"Tenagaku masih cukup untuk melawan satu orang lagi, sebelum Aaron berani menunjukkan wajah keledainya."
****
Aaron tersenyum angkuh saat mendengar ucapan Maddie lalu sengaja mengecilkan musik, hingga perhatian pun kini berpusat padanya---termasuk, Maddie, Shone, dan Dean.
Bertepuk tangan dengan memberi jeda disetiap tepukan, Aaron melangkah pelan mendekati mereka bertiga. Ekspresi pemuda itu tidak terbaca, membuat siapa pun bisa merasakan ketegangan yang ia ciptakan.
"Very nice work, Babe."
Sambil menatap Maddie tajam, Aaron mengisyaratkan Dean untuk menjauh.
"Dua kali mengataiku keledai, sekali menendang wajahku, dan sekarang merusak kesenanganku dengan membebaskan si domba s****n itu. Kau akan segera berakhir," ucap Aaron, sambil tiba-tiba mendaratkan pukulan.
Maddie terkejut, hingga suara gemerisik ranting pohon terdengar saling bergesek seiring dengan langkah kaki gadis itu, menimbulkan kesan bahwa sang serigala betina sedang berusaha melindungi domba kecilnya.
Cepat juga, pikir Maddie dan di waktu bersamaan ia sempat mengira, bahwa jantungnya hampir saja tertinggal akibat serangan mendadak dari Aaron.
Seharusnya Maddie tetap melatih ketangkasan saat menghadapi situasi ini.
Aaron tertawa pelan lalu memberi isyarat agar musik kembali dinyalakan. Kemeriahan pesta lagi-lagi terdengar saling bersahutan. Mereka---para orang sinting---sayup-sayup mengatakan, bahwa perkelahian ini akan menjadi ajang taruhan yang menyenangkan.
Aaron menikmati itu, tetapi Maddie malah membencinya setengah mati.
To be honest, Maddie tidak suka menjadi barang taruhan.
"Kau bilang orang sepertiku hanya mengandalkan otot. Kau salah besar, Babe. Keadaan kekasihmu itu lebih membuatmu terluka, 'kan?"
"b******k kau, Aaron!"
"Yes, I am."
Sekali lagi Aaron mengarahkan serangan ke arah Maddie. Kali ini dengan trik berbeda---memperlihatkan bahwa Aaron serius melawan Maddie tanpa memedulikan bahwa lawannya adalah seorang perempuan.
Aaron melakukan gerakan memukul---mengarahkannya pada wajah bagian depan dan perut---salah satu trik taekwondo---malangnya, Maddie kecolongan akibat ucapan Shone yang meminta dia untuk kabur sekarang juga.
"Maddie, stop it! Dia akan membunuhmu!"
"Just shut up, Shone!"
Maddie meludah dan mundur beberapa langkah sekadar bernapas untuk sesaat. Kecerobohan yang berakibat fatal—Maddie tidak bisa menerima kenyataan itu, selama ini dia selalu teliti dalam perlindungan diri, sehingga dengan jarak yang tak terlalu jauh gadis itu memasang kuda-kuda.
Wajah Maddie menampilkan ekspresi serius dan perkelahian dengan dua teknik berbeda benar-benar akan dimulai.
Sesaat angin malam berembus, seolah berusaha meredam gejolak api yang tertanam di dalam jiwa mereka. Shone masih senantiasa membujuk Maddie dan Aaron dari kejauhan. Namun, dari awal hal itu sia-sia karena suara Shone tertelan oleh hiruk pikuk para pemasang taruhan.
"Lemah, heh?" Nada mengejek Aaron jelas terdengar di antara keriuhan.
Maddie mendecih.
"Taekwondo. s**l! Kupikir kau tidak menguasai teknik."
"Dan hari ini kau—"
Ucapan Aaron terputus saat Maddie melangkah cepat. Bahkan berusaha melebihi kecepatan Aaron sebelumnya. Gadis itu merunduk, demi menjauhi pukulan Aaron dan segera melayangkan tendangan jarak pendek ke perut pemuda.
Tidak sampai di situ, dengan cekatan Maddie juga memukul bagian pipi kanan dan kiri Aaron kemudian menarik kerah baju pemuda itu lalu memberikan tendangan lutut di perut.
Serius, ini menyakitkan dan Aaron tahu teknik apa yang dikuasi Maddie.
Maddie bergerak brutal—tidak memberikan jeda sedikit pun—hingga Aaron tidak mampu menghalau, bahkan sampai ia harus terjatuh ke tanah penuh ranting.
Lagi-lagi suara daun kering dan ranting-ranting di atas tanah kembali terdengar, bersamaan dengan geraman kecil dari bibir Aaron.
"Wake up, Aaron! Don't let her alive!!" seru salah seorang pemuda di antara sekelompok orang yang sedang menonton perkelahian mereka.
Berusaha meredam rasa sakit, Aaron lalu segera mencari celah serangan lanjutan. Ia tidak boleh dikalahkan oleh siapa pun dan pertarungan ini bukanlah pertama kali bagi Aaron.
Dan Aaron harus membunuh Maddie, gadis yang namanya baru saja ia ketahui beberapa jam lalu.
"s**t!" maki Aaron lalu mengaitkan sebelah kakinya ketika Maddie kembali ingin menyerang Aaron.
Layaknya seorang profesional, Aaron menyalurkan kekuatan pada kedua kaki demi menjatuhkan Maddie kemudian tanpa pikir panjang, melayangkan tendangan ke bagian tulang pipi Maddie.
"Whoaaa!!! s**t, Man, nice kick!!!!" Seruan kembali terdengar dan beberapa uang kertas kembali dikumpulkan kepada salah seorang di antara para penonton.
Maddie ambruk dan kesempatan itu digunakan Aaron untuk berdiri lalu mengunci pergerakan Maddie. Sambil tersenyum meremehkan, Aaron mengepalkan tangan kanannya, bersiap untuk memukul Maddie habis-habisan.
"Krav maga. Aku baru saja ingin mempelajarinya dan ingat kekuatan gadis tidak pernah sebanding dengan lelaki."
Telak dan sangat keras, Aaron memberikan pukulan di pipi kiri Maddie. Bahkan tanpa ada rasa simpati di sana.
Aaron benar-benar serius ingin mengakhiri gadis ini.
Dan Maddie, sejak awal telah melakukan kesalahan karena terlibat dalam setiap urusan Aaron.
"Oh, yeah! God dammit!! Kill her, Aaron. You're the boss!!!"
Sorak penuh suka cita terdengar semakin menjadi-jadi, seolah perkelahian Aaron dan Maddie, adalah pertunjukan gladiator paling menakjuban sepanjang sejarah.
Aaron tersenyum asimetris, membuat Maddie tak kuasa menerima serangan memalukan ini, sehingga meski terasa sulit, gadis itu berusaha menjauhkan Aaron dari tubuhnya.
Aku tidak boleh mati di sini. Susah payah, Maddie memutar tubuh hingga berhasil membuat Aaron goyah dan terjatuh.
"You can't kill me because I'll fight you back, remember?!"
Maddie berdiri di hadapan Aaron dan mengusap darah di bagian tulang pipinya. "Orang sepertimu tidak layak mengusai krav maga!" Maddie kembali mendekat, lalu melompat ke arah ranting pohon yang tidak terlalu tinggi dan menendang Aaron dengan kedua kakinya.
Maddie tersenyum puas, perkelahian di tempat terbuka selalu membantu.
Di sela-sela perkelahian, Maddie bisa melihat bahwa Aaron semakin murka dan tidak mampu mengontrol emosinya.
Tampak jelas dari cara Aaron memberikan tendangan bertubi-tubi.
Maddie sendiri tak mampu mencari celah saking cepatnya gerakan Aaron. Dalam diam, Maddie menilai bahwa pemuda itu pasti sudah sangat sering berkelahi.
Baru saja ingin membalas serangan, sesuatu berhasil mengalihkan perhatian mereka. Well, bukan hanya Maddie dan Aaron, tetapi semua yang berada di dalam pesta itu.
Sirine polisi!
Pertanda bahwa pesta telah berakhir dan seperti semut yang diganggu, para remaja itu bergegas memasuki mobil kemudian buru-buru meninggalkan lokasi.
"b******k, kau lengah dan memberiku celah begitu besar," bisik Aaron, sembari memberikan pukulan keras di pipi kiri Maddie hingga gadis itu kembali tersungkur. "Jackpot."
Saat itu pula Shone seperti kehabisan suara, pasalnya sejak awal perkelahian Shone senantiasa berteriak, memohon agar Maddie dan Aaron menghentikan aktivitas berbahaya tersebut.
"Maddie!! Kau terluka. Maafkan aku, seharusnya kau tidak perlu datang ke sini."
"b******k, kabur dari sini!"
"Kita akan melapor."
"Bodoh, kau tidak tahu apa-apa?! Aku kabur dari rumah dan jika orang tua itu ... ah, s**l! Bantu aku berdiri dan lari saja."
Maddie berusaha bangkit dari tempat ia tersungkur. Cairan kental dan hangat bisa dia rasakan mengalir di bagian pipinya. Bahkan rasa nyeri terasa semakin kuat. Maddie meringis, tangannya gemetar seolah kesulitan mengangkat tubuh, dan Shone dengan cekatan membantu gadis itu untuk berlari masuk ke dalam hutan—bersembunyi.
Sedangkan Aaron, ia sudah berada di dalam mobil berusaha kabur sebelum polisi benar-benar sampai dan menangkap mereka.
Dewi keberuntungan benar-benar berpihak pada mereka malam ini. Aaron berhasil kabur, Maddie dan Shone berhasil bersembunyi di dalam hutan, di balik salah satu pohon besar.
"Urusan ini belum selesai, sebelum si Keledai itu berhenti melukai harga diri orang lain." ucap Maddie, sambil memberikan tinjuan pada batang pohon di tengah kegelapan hutan. "i***t!"
Shone tidak menjawab—bukan berarti mengabaikan Maddie—hanya saja, dia ketakutan.
Suasana hutan, terlalu gelap untuknya.
"Kau takut?" tanya Maddie, beberapa saat setelah menyalurkan emosi pada batang pohon di depannya.
"Ini terlalu gelap. Kau tahu, tidak bisa menghalau rasa takut, padahal aku ingin terlihat keren, meski dari awal---"
"Pegang tanganku. Kau sudah keren dengan caramu sendiri."
"Itu hanya sekadar ucapan penghibur."
"Kau pikir? No, I'm serious, Shone. Bawa aku keluar dari sini dan pastikan kita tidak tertangkap."
Shone tidak mampu berkata-kata lagi, lebih tepatnya setelah Maddie mendaratkan ciuman singkat di pipi kanan pemuda itu. Bahkan jelas-jelas Shone gemetar saat menggenggam tangan Maddie, seolah seumur hidup dia tidak pernah melakukan hal tersebut.
Terus melangkah pelan ke luar hutan, kepala Shone senantiasa dipenuhi dengan kekhawatiran tingkat tinggi. Dia tidak ingin berurusan dengan kantor polisi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Berdua bersama Maddie di tempat sepi, bagaimana pun Shone juga seorang lelaki dan Maddie menarik perhatiannya.
"Kuharap tidak akan ada yang mengetahui permasalahan ini," ucap Shone ketika mereka sampai di badan jalan dan tidak menemukan keberadaan polisi lagi.
"Kau di-bully, Shone. Seharusnya kau melapor untuk menghentikan mereka." Maddie menebarkan pandangan, seolah sedang mencari sesuatu lalu mempererat genggaman tangan Shone. "Asshole! Aku kehilangan sepedaku. Tenang, semua akan baik-baik saja kalau kita tetap bersama."
Shone tersenyum tipis lalu menyelipkan rambut Maddie di kedua sisi telinga gadis itu. "Kau terluka, mau naik ke punggungku?"
Tawa pelan terdengar dari bibir Maddie. Ia merasa lucu dengan tawaran Shone, tetapi di waktu bersamaan gadis itu meringis.
"Apakah itu perlu? Kau sendiri terlihat menyedihkan."
"Kau memberiku kekuatan, Mad. Setidaknya malam ini, aku bisa terlihat sedikit gentle dengan menolongmu."
"Baiklah," tukas Maddie. Keceriaan menyelimuti diri gadis itu lalu menempelkan tubuh di punggung Shone. "Jangan sampai jatuh."
Tanpa sepengetahuan Maddie, wajah Shone memerah dan ia merasa suhu tubuhnya meningkat, padahal malam malam ini cuaca sudah terasa dingin.
"Apa kau menyukai pemandangan langit di kala malam, Shone? Aku menyukainya dan selalu ingin menikmati taburan bintang bersama orang yang kusuka suatu saat nanti. Di tengah padang rumput, sepertinya menarik."
"Aku ... hmm ... apa pun jika bersama orang yang kusuka akan selalu menyenangkan."
"Oh, so lovelly." Maddie kembali tertawa lalu meletakan pipi hangatnya di bahu Shone. "Saat kau dewasa nanti, istrimu akan sangat bahagia."
"Entahlah, tapi kita masih delapan belas."
Maddie diam dan memilih untuk tidak menjawab, sedangkan Shone jujur saja, ia sudah hampir mati karena bisa sedekat ini dengan Maddie dan sepertinya gadis itu benar-benar tidak peka dengan keadaan Shone.
"Kalau kelelahan turunkan saja. Aku akan balas menggendongmu."
"Tidak, Maddie, kau istirahat saja di punggungku."
***
Aaron mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia merasa kesal, hingga beberapa kali harus memukul setir mobil dan mengeluarkan makian.
Mengingat pestanya sangat jarang diketahui oleh pihak kepolisian, hal itu membuat Aaron yakin, bahwa ada seseorang yang melaporkan perkelahian ini.
Dan pastinya bukan Shone.
"s**l! Akan kucari si b******k itu." Aaron semakin meningkatkan kecepatan mobilnya, membelah jalanan sepi dan berpikir keras, mencari tahu siapa musuh paling berpotensi dalam geng.
Semua orang yang kenal Aaron pasti mengetahui bahwa dia tidak akan pernah menyerahkan geng dengan mudah. Dia bahkan rela menumpahkan darah demi menjaga wilayah kekuasaan dan hal itu terlihat saat empat tahun lalu, sebelum Aaron menjadi ketua geng dan akhirnya menjadi seperti sekarang.
Aaron tipikal pemimpin yang sulit dikalahkan.