuatannya lalu berakhir di sel penjara.
"Lalu diam-diam kami akan b******a di sana." Aaron mengetukan rokok di asbak lalu kembali menghisapnya.
"F&*k your brain! Seharusnya kau memukulku, b***h!" Aaron menutup laptop kuat-kuat lalu meninggalkan kamar Clay begitu saja. "s**l! Ekspresi macam apa itu?!"
Aaron turun ke lantai satu, bertelanjang d**a, memamerkan perut kotak-kotak hasil bela dirinya, sekadar mengambil kaleng soda di kulkas.
Lagi-lagi Aaron mendengar suara histeris tertahan dari para gadis yang mampir di rumah perkumpulan. Ia tidak perlu terkejut, karena Aaron memang tidak peduli.
Lagi pula mereka bukan Maddie.
Aaron mengedikan bahu lalu menghampiri Clay yang sedang duduk bermain game.
"Sup, Bro? Sudah cuci gagak besarmu?"
"b******k, kau pikir aku gila s*x?!"
"Bukan, tapi kau memang brengsek."
"Kau butuh benang dan jarum untuk menjahit bibir sialanmu itu, Clay?"
Clay memutar mata. "Aku bukan putri tidur."
"Tapi kau pangeran yang akan merobek gaun putri tidur." Kali ini Jack buka suara, sebelum Aaron melempar kaleng cola itu ke kepala Clay.
"Butuh sesuatu, boss?"
"Samsak untuk menerima pukulanku."
"God dammit! Itu tidak disediakan saat i—"
"Kalau begitu kita yang memulai."
"Kau gila."
"Memangnya sejak kapan aku tidak gila?" Aaron meminum kembali cola-nya lalu tertawa pelan.
Jack dan Clay kompak mengernyit. Diam-diam, mereka sama-sama bertanya tentang apa yang dipikirkan Aaron selama dia berada di kamar Clay.
"Err ... wait a minute. Apa kau gusar? I mean, kau seperti pejantan tebar pesona untuk mendapatkan hati seorang betina." Clay akhirnya menghentikan sejenak aktivitas game-nya lalu duduk di samping Aaron.
"Dammit! Seharusnya dia memukul, daripada berlari." Aaron meninju meja di depannya dengan kesal, sedangkan Jack tidak mengerti arah pembicaraan Aaron.
"Oh, aku mengerti." Clay tersenyum lebar lalu menatap Jack. "Si b******k ini mencium Maddie lalu gadis itu malah tidak memukul dan memilih lari. Kau kenal siapa Maddie, 'kan?"
"Gadis barbar yang melawan Aaron di jungle party," kata Jack memperjelas.
"Yeah." Clay mengangguk bangga. "Hei ... aku tidak mengingat kejadian itu."
"Kau mabuk, t***l!"
"Well, berarti dia benar-benar barbar dan tadi siang, kupikir Aaron ingin memancing amarah Maddie, tapi ...." Clay menggantungkan kalimatnya, mengisyaratkan agar Aaron yang melanjutkan.
Sayangnya Aaron tidak memberikan reaksi atas isyarat yang diberikan Clay. Dan malah bergumam penuh u*****n.
Sedangkan Jack memutar mata. Ia lebih dewasa, daripada yang lain jika tentang perasaan, makanya Samuel jatuh cinta dan ikut menjadi bisex.
"Mau kuberi tahu satu hal?"
"Katakan, b******k!" ucap Aaron, mulai kesal karena perbincangan ini terasa memuakan.
Tentu saja, Aaron tak butuh basa-basi. Dia butuh jawaban atau apa pun yang bisa menuntaskan ganjalan s****n di dalam kepalanya.
"Kalian kekanakan dan kau, Aaron, kupikir kau sedang kehilangan karena sikap gadis itu."
"What? You insane!" Mood Aaron tampak memburuk.
Kehilangan bukan tipenya, apalagi jika hal itu karena seorang gadis.
Aaron tahu bahwa dia hanya ingin Maddie untuk bersenang-senang.
"Alright, curiosity killed the cat," tukas Jack, membuat Aaron lantas mengernyit.
"Then I'm not the cat. I'll stab her and make her fight me back."
"Well, lihat saja. Kau atau dia yang akan menjadi pisaunya, tapi aku bisa membaca isi kepala brengsekmu itu."
"s**l!" Aaron bergegas pergi meninggalkan Jack yang tertawa pelan dan Clay yang kebingungan.
"Apa maksudmu dengan Curiosity killed the cat?" tanya Clay dengan tampang bodohnya.
"Dia penasaran dan itu bisa membunuh. Lanjutkan game-mu dan asah otak tumpul itu supaya kau bisa lebih pintar," jawab Jack santai lalu kembali menikmati g***a yang berhasil ia curi di dalam tas milik Samuel.
***
"Curiosity killed the cat."
Setelah mendengar apa yang dikatakan Maddie barusan, refleks Alma dan Shone menampilkan ekspresi bingung.
Tidak hanya itu, mereka bahkan turut berhenti menikmati secangkir cokelat panas yang mereka pesan di kafe Deborah.
"Maddie, aku paham sekali dengan perumpamaan itu, tapi apa hubungannya dengan Aaron?" tanya Shone dan dibalas anggukan oleh Alma.
"Dia menciummu dan mengapa kau tidak mematahkan rahangnya saat itu juga?" Alma bahkan terdengar tidak sabar untuk mengajukan pertanyaan.
Mereka sama-sama kepo.
Maddie mengembuskan napas lalu menutup buku tugas laporan biologinya.
"Terlalu terkejut, hingga yang kupikirkan hanya berlari."
Bohong! Maddie pasti habis menangis. Itulah yang mereka pikirkan hingga sekarang.
"Maddie, kau pembohong yang buruk."
"Bahasa tubuhmu memperlihatkan hal yang lebih dari itu," imbuh Alma, melengkapai pernyataan Shone.
Lagi-lagi Maddie mengembuskan napas. Untuk saat ini, Maddie tampak jauh berbeda dari sifat cerianya.
Agak aneh melihat pemandangan ini dan semua itu, bersangkut paut dengan Aaron.
"Jika kalian terus bertanya, maka aku akan menjadi kucing yang terbunuh dan kalian, rasa penasaran yang berperan sebagai pisau."
"Apa kau punya masa lalu kelam seperti yang dilakukan Aaron barusan?" lagi-lagi Alma bertanya, seolah memaksa Maddie untuk bercerita hal yang tidak ingin ia ceritakan.
Hari ini Maddie jadi menyadari, bahwa Alma benar-benar menyebalkan jika ia penasaran.
Maddie mendecih, lalu tanpa sadar ia memukul meja dengan tangan kanannya.
"F&*k my life! Jangan bertanya lagi, aku hanya membenci hidupku dan orang-orang itu!" pekik Maddie yang refleks mengundang perhatian pelanggan lain.
Sadar atas perbuatannya, Maddie lantas langsung mengusap wajah frustrasi.
"s**t, kuharap kalian tidak tersinggung, Guys."
Alma merasa bersalah karena sudah memaksa Maddie bercerita dan akhirnya memutuskan untuk meletakkan tangannya di atas tangan Maddie.
Tidak ada yang bisa Alma lakukan selain memberi dukungan, bukan?
"F&*ck my life," ujar Alma lalu menoleh ke arah Shone, mengisyaratkan agar pemuda itu ikut melakukan hal serupa.
Namun, Shone memang tidak peka karena ia memilih bangkit dan mengangkat kepala Maddie agar kembali tegak.
Oh, okay, Shone memiliki cara berbeda dalam menghibur Maddie.
"Aku tak mengenal Maddie yang seperti ini, yang kukenal adalah Maddie si Pemberani dan tidak se-frustrasi itu."
Sambil menarik kedua sudut bibir Maddie dengan telunjuknya, Shone lantas tertawa dan sukses membuat Maddie tersenyum tipis.
"Bodoh! Kau tahu, Mad? Saat seharian Shone menghilang, dia memang sempat terpikir untuk bunuh diri dari gedung E.
"Seharusnya aku tulisankan saja kata t***l di kening s****n itu!" Alma memberikan nada sinis saat melihat gaya sok kuat Shone barusan demi menghibur Maddie.
"s**l! Aku hanya berpikir, bukan berarti akan melakukan. Kau tahu betapa memalukannya ketika mendengar dirimu disebut homo dan dianggap sebagai gigolo." Shone meremas tangannya hingga menimbulkan bunyi. "Sayangnya aku memilih bungkam seperti yang Maddie lakukan."
"I'm so sorry, guys ... hanya saja ini terlalu rumit buatku, so ...," ucap Maddie menggantung kalimatnya, sembari memeluk Alma dan Shone.
"Kita akan selalu berada di sisimu, lagipula apalagi tugas teman selain mendukung dan membantu, 'kan? Don't think too much, Maddie," tukas Alma.
"I will. Once again, sorry guys."