Lukisan langit yang sebelumnya berwarna jingga kini berubah kelam. Taburan kerlip kecil berhasil menambahkan kemegahan ciptaan penguasa semesta. Jika memandangnya di tempat sepi, maka akan mendapatkan ketenangan. Namun, hal itu tidak berlaku saat berada di pinggir hutan kawasan Lorton Lick Street.
Api unggun terlihat membumbung tinggi di tepi hutan, jalanan yang cenderung sepi membuat berbagai macam lagu RnB dan rap berhasil memecahkan keheningan. Bahkan suara jangkrik pun nyaris tak terdengar.
Para anak muda saling berdansa, bergerak liar, berpelukan, berciuman, dan ada beberapa yang memilih masuk lebih jauh ke dalam hutan—semua orang tahu bahwa keesokan pagi akan ada k****m bekas pakai berceceran di sana.
Malam itu, hawa dingin benar-benar menusuk kulit, tetapi beer dan vodka berhasil membakar tubuh mereka dari dalam.
Aaron ada di sana dan dialah yang menjadi tuan rumah malam ini. Namun, memiliki label demikian bukan berarti Aaron akan menikmati pesta malam itu. Hal tersebut terjadi karena tamunya belum menunjukan batang hidungnya, bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
"Tidak ingin ikut adu panco dan memasang taruhan?" tanya Clay, tiba-tiba menghampiri Aaron dengan sekaleng beer di tangannya. "Apa kau tahu, beberapa anggota Dean ada yang gay? Kau bisa menggunakan dia untuk hiburan." Sambil menunjuk ke arah Shone yang terikat di dalam mobil, Clay tertawa mengejek. Bahkan cenderung dibuat-buat.
"Kau mabuk. Mukamu sudah seperti p****t babi."
Clay menunjuk dirinya. "Me? F*&k no, you b***h! Aku masih kuat. i***t!"
Aaron mengembuskan asap rokoknya. "s**t! Aku lebih suka p***y, daripada a*s hole."
"Kalau begitu berikan hadiahnya untukku jika kau menang." Clay tersenyum semringah lalu kembali meminum beer-nya.
Aaron tersenyum miring, tahu bahwa Clay mabuk—ditandai dengan adanya ide konyol demi memeriahkan pesta.
Salah satunya, yaitu mengorbankan seseorang sebagai bahan taruhan.
Well, hanya untuk bersenang-senang sebelum polisi menghancurkan kesenangan mereka, jadi tidak ada salahnya melakukan ide Clay.
Menoleh ke belakang, tempat Shone disekap, Aaron berdecih lalu merebut kaleng beer milik Clay. Pemuda itu memiliki pemikiran yang akan meringankan beban Shone, ketika para gay tersebut akan menyentuhnya—nanti.
Bukankah Aaron adalah pemuda yang baik?
Yeah, hanya Aaron yang mengatakan demikian karena faktanya hal itu akan benar-benar kejam, sebab Shone bukanlah seorang gay.
"Kau ingin pergi dari sini dan pulang ke rumah, 'kan?" tanya Aaron santai, tetapi cenderung mengkhawatirkan di telinga Shone.
Shone tidak menjawab. Mulutnya tersumpal kain, serta kaki dan tangannya terikat—sejak Shone bertemu Jack di gedung E, apa yang dikhawatirkan Shone terjadi juga. Ia disekap di dalam gudang olahraga bersama Jack, kemudian dipindahkan ke kursi penumpang mobilnya dan dibawa paksa ke tempat ini.
Shone bisa melaporkan hal tersebut sebagai tindak penculikan. Akan tetapi, tidak mungkin ia melakukan hal tersebut karena Aaron pasti tidak akan diam jika ia selesai menjalani proses hukum.
"Kumohon, aku tidak pernah minum akohol dan ... dan kita masih di bawah umur, Aaron." Shone memohon dengan sepenuh hati ketika Aaron membebaskan sumpalan di mulut pemuda itu.
Namun, Aaron tidak peduli dan malah menjawab, "Oh, Come on, jadilah dewasa, little pig."
Aaron mendorong bahu Shone, membuka paksa mulut pemuda itu lalu menuangkan beer ke dalam sana—tanpa peduli Shone yang sedang tersedak. Ia bahkan menertawai tingkah Shone, hingga buru-buru, setelah melepaskan ikatan di kaki Shone, Aaron menyeretnya ke tengah dan mengisyaratkan bahwa dia ingin mengumumkan sesuatu.
"Sudah cukup acara pembukaanya dan sekarang akan kuperkenalkan guest star malam ini.
"Si b******k ini akan memberikan ciumannya sebagai hadiah, bagi pemenang adu panco. Tidak hanya untuk para gadis, tetapi juga untuk kalian!!" seru Aaron, sambil menunjuk menggunakan dagu ke arah tiga pemuda di depannya; Isaac, Kevin, dan Keanu—anggota geng Killa—gay—salah satu geng sahabat yang diundang Aaron di pesta ini.
Dan Dean pemimpin Killa adalah teman dekat Aaron.
Mereka bertiga refleks tersenyum lalu bersamaan meneguk beer dengan kasar dan membuangnya ke sembarang arah. Aaron menyeringai, sambil melirik bergantian ke arah Shone serta Jack—mengisyaratkan bahwa ajang ini bisa digunakan sebagai ajang taruhan uang.
Terlebih wajah manis Shone, ternyata juga memancing para gadis yang berebut ingin menciumnya.
Tentu saja para gadis itu akan menyewa lelaki berpotensi untuk memenangkan adu panco dan Aaron yakin, mereka akan rela mengeluarkan uang.
Point plus-nya, gadis-gadis itu juga sudah mabuk.
Di tengah keriuhan para penonton dan peserta adu panco, di waktu bersamaan Shone meronta-ronta agar dibebaskan. Namun, siapa yang mau mendengar jeritan anak domba di kala para serigala saling bertarung untuk mendapat santapan lezat.
Waktu terus berlalu, jantung Shone semakin berdebar kuat, meki ia dalam keadaan hampir mabuk dan ketakutan. Dalam hati dia senantiasa berdoa agar yang menciumnya bukanlah seorang laki-laki atau lebih baik tidak ada ciuman, karena Shone belum pernah melakukan itu.
Shone berharap bahwa polisi akan segera datang dan membubarkan pesta konyol ini. Menyelamatkan Shone dari momen memalukan tersebut dan membebaskannya dari tindak p*********n.
Saat itu pula Shone ingin kembali memohon pada Aaron. Namun, dia baru menyadari bahwa pemuda itu menghilang bersama Clay, meninggalkan Jack yang senantiasa menatapnya dengan gaya kedua tangan di depan bibir lalu menjulurkan lidah bergoyang.
Siapa pun paham maksudnya.
Ya Tuhan, ini sungguh malapetaka. Shone ingin menangis saat itu juga. Namun, air matanya enggan keluar.
***
Maddie mendapat pesan berisi undangan dari nomor asing pada pukul satu dini hari dan hal tersebut, berhasil membuatnya membulatkan mata.
Bagaimana tidak pesan itu berisi ajakan pesta di kawasan hutan Lorton Lick dan parahnya ada nama Shone di sana sebagai guest star. Saat itu pula Maddie teringat ucapan Aaron.
Aaron menginginkan blow job sebagai ganti dari informasi di mana Shone.
Awalnya Maddie menganggap hal itu sebagai omong kosong, tetapi setelah beberapa menit lalu Maddie tahu bahwa ini sungguhan.
F*&k! Pikir Maddie—meremas rambutnya—frustrasi karena sekarang sudah pukul setengah dua dini hari.
Tiga puluh menit terbuang sia-sia hanya karena berpikir tentang bagaimana cara kabur dari rumah.
Shone benar-benar dalam bahaya dan Maddie sangat ingin menyelamatkan Shone secepat mungkin. Namun, ayah tiri Maddie bukanlah tipe pria yang mudah melepaskan anak putrinya keluar malam, sehingga mau tak mau Maddie harus menunggu mereka tertidur lalu kabur menggunakan sepeda.
"Maafkan aku, Shone." Maddie mengambil jaket, ponsel, dan helm sepeda lalu mengendap-endap keluar rumah melalui pintu belakang.
Bagi Maddie saat ini lebih menyeramkan, daripada menonton film horor di dalam kamar setiap kali ia tidak bisa tidur. Gadis itu menggiring sepeda—secara perlahan—meninggalkan halaman rumah, berusaha sebisa mungkin meminimalisir keributan, agar kedua orang tuanya tidak terbangun.
Butuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk mencapai lokasi yang dituliskan pada pesan itu, jika Maddie mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh dan dia telah mempersiapkan semuanya; jaket, celana jeans, pelindung lutut, helm, dan ponsel.
Maddie mengayuh sepeda secepat mungkin, melawan hawa dingin yang menampar wajah hingga membuat embusan napas gadis itu membentuk kepulan asap.
Dua puluh tujuh menit dan Maddie tiba di pesta yang sudah dalam keadaan kacau balau.
Buru-buru Maddie memarkirkan sepedanya secara asal kemudian berlari, mencari celah di antara kerumunan orang-orang yang saling bersorak menyebutkan nama Keanu dan saat itu pula wajah Maddie memerah.
Ia maju beberapa langkah, menelan amarah barang sesaat agar tidak gegabah, sebelum memastikan siapa yang sedang dicium secara paksa oleh lelaki bertubuh besar itu.
"Hei!" seru Maddie, sambil menarik kuat bahu pemuda itu agar menjauh dari sosok yang meronta-ronta. Namun, tak sanggup bergerak karena terikat.
"Jika kau ingin mencium seseorang, lakukan dengan orang yang menginginkannya! Apa kau tidak tahu sopan santun!!!" Maddie mendorong d**a pemuda tersebut, bahkan hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
Menoleh sesaat dan mengetahui siapa yang dicium paksa barusan, seketika amarah Maddie benar-benar meledak. Terutama setelah tahu bagaimana keadaan orang tersebut, dia Shone—dalam kondisi menyedihkan, mata basah akibat menangis, bibir berdarah akibat gigitan pemuda bernama Keanu, dan s**l! Orang itu juga memberikan kiss mark.
Benar-benar tidak bisa diampuni!!! Batin Maddie kemudian melayangkan tendangan ke arah pemuda itu dan telak mengenai dadanya.
"Keanu!!! Kau baik-baik saja?!" tanya seorang wanita berpakaian seksi lalu langsung menghampiri pemuda yang baru saja diserang Maddie.
Maddie tidak peduli dengan keadaan lelaki itu, karena sekarang misinya adalah membebaskan Shone. Hampir saja Maddie menurunkan kewaspadaan dan hampir diserang, jika Shone tak berteriak memberitahu bahwa Keanu ingin mendaratkan tendangan.
Bergerak gesit, Maddie berhasil menghalau dan tanpa menunggu serangan lebih lanjut, gadis itu memilih untuk cepat-cepat menyelesaikan perkelahian tersebut dengan menyerang bagian-bagian sensitif, hingga Keanu berhasil tumbang di hadapannya.
Lawannya hanya pandai berkelahi, tanpa menguasai teknik.
Beruntung, musik dari dalam mobil semakin menggila bersamaan dengan tarian mereka, sehingga perkelahian Maddie hanya dianggap angin lalu bagi orang-orang mabuk.
Namun, bukan Maddie namanya jika menolong tanpa mencari tahu siapa dalang di balik peristiwa ini.
"Katakan padaku siapa yang melakukan ini?" tanya Maddie, sambil membantu Shone berjalan menuju mobilnya. Namun, pemuda itu memilih menunduk. "Aaron?" tanya Maddie lagi to the point.
Tidak ada jawaban dari Shone. Maddie jadi berdecak kesal.
"Mengapa harus bungkam demi melindungi si Lubang p****t itu, hah?!" Maddie menjauhkan tangan Shone sekaligus menjaga jarak.
"Kau ...." Ucapan Maddie terputus saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
Sepasang mata Shone membesar dengan ekspresi ketakutan dan Maddie bisa mengerti hal itu, bahwa ada orang lain yang ingin menyerangnya lagi, sehingga ia harus mempersiapkan kuda-kuda.
Maddie tidak langsung menolah, melainkan segera menjauh sekitar satu meter dan sigap berbalik melihat siapa lawan selanjutnya. Namun, seketika ia mengeryit ketika seorang lelaki tertawa kecil, sambil menunjuk ke arahn Maddie.
"Welcome to jungle party. I'm Dean dan orang yang kau buat ambruk barusan adalah anggota geng-ku. Apa kau berniat memulai peperangan atau sekadar menyelamatkan pemuda itu?" tanya Dean lalu meneguk beer-nya. "Aku ingin kau bergabung."
Maddie mendecih. "Tidak berniat sedikit pun."
Masih mempertahankan kuda-kuda, Maddie meningkatkan kewaspadaan jikalau tiba-tiba dia akan menerima serangan. "Aku menyelamatkan temanku dari tindakan biadab kalian dan sekarang aku ingin menemui Aaron. Si Kepala Perak itu pasti dalang dari semua ini
"Maaf karena telah melukai anggotamu, tapi dia telah melukai temanku." Maddie berucap tegas bahkan tanpa sadar membuat Dean berdecak kagum, karena belum pernah menemui seorang gadis yang berani melawan Killa.
Dean jadi penasaran dari geng mana Maddie berasal. Namun, berurusan dengan Aaron itu berarti juga menjadi urusannya, sehingga tanpa menunggu lama Dean juga ikut memasang kuda-kuda. "Aaron tidak berada di sini dan jika kau bermasalah dengannya berarti sama saja dengan memiliki masalah denganku."
Maddie tersenyum miring, mematahkan leher ke kanan sebagai bentuk merenggangkan ototnya dan berkata, "Tenagaku masih cukup untuk melawan beberapa orang lagi, sebelum Aaron berani menunjukkan wajah keledainya."