Dia Lagi

1604 Words
Setelah puas berbelanja, Natalie mampir di sebuah restoran cepat saji. Ia memesan satu paket burger beserta milk shake yang menjadi favoritnya. Tabungannya lumayan terkuras untuk membeli keperluannya. Ia membeli tiga potong baju dan dua pasang sepatu. Untuk masalah harga, Natalie tidak pernah mempermasalahkannya. Dalam masalah penampilan, Natalie tidak tanggung-tanggung mengeluarkan uang tabungannya. Semua demi melancarkan misinya. Toh, jika ia berhasil uang yang ia keluarkan tidak akan berarti apa-apa. Ia masih melahap gigitan burger terakhirnya. Perutnya mulai terasa kenyang. Milk shake dalam gelas mulai habis tak bersisa. Natalie benar-benar kelaparan. Gadis berambut cokelat tersebut beranjak dan berniat pulang. Tak sengaja ia berpapasan dengan seorang lelaki yang tak asing menurutnya. Ya, ia adalah Kevin Pura Arjuna. Lelaki yang sempat membuatnya terpesona sekaligus kesal karena mengatainya wanita gila. Kevin terlihat bersama wanita cantik bertubuh langsing dan seksi. Sepertinya wanita itu model majalah dewasa. Natalie merasa tak asing dengan wajahnya. Apalagi balutan busana yang melekat sangat mencolok perhatian kaum adam. Kulit putih mulusnya terbuka untuk konsumsi umum. Bahkan belahan bagian dadanya terlihat begitu rendah. Setiap lelaki yang melihatnya pasti akan tergiur dengan kemolekan tubuh wanita tersebut. Melihat Kevin dan wanitanya mendekat. Natalie bersembunyi di balik tiang. Ia ingin tahu apa hubungan Kevin dengan wanita tersebut. Menurutnya kevin termasuk jenis lelaki play boy. Terlihat dari caranya memperlakukan wanitanya. Ia tidak malu mengumbar kemesraan di depan umum. “Ke mana dia?” Natalie kehilangan jejak Kevin. Lelaki itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.”Heran, kayak hantu aja, cepet ngilangnya.” “Kamu cari aku?” Terdengar suara bertanya. Natalie membalikkan badannya dan melihat Kevin berdiri tepat di belakangnya. Lelaki itu menyilangkan tangannya. Wajahnya terlihat tampan dan mempesona. Natalie seperti tersihir melihatnya. Tak peduli lagi dengan bentuk wajahnya yang sudah tidak karuan. Perasaan yang tadinya kesal membuatnya tak ingat lagi. Pesona Kevin membuatnya kembali terkesima. “Kamu ini benar-benar aneh!” Kevin menggelengkan kepala. “Tampan ... .” Natalie masih tak melepas pandangannya. Ia tidak sadar jika melontarkan pujian pada Kevin. “Kumat lagi penyakitnya.” Kevin mendekikkan bahunya. “Eh, apa maksudnya? Penyakit apa?” Natalie mulai tersadar. Ia mulai bereaksi keras dengan ucapan Kevin. “Penyakit gila kamu!” Kevin mendekatkan wajahnya. Ia tersenyum miring dan menarik tangan Natalie. Ia menarik gadis bertubuh tinggi itu mengikutinya. Ia tidak peduli dengan keberadaan wanita yang bersamanya saat ke mall. Baginya urusannya dengan Natalie belum selesai. Ia benar-benar dibuat penasaran dengan sosok Natalie. Gadis itu menyita perhatiannya, tetapi ia menangkis perasaannya karena menganggap semua wanita sama. Mereka hanya menginginkan uang darinya. “Aku mau dibawa ke mana?” Natalie berusaha melepas tangan Kevin, tetapi lelaki itu mencengkram tangannya dengan kencang. “Ke rumah sakit jiwa!” “Hei! Kamu yang gila! Gadis cantik seperti ini mau dibawa ke rumah sakit jiwa? Kamu yang harusnya dibawa ke rumah sakit jiwa!” Natalie memberontak. Ia menyesal terpesona dengan lelaki seperti Kevin. Padahal jelas-jelas mulutnya lebih pedas daripada Emak-emak yang suka bergosip di sekitar tempat kost-nya. Kevin berhenti mendengar Natalie yang masih saja mengoceh. Telinganya terasa panas karena perkataan Natalie yang tak kunjung berhenti. “Kok berhenti?” Natalie merasa aneh. “Kamu tetap ngomel apa aku cium, heuh?” Kevin tersenyum licik melihat Natalie yang spontan menutup mulutnya. Gadis itu benar-benar menutup rapat mulutnya. Ia tidak ingin mulutnya yang mungil ini terjamah oleh lelaki seperti Kevin yang terlihat gampang sekali memainkan perempuan. Dia memang tampan dan kaya raya, tetapi mulutnya terlalu berisik seperti perempuan. Kevin melanjutkan langkahanya dan masih menarik tangan Natalie. Natalie tak berani membuka mulutnya sedikitpun. Ia takut Kevin akan menciumnya jika sedikit saja Natalie berbicara. “Kok diam?” Sesampainya di parkiran Kevin menatap Natalie yang masih menutup mulutnya rapat. Gadis itu hanya menggeleng tak mau berbicara. Ia tidakk ingin lengah, takut jika Kevin mengambil kesempatan untuk menciumnya. Ia harus menjaga baik-baik kehormatan bibirnya. Jangan sampai lelaki seperti Kevin menodainya. “Kamu itu memang gadis aneh! Buka mulutmu!” Natalie menggeleng, bahkan reaksinya sangat berlebihan. Tangannya memegang erat paper bag miliknya. Sementara Kevin malah tertawa keras. Sikap Natalie benar-benar lucu menurutnya. Gadis aneh yang baru pertama kali ini ia jumpai. Di saat banyak gadis yang terpesona dengannya, tetapi gadis di depannya malah mengajak berseteru. Padahal Kevin mengira akan lebih mudah mengajak Natalie kencan untuk sekedar iseng. Ternyata ia salah besar. Gadis itu seperti mengibarkan bendera perang kepadanya. Dan ia siap memulainya. “Siapa namamu?” Natalie masih menggeleng. Kevin merasa diujung batas kesabaran. Masih banyak hal penting yang harus ia kerjakan dari pada mengurusi gadis aneh seperti Natalie. Ia memutuskan berbalik dan berjala menuju pintu mobil. “Masih tak mau menjawab?” Natalie menggeleng, ia yakin Kevin sedang memancingnya untuk membuka mulutnya. Setelah itu ia akan mengambil kesempatan saat Natalie lengah. “Terserah kamu kalau kamu masih diam. Namaku Kevin, bersiaplah karena kita akan bertemu setiap hari.” “Oh, namanya Kevin. Cukup bagus untuk lelaki b******k seperti dia.” Gumam Natalie dalam hati. Ia masih menggerutu karena sikap Kevin. “Sepertinya percuma aku berdiri di depan patung. Tidak menghasilkan uang. Yang ada aku dikira orang gila!” Kevin beranjak dan berbalik meninggalkan Natalie. Ia tersenyum dan menghitung dalam hitungan lima mundur. Lima Empat Tiga Dua Satu “Hei! Mau ke mana? tanggung jawab!” Akhirnya Natalie mau berbicara. Kevin tersenyum puas. Ia berbalik dan langsung menarik tubuh Stevanie hingga mendekat. Lelaki itu langsung menyambar bibir mungil itu. Natalie terkejut dan tak berkutik. Kevin tak peduli ditonton banyak orang yang tengah lewat di parkiran. Tubuh Natalie seketika kaku. Detak jantungnya mulai berpacu sangat cepat tak seperti biasa. Lelaki itu dengan santainya melepas bibirnya dan tersenyum licik. Ia mengusap ujung bibir Natalie dengan lembut. Tatapan matanya memburu dan menunjukkan kemenangan. “Aku sudah tanggung jawab, jadi kamu tak perlu mencariku.” Ia berjalan meninggalkan Natalie yang masih mematung. Ia memacu mobilnya dan meninggalkan Natalie. Sementara Natalie, ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Bibirnya sudah tidak perawan. Dan Kevinlah yang telah menciumnya. “A ... !!!”   ****   Kejadian kemarin membuat Natalie tidak bisa melupakannya. Kevin menciumnya di depan umum. Lelaki itu menipunya dan memanfaatkannya. Natalie benar-benar tak rela jika ciuman pertamanya ia lakukan dengan Kevin. Bagi Natalie ciuman pertama itu sangat sakral. Ia akan melakukannya dengan orang yang benar-benar ia sayang. Dan Kevin, ia adalah orang yang sangat menyebalkan bagi Natalie. Sepanjang perjalanannya menuju kantor tak hentinya gadis berkulit kuning langsat itu menyebut nama Kevin. Ia masih tak rela dengan apa yang dilakukan Kevin. “Amit-amit aku harus bertemu denganmu. Jika sampai aku bertemu denganmu lagi, bersiaplah menerima pukulan terbaikku.” Natalie keluar dari Taksi dan berjalan masuk. Di hari pertama kerja ia harus menemui bagian HRD untuk dijelaskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sekretaris manager bagian pemasaran.  Bersama beberapa Sekretaris baru lainnya, Natalie mendapat pengarahan dari staf HRD. Mereka menjelaskan poin penting menjadi seorang sekretaris. Berbekal kemampuannya saat kuliah membuat Natalie tidak terlalu sulit untuk menerapkannya. Ia sudah biasa berkomunikasi lancar menghadapi berbagai orang, mahir menggunakan komputer, serta lincah untuk mengatur beberapa acara saat masih aktif dalam berorganisasi. Semua itu sangat bermanfaat untuk ia terapkan dalam dunia kerja. Dan ia sangat beruntung bisa bergabung dengan perusahaan yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap para karyawannya. Mereka memberi gaji standar UMR dengan bonus yang lumayan besar jika mereka terpilih menjadi karyawan teladan di setiap bulannya. Ada lima kandidat yang akan terpilih di setiap bulannya. Hal ini membuat Natalie semakin bersemangat untuk bekerja lebih baik lagi. Setelah pengarahan, staf HRD menunjukkan ruangan masing-masing. Natalie mendapat giliran paling akhir. Ia masuk dan melihat bos barunya tengah berbincang dengan orang yang paling Natalie tidak suka. “Kamu?” Natalie terkejut melihat kehadiran Kevin di ruangan bosnya. Tangannya mengepal bersiap untuk memukul Kevin. “Hai.” Kevin tersenyum menautkan alisnya.”Seperti yang kubilang, kita akan bertemu lagi.” “Kamu mengenal sekretaris baruku?” tanya bos Natalie. “Andrew, kami itu ... .” Belum sampai berbicara, Natalie melotot ke arah Kevin. Ia tidak mau reputasinya hancur karena mulut Kevin yang tidak berperikemanusiaan. Andrew bingung melihat keduanya. Natalie terlihat sangat kesal sedangkan Kevin terlihat begitu menikmati momen saat  bertemu Natalie kembali. Ada rasa penasaran yang membuatnya ingin selalu menganggu gadis tersebut. Ia sengaja mengunjungi Andrew sahabatnya. Ia tahu jika Natalie akan menjadi Sekretaris baru Andrew. Bahkan ia telah mengajukan beberapa planning event yang akan ia ajukan kepada Andrew untuk bekerjasama dengan EO milik Kevin. “Sudalah, Kev, jangan membuat sekretaris baruku ketakutan.” Andrew terkekeh melihat ekspresi Natalie. Gadis itu tersipu malu, melihat sosok Andrew yang membelanya membuatnya jatuh hati. Menurutnya Andrew seratus persen lebih baik daripada kevin. Lelaki itu tak kalah tampan dan mapan. Hanya saja Natalie terfokus pada cincin yang melingkar di jari manis Andrew. “Aku yakin dia tidak akan takut, iya, kan, sayang.” Kevin menggodanya. Natalie semakin geram. Kevin terlihat sangat menganggu pandangannya. Setelah melihat Andrew yang teduh, ia harus melihat Kevin yang menyebalkan dan tak tahu malu. “Kevin, aku tidak mau sekretarisku resign karenamu.” “Kalau dia resign, aku punya ganti yang lebih baik dari dia.” “Sial! Ini orang apa maunya?” Natalie menggerutu dalam hati. Ucapan Kevin sudah sangat keterlaluan baginya. “Kevin ... .” Andrew kembali menegurnya. “Okey, okey aku akan keluar sekarang. Silahkan menikmati kebersamaanmu dengan sekretaris barumu itu.” “Sial kamu!” Andrew memukul lengan Kevin. “Dia ini sangat susah dijinakkan. Kamu harus berhati-hari.” Kevin berbisik, membuat Andrew kembali memukul lengan Kevin karena menggodanya. Kevin berjalan keluar dan melewati Natalie yang masih berdiri . Matanya masih menatap tajam dan mengisyratkan rasa kemenangan. Melihat Kevin Ingin rasanya Natalie memukul Kevin telak karena ucapan lelaki tersebut. Namun, ia harus menjaga perilakunya di depan Andrew. “Siap-siap. Kita akan bertemu setiap hari.” Kevin tersenyum menang.                                          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD