Seperti mengalahkan kecepatan cahaya, kejadian semalam menyebar begitu saja di seluruh Santonius High School.
Err ... mungkin tidak, tapi seluruh kalangan anak muda di Salem Fork.
Pasalnya ketika Maddie ingin berangkat sekolah, Dee—gadis berkulit eksotis—tetangga Maddie—menghampiri Maddie lalu tanpa sungkan menanyakan peristiwa semalam, padahal sebelumnya mereka belum pernah bertegur sapa.
"Jadi siapa yang memenangkan perkelahian?" Dee menyibakkan rambut cokelat terangnya ke belakang, saat dia berusaha mengimbangi langkah Maddie menuju sekolah.
"Kau bertanya padaku? Aku pemenangnya."
"Hmm ... meragukan. Dilihat dari plester di wajahmu, itu pukulan telak."
Maddie memutar mata. "God dammit, si Perak itu kabur dengan mobilnya."
"Aaron tidak pernah kabur, pasti ada hal lain yang mendesak."
"Polisi ... dan dia kabur begitu saja, padahal aku—"
"Masuk akal. Siapa pun tidak ingin berurusan dengan polisi. Jeruji tahanan sangat tidak nyaman."
Refleks, Maddie menghentikan langkah dan menatap Dee dengan pandangan heran. "What? Apa kau berpihak—"
"Well, dia tampan."
"Freak. Apa kau ada di sana?"
Dee mengedipkan sebelah mata lalu meletakan jari telunjuk di depan bibir. "Itu menyenangkan. Bye! Pacarku sudah datang."
Maddie mengernyit—bertanya-tanya apa Dee ada di pesta itu juga? Atau dia mendengar gosip? Tapi ... lot of laugh! memangnya Aaron se-terkenal itu?
Semoga orang tua Maddie tidak mengetahui cerita sebenarnya.
Bagaimana pun, Maddie tahu betul, apa yang akan ia dapatkan jika ayah tirinya mengetahui hal tersebut. Pria itu tipikal protektif kepada orang-orang tersayangnya.
Jadi masalah yang seharusnya pendek, bisa jadi panjang.
Beruntung Maddie berhasil kembali ke rumah, sebelum orang tuanya terbangun. Shone yang mengantar—sekitar jam empat subuh, dengan menggunakan mobil—orang tua Shone berada di luar kota, so ... seharusnya semua akan baik-baik saja.
Kecuali jika ada seseorang yang tidak tahu cara menggunakan filter saat menyebarkan informasi.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa, Shone juga merawat luka di wajah Maddie dan sedikit di beberapa tempat, sehingga saat sarapan Maddie bisa bersilat lidah, mengatakan bahwa dia mengidap sleep walking dan karangan ngaco pun terselesaikan dengan baik.
"Akan kuucapkan terima kasih lagi saat bertemu Shone."
***
"Hai, Maddie."
Maddie terperanjat, bahkan nyaris melompat. Sapaan Alma berhasil mengejutkan Maddie—seperti suara katak yang berusaha membebaskan diri, karena tidak ingin menjadi bahan percobaan biologi di kelas pertama.
Maddie takut katak, dan binatang malang itu berada di tangan Alma—terbungkus plastik berukuran sedang. Melompat ke sana-kemari, hingga membuat Maddie bergidik jijik.
"Ew ... kau akan membunuhnya atau membelahnya hidup-hidup?"
"Aku mendengar kabar dan itu ada kaitannya dengan wajah burukmu."
Fine, sepertinya pembicaraan mengenai katak kurang menarik perhatian Alma. Ia juga tidak peduli dengan mimik jijik di wajah Maddie, karena sekarang Alma malah bersandar di samping loker Maddie.
"Jelaskan sekarang," tuntut Alma, sembari memberikan tatapan menyelidik ke arah Maddie.
Maddie refleks memutar mata.
Lagi-lagi pertanyaan mengenai perkelahian di Lorton Lick. Maddie cukup bosan, karena mungkin ini sudah yang ke sembilan puluh sembilan kali ia harus mendengar dan menjelaskan hal serupa.
"Alma sayang, akan kuberitahu beberapa hal; satu wajahku tidak terlihat buruk ini hanya beberapa plester, dua jika kau mendengar bahwa aku berkelahi dengan Aaron di Lorton Lick, itu benar, tiga yang kulakukan hanya untuk menyelamatkan Shone."
Maddie mengembuskan napas lalu berjalan meninggalkan loker, tanpa harus repot mengajak Alma.
Nyatanya hal tersebut memang tidak diperlukan karena si gadis pirang—Alma sudah berada di sisinya.
"Dia menculik Shone kemarin, sejak kita tidak melihatnya lalu—"
"God dammit, just shut up, Maddie! Ini menyakitkan. Jika itu sungguhan, aku akan benar-benar terluka mendengarnya." Alma mencengkram bahu Maddie.
"Sayangnya itu sungguhan."
"Well, bukan berarti kau harus merusak wajah cantikmu! Ya Tuhan, bagaimana jika lukanya membekas?! Si b******k itu harus membayarnya!"
Nada suara Alma terdengar sangat khawatir. Namun, cenderung berlebihan bagi Maddie.
Maddie mengernyit dan tersenyum miring. "Kau baru saja menyebutnya brengsek."
"Dia layak mendapatkan julukan itu!"
"Dinding punya telinga. Apa kau sekarang berani melawannya? Pilihan yang tepat."
"Bukan, tapi karena sekarang ada kau. Kau adalah malaikatku dan aku mengkhawatirkan wajahmu. s**l!" Alma mengamati plester-plester di tulang pipi dan hidung Maddie.
Itu pemandang yang sangat buruk bagi seorang perempuan dan Alma, tidak bisa membiarkan kecantikan Maddie berkurang karena bekas luka di balik plester tersebut.
Melihat reaksi Alma, Maddie mengembuskan napas. Rasanya malas sekali mendengar orang-orang yang mengkhawatirkannya, padahal Maddie yakin bahwa dia memang baik-baik saja.
"Alma, kau berlebihan. Aku bisa menutupinya dengan make up dan ini adalah hal biasa."
Benar. Setelah menguasai krav maga, Maddie memang sudah mendapatkan banyak luka—benda tajam, mau pun tumpul—akibat harus berkelahi dengan para sekelompok geng atau karena menyerahkan diri agar mereka mau membebaskan korban.
Hal itulah yang membuat orang tua Maddie mengira, bahwa Maddie suka berkelahi, sehingga ayah tirinya memutuskan untuk menerapkan kedisiplinan ala militer.
"Dan kau hanya tidak tahu, bahwa setelah melihat tubuh telanjangku, mungkin kau akan terangsang." Maddie mengerling jenaka.
Refleks Alma mengernyit—berekspresi jijik dan menjaga jarak. "Sorry, Maddie. Aku bukan lesbian atau bisex dan kupikir, lebih baik melihat tubuh t*******g Tyga, daripada tubuhmu."
Bel kelas pertama berbunyi, membuat Alma melebarkan langkah sembari berteriak, "Kita akan membedah katak. Berlomba untuk memutuskan siapa yang akan membunuh."
"What?! No, I don't wanna touch it!"
"So?!"
"Dammit! Can I skip this f*&king class?!"
Alma tertawa riang, menyadari bahwa Maddie baru saja mengumpat dan terpaksa ikut berlari membelah kumpulan para murid yang bergerombol menuju kelas.
***
Di koridor gedung D, saat kelas benar-benar berakhir.
Di antara gerombolan murid, tiba-tiba benturan keras terdengar nyaring. Bahkan membuat siapa pun menghentikan aktivitas mereka untuk mengetahui apa yang terjadi.
Masing-masing di wajah mereka tampak penasaran dan akan menjadi antusias, jika melihat apa kejadian yang satu ini.
Err ... tidak juga, karena beberapa mungkin akan berpikir beruntung-bukan-aku-yang-berada-di-posisi-itu.
Aroma s**u basi dan makanan bekas mulai mengudara, membuat siapa saja yang menghirup berpikir untuk muntah ....
... atau beberapa di antara mereka, benar-benar sudah muntah.
"Please, stop it. I can't give you money anymore."
Di antara isak tangis yang berusaha ditahan, pemuda bertubuh pendek dan gendut terlihat sedang berusaha memohon belas kasih dari sang raja.
Dengan baju kotor akibat terkena sisa-sisa cairan dari bak s****h, pemuda itu tampak menyedihkan. Bahkan samar-samar, terlihat bekas memar yang belum menghilang.
Yang melihat kejadian itu pun, tidak memiliki niatan untuk menolong. Pandangan mereka memang menunjukan rasa prihatin dan simpati, tetapi lebih baik untuk tak ikut campur.
Terutama jika menyangkut dengan Aaron Wudson.
"Berani menolakku, hah?!" Aaron menendang perut pemuda yang tadi memohon.
Teriakan penuh rasa sakit kembali terdengar dan Aaron menarik rambut pemuda itu—bersiap untuk mendaratkan pukulan.
"Hit! Hit! Hit!" Sorak provokasi terdengar, merajai koridor dan hal itu dimulai oleh Clay kemudian menjalar ke seluruh murid yang menonton.
Pemuda itu semakin ketakutan. Namun, juga memilih untuk menyangkal permintaan Aaron.
"I'm so sorry, I can't give you—"
"Berikan uangnya! Atau kau mau berakhir di sini!" Aaron meninggikan suara, tepat di hadapan pemuda itu.
Aaron tetaplah Aaron, meski dengan wajah lebam dan beberapa plester di sana, aura menyeramkan senantiasa menyelimutinya. Terlebih lagi, dia juga mendapat label sebagai si mata es.
Bahkan korbannya kali ini pun tidak mampu menyembunyikan tubuh gemetar itu dan sampai-sampai tanpa sadar, dia membasahi celana.
Sial!
Aaron tersenyum miring.
Ekspresi meremehkan terlihat di wajahnya.
Tanpa sungkan, ia melepas jambakan di rambut pemuda itu ....
... lalu menginjak tangan kiri korbannya.
Clay merekam dan semakin semangat mengompori tindakan Aaron.
Murid-murid yang menonton jadi termakan provokasi, lalu ikut bersorak kegirangan dan turut merekam.
"Kita teman, bukan?! Seharusnya kau menurut dan aku akan berhenti!!" Aaron menendang wajah si gendut, hingga cairan beraroma besi keluar dari salah satu rongga hidungnya.
Pemuda itu menitikan air mata. Wajahnya tidak bisa menahan rasa sakit luar biasa dan dia merangkak, memohon agar Aaron berhenti melakukan hal tersebut.
Di sisi lain, lebih tepatnya di tengah keributan, Maddie juga terlihat sedang berusaha masuk ke dalam kerumunan tersebut lalu berniat untuk menonjok si perak itu.
Sebenarnya Maddie juga tidak tahu jelas apa yang terjadi. Namun, saat ingin meninggalkan gedung D dan bersiap pulang, ia tak sengaja melihat pemandangan tersebut.
Jujur saja, Maddie tidak bisa membiarkan penindasan ini berlangsung lebih lama lagi.
"Kau tidak pernah kapok rupanya."
Tepat di belakang punggung Aaron, Maddie menarik bahu pemuda itu kemudian melayangkan tinjuan cepat di wajah Aaron.
"Apa kau begitu miskin! Sampai harus memaksa orang lain untuk memberimu uang, hah?!" Maddie menarik kerah baju Aaron, memosisikan agar mereka saling berhadapan, lalu mendorong tubuh pemuda itu kuat-kuat. "Ambil uangku dan jangan ganggu dia! Atau—" Ucapan Maddie terputus.
Amarah Maddie semakin memuncak, ketika melihat Aaron menjatuhkan, bahkan menginjak lembaran uang yang ia berikan demi menyelamatkan pemuda itu.
Ini penghinaan!
Bagaimana pun orang tua Maddie telah bekerja keras demi lembaran kertas s****n itu!
Aaron menaikan sebelah alis, melangkah pelan, sembari mengusap bibir bawahnya dengan menggunakan ibu jari.
Para gadis kompak histeris, berharap bibir itu bisa menyentuh kulit mereka, sedangkan Maddie malah membuang saliva seolah jijik melihat Aaron.
Maddie teringat, perkelahian semalam belum selesai, bukan?
Jadi tidak masalah, jika Maddie harus berakhir di ruang konseling dan menerima hukuman.
"Aku tidak berkelahi di sekolah, tapi jika kau menyerang aku—"
"Daripada uang, aku jadi menginginkan hal lain," bisik Aaron tepat di telinga Maddie, saat ia berhasil mengunci pergerakan Maddie.
Aaron menggigit pelan telinga Maddie.
Mengunci kuat semua anggota gerak gadis itu ....
... dan secara paksa ia melumat bibir Maddie.
Jika para gadis histeris karena ingin berada di posisi Maddie, maka Maddie malah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menjauhkan Aaron.
"F*&k off, Aaron!"
Aaron mundur selangkah dan memberikan senyum meremehkan. "Ingin memukulku lagi? Atau melanjutkan perkelahian semalam? Aku menantikan hal itu. Come," titahnya tanpa rasa bersalah.
Aaron punya rencana, tetapi Maddie malah mematung.
Jika ditanya, Maddie ingin sekali menghabisi si perak itu. Bahkan dewi batinnya sudah meronta-ronta, meminta agar Aaron sebaiknya dibunuh saja.
Akan tetapi, di luar dugaan, Maddie malah membalikan tubuh, berlari secepat mungkin dan merasa ada setetes air yang membasahi kulit wajahnya.
Maddie berharap bahwa ini adalah tetesan air dari langit. Namun, saat Maddie menengadah, ia mengetahui kebenaran.
Dan Maddie membenci hal itu.
"Looser!"